Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kotak Kayu dan Pelarian 9 Tahun
Alden akhirnya kembali ke rumah setelah menemui kenyataan pahit bahwa Anjani tidak lagi berada di sana.
Langkah kakinya yang berat terdengar samar di atas lantai pualam rumahnya yang sepi.
Rumah mungil di ujung lorong taman yang barusan ia lihat kini justru menjadi bukti nyata bahwa hal yang dulu sangat ingin ia hindari, perlahan-lahan benar-benar terjadi.
Kehilangan jejak, kehilangan arah, dan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah rusak.
Ia masuk ke dalam kamarnya tanpa banyak kata. Kamar yang selama beberapa hari ini menjadi saksi bisu kerapuhan fisiknya kembali menyambut dalam kesunyian.
Alden berjalan pelan, menyeret langkahnya yang terasa kian tak bertenaga. Langkahnya kemudian terhenti di dekat meja belajar lama, tempat ia dulu sering menghabiskan malam untuk belajar atau sekadar melamunkan masa depan.
Sebelum ia memutuskan untuk berbaring, matanya tertuju pada sebuah lemari kecil di samping meja tersebut. Sebuah lemari kayu berpelitur cokelat tua yang tampak kokoh.
Perlahan, dengan jemari yang sedikit bergetar, Alden membukanya. Engsel lemari itu berderit pelan, memecah keheningan kamar.
Di dalamnya tersimpan sisa-sisa masa SMA yang belum pernah benar-benar ia sentuh lagi sejak hari keberangkatannya.
Benda-benda di sana bergeming, diselimuti lapisan tipis debu waktu. Ada gitar akustik yang senarnya mulai menghitam, bola basket, raket badminton, hingga sebuah kamera DSLR. Di bagian bawah, beberapa pasang sepatu olahraga dan sepatu sekolah masih tersimpan rapi dalam raknya. Seragam putih-abu-abunya pun masih tergantung lengkap di dalam sana, tampak agak kaku namun bersih, seolah-olah waktu sengaja dihentikan di sudut itu.
Di sudut lain yang agak remang, ada tas sekolah lamanya yang berbahan kanvas tebal, berdampingan dengan beberapa buku tulis dan buku catatan. Lembaran-lembaran kertas putih itu kini sudah mulai menguning dan usang dimakan waktu, menyimpan coretan-coretan masa muda yang penuh dengan kepolosan dan ego yang tinggi.
Alden menatap semuanya dalam diam. Dadanya bergemuruh oleh badai nostalgia yang tiba-tiba datang menerpa.
Matanya kemudian beralih, tertuju pada sebuah kotak kayu tua berbentuk persegi panjang yang terselip rapi di sudut paling dalam lemari tersebut. Kotak itu nyaris tersembunyi sepenuhnya, tertutup oleh tumpukan sepatunya yang sengaja diletakkan di sana bertahun-tahun lalu agar tidak mudah terlihat oleh mata awam.
Tanpa sadar, detak jantung Alden mulai meningkat. Ritmenya memburu di balik rongga dadanya. Ia tahu persis apa isi di dalam kotak tersebut. Sebuah kotak yang memuat potongan terbesar dari masa lalunya.
Pelan-pelan, ia mengulurkan tangan dan menarik kotak kayu itu keluar dari tempat persembunyiannya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah tersentuh oleh siapa pun. Kotak itu terasa cukup berat dalam dekapannya.
Alden membawa benda itu menuju tepi ranjang, meletakkannya di atas pangkuan, sebelum akhirnya membuka pengait besinya yang sudah sedikit berkarat secara perlahan.
Di dalamnya tersimpan barang-barang pribadi peninggalan masa SMA. Kenangan yang dulu ia simpan rapat, lalu ia tinggalkan begitu saja saat berangkat ke Australia.
Benda-benda itu bukan sekadar barang mati bagi Alden, melainkan simbol dari keinginannya yang menggebu-gebu di masa lalu untuk mengubur seluruh sejarah hidupnya sendiri yakni sebuah paket lengkap yang berisi kenangan, luka batin, dan amarah yang pernah ia bawa sepanjang masa remaja itu.
Namun, sebelum jemarinya sempat mengeluarkan satu per satu isi dari kotak tersebut, gerakan tangan Alden mendadak terhenti.
Pikirannya tiba-tiba ditarik paksa, terseret mundur melintasi dimensi waktu.
Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa beberapa bulan lalu ketika semua tragedi ini bermula.
Saat itu, ia masih berada di Perth, Australia.
Sebuah tempat di mana ia menuntut ilmu, membangun karier, dan menjalani hari-hari dengan keyakinan penuh bahwa masa depannya akan berjalan cerah, cemerlang, dan membentang panjang di sana.
Sembilan tahun yang lalu, Alden memang memilih untuk pergi jauh meninggalkan tanah air. Ia sengaja menyeberangi samudra luas hingga tiba di benua lain yang asing.
Ia pergi bukan hanya untuk mengejar selembar ijazah atau pendidikan yang lebih tinggi, melainkan untuk melarikan diri.
