Zefanya Emanuella, seorang gadis cantik nan periang, namun harus menjalani hari-hari yang begitu berat setelah kehilangan identitas di Bandara. Berniat untuk menemui om nya, namun justru malah membuatnya hilang dan tersesat.
Di saat dirinya frustasi, Zefanya di pertemukan dengan seorang nenek di Bandara yang sedang terpisah dari cucu nya. Berniat membantu, namun justru kesalahpahaman yang dia dapat. Zefanya terpaksa menjadi seorang pembantu di rumah nenek tersebut karena ancaman dari sang cucu.
Seorang nona muda yang terpaksa harus menjadi pelayan di rumah orang asing. Bagaimana kisah Zefanya selanjutnya. Dapatkah ia bertemu dengan keluarga nya? Atau dirinya justru terperangkap dalam rumah majikan barunya?
Jangan lupa follow akun
IG @Mommy_ar29 dan
Tiktok @Mommy_ar95 🥰🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eyang Darmani
...~Happy Reading~...
'Jangan ngaco! Indonesia itu tidak sesempit yang ada di kepala kamu. Nikmati saja takdir hidup kamu Zef! Jangan terlalu banyak tingkah, yang mana nantinya akan menyusahkan aku dan Papa!'
Zefanya menarik napasnya dengan cukup panjang, kala dirinya kembali teringat akan kata kata yang cukup menusuk di hatinya dari seseorang. Siapa lagi, jika orang itu bukanlah Zafeer, yang tak lain adalah saudara kembar nya.
Laki laki yang selama ini sudah menemani seumur hidup nya, dan selalu menjadi garda terdepan kala dirinya merasakan kesulitan. Walaupun sering bertengkar, lantaran Zafeer yang jengah dengan rengekan manja darinya, tak bisa di pungkiri bahwa Zefanya merindukan laki laki itu.
Akan tetapi, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengenang atau merindukan seseorang. Apalagi, jika orang itu adalah si manusia kulkas, Zafeer Emanuele. Zefanya segera menggelengkan kepala nya cepat, berharap semua kerinduan nya tentang saudara kembar nya sirna.
"Kenapa lo? Ke sambet?"
Bug!
"Eyang!" Batara langsung memekik kala dengan tiba tiba sang eyang memukul bahu nya dengan menggunakan tas.
"Kamu ini, apa gak bisa bicara lembut sedikit sama anak gadis?" tegur eyang sambil menghela napas nya berat.
"Lihat dulu gadis nya kaya gimana!" gumam Batara mencibir dan melirik sinis ke arah Zefanya.
"Jadi, nama kamu siapa? Kenapa kamu belum pulang? Apakah kamu juga sedang menunggu seseorang disini?" tanya wanita renta itu dengan begitu lembut pada Zefanya.
"Tas sama koper saya hilang, Eyang." jawab Zefanya pada akhirnya dengan memasang wajah semelas mungkin.
"Jangan percaya Eyang, Batara yakin. Ini pasti cuma modus!" cetus Batara tidak percaya.
"Huss diem kamu!" Lagi lagi, lelaki itu mendapatkan sebuah pukulan keras di lengan nya dari sang Eyang.
"Rumah kamu dimana? Eyang anterin sama cucu Eyang? Hitung hitung, tadi kanu sudah membantu Eyang, kan?" Untuk sesaat, Zefanya sempat terdiam.
Andai ia tau, dimana alamat opa dan oma nya, atau salah satu sepupu atau om nya. Mungkin, Zefanya akan dengan senang hati memberitahu. Akan tetapi, ia benar benar tidak tahu, ingatan nya tidak sehebat saudara kembar nya.
Bahkan, mengingat nomor ponsel nya sendiri saja, ia tidak bisa apalagi mengingat nomor orang atau alamat rumah orang.
"Saya gak tahu Eyang! Hiks hiks, sepertinya saya akan tersesat. Semua data saya hilang, saya gak tahu harus bagaimana hiks hiks."
Tiba tiba saja, Zefanya duduk berjongkok sambil menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Gadis itu terisak sambil memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.
"Bagaimana kalau kamu ikut Eyang saja?" ajak Eyang menawarkan, "Siapa nama kamu?"
"Enggak!" Tolak Batara dengan cepat, tentu saja ia tidak mau. Karena ia sudah memiliki firasat yang kurang baik saat mendengar penawaran Eyang nya.
Pasal nya, ini bukanlah kali pertama sang Eyang mengajak seorang gadis untuk pulang ke rumah. Apalagi, ini adalah waktu yang sangat pas untuk memasukkan orang baru.
Jangan sampai! Batara terus berdoa, semoga gadis itu tidak benar benar mau ikut Eyang nya pulang ke rumah.
"Ella, Eyang. Nama saya Ella," jawab gadis itu tersenyum seraya kembali bangkit dan menatap Eyang.
Kini saatnya Zefany membuktikan kepada sang ayah dan juga saudara kembar nya. Bahwa, ia bisa bertahan tanpa bantuan mereka. Entah mengapa, Zefanya merasa percaya dan yakin bahwa orang yang saat ini menolong nya adalah orang baik.
"Panggil saja, saya Eyang Darmani. Kamu bisa ikut saya pulang ke rumah, ah maksud saya pulang ke rumah cucu saya. Nanti—"
"Eyang plis! Batara gak mau!" Tolak laki laki itu sekali lagi benar benar memohon kepada sang Eyang, akan tetapi tidak di gubris.
Tanpa memperdulikan cucu nya. Eyang Darmani segera menggandeng tangan Zefanya dan mengajak nya keluar Bandara.
... ~To be continue... ...
...Like, komen jangan lupa. Tonton iklan sekali sebab aja udah buat Mom seneng loh... 🤩...