Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Hasil tes DNA membutuhkan lima hari kerja.
Lima hari itu terasa seperti lima bulan.
Raka berusaha membuat jadwal Maya sesederhana mungkin. Sarapan, vitamin, jalan ringan, tidur siang, makan malam, lalu tidur. Tidak ada tamu. Tidak ada acara. Berita gosip diblokir dari ponselnya, meski Maya tahu itu karena Raka meminta Bima memasang penyaring berita.
Ia tidak marah.
Tidak sepenuhnya.
Karena setiap kali ia melihat judul yang masih lolos, dadanya memang terasa sesak.
`Istri Raka Wijaya Diduga Mengincar Nama Surya Dharma`
`Dari Cleaning Service ke Dua Keluarga Konglomerat`
`Kehamilan Misterius dan Jejak Akta Lama`
Maya membaca satu judul sebelum Raka mengambil ponselnya.
"Mas Raka."
"Tidak."
"Saya hanya membaca."
"Tekanan darahmu naik kalau membaca."
"Tekanan darah saya naik karena Mas mengambil ponsel."
"Tetap naik. Jadi ponselnya aku simpan."
Maya ingin kesal, tapi ia terlalu lelah.
Hari ketiga, Pak Surya mengirim bunga dan sup herbal khusus ibu hamil dari dokter gizi rumah sakitnya. Raka memeriksa daftar bahan sebelum mengizinkan Maya mencicipi. Maya menatapnya seperti menatap petugas bea cukai.
"Mas Raka, itu dari rumah sakit."
"Rumah sakit juga bisa salah."
"Atau Mas tidak suka Pak Surya mengirim makanan?"
Raka berhenti.
Maya mengangkat alis.
"Mas cemburu pada kemungkinan ayah saya?"
"Tidak."
"Jawabannya terlalu cepat."
"Aku tidak cemburu pada pria tujuh puluh tahun."
"Tapi wajah Mas..."
"Aku tidak suka ada laki-laki lain mengatur makananmu."
Maya menutup mulut agar tidak tertawa.
"Itu bukan cemburu?"
"Itu pengawasan nutrisi."
Wati yang sedang menata sendok hampir menjatuhkannya.
Maya akhirnya tertawa.
Raka tampak kesal, tapi tidak benar-benar marah. Tawa Maya selama beberapa hari ini jarang muncul. Kalau harus menjadi bahan tertawaan agar ia terlihat hidup, Raka bersedia.
Namun sore itu, ketenangan pecah.
Seorang pria datang ke lobi apartemen dan meminta bertemu Maya. Ia membawa dokumen lama dan mengaku bernama Hendra Prasetyo.
Ketika Bima menyampaikan nama itu, gelas di tangan Maya jatuh.
Air tumpah ke lantai.
Raka langsung berdiri.
"Siapa?"
Maya menatap Bima dengan wajah pucat.
"Hendra... suami pertama saya."
Ruangan menjadi beku.
Wati menutup mulut.
Bima yang biasanya tenang tampak terguncang.
Raka menatap Maya.
"Suamimu meninggal dua puluh lima tahun lalu."
"Seharusnya begitu."
Suara Maya hampir tidak terdengar.
Raka memberi perintah singkat, "Bawa dia ke ruang pertemuan bawah. Jangan naik."
Maya berdiri. "Saya ikut."
"Tidak."
"Mas Raka."
"Kamu sedang hamil dan baru saja hampir jatuh karena nama itu."
"Justru karena itu saya harus lihat sendiri."
Raka menatapnya dengan rahang mengeras.
"Maya, kalau pria itu penipu—"
"Maka saya harus tahu."
Pada akhirnya, mereka turun bersama.
Pria yang menunggu di ruang pertemuan tampak berusia lima puluhan akhir. Tubuhnya masih tegap, kulitnya lebih gelap karena matahari, rambutnya beruban di pelipis. Di alis kirinya ada bekas luka tipis yang Maya ingat samar dari masa muda.
Begitu melihat Maya, pria itu berdiri.
Matanya memerah.
"Maya."
Raka berdiri di samping Maya, tubuhnya menjadi pagar.
Maya menatap pria itu lama.
Wajah muda Hendra yang ia ingat sudah berubah, tapi ada hal-hal kecil yang tidak hilang. Cara ia menyebut namanya. Bentuk tangannya. Bekas luka di alis.
"Kamu..." Maya hampir tidak bisa bicara. "Kamu hidup?"
Hendra menunduk.
"Iya."
Maya tertawa kecil, kosong.
"Dua puluh lima tahun saya menyebutmu almarhum."
