"Aku pikir setelah bertemu denganmu aku akan bahagia, tapi yang aku dapatkan hanya kecewa!"
Namun, awal pertemuan yang diharapkan akan menjadi kesan indah yang membahagiakan, justru berbanding terbalik saat Eva mengetahui siapa orang yang selalu ada untuknya. Akankah cinta itu hadir kembali dalam hidupnya, atau hanya akan menjadi kenangan saja?
Ilustrator: Sky_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamila Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali bekerja.
Sudah dua hari Eva tinggal di apartemen Yudi, beberapa kali Ayu menghubunginya melalui pesan teks dan lewat panggilan suara.
Dan Eva pun mendapat kabar, bahwa Evan dan Wulan sudah menikah. Eva merasa senang jika akhirnya mereka menikah, mungkin Wulan pun sudah memilih Evan sebagai tempat terakhirnya. Mengenai pacarnya yang pernah Eva temui, mungkin mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Semoga saja!
Walaupun sekarang Yudi datang kembali pada kehidupannya, tetap saja Eva merasa ada yang kurang. Eva merasa rindu pada Arya yang selalu menjahilinya, yang selalu membuatnya kesal. Dan sekarang, pemuda itu hilang tanpa kabar.
Eva sudah menunggu Yudi di ruang tv, pagi ini Yudi akan mengantarkan dirinya pulang ke kosan. Walaupun kepalanya masih terasa sakit, namun Eva paksakan. Tidak baik jika dirinya terus-menerus tinggal di apartemen Yudi.
"Maaf ya nunggu lama," ujar Yudi sambil merapikan kerah kemejanya. Penampilan pemuda itu begitu memukau, sehingga Eva pun di buat terpesona.
Eva melihat pemuda itu tanpa berkedip, Yudi menyadarinya dan pemuda itu merasa ada yang salah dengan penampilannya.
"Kenapa? Ada yang aneh sama penampilanku, Ev," tanya Yudi. Eva segara tersadar dan menepis pertanyaan dari pemuda itu.
"Ng-gak kok," jawab Eva terbata-bata.
Yudi mendekatkan wajahnya di depan gadis itu, menarik dagunya sehingga wajah mereka saling berhadapan.
Yudi tersenyum memandangi kedua bola mata Eva, namun tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi, sehingga dia melepaskan gadis itu dengan wajah merona di pipi.
Di sudut pintu sana, Yudi tampak serius berbicara dengan seseorang lewat ponselnya. Eva sedikit cemburu, karena nada bicaranya yang lemah lembut dan sesekali pemuda itu tersenyum bahkan tertawa.
Eva melipatkan tangannya di dada, bibirnya membentuk kerucut saat Yudi kembali menemuinya.
"Maaf ya tadi temanku yang telpon," ujar Yudi.
Eva tidak menjawab, dia pun bangkit dan berjalan melewati Yudi yang berada di sampingnya.
Namun Yudi meraih tangan gadis itu, menahannya untuk beberapa saat.
"Lepasin Yud!"
Yudi mendekatinya, dan tanpa ijin Eva, pemuda itu langsung mendaratkan ciuman di bibirnya.
Eva terkejut, dia mendorong pemuda itu keras, namun tubuh Yudi tidak bergerak sedikitpun.
"Kenapa Ev?"
"Aku rasa apa yang kamu lakukan ini tidak benar Yud. Aku masih punya pacar."
"Bukannya aku pacar kamu?"
"Tidak Yud. Kamu sudah ninggalin aku sampai lima tahun lamanya, tanpa kabar. Setiap hari aku tunggu kabar dari kamu nyatanya, aku hanya membuang waktuku secara sia-sia. Aku rasa kita sudah tidak ada hubungan lagi sejak saat itu, selain pertemanan."
"Tapi Ev, kamu tau aku kehilangan tasku, dompet dan isinya di ambil pencuri. Aku tidak bisa menghubungi kamu. Dan aku putuskan untuk fokus belajar, sambil mencari informasi tentang kamu di sosial media. Dan saat aku kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu, aku baru bisa tau keberadaan kamu. Aku mohon, maafin aku Ev."
Yudi menjelaskan semua yang terjadi padanya selama di Amerika pada gadis itu.
"Tidak usah minta maaf, aku sudah maafin kamu dari dulu. Tapi aku minta, jangan seenaknya berbuat apapun terhadapku!" Eva menarik tangannya secara paksa dan pergi meninggalkan Yudi sendiri.
Eva berlari menjauhi tempat itu. Kesal dengan apa yang telah di lakukan Yudi terhadapnya. Perasaan cinta itu masih ada, namun ada rasa bersalah di dalam hatinya. Mungkin Eva tengah menjaga perasaannya untuk Arya.
Eva memutuskan untuk langsung pergi ke tempat kerja. Dia sudah menghubungi Ita untuk meminjam baju kerjanya.
Sementara itu, Yudi masih berada di apartemennya. Menyesali perbuatan yang sudah di lakukan nya terhadap Eva.
"Arrgghh....," erangnya. Beberapa kali pemuda itu meninju tembok yang ada di sampingnya, tidak terasa sampai tangannya pun berdarah.
Dia tidak memperdulikan darah yang terus mengucur, pemuda itu terus saja meninju tembok sampai dirinya pun terkapar lemas tidak berdaya karena kehabisan darah.
___
"Eva, ini bajunya, tapi ini baju yang kemarin jadi belum sempat ku cuci."
"Tidak apa-apa Ta, terima kasihih banyak ya maaf merepotkan kamu." Eva pun segera mengambil baju seragam kerja milik Ita, kemudian pergi ke kamar mandi untuk menggantinya.
Rasa sakit di kepala nya yang masih terasa, tapi tidak dia pedulikan. Bukan alasan untuk nya bermalas-malasan, tidur seharian di rumah tanpa kegiatan. Untuk saat ini dia ingin fokus bekerja tanpa memikirkan perasaan. Perihal Arya yang pergi tanpa kabar, mungkin Eva sangat kecewa terhadapnya.
Namun, hidup ini tidak selalu soal hati yang harus dia pikirkan. Ada banyak cara agar dirinya tidak kesepian.
Eva tengah sibuk merapikan barang-barang di rak-rak. Ini awal baru lagi, karena kali ini dia begitu bersemangat menghadapi hari.
"Eva," panggil seseorang.
"Iya pak, ada apa," tanya Eva membalikkan badan. Evan tengah berdiri mematung di belakang gadis itu, mungkin mengawasinya.
"Kamu katanya sakit? Bagaimana sudah baikan belum?"
"Iya. Tapi sekarang sudah baikan kok pak."
"Syukurlah... Jangan di paksakan kalau kamu masih sakit, istirahat di rumah beberapa hari lagi juga tidak apa-apa kok," ujar Evan.
Pemuda yang kini sudah berstatus itu, kini menampakan sifatnya yang selalu memberi perhatian padanya. Tidak nyaman? tentu saja.
Selain dari awal memang Eva tidak mempunyai rasa terhadapnya, di tambah kini dia sudah beristri.
Wulan di pojokan sana mendengar percakapan antara Eva dan suaminya. Segera Wulan menghampiri mereka berdua.
Wulan menyapa Eva sambil melingkarkan tangannya pada tangan Evan. Eva paham, bahwa Wulan hanya memberi isyarat bahwa kini Evan miliknya.
"Ya sudah pak, aku mau lanjutin kerja lagi. Permisi...." Eva pun pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Va, tau gak gimana nyebelin nya si Wulan pas sudah jadi istri pak Evan, bikin emosi tau," bisik Ita.
"Sssttt... jangan kencang-kencang Ta, orangnya datang tuh," gumam Eva sebelum Wulan benar-benar ada di belakangnya.
"Kerja! Jangan ngumpul-ngumpul tidak jelas, apalagi gosipin orang," tegurnya.
Ita langsung tertunduk dan fokus dengan pekerjaannya. Mungkin dia merasa takut, karena Wulan kini sudah menjadi istri sang manager, Evan. Tapi tidak berlaku untuk Eva, dia sama sekali tidak memperdulikan Wulan, baginya antara Wulan dan dirinya sama saja. Sama-sama karyawan.
"Kamu juga kerja, jangan ngintilin suami terus. Dia tidak akan lari kok! Ataupun di ambil pelakor."
"Apa? kamu berani bicara seperti itu padaku," tanya Wulan marah.
"Ya... berani lah."
"Kamu tahu kan aku sudah menjadi istri Evan? Istri MANAGER toko ini!"
"Terus kalau kamu istri manager mau apa? Suami kamu yang jadi managernya, bukan kamu. Kamu sama saja seperti aku, hanya seorang karyawan biasa!"
"Kamu jangan kurang ajar ya sama aku, aku bisa aja bilang sama Evan buat pecat kamu!"
"Silahkan! Aku tidak takut."
Wulan pun pergi menemui Evan yang ada di ruangannya, dengan wajah di tekuk karena kesal.
"Va, kamu berani banget sama si Wulan," ujar Ita.
"Ngapain takut Ta, emang kenyataan nya juga gitu kan? Dia nyuruh kita buat fokus kerja, tapi sendirinya juga malah ngintilin suaminya. Mondar-mandir kesana-kemari. Gak jelas!"
jangan patah semangat ea thoor 😘
ohyaa, akuu jugaa writtrer lohh btw, bisaa juga kalian baca ceritakuu, namanya "My Girlfriend Is Mafia". Mohon dibacaa yaa eehhehehee.. Makasi bangett bagi yang sudah nyempetin baca 😊😊
semangat buat thor nyaa!! 💪💪
salam dari: Monopoli Cinta Tuan Muda.
Mari saling mendukung ☺
suka...🤩🤩🤩