Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: TERDAMPAR DI ALTERNATIF DUNIA
Sensasi terlempar ke dalam lubang hitam dimensi yang runtuh terasa bagai tubuh yang ditarik paksa oleh jutaan ruji tak kasat mata. Ruang dan waktu di sekeliling mereka berputar kacau, mengaburkan batasan antara langit dan bumi, sebelum akhirnya kegelapan total merenggut seluruh kesadaran.
UHUK!
Dion tersedak hebat saat sepasang paru-parunya mendadak dipaksa menghirup udara yang teramat asing. Pria itu membuka matanya dengan sentakan refleks, langsung berguling ke samping di atas hamparan permukaan yang tidak biasa. Bukan tanah retak Dimensi Bayangan, bukan pula batuan gua Lembah Shrouded, melainkan hamparan rerumputan hijau yang luar biasa lembut, berkilauan di bawah siraman cahaya matahari senja yang berwarna keemasan hangat.
Sihir naga di dalam nadinya mendadak bergejolak hebat, Tato naga di punggung tegapnya berpendar ungu cerah, menandakan bahwa belenggu pengunci energi dari Tuan Besar Zarkos telah hancur total bersama runtuhnya dimensi tadi. Namun, alih-alih memikirkan kekuatannya yang kembali, insting protektif dan sifat posesif Dion langsung mendominasi isi kepalanya.
"Mayang..." bisik Dion, suara baritonnya yang berat terdengar serak dan panik.
Pria itu langsung merangkak cepat, mengabaikan rasa perih pada luka bakar di lengan kekarnya. Hanya beberapa meter di sebelahnya, Mayang terbaring pingsan di atas rumput. Pakaian biru laut sang gadis klan tampak koyak di beberapa bagian, memperlihatkan kulit bahunya yang mulus seputih pualam. Wajah cantiknya pias, dengan bulu mata lentik yang terpejam rapat.
Dion merengkuh tubuh ramping Mayang ke dalam pelukan bidangnya yang kokoh. Tangan besarnya menopang tengkuk gadis itu dengan teramat lembut, sementara tangan lainnya mengusap pipi Mayang yang dingin. "Mayang... bangun, ini aku. Buka matamu, Gadisku."
Merasakan kehangatan yang teramat familier dan usapan posesif yang menenangkan, Mayang melenguh pelan. Kelopak mata indahnya perlahan terbuka, memancarkan binar kebingungan saat menatap wajah tegas Dion yang berada tepat di atasnya.
"D-Dion..." lirih Mayang, suaranya sangat lemah. Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, ia langsung mencengkeram kemeja tenun Dion, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, menghirup dalam-dalam aroma maskulin kayu pinus yang selalu menjadi jangkar warasnya. "Kita... kita di mana? Di mana Tuan Besar Zarkos?"
Dion membantu Mayang untuk duduk perlahan, namun salah satu lengan kekarnya tetap melingkar posesif di pinggang ramping sang gadis, enggan melepaskannya setelah hampir kehilangan wanita itu di dimensi maut tadi. "Zarkos tidak ada di sekitar sini. Pusaran lubang hitam itu tampaknya melempar kita ke koordinat yang berbeda. Dan tempat ini... aku tidak pernah melihatnya di peta wilayah utara maupun selatan."
Mayang mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan seketika itu juga, sepasang mata indahnya melebar sempurna. Pemandangan di hadapan mereka benar-benar menakjubkan sekaligus mengerikan. Mereka berada di atas sebuah pulau melayang di angkasa. Di bawah mereka, gumpalan awan putih bersih membentang luas bagai lautan tak berujung. Di kejauhan, tampak beberapa pulau melayang lainnya dengan air terjun raksasa yang mengalir jatuh langsung menembus langit, menantang seluruh hukum alam yang mereka ketahui.
"Ini... ini adalah Elysium Timur, dimensi kuno yang hilang dalam legenda para tetua," bisik Mayang dengan tubuh yang sedikit merapat ke dada Dion akibat rasa takjub yang bercampur takut. "Tempat di mana sihir murni alam belum tercemar oleh ambisi manusia."
Ikatan batin dan jerat gairah di antara sepasang kekasih itu terasa semakin menguat di tempat yang dipenuhi sihir murni ini. Denyut jantung mereka beradu ritmis di tengah keheningan pulau melayang. Mayang bisa merasakan aliran energi naga ungu Dion yang kini mengalir jauh lebih tenang namun luar biasa padat, memancarkan gelombang hangat yang menyembuhkan memar di tubuh manusianya sendiri.
Dion menatap bibir ranum Mayang yang sedikit terbuka, rona merah perlahan kembali ke pipi cantik sang gadis klan akibat kedekatan fisik mereka yang teramat intens. Sifat dominan Dion bergejolak; di tempat asing ini, hanya Mayang yang ia miliki, dan ia bersumpah akan mengklaim wanita ini sebagai miliknya seutuhnya setelah badai ini berakhir.
Namun, ketenangan intim di antara mereka tidak berlangsung lama. Tato naga di punggung Dion mendadak kembali berdenyut panas, mengirimkan sinyal bahaya yang teramat pekat dari arah balik pohon spiritual raksasa di belakang mereka.
Dion bangkit berdiri dengan gerakan refleks yang sangat cepat, menarik Mayang ke belakang punggung tegapnya. Belati perak pusakanya dihentakkan ke depan, langsung dilapisi oleh kobaran api sihir naga ungu murni yang menyala-nyala, siap memotong apa pun yang berani mendekat.
