"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Alhamdulillah kalian udah sampai,"ucap Asha sambil tersenyum cerah ketika Lingga dan Mita turun dar mobil. Sedar tadi dia berjalan keluar masuk rumah karena menunggu putranya itu.
Mendengar kisah Mita, membuat hati Asha trenyuh. Dia sangat iba kepada wanita muda tersebut. Bagaimana bisa ada suami yang tega melakukan itu pada istrinya. Dan bagaimana bisa ada adik yang begitu tega menjadi duri dalam daging sang kakak.
Asha yang mendapatkan cinta penuh dari suaminya benar-benar tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa Mita. Meski dulu diawal pernikahannya dan sang suami juga tidak baik karena sebuah perjodohan, namun itu hanya sebuah batu lompatan untuk menjadi pasangan yang saling mencintai hingga saat ini.
"Maaf Ibu, tadi saya sedikit lama beberes, jadi sampainya sedikit malam. Maaf sudah buat Ibu menunggu, dan terimakasih karena sudah menampung saya,"ucap Mita dengan wajah yang penuh rasa tidak enak.
Baru pertama bertemu tapi sudah langsung mendapat bantuan. Sungguh rasanya seperti sebuah keajaiban akan tetapi juga ada beban di sana.
Belum apa-apa Mita sudah berpikir apa yang harus dilakukan di rumah besar ini. Rumah bergaya joglo dengan elemen kayu di setiap sisi, menjelaskan bahwa keluarga ini bukan keluarga yang biasa. Meski bersikap sederhana, tapi Mita bisa tahu bahwa mereka adalah orang-rang berkelas.
Bukti perusahaan berdiri dengan kokoh juga merupakan betapa kompetennya keluarga ini. Kecerdasan dari sang ibu, bahkan bisa Mita rasakan karena terpancar dari setiap tindak tanduknya yang bermartabat dan elegan.
"Nggak apa-apa. Nah ayo masuk. Ibu sudah siapkan kamar untuk mu tidur. Kamu pasti lelah, nggak usah mikir apa-apa, bersihkan dirimu lalu segera tidur."
"Baik Ibu terimakasih."
Sebuah kamar yang dimasuki Mita sudah benar-benar dipersiapkan dengan rapi. Dia melihat seisi kamar, tak banyak barang di sana. Bangunan rumah ini memang bergaya klasik, namun perlengkapan tidur di dalamnya mengikuti gaya sekarang.
Mita meletakkan kopernya di sudut kamar. Dia membukanya untuk mengambil pakaian ganti. Seperti yang dikatakan ibu dari Lingga, Mita membersihkan dirinya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
Matanya terpejam sejenak, semua hal yang hari ini terjadi terbayang begitu saja bak slide powerpoint yang digunakan untuk presentasi. Mita menghembuskan nafasnya kasar ketika mengingat tentang apa yang dilakukan Erdio terhadapnya tadi.
"Aku cuma pengen tidur. Aku capek Ya Allah,"ucap Mita sambil membenamkan wajahnya pada guling yang sekarang dipeluknya.
Meski sedikit sulit, akhirnya Mita pun bisa tidur juga. Dai tidur dengan lelap setelah merasakan betapa lelahnya tubuh, hati dan pikirannya akibat perselingkuhan suami dan adiknya.
"Coba ceritakan lebih detail, Ga. Ayah dan Ibu yakin cerita tadi masih belum lengkap. Dan Ayah tahu kalau kamu pasti tahu persis bagaimana ceritanya."
Saat ini Lingga sedang duduk di teras bersama Adam dan Asha. Adam langsung bertanya tentang semua hal yang terjadi pada wanita yang dibawa sang putra tersebut. Ia penasaran mengapa Lingga sampai sejauh ini ikut campur.
Pun dengan Asha. Dia tahu betul putranya bukan tipe orang yang mau ikut campur urusan orang lain. Lebih-lebih ini seorang wanita. Benar-benar sesuatu yang di luar kebiasaan seorang Lingga.
"Hmmm, Ayah dan Ibu beneran ingin tahu secara detailnya?" tanya Lingga memastikan.
"Iya, biar Ibu bisa menghadapi Mita. Biar Ibu bisa bicara lebih hati-hati kepada wanita yang hatinya sedang terluka itu."
