menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(perjalanan 2, politik Oscar) terdirinya korp rahasia milik Elizabeth.
Saat kami berempat sedang berjalan melangkah bersama menyusuri koridor aula tengah menuju ke arah kamar tidur pribadiku, langkah kaki manusiaku mendadak langsung terhenti seketika. Sepasang mata ungu menyalaku menangkap siluet dari sosok kepala ksatria yang sedang bertugas memimpin patroli keamanan internal kastil.
Tanpa membuang waktu taktis lagi, aku pun langsung mengangkat nada suaraku untuk memanggilnya keluar dari barisan.
"Hoi... Komandan penjaga gerbang! Kemari!" Ucapku memanggil dengan nada suara berwibawa .
Mendengar seruan suaraku, ksatria berbaju zirah besi itu seketika tersentak kaget. Dia langsung berbalik tubuh dengan cepat dan bergegas melangkah setengah berlari menghampiri posisi tempat kami berempat berdiri, lalu membungkuk hormat dalam-dalam di hadapanku.
"Siap...! Ada instruksi darurat apa yang bisa saya laksanakan, Yang Mulia...?" Ucapnya tegas berbalut rasa hormat yang luar biasa takzim.
Aku terdiam sejenak, mengetuk-ngetuk dagu manusiaku sembari memikirkan penataan divisi militerku kembali. "Hmm... Tolong panggilkan aku dua jenderal divisi utama, ditambah jenderal regu pengintai, sama barisan para penyihir putih untuk menghadap ke ruanganku sekarang..." Ucapku memberikan instruksi awal.
"Siap, perintah dipahami...! Saya akan segera bergerak secepat mungkin untuk memanggil Jenderal Delta, Jenderal Theta, Jenderal Zeta, serta Pendeta Upsilon agar segera menghadap kepada Anda sekarang juga, yang mulia...!" Ucap sang komandan penjaga gerbang dengan sigap.
Mendengar respons setianya, aku mendadak mengerutkan dahiku perlahan. Otak ku mendadak menghitung ulang efisiensi waktu, dan aku pun langsung berubah pikiran dalam sekejap.
"Ah... Tunggu dulu, batalkan perintah barusan. Bilang aja deh ke mereka semua... Suruh mereka berempat untuk menemuiku secara resmi di dalam Ruang Rapat Agung kastil tepat pada saat matahari tenggelam nanti sore," ucapku mengubah instruksi taktis kepada kepala penjaga gerbang.
"Siap dilaksanakan, Yang Mulia...! Saya bersumpah akan menyampaikan pesan penting Anda ini dengan tepat waktu dan tanpa sebilah kesalahan sedikit pun kepada para Jenderal...!" Jawabnya tegas penuh dengan rasa kepatuhan mutlak sebelum akhirnya membungkuk undur diri dari hadapanku.
Setelah urusan instruksi rapat itu dikunci aman, kami pun kembali melanjutkan langkah kaki kami berjalan menyusuri koridor karpet merah menuju ke arah pintu kamar tidur pribadiku.
Sesampainya kami berempat melangkah masuk ke dalam ruangan kamarku yang luas nan hangat, aku segera menyuruh Alpha, Elizabeth, dan Gamma untuk duduk santai di atas ranjang kasur empukku. Sementara mereka bertiga menunggu dengan takzim, tubuh manusiaku langsung bergerak bergegas berjalan menuju ke sudut ruangan, mengorek-ngorek dan membongkar isi lemari penyimpanan magisku guna mencari setelan seragam baru serta perlengkapan tempur yang telah ku rancang khusus demi masa depan anak-anak angkatku.
"Hmm... Nah, ini dia ketemu barangnya. Gamma... kemari, Nak," ucapku dengan nada suara yang teramat lembut, membalikkan tubuhku sembari menenteng sebilah kotak kayu pelindung.
"Baik, Ibu...!" Jawab Gamma dengan nada ceria.
Anak ras semi-elang berusia 10 tahun itu langsung melompat turun dari kasur, melangkah tegap menghampiri posisiku berdiri dengan binar mata yang penuh rasa penasaran.
Aku membuka kotak tersebut, lalu menyerahkan satu set pakaian jubah kasual sutra yang teramat elegan, mewah, dan memancarkan aura berwibawa yang bener-bener sangat klop nan cocok disandingkan dengan karakteristik wujud raga semi-elangnya.
"Berbeda total dengan karakteristik gila tarung milik kakak perempuanmu, Elizabeth... Kapasitas keunggulan utama yang ada di dalam dirimu murni terletak pada kejeniusan sel-sel otakmu, Gamma... Karena bakat genetik itulah, kamu terbukti bisa mempelajari banyak hal baru dengan teramat mudah, taktis, dan sangat cepat," ucapku tersenyum bangga, menatap lurus ke dalam matanya. "Mulai besok pagi, Ibu secara resmi akan mempekerjakan dan menempatkan posisimu di dalam Pusat Serikat Perdagangan Tertinggi Aethelgard. Cukup tunjukkan saja lencana suci ini kepada para pengurus di sana, dan kau secara otomatis akan langsung menjabat sebagai sosok pemimpin yang dihormati sekaligus disegani oleh seluruh saudagar benua...!"
Aku mengulurkan tangan manusiaku, meletakkan sebilah lencana khusus yang terbuat dari bahan logam Orichalcum murni dengan ukiran timbul bermotif kepala Singa Agung—sebuah simbol mutlak yang melambangkan kekuasaan absolut, ketangguhan mental, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.
"Iya...! Sumpah ini diterima, siap dilaksanakan dengan penuh semangat, Ibu...!" Jawab Gamma lantang, menerima lencana singa tersebut dengan kedua sayap tangannya yang gemetaran menahan rasa bangga yang luar biasa hebat.
Aku hanya bisa tersenyum hangat melihat binar kebahagiaan di wajah anak laki-lakiku, lalu mengalihkan pandanganku, memanggil anak gadis kesayanganku yang masih duduk di atas ranjang.
"Elizabeth... Anak gadisku, kemari Nak..." Ucapku sembari melambaikan tangan memanggilnya sembari mengulas senyuman manis.
"I-... Iya, Ibu..." Jawab Elizabeth dengan nada suara yang lirih berbalut rasa jaim, langsung bangkit berdiri lalu berjalan melangkah perlahan menghampiri posisiku berdiri.
Tangan kiri manusiaku bergerak membuka slot inventory dimensi bayangan, mengambil seluruh setelan peralatan tempur udara serta pakaian zirah khusus yang sudah kubuat dengan kapasitas metrik terbaik dan bener-bener sangat berguna khusus untuk menyokong fisik Elizabeth. Karena berdasarkan kalkulasi sistem pengamatanku, Elizabeth adalah tipe ras manusia biasa yang sama sekali tidak diberkahi bakat bawaan untuk merapalkan mantra sihir besar; dia hanya mampu memanipulasi dan mengeluarkan pancaran energi sihir murni dