Apa jadinya kalau CEO dan asistennya selalu bertengkar hanya karena hal sepele?
Andrian yang selalu saja ribut dengan Jasmine asistennya dalam segala kesempatan. Tiada hari tanpa keributan antara mereka, dari saling mengejek dan menggoda jadi aktifitas mereka disela kegiatan kantor.
Seiring kebersamaan dan langkah mereka yang sering ribut justru menimbulkan perasaan nyaman antara keduanya. Namun gengsi seakan menahan perasaan keduanya untuk tidak terucap.
Mampukah mereka saling jujur akan perasaan masing-masing? atau justru terus terperangkap pada gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lijun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal dan Marah
Jasmine kembali ke ruangan Andrian untuk mengembalikan berkasnya lalu makan siang. Namun saat tiba disana Jasmine melihat ada banyak makanan di meja dekat sofa.
Mata Jasmine berbinar melihat semua makanan itu yang semuanya kesukaannya. Dengan cepat Jasmine meletakkan semua berkas ditangannya ke meja Andrian lalu mendekati makanan itu.
"Wah banyak sekali makanannya" ucap Jasmine senang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Andrian menghentikan tangan Jasmine yang akan mengambil makanan itu.
Jasmine melihat Andrian yang baru keluar dari kamar mandi sembari menggulung lengan kemejanya.
"Ini untukku bukan!" ucap Jasmine dengan pedenya.
"Siapa bilang? ini milikku" kata Andrian duduk di sofa.
"Sebanyak ini milik mu semua! apa kau sanggup menghabiskannya?" tanya Jasmine berharap Andrian mengajaknya makan.
"Kenapa tidak? lagi pula aku tidak makan sendirian" jawab Andrian santai sembari memainkan ponselnya.
Jasmine manatap senang lagi pada Andrian karena yakin kalau ia yang akan makan juga.
"Ah pasti untukku juga kan! aku tahu kau sudah membelikan untukku juga, terimaka...."
CLEK
Suara pintu terbuka menghentikan ucapan Jasmine.
Andrian berdiri saat melihat siapa yang masuk bahkan ia tersenyum dengan sangat tampannya menyambut kedatangan orang itu.
Sementara Jasmine dibuat melongo melihat siapa yang masuk.
Seorang wanita cantik dengan body yang sangat aduhay , ditambah pakaian yang di kenakan membuat bentuk tubuhnya terlihat jelas.
Sangat seksi dan menggoda itulah yang dipikirkan setiap orang yang melihatnya. Termasuk Jasmine yang juga merasa terpesona dengannya.
"Hay kenapa lama sekali hm?" tanya Jasmine pada wanita itu dengan tangan yang memeluk pingggang si wanita.
Wanita itu tersenyum manja pada Andrian.
"Ada sedikit urusan tadi jadi terlambat" ucapnya lembut.
"Apa kau bosan menunggu?" lanjutnya menarik dasi Andrian dengan tatapan menggoda.
"Seberapa lamapun aku pasti akan menunggumu cantik" sahut Andrian tak kalah menggoda sembari mencolek manja dagu wanita itu.
Jasmine yang melihat pemandangan di depannya jadi merasa jengkel sekaligus sesak didadanya entah karena apa. Ia hanya merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu.
"Ekhm, banyak nyamuk ya!" ucap Jasmine seraya mengibaskan tangannya keatas mengusir nyamuk yang entah dimana.
"Aku oergi sajalah" lanjutnya berdiri dari duduknya.
Jasmine melewati Andrian dan wanita yang sekarang memeluknya.
Andrian hanya melihat Jasmine yang berlalu hendak keluar dari ruangan, tapi saat melewati Andrian, Jasmine mengatakan sesuatu pada Andrian.
"Ganjen" ucap Jasmine pelan didekat Andrian kemudian pergi.
Jasmine menutup pintu ruangan kemudian pergi dengan perasaan marah, kesal, semuanya jadi satu. Entah apa yang menyebabkan ia jadi seperti itu yang jelas saat ini Jasmine ingin melampiaskan perasaannya dengan makan banyak.
Saat tiba di lantai bawah Jasmine bertemu dengan Aan yang akan menuju kantin.
"Jasmine, mau makan siang juga ya!" ucap Aan menyapa.
"Iya mas, mau makan juga? ayo" Jasmine menarik tangan Aan begitu saja dengan langkah cepat.
Aan yang sebelumnya akan menjawab ucapan Jasmine jadi tertunda karena sudah di tarik oleh gadis itu dengan langkah yang cepat.
"Hey hey ada apa ini? santai saja jalannya kantinnya tidak akan tutup cepat kok!" ucap Aan saat sudah bisa mengimbangi langkah Jasmine yang cepat itu.
Jasmine tidak menjawab, ia hanya menarik Aan kemana ia akan pergi. Dari memesan makanan sampai memilih temlat duduk pun Aan masih terus ditarik oleh Jasmine dengan kencangnya.