"Dan juga Ayah bisa menjawab kalau ada yang tanya siapa Mita. Keluarga kita cukup dilihat di masyarakat. Pasti akan ada pertanyaan jika mereka melihat ada orang asing yang datang ke sini. Kalau para pekerja kita, itu bukan masalah. Hanya saja Ayah nggak mau nanti ada pembicaraan buruk tentang wanita muda itu. Dia di sini karena kita ingin membantu dan melindunginya. Jangan sampai malah dia jadi tertekan karena ada yang bicara buruk, walau Ayah pasti akan menindak mereka yang berani berkata buruk terhadap orang-orang yang ada di rumah ini."
LIngga paham, dia menganggukkan kepalanya karena sangat mengerti tentang apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Sehingga Lingga pun menceritakan semuanya.
Tak hanya dari mulutnya, Lingga juga memanggil Baron untuk menjelaskan semua yang sudah dilihat selama ini.
"Awalnya aku nggak peduli. Ketika dia resign dari perusahaan karena katanya mau jadi ibu rumah tangga, ya sudah aku nggak mau tahu lagi. Cuman ada sesuatu yang mengganjal. Di suatu waktu, aku lupa tepatnya kapan, aku melihat suami Mita berjalan-jalan dengan sang adik. Mereka tak seperti ipar, mereka lebih terlihat seperti pasangan kekasih. Sejak itu lah aku curiga dan meminta Baron untuk mengawasi mereka. Dan ternyata kecurigaan ku benar. Tapi aku nggak bisa langsung ngasih tahu Mita. Karena pasti dia nggak akan percaya."
Adam dan Asha saling pandang ketika mendengar secara keseluruhan cerita Lingga. Mereka tidak menyangka bahwa Lingga akan berbuat sejauh ini pada Mita yang merupakan mantan karyawannya itu.
"Kenapa kamu ngelakuin itu?" tanya Adam dengan tatapan penuh kecurigaan. Ya dia curiga putranya memiliki sesuatu yang lain di pikirannya.
Entah, apa mungkin itu hanya pikiran liar Adam atau apa. Tapi Adam punya firasat yang sedikit tidak pas di sini.
"Karena Mita adalah wanita yang kompeten. Kayaknya sayang aja dia keluar gitu aja dari perusahaan. Setelah keluarnya Mita, aku nyoba buat cari orang yang cocok di posisi itu, tapi sama sekali nggak ada yang kayak Mita," jawab Lingga apa adanya karena memang demikian yang dirasakannya.
"Ya udah, Ayah sama Ibu udah paham. Sana tidur, istrahat. Besok kamu harus balik lagi kan ke Semarang?"
"Kayaknya enggak deh, aku mau istrahat dulu aja di rumah. Kebetulan udah pulang ini. Libur sehari nggak akan jad masalah. Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya Yah, Bu."
Lingga bangkit dan melenggang pergi untuk tidur. Dia meninggalkan Adam dan Asha yang masih memiliki banyak dugaan di kepala mereka.
Baik Adam maupun Asha tahu betul bahwa Lingga adalah seorang workaholic, dia pekerja yang tak kenal waktu dan kadang sedikit 'menyiksa' anak buahnya. Namun ucapan Lingga yang tiba-tiba mau libur meski hanya sehari cukup mengejutkan bagi kedua orang tua itu.
"Nduk, kamu mikir apa yang aku pikirkan sekarang nggak soal anakmu itu?" tanya Adam kepada sang istri.
"Ho oh, Mas. Aku ngerti yang kamu pikirin. Sudah lah, kita perjelas aja. Apa tuh anak suka sama Mita?"
"Nah itu ... Kita lihat aja dulu. Cuman kalau situasinya masih begin, jujur aku nggak suka. Bukan karena apa-apa. Saat ini kan anak itu lagi proses sama suaminya. Jangan sampai Lingga ngacau dan malah jadi bumerang. Sebisa mungkin usir anak itu buat balik ke Semarang. Kita harus batasi antara dia dan Mita agar nggak jadi fitnah."
Asha mengangguk setuju dengan ide sang suami. Dugaan mereka bahwa Lingga menyukai Mita sangat besar. Banyak perilaku di luar nalar Lingga yang dilakukan dimana semua berhubungan dengan Mita.
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,