"Aku tahu."
"Dimas tumbuh tanpa ayah."
"Aku tahu."
"Saya bekerja sampai tubuh saya rusak karena kamu mati."
Wajah Hendra penuh rasa sakit. "Aku tahu, Maya. Aku tahu aku tidak pantas minta maaf, tapi aku datang untuk menjelaskan."
Raka berkata dingin, "Mulai dengan identitas."
Hendra menatap Raka. "Saya Hendra Prasetyo. Secara hukum pernah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan kapal di Kalimantan dua puluh lima tahun lalu."
"Pernah?"
"Saya tidak mati. Saya diselamatkan, lalu masuk dalam perlindungan saksi terkait kasus penyelundupan dan jaringan bisnis gelap. Saat itu kembali berarti membahayakan Maya dan anak kami."
Maya menatapnya tidak percaya.
"Jadi kamu memilih membiarkan kami mengira kamu mati?"
"Aku tidak punya pilihan."
"Semua orang selalu mengatakan itu saat menyakiti saya."
Hendra terdiam.
Raka melihat Maya mulai gemetar.
"Cukup untuk hari ini."
"Tidak," kata Maya.
Ia menatap Hendra.
"Kenapa baru datang sekarang?"
Hendra mengeluarkan koran cetak dan beberapa tangkapan layar berita. Foto Maya bersama Raka. Berita tentang kemungkinan hubungan dengan keluarga Surya.
"Aku melihat berita. Aku tahu kamu dalam bahaya. Dan aku tahu kalau aku tidak datang sekarang, mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan menjelaskan."
Raka tersenyum dingin.
"Atau kamu datang karena dia sekarang istri Raka Wijaya dan mungkin putri Surya Dharma."
Hendra menatapnya. "Saya tidak butuh harta."
"Semua orang berkata begitu."
Maya mengangkat tangan. "Mas."
Raka diam, tapi matanya tetap tajam.
Hendra menatap perut Maya.
Wajahnya berubah.
"Kamu hamil."
Maya langsung mundur setengah langkah, seolah pandangan itu terlalu banyak.
Raka bergerak menutupi tubuh Maya.
"Jangan melihat istriku seperti itu."
Hendra menatap Raka. "Istrimu?"
Udara berubah.
Maya menutup mata.
Hendra berkata pelan, "Maya, apakah kalian sudah menikah resmi?"
Raka menjawab sebelum Maya.
"Ya."
Hendra mengeluarkan map dari tasnya.
"Kalau begitu ada masalah."
Maya membuka mata.
Hendra meletakkan salinan dokumen di meja.
"Status kematianku sedang dalam proses pembatalan karena negara mengembalikan identitasku. Jika akta kematianku dibatalkan mundur, pernikahan kita dulu dianggap tidak pernah berakhir secara hukum."
Maya merasa lantai kembali hilang.
Raka mengambil dokumen itu.
Wajahnya menjadi sangat dingin.
Hendra menatap Maya dengan mata penuh penyesalan.
"Aku tidak datang untuk merebutmu. Tapi kalau orang yang membencimu tahu ini, mereka akan memakai status pernikahanmu untuk menyerang."
Di luar ruang pertemuan, seseorang yang menyamar sebagai kurir menurunkan ponsel dari celah pintu.
Rekaman sudah terkirim.
Tujuannya: Sabrina.
Sebelum masuk mobil, Hendra menoleh pada Maya.
"Aku memang bukan suami yang baik dulu," katanya. "Tapi aku tidak pernah ingin melihatmu dijual seperti barang oleh keluargamu sendiri."
Maya memeluk map itu erat. "Kenapa baru muncul sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Hendra diam cukup lama.
"Karena aku pengecut," jawabnya akhirnya. "Aku kalah judi, dikejar orang, lalu memilih hilang. Saat hidupku mulai bisa berdiri lagi, aku kira kamu sudah punya kehidupan yang lebih baik tanpa aku. Aku salah."
Maya tidak memaafkannya. Belum.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia melihat Hendra bukan sebagai hantu dari masa lalu, melainkan orang rusak yang masih bisa dipakai sebagai saksi.
Raka membuka pintu mobil untuknya.
Hendra melihat gerakan kecil itu dan tertawa hambar. "Setidaknya kali ini kamu bersama pria yang tahu cara berdiri di depanmu."
Raka menatapnya dingin. "Aku berdiri di sampingnya."
Maya masuk mobil tanpa berkata apa-apa, tetapi kalimat itu tinggal di dadanya lebih lama dari yang ia kira.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