Ia melarikan diri dari rasa sakit hati yang mendalam, kekecewaan kepada keadaan, dan kenangan pahit yang terus menghantuinya di rumahnya sendiri bersama sang ayah.
Di Perth, Alden memulai segalanya benar-benar dari angka nol. Ia hidup mandiri di sebuah apartemen sewaan kecil, belajar memasak sendiri, dan menjalani hidup tanpa bergantung pada siapa pun.
Meskipun kiriman uang bulanan dari ayahnya ke rekening bank tidak pernah putus, tak sepeser pun uang itu ia sentuh. Alden membiarkan dana itu mengendap begitu saja. Semua yang ia miliki di Australia, mulai dari biaya sewa, uang kuliah, hingga makanan sehari-hari adalah hasil dari kerja keras dan tabungannya sendiri.
Ia memiliki tekad yang sangat keras untuk membuktikan kepada dunia, dan terutama kepada ayahnya, bahwa ia mampu sukses dan berdiri tegak di atas kakinya sendiri tanpa bantuan bayang-bayang nama keluarga.
Hari-harinya di Perth dipenuhi oleh rutinitas kerja keras yang tanpa jeda. Alden menjalani perkuliahan dengan sangat tekun di pagi hingga siang hari, kemudian membagi waktunya di antara tugas-tugas kuliah yang menumpuk dan pekerjaan paruh waktu di malam hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Baginya saat itu, tidak ada ruang untuk bersantai, tidak ada waktu untuk sekadar berjalan-jalan menikmati keindahan kota, apalagi untuk membiarkan pikirannya kembali tenggelam dalam pusaran masa lalu di Indonesia.
Bagi Alden, kesibukan yang ekstrem adalah tameng terbaik.
Itu adalah cara paling efektif untuk menjauh dari segalanya, termasuk menjauh dari pergulatan batin dengan dirinya sendiri.
Setelah menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang sangat memuaskan, Alden tidak membuang waktu untuk mulai meniti kariernya di dunia profesional.
Ia berhasil bergabung dengan sebuah perusahaan periklanan terkemuka di Perth.
Di sana, ia memulai semuanya dari posisi paling bawah sebagai staf biasa. Namun, perlahan tapi pasti, namanya mulai diperhitungkan di lingkungan kantor. Berkat kecerdasan yang tajam, ketekunan yang luar biasa, serta dedikasi tinggi yang ia miliki dalam setiap proyek, posisi Alden di perusahaan itu terus menanjak naik dengan cepat.
Dalam waktu yang berjalan tanpa banyak jeda, hidup Alden berubah menjadi sesuatu yang terlihat sangat rapi, mapan, stabil, dan nyaris sempurna di mata orang lain.
Pakaiannya rapi, finansialnya kuat, dan ia memiliki lingkaran pertemanan profesional yang solid.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan, hati Alden yang dulu terasa sekeras batu dan penuh dengan duri tajam perlahan-lahan mulai melunak.
Jarak dan waktu terbukti mampu memberi jarak pandang yang baru. Ia mulai mampu melihat kenyataan di masa lalunya dengan lebih jernih, melalui sudut pandang seorang pria dewasa yang tidak lagi dipenuhi oleh kabut amarah yang meledak-ledak.
Ia mulai menyadari bahwa Ranti, wanita yang dulu sangat ia benci dan ia anggap sebagai perusak kebahagiaan serta keutuhan keluarganya, ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan dalam prasangka remajanya dulu.
Di balik semua penolakan dan sikap kasar yang pernah Alden tunjukkan, wanita itu ternyata memiliki hati yang tulus.
Ranti tidak pernah menuntut haknya secara berlebihan sebagai seorang istri baru maupun sebagai ibu tiri. Wanita itu tidak pernah menjelekkan nama Alden di depan ayahnya, dan justru selalu berusaha berbuat baik sebisanya dalam diam, mendoakannya dari jauh, serta merawat ayahnya dengan penuh kesetiaan.
Hubungannya dengan sang ayah, Pak Armanto, pun perlahan-lahan mulai membaik. Percakapan yang dulu selalu dipenuhi ketegangan dan urat leher yang menegang kini berganti menjadi obrolan yang jauh lebih hangat dan santun, meskipun interaksi itu hanya terjalin lewat sambungan telepon internasional atau pesan-pesan singkat di ruang obrolan digital.
Sejak itu Alden merasa hidupnya mulai menemukan sebuah bentuk yang tenang dan teratur.
Di dalam pikirannya yang optimistis, ia sudah mulai membayangkan masa depan yang stabil di Australia.
Ia berencana untuk menetap di sana, hidup sukses, menua dengan damai, lalu suatu hari nanti ia akan pulang ke Indonesia dengan kepala tegak, membawa semua pencapaian besarnya sebagai sebuah pembuktian akhir yang manis.
Namun, takdir rupanya memiliki lembaran rencana lain yang tersembunyi.
Sebuah rencana yang teramat kejam, yang datang tanpa peringatan, hingga nyaris meremukkan seluruh dinding kekuatan yang selama sembilan tahun ini telah ia bangun dengan susah payah di negeri orang.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