Antares Bagaskara atau yang akrab dipanggil Ares adalah seorang pria tampan dan kaya, yang baru saja bercerai dengan istrinya. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Arkanio Bagaskara.
Antares atau yang akrab dipanggil Ares harus diperhadapkan dengan perceraian karena perselingkuhan istrinya. Disisi lain ia bertemu dengan Anita yang merupakan babysitter dari anaknya. Percikan asmara pun muncul diantara keduanya? Namun, semua itu tidaklah mudah. Lantas bagaimana seorang duda beranak satu memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kristikitt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - Little Trouble
"Kak?" Panggil adik gue.
"Hm?"
"Kakak kapan nikah?"
"Hah? Gila kamu Dek? Apaan sih, baru juga pacaran." Hardik gue.
"Kak Ares itu udah mateng banget deh kelihatannya."
"Kamu pikir dia telor apa? Mateng-mateng."
"Yah bukan sih. Maksudnya gini loh Kak, Kak Ares itu duda, anaknya udah 1, kalo sama Kakak paling lebih dari 1 entar." Ucapnya yang diakhiri dengan kekehan.
"Mau ditampol?" Tanya gue galak.
"Enggak. Bercanda doang Kak." Cengirnya. "Eh gini-gini. Kak, diusia Kak Ares dan dengan statusnya dia sekarang itu, gak memungkinkan buat main-main lagi. Malu kali sama statusnya, udah duda, eh masih mainin cewek."
"Dek, kamu tinggal pilih. Mau di tampol dengan tangan kiri apa tangan kanan?"
"Yaelah Kak! Galak amat." Sungutnya. "Gini loh Kak. Dia pacaran sama Kakak juga serius. Kalo dia gak serius ya gak mungkinlah dia bakal langsung bilang sama Kakak kalo dia itu cinta sama Kakak. Dia juga harus perjuangin Kakak. Masih ingat kan pas dia sama Om Wira berebut buat dapatin Kakak?"
"Iya sih." Angguk gue.
"Nah, itu artinya, dia benar-benar yakin dengan perasaannya sendiri. Dia serius sama Kakak." Jelas Nisa. Wah, nih bocah micin, otaknya bagus juga yah.
"Terus?" Tanya gue.
"Kapan kasih aku ponakan yang ucul-ucul kayak Arka ginih?"
"Ye.. masih lama kali. Nikah juga belom, pacaran juga baru seminggu."
"Entar aku bilangin Kak Ares kalo Kakak udah kebelet pengen nikah."
"Tangan kanan Kakak gatel nih. Pengen tampol orang deh rasanya."
"Kakak!" Teriaknya.
"Makanya jangan godain Kakak terus."
"Iya. Iya Nyonya Bagaskara." Setelah dia mengatakan itu, dia langsung ngacir gitu ajah. Takut kena tampolan gue, wkwkwk.
Gue memikirkan apa yang dibilang sama adik gue tadi. Benar. Diusia Kak Ares sekarang, ditambah dengan statusnya yaitu duda beranak 1, pasti dia gak mau main-main sama gue. Dia pasti serius. Bahkan gue sendiri pun bisa merasakan ketulusan itu.
Akan tetapi, bicara soal pernikahan... ah, rasanya masih terlalu jauh buat gue. Gue belum siap jika harus nikah.
Butuh biaya yang banyak untuk kuliah adik gue. Gue masih harus cari uang biar dia bisa tetap kuliah. Jika gue nikah nanti, siapa yang bakal bayarin biaya kuliah dia? Kak Ares? Gak mungkin lah! Anisa itu tanggung jawab gue, bukan tanggung jawab Kak Ares.
Lagi-lagi rasa ragu itu menyusup dalam diri gue. Apalagi, Kak Ares udah kode-kode tentang pernikahan. Padahal kita baru pacaran seminggu loh! Bayangkan kalo kita udah pacaran berbulan-bulan, wahh.. telinga gue bisa-bisa budek hanya karena kode-kode pengen nikah dari dia.
Gue memandang wajah Arka yang udah pulas disamping gue. Tiba-tiba gue teringat dengan malam itu. Malam dimana gue, Kak Ares dan Arka tidur seranjang. Rasanya memang canggung, tapi entah mengapa gue menyukainya. Gue membayangkan jika saat kami nikah nanti, pastinya akan ada saat dimana kami bertiga tidur seranjang. Gak ada lagi rasa canggung, yang ada hanya rasa nyaman.
...***...
Ketika gue membuka pintu rumah bermaksud ingin keluar, gue dikejutkan dengan kehadiran Kak Ares yang sudah ada didepan rumah gue.
"Morning." Sapanya.
"Ngapain kesini pagi-pagi, Kak?" Tanya gue.
"Kamu gak nyuruh aku masuk dulu?"
"Oh iya lupa." Cengir gue. "Yaudah sini masuk." Ucap gue.
Kak Ares kemudian masuk dan mendudukan dirinya pada kursi diruang tamu gue. "Ngapain?" Tanya gue lagi.
"Arka masih tidur?" Bukannya menjawab, Kak Ares malah balik bertanya.
"Iya." Jawab gue. "Kakak ngapain kesini pagi-pagi?" Tanya gue lagi.
"Mau ajak kamu keluar."
"Tapi Arkanya masih tidur."
"Adek kamu adakan? Minta tolong dia jagain Arka bentar ajah yah. Aku mau ngajakin kamu nih."
Terpaksa gue menuruti kemauan Kak Ares, padahal gue sebenarnya gak tahu maksudnya dia ngajakin gue pagi-pagi gini. Untung yah, sebelum keluar rumah tadi, gue udah cuci muka, sama sikat gigi.