SREEEKKK... SREEEKKK...
Semak-semak berdaun kristal di depan mereka bergeser. Namun, bukannya pasukan Sekte Bayangan Darah atau monster obsidian, yang melangkah keluar dari balik bayangan pohon adalah sesosok wanita tua bungkuk dengan pakaian jubah putih usang. Rambutnya yang panjang seputih perak terurai hingga menyentuh tanah, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah tongkat kayu yang ujungnya tertanam sebuah batu giok bulan yang berpendar hijau lembut.
Wanita tua itu menatap Dion dan Mayang dengan sepasang mata butanya yang berwarna putih susu, namun anehnya, pandangannya seolah bisa menembus langsung ke dalam lubuk jiwa mereka.
"Dua jiwa dari dunia bawah yang terikat oleh takdir darah naga dan air suci..." suara wanita tua itu terdengar sangat parau, bergetar seperti gesekan daun kering namun bergema berat di udara. "Kalian membawa badai hancur ke atas tanah suci ini, Pemburu."
"Siapa kamu?" tanya Dion dingin, suara baritonnya tidak menyisakan ruang untuk ramah tamah. Aura menindasnya tetap siaga penuh.
Wanita tua itu terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat mistis. "Aku adalah Penjaga Gerbang Waktu yang Terlupa. Kalian berpikir kalian telah lolos dari Tuan Besar Zarkos? Tidak... lubang hitam itu tidak memisahkan kalian dengannya. Zarkos telah mendarat di pulau induk Elysium sepuluh menit lebih awal dari kalian."
Wajah Mayang seketika memucat mendengar kabar buruk tersebut. "Zarkos ada di dimensi ini juga?!"
"Benar, Gadis Air," ucap wanita tua itu sembari mengarahkan tongkat kayunya ke arah pulau melayang terbesar di ujung cakrawala. "Dan dia tidak membuang waktu. Zarkos saat ini sedang menuju ke Altar Jantung Elysium. Dia berniat menghancurkan kristal inti dimensi ini untuk menyerap seluruh sihir purba alam ke dalam tubuhnya. Jika dia berhasil... tidak hanya dimensi ini yang akan musnah, tetapi ledakan energinya akan merobek gerbang dunia kalian di Lembah Shrouded, membantai seluruh klanmu dan adik kecilmu, Rhea, dalam sekejap mata."
Dion mengepalkan tangan kirinya hingga persendian tangannya memutih. Amarah predatornya kembali membumbung tinggi ke puncaknya. Zarkos benar-benar iblis yang harus dihabisi sampai ke akarnya.
"Tunjukkan jalan menuju pulau induk," perintah Dion mutlak, melangkah satu langkah maju dengan aura dewa perang yang tidak bisa dibantah.
Wanita tua itu menatap Dion dengan senyum misterius. "Jalan itu tidak gratis, Pemburu. Untuk menyeberang ke pulau induk, salah satu dari kalian harus meninggalkan esensi kehidupan kalian sebagai jaminan di gerbang penyeberangan ini. Jika kalian gagal membunuh Zarkos sebelum matahari senja ini tenggelam... maka jiwa yang dijadikan jaminan akan membeku menjadi batu kristal di tempat ini untuk selamanya."
Mayang menatap Dion dengan binar mata yang penuh keteguhan. Tanpa ragu sedikit pun, gadis klan yang suci itu melangkah maju, melepaskan genggaman tangan Dion sebentar. "Ambil esensi air suciku, Tetua. Jadikan aku jaminannya, asalkan Dion bisa pergi ke pulau induk untuk menghancurkan Zarkos."
"Tidak! Aku menolak!" bentak Dion keras, suara baritonnya menggelegar penuh sifat posesif yang dominan. Ia menarik tubuh Mayang kembali ke dalam dekapannya dengan kasar namun penuh perlindungan, mengunci wanita itu di dada bidangnya. "Aku tidak akan pernah menjadikan wanitaku sebagai tumbal atau jaminan untuk apa pun! Jika harus ada yang dipertaruhkan, ambil esensi darah nagaku!"
"Dion, jangan bodoh! Kamu membutuhkan kekuatan nagamu secara utuh untuk bertarung melawan Zarkos!" bantah Mayang dengan mata yang berkaca-kaca, mencoba meronta dari dekapan erat Dion.
"Diam, Mayang! Ini perintah mutlak dariku!" seru Dion, tatapan mata elangnya berkilat tajam mengunci seluruh bantahan di bibir ranum Mayang.
Namun, tepat di saat mereka sedang berdebat sengit memperebutkan siapa yang akan dikorbankan, tanah di bawah pulau melayang tempat mereka berdiri mendadak bergetar hebat untuk kedua kalinya. Dari arah langit di atas pulau induk di kejauhan, sebuah pilar cahaya hitam kemerahan raksasa mendadak melesat menembus awan, menandakan bahwa Zarkos telah mulai menyentuh kristal inti jantung dimensi.
Akar-akar spiritual dari pohon raksasa di sekeliling mereka mulai layu dan hancur menjadi abu hitam. Dan dari dalam kepulan abu tersebut, ratusan rantai besi berduri hitam kutukan yang kali ini dilapisi oleh api hitam legam milik Zarkos mendadak menerobos keluar dari langit, langsung melilit tubuh wanita tua buta itu hingga hancur menjadi kepulan asap, sebelum akhirnya rantai-rantai maut itu melesat cepat dengan kecepatan kilat, mengincar langsung untuk menembus tenggorokan Mayang yang sedang berada di dalam dekapan Dion.