NovelToon NovelToon
PENYANGKALAN

PENYANGKALAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Single Mom / Cerai / Cintapertama / Tamat
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Emie_lia

Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?

Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 kehidupan: Buronan takdir

Tanggal 23 juli 2012

Tiada lagi yang lebih tabah daripada hujan dibulan Juli, rintiknya sangat enggan untuk hengkang dari bumi, seolah bumi adalah satu-satunya tempat pulang yang masih ia percayai. Tiap tetes yang mengalir mampu menghapus banyak jejak, debu di aspal, panas di udara, letih di dedaunan. Namun ada satu hal yang tidak pernah mampu dihapusnya, yakni rindu.

Tiada lagi gradasi disetiap lagu ketika daku memainkan melodi sendu, setiap detik bagaikan hidup berdampingan dengan neraka, bercengkerama dengan iblis yang berdiri angkuh di setiap sudut cakrawala, menertawakan ketidakberdayaan asa.

Di antara hujan dan suara sunyi, aku mulai bertanya, kapan aku harus kehilangan segalanya? Seluruh hartaku hilang dan sirna, siapa yang tau aku harus mencarinya kemana? atau apakah dia akan menggantikan dengan sesuatu yang setara?

"sudah pagi?"

Pertanyaan sederhana itu terdengar seperti gema di rumah yang terasa asing. dua puluh empat hari setelah kematian kakaku, tidak ada peruban berarti di dalam rumah ini. Tata letaknya tetap sama, barang-barangnya tak berpindah. Namun warnanya memudar, dan kehangatan yang dulu menyelimuti setiap sudut kini terasa mati, dingin, kaku, dan hampa.

" terima raport?"

" iya"

" pastikan setidaknya kamu tidak malu ketika ditanya keluarga"

" baik"

Seluruh beban mulai bertumpu kepadaku, harapan beserta sketsa masa depan juga sudah dirancang sedemikian rupa oleh sang donatur, tanpa pernah benar-benar bertanya apakah aku sanggup?

Aku hidup dengan konsep mutlak, harus menjadi nomor satu, aku harus bisa dibanggakan ketika perkumpulan keluarga, aku juga wajib menjadi contoh baik dilingkungan rumah atau sekolah. Hidupku berjalan dalam standar yang tak pernah longgar. Aku bukan anak seperti kebanyakan anak lain pada masanya, yang boleh gagal, boleh lelah, boleh ragu.

"untung juara"

Kalimat itu terdengar seperti pujian, namun juga cambuk. Kehidupan berjalan cepat, nyaris tanpa hambatan. Aku tumbuh perlahan, menyesuaikan diri, hingga tuntutan tak lagi terasa menyakitkan. Aku tidak lelah, tidak pula frustrasi. Aku terbiasa. Semua itu menjelma sebagai bumbu penyedap cerita, sesuatu yang membuat hidup terasa “bernilai”.

Aku terobsesi untuk jadi terkenal disekolah, "eh itu anak kepsekkan?."

"benar, dia si juara umum."

"cantiknya."

Menggenggam gelar siswi berprestasi dan siswi teladan, aku tergila-gila untuk menjadi pemimpin, ikut organisasi, atau hanya sekedar ajang pencarian bakat. Seluruh tubuhku berhasil terfotokopi sebagaimana mestinya.

Mama selalu bercerita mengenai tokoh Indonesia, salah satu orang jenius yang pernah dimiliki oleh tanah nusantara, Ia berhasil menguatkan nilai rupiah ketika tahan air tercinta sedang dilanda krisis ekonomi. Benar, nama beliau BJ Habibie.

Mama mencintainya dengan kekaguman yang nyaris religius. Kekaguman yang tak mungkin pudar tergulung waktu. Tanpa kusadari, aku pun ikut mencintainya. Aku memandang Habibie sebagai inspirator, baik cara berpikirnya, keteguhan prinsipnya, dan kemanusiaannya. Ia menjadi figur yang diam-diam menggantikan kekosongan.

