NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Aku Kakak Iparmu

Pagi datang terlalu cepat.

Yola hampir tidak tidur.

Ketika azan subuh dari masjid kompleks terdengar samar melewati kaca jendela, ia masih duduk di kursi dekat meja rias, mengenakan cardigan tipis di atas piyama. Ponselnya diletakkan terbalik sejak dini hari, tetapi getarannya tetap terasa seperti mengetuk langsung ke tulang.

Di luar, Jakarta sudah membaca versi baru dari malam itu.

Pernyataan Liem Group keluar pukul lima lewat dua belas.

Singkat. Dingin. Resmi.

Pertunangan Rayhan dengan Celine Tan dibatalkan karena pelanggaran keamanan serius dalam acara pribadi yang membahayakan anggota keluarga Liem. Liem Group akan bekerja sama dengan pihak hotel, pengacara, dan otoritas terkait jika diperlukan.

Nama Yola tidak ada.

Namun justru karena tidak ada, orang-orang mengisinya sendiri.

Beberapa portal bisnis menulisnya kering, hanya menyebut kerja sama Liem dan Tan sedang dievaluasi. Akun gosip menulisnya lebih lapar: tunangan CEO batal setelah insiden janda keluarga. Di kolom komentar, orang-orang yang tidak tahu bentuk wajah Yola merasa berhak menebak niatnya, masa lalunya, bahkan cara ia tinggal di rumah Liem.

Yang paling menyakitkan bukan hinaannya.

Yang paling menyakitkan adalah betapa cepat orang asing merasa mengenal hidupnya hanya dari satu kata.

Sari mengetuk pelan sebelum masuk membawa teh hangat.

"Nona, Mama meminta Nona sarapan sedikit. Dokter juga akan mampir lagi nanti siang."

Yola melihat cangkir itu. Teh manis, warnanya bening kecokelatan, persis seperti yang biasa ia minum ketika kepala terasa berat.

"Siapa yang membuat?"

"Mama yang minta dapur buat. Beliau bilang jangan terlalu pahit."

Yola memegang cangkir dengan dua tangan.

Hangatnya tidak cukup untuk mengusir rasa dingin yang tertinggal sejak taman.

Sari ragu di dekat pintu. "Nona, ada beberapa pesan dari Nona Naomi. Saya tidak baca isinya. Beliau cuma kirim banyak tanda seru."

Yola hampir tersenyum, tetapi gagal.

"Nanti aku jawab."

"Baik."

Sari tidak pergi. Ia menggenggam nampan kosong, lalu menunduk. "Nona, kalau orang-orang di luar bicara macam-macam, Nona jangan percaya."

"Sari."

"Saya tahu saya cuma staf, tapi saya lihat Nona dari dulu. Nona tidak pernah mengambil milik siapa pun."

Kalimat itu membuat tenggorokan Yola tercekat.

Ia menatap teh di tangannya agar Sari tidak melihat matanya memerah.

"Terima kasih."

Di ruang makan kecil, Mama Liem sudah menunggu. Denny juga ada di sana, rambutnya masih berantakan seperti baru diseret dari tempat tidur. Pak Wahyu berdiri di dekat pintu, terlalu formal untuk pagi yang biasanya hangat.

Rayhan belum terlihat.

Yola merasa lega.

Lalu benci pada rasa lega itu.

"Yola, duduk sini," kata Mama Liem, menepuk kursi di sebelahnya.

Yola menurut.

Sarapan tersaji, tetapi tidak ada yang benar-benar makan. Mama Liem memperhatikan pergelangan tangan Yola. Denny mencuri pandang ke ponselnya, lalu cepat meletakkannya saat Mama menoleh.

"Apa yang orang tulis?" tanya Yola.

Denny membeku. "Tidak penting, Kak."

"Kalau tidak penting, kamu tidak akan melihatnya sejak tadi."

Denny tampak ingin mengelak, tetapi akhirnya wajahnya jatuh. "Ada yang bilang Kak Yola penyebab Kak Rayhan batal tunangan. Ada juga yang bilang keluarga Tan sengaja memfitnah. Grup kampusku bahkan sudah bahas, padahal mereka tidak kenal siapa-siapa."

Mama Liem menutup mata. "Denny."

"Maaf, Ma."

Denny menggaruk leher, lalu menatap Yola dengan canggung. "Aku sudah keluar dari grup itu. Bukan karena takut, Kak. Aku cuma malas lihat orang sok tahu."