"Hay tenanglah ada apa denganmu? apa lapar membuatmu jadi manusia aneh?" tanya Aan bingung.
Gadis itu menghela napas kasar sembari menopang dagunya dengan kedua tangan terkepal.
"Dasar pria ganjen yang mesum tidak bisa melihat wanita seksi" gerutu Jasmine.
Aan menatap Jasmine semakin bingung, kenapa dia pikirnya.
"Siapa yang ganjen dan mesum?" tanyanya.
"Tidak bisa melihat wanita bohay langsung ditempeli" ucap Jasmine lagi.
Aan menatap lekat pada Jasmine yang sangay kentara sekali kekesalan sekaligus kemarahan di matanya.
"Siapa yang bohay dan siapa yang di tempeli?" tanya Aan penasaran akan hal yang membuat gadis di depannya menggerutu tidak jelas begini.
"Uh dasar pria bisa-bisanya dia genit kaya gitu padahal aku ada disana" ucap Jasmine keras hingga memancing mata orang memandang padanya.
Aan yang kaget langsung memukul pelan tangan Jasmine untuk menyadarkan gadis itu yang sudah jadi pusat perhatian.
"Maaf ya silahkan lanjutkan makan kalian" ucap Aan pada karyawan lainnya karena sudah mengganggu.
Jasmine sendiri yang kaget akibat pukulan pelan dari Aan sontak langsung melihat pemuda itu.
"Kenapa mas?" tanyanya polos.
Aan menepuk jidatnya pelan tidak habis pikir akan gadis di depannya.
"Mas kenapa? sakit?" tanya Jasmine mencoba memegang kening Aan tapi tidak jadi.
Aan menghela napas sejenak lalu menatap Jasmine.
"Sejak tadi kau menggerutu karena apa hingga berteriak disini? bahkan kita jadi pusat perhatian tadi" ucap Aan pelan berharap gadis di depannya sudah sadar.
Jasmine sedikit berpikir lalu ikutan menghela napasnya. Setelahnya menatap Aan dengan kesal juga marah.
"Mas tahu si Andrian itu ternyata sangat ganjen dan genit, masa dia suruh pacarnya datang ke kantor ini pakai pakaian kurang bahan begitu memangnya pacarnya itu barang obral yang bisa di lihat semua orang bentuk tubuhnya, bahkan tanpa rasa malu mereka berpelukan dan berucap dengan kalimat yang sangat tidak sopan dan sangat genit, ih sungguh menggelikan mereka, belum menikah saja sudah main tempel-tempel begitu gimana kalau udah nikah pasti tidak tahu tempat, dasar tidak tahu malu" ucap Jasmine dengan cepat bagaikan raper.
Aan bengong menatap Jasmine yang bicara begitu cepat hingga ia tidak mampu menangkap apa yang diucapkan gadis itu selain kata genit dan nempel.
"Bisakah kau bicara pelan-pelan Jasmine? aku tidak mengerti apa yang kau katakan" ucap Aan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Baru saja Jasmine akan mengeluarkan kalimatnya lagi saat pelayan datang mengantarkan makanan mereka.
Bagai orang yang tidak pernah makan, Jasmine segera menyambar makanan yang sudah terletak di meja bahkan pelayanpun belum pergi.
Aan dan pelayan itu melongo melihat cara makan Jasmine yang begitu cepat.
Dalam sekejap saja makanan Jasmine sudah habis sampai air minumnya juga habis dan ia memesan lagi.
Setelah pelayan itu pergi untuk mengambil pesanan Jasmine barulah gadis itu melihat kearah Aan yang masih melongo menatapnya.
"Kenapa mas? apa makanan mas tidak enak?" tanya Jasmine heran saat melihat makanan Aan yang masih utuh.
Aan tersentak ketika mendengar suara Jasmine menegurnya.
"Eh enak kok, cuma tadi ada pemandangan aneh aja" ucap Aan nyengir.
Jasmine yang menyadari maksud dari ucapan Aan hanya menatapnya tajam sekaligus kesal.
Dengan segera Aan makan setelah mendapatkan tatapan tajam Jasmine yang mengerikan itu.
Setelah Aan selesai makan barulah ia mencoba untuk bertanya lagi pada Jasmine dengan pelan-pelan, takut-takut kalau penyakit Jasmine kumat lagi.
"Bisa cerita apa yang terjadi Jasmine? kok dari tadi mas lihat kau kayak marah sama kesel gitu" tanya Aan menatap serius pada Jasmine.
Jasmine menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan wajah bingung. Ya bingung, Jasmine juga bingung dengan dirinya sendiri.
Kenapa juga ia harus marah dan kesal seperti ini hanya karena melihat Andrian yang bersama wanita lain. Mau apapun yang mereka lakukan itu terserah mereka juga.
Namun entah mengapa ada rasa tidak rela saat melihat Andrian bermesraan bersama wanita lain. Apa lagi wanita itu begitu di manja oleh Andrian, terbukti dari cara Andrian bicara dan memperlakukan wanita itu.