Namun ambisi sebesar bola dunia jarang disukai banyak orang.

"kesayangan guru lewat."

"cih, nilai kasihan kok bangga"

"bangga sama kemampuan sendiri lah"

Dianggap sebagai saingan, manusia egois, sok dekat sama guru, bisa juara karena punya dekingan, dan masih banyak lagi. Padahal mereka para pembenci tidak pernahku kenal sama sekali, tidak pernah aku ganggu atau usik.

Namanya juga hidup, jadi aku menjalani kehidupan sekolah tanpa memperdulikan pandangan orang lain.

"terserah kalian lah, toh aku ga mati kalau kalian benci."

Enam tahun terasa lama. Tiga tahun berlalu lebih cepat. Dan masa SMA terasa paling singkat, masa paling sebentar namun aku bisa banyak belajar. Tempat aku belajar arti kebersamaan, tempat aku menemukan special person, aku berhasil menemukan kehangatan seorang ayah, meski hanya sebentar.

"sejak kapan ya, aku merasa lelah? Oh mungkin ketika mama bilang dia tidak puas denganku?"

Benar, mama pernah berkata seperti itu kepadaku, mungki kesalahanku juga, karena aku sedikit tersulut emosi sehingga aku melawan kepada mama, detailnya sudah aku lupakan, namun yang paling aku ingan hanya kalimat.

 "beruntung sekali aku punya anak seperti kamu, saya menyesal melahirkan kamu, anak durhaka! kamu pikir saya membesarkan kamu sendirian adalah hal mudah?"

Diriku hanya tertegu, bergulat dengan dialog yang tak dapat tercetak, "jika menyesal aku lahir kenapa dari awal aku dilahirkan, aku tidak pernah minta dilahirkan sebagai seorang anak, lalu bukankah aku seperti ini hasil didikan mereka? Jika bercerai pilihan sulit untuk apa bercerai? Itu juga pilihan mereka, hidup tanpa seorang ayah juga bukan hal mudah. Kenapa tidak ada yang mengerti?"

Aku hanya bisa bertanya tanpa mendapat jawaban, rasa ini mulai pudar, apiku mulai padam, rumah tidak terasa damai, Ada sunyi yang berisik setiap kali aku dan mama duduk berdua, sunyi yang menyakitkan.

Jika rumah sudah tidak lagi bisa aku jadikan tempat pulang, lalu kemana aku bisa kembali?

Tanpa ada mentor yang bisa dipandang, aku merancang tipe ideal pria yang aku inginkan, aku tidak paham apa itu pria baik dan seorang bajingan, aku tidak tau mana pria dengan kasih sayang penuh atau hanya sekedar main-main, mana yang bohong dan...seperti apa kejujuran seorang pria, sampai sebatas Mana pria bisa dikatakan effort? Hidupku disibukkan dengan memburu kehangatan seorang ayah.

Namun selama sebelas tahun, keberanian tak pernah benar-benar mengetuk pintu hidupku. Aku berjalan, tumbuh, dan bertahan—dengan kekosongan yang kupeluk diam-diam.

Plot twins—

“Kak, nanti kita foto ya.”

Kalimat sederhana itu mengakhiri satu bab,

namun membuka bab lain yang belum kutahu arahnya

1
Nunu
mantap kak
NOname 💝
El itu cocoknya di buang aja, masukkan ke got
Wolfmoon
Hai kak, ceritanya baguss
Remi: thank you
total 1 replies
❦L͙o͙t͙u͙s͙ E͙m͙a͙s͙❦
ceitanya bagus, walau aku nggak terlalu paham sih
❦L͙o͙t͙u͙s͙ E͙m͙a͙s͙❦: sama²,
selamat berkarya
total 2 replies
Helen
Menggugah perasaan
Poplar Taneshima
Adem ayem baca cerita ini sampe hiatus menuju mesra sama buyer.
Remi: haloww nantikan terus ya chapter selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!