Kalimat kikuk itu lebih menghibur daripada yang Denny sadari.

Yola meletakkan sendok.

"Tidak apa-apa. Lebih baik saya tahu."

Pada saat itu, langkah terdengar dari arah koridor.

Rayhan masuk.

Kemeja hitamnya membuat wajahnya terlihat lebih pucat. Di pipi kirinya, bekas merah tamparan sudah samar, tetapi Yola melihatnya sebelum sempat menunduk. Rayhan juga melihat Yola melihat.

Tidak ada yang bicara selama satu detik terlalu panjang.

Mama Liem memecah hening. "Rayhan, duduk. Mama perlu mendengar langsung. Apa semua ini sudah terkendali?"

"Belum," jawab Rayhan. "Tapi akan terkendali."

Denny bergumam, "Itu jawaban paling Kak Rayhan sedunia."

Mama menatapnya.

Denny langsung diam.

Rayhan duduk di kursi seberang Yola, bukan di sampingnya. Jarak itu seharusnya membuat Yola lega. Tapi meja di antara mereka justru terasa seperti saksi.

Mama menarik napas. "Yang Mama pedulikan sekarang bukan Celine, bukan Hendra, bukan berita. Mama peduli Yola. Apakah ada yang perlu Mama tahu?"

Yola tahu Mama bertanya dengan kasih, bukan curiga.

Justru karena itu, jawaban terasa lebih sulit.

Ia belum siap menceritakan taman.

Ia belum siap melihat Mama memandang Rayhan dan dirinya dengan pertanyaan baru.

"Yang terjadi di hotel sudah ditangani," kata Yola pelan. "Pak Rayhan membela saya karena saya keluarga Liem."

Rayhan menatapnya.

Yola menahan tatapan itu, lalu melanjutkan, lebih jelas, lebih rapi, seolah sedang memberi pernyataan yang harus didengar seluruh rumah.

"Beliau adik ipar saya. Sudah sewajarnya keluarga saling menjaga nama baik dan keselamatan."

Kata adik ipar jatuh di ruang makan seperti sendok logam yang menyentuh piring.

Denny menatap mangkuknya.

Pak Wahyu menunduk lebih dalam.

Mama Liem melihat Yola, lalu Rayhan, dengan sesuatu yang sulit dibaca.

Rayhan tidak bergerak.

Hanya buku-buku jarinya di atas meja yang menegang.

"Benar," katanya akhirnya.

Satu kata.

Datar.

Yola tahu kata itu bukan persetujuan. Itu penahanan diri.

Sarapan dilanjutkan tanpa rasa. Mama mencoba meminta Yola makan dua sendok bubur. Denny bicara tentang jadwal kampus yang tiba-tiba terdengar sangat jauh dari semua masalah dewasa. Rayhan menerima telepon dari Ardi, menjawab singkat, lalu menutupnya.

Setelah Mama kembali ke kamarnya untuk minum jamu, Yola berdiri hendak pergi.

Rayhan juga berdiri.

Mereka bertemu di koridor dekat jendela besar yang menghadap taman belakang.

Denny sudah naik. Pak Wahyu sibuk memberi instruksi di dapur. Untuk pertama kalinya sejak ruang makan, mereka tidak punya orang lain di antara mereka.

Yola ingin melewatinya.

Rayhan berkata, "Kamu sengaja."

Yola berhenti.

"Apa?"

"Mengucapkan adik ipar di depan Mama."

Yola menatap jendela, bukan wajahnya. Di luar, kolam taman tampak sangat tenang di bawah matahari pagi, seolah semalam tidak menyimpan apa pun.

"Saya mengatakan fakta."

"Kamu menjadikannya pisau."

"Kalau fakta terasa seperti pisau, mungkin karena semalam Anda yang membuatnya tajam."

Rayhan terdiam.

Yola akhirnya menoleh.

Bekas tamparan di pipi Rayhan lebih jelas dari dekat. Dadanya bergerak aneh, tetapi ia memaksa diri untuk tidak merasa bersalah atas tanda yang ia buat untuk mempertahankan batasnya.

"Pak Rayhan," katanya, kembali formal, "di depan Mama, di depan Denny, di depan orang luar, saya akan selalu mengatakan hal yang sama."

Rayhan menatapnya.

Yola mengucapkan setiap kata perlahan.

"Aku kakak iparmu."

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!