Gue pikir Kak Ares mau ngajak gue kemana gituh, eh ternyata kita cuman makan bubur ayam di depan kompleks doang. Hedeh-,-
"Kenapa?" Tanya Kak Ares tiba-tiba.
"Enggak kok." Jawab gue.
"Cuman makan bubur ayam doang yah?" Tebaknya. Benar sih sebenarnya, tapi gue gengsi buat membenarkan. "Aku dateng pagi-pagi ke rumah karena aku gak tahan." Ucapnya yang membuat gue menoleh menatapnya. "Maksudnya?" Tanya gue.
"Pengen lihat wajah pacar aku ajah. Heheh." Dihadapan gue ini duda anak satu atau anak SMA baru kenal cinta sih?
"Tiap hari bangun pagi selalu lihat wajah kamu. Jadi pas kamu pulang, ya aku rindu lah."
"Semalam kan baru ketemu."
"Ya namanya juga lagi jatuh cinta."
"Idih apaan sih?"
"Pipi kamu merah tuh." Aduh. Pipi gue emang suka gini yah kalo lagi malu. "Gemesin banget." Ucap Kak Ares.
Selesai makan kami berdua pun kembali sambil berjalan kaki. Saat pergi tadi, kami emang jalan kaki. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat disamping kami. Si pemilik mobil langsung keluar dari mobilnya.
"Wah. Pilih Ares yah kamu?" Itu Sarah, mantan istrinya Kak Ares. Baik gue dan Kak Ares sama-sama kaget.
"Ngapain kamu ada disini?" Tanya Kak Ares.
"Tau gak kamu, wanita disamping kamu itu awalnya pengen pilih Wira dibanding kamu."
"Aku gak peduli."
"Hm.. tau gak kamu, waktu itu Wira udah bawa dia kerumahnya?" Tanya Sarah yang membuat Kak Ares enatap gue.
"Kalau ajah saat itu, nyokapnya Wira setuju, kamu gak bakalan sama dia." Ucapan Sarah membuat gue menunduk.
"Dia pilih kamu, bukan karena dia cinta sama kamu. Nyadar! Kamu cuman pelarian dia ajah. Lucu banget sih kamu Ares."
"Cukup!" Pekik gue.
"Kenapa? Lo mau ngebantah fakta tersebut?" Tanya Sarah dengan nada tinggi.
"Lo gak tau apa-apa!" Bentak gue.
"Hah?" Sarah mulai tertawa kecil. "Seandainya nyokapnya Wira setuju, lo bakalan pilih Wira kan? Secara, dia man lebih kaya lho, lo kan mata duitan."
"Lo-" Belum sempat membalas ucapan Sarah, tangan gue ditarik sama Kak Ares. Gue yakin dia pasti marah sama gue dan gue siap buat terima semuanya.
...***...
Kak Ares gak langsung membawa gue ke rumah, tetapi dia malah membuka pintu mobil dan menyuruh gue masuk. Kita gak duduk didepan, tapi dibelakang.
"Yang dikatakan Sarah tadi benar?" Tanya Kak Ares sambil menatap gue.
"Gak semuanya benar Kak." Jawab gue. Jujur saja, ada perasaan takut yang menghinggapi gue. Gue takut buat kehilangan Kak Ares sekarang. Gue pernah terlambat menyadari perasaan gue sama dia, jadi gue gak mau buat menyia-nyiakan kesempatan gue lagi.
"Cerita semuanya sama aku, Nita." Pinta Kak Ares. Tak ada nada marah dalam kalimatnya.
"Kak..."
"Cerita Nit."
Akhirnya gue menceritakan semuanya. Mulai dari kedekatan Kak Wira, perasaan gue yang sempat bimbang, hingga pada poin terpenting bahwa saat itu gue hampir memilih Kak Wira. "Jika saja, nyokap Kak Wira menyukai aku, mungkin bukan Kakak orang yang akan aku pilih."
Kak Ares menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Tapi..." Ucap gue, serentak Kak Ares pun menoleh. "Aku bakalan nyesel saat itu Kak. Karena perasaan aku sebenarnya bukan untuk Kak Wira, tapi untuk Kakak." Ungkap gue sambil menatap Kak Ares. Gak ada keragu-raguan dalam hati gue lagi.
"Sebelum aku dekat sama Kak Wira, Kakak udah punya tempat tersendiri di hati aku. Hanya kebimbangan dan keragu-raguan yang membuatnya terlihat samar. Akan tetapi jika kebimbangan dan keragu-raguan itu aku singkirkan, maka hanya ada Kakak yang ada dihati aku." Kata gue.
Kak Ares menatap gue, ia seperti mencari kebohongan dalam diri gue, tapi tidak ia temukan, karena nyatanya, apa yang gue katakan itu memang benar.
Secepat kilat Kak Ares memeluk gue. Ia mengecup puncak kepala gue. "Makasih yah." Ucapnya.
"Rasa kamu sama aku ternyata dalam juga." Ada kekehan diakhir kalimatnya. Kemudian ia melepaskan pelukannya, setelah itu ia menatap gue. "Kenapa?" Tanya gue.
"Kita nikah ajah yuk.."
BUGH.
Gue memukul pelan tangannya. "Masih mau pacaran dulu." Tolak gue.
"Ok. Nanti aku lamar kamu yah." Yeh.. malah gak nyambung.
"Gak mau." Tolak gue.
"Bagusnya kapan yah?" Kak Ares terlihat berpikir. "Besok?"
"Kakak!"
...-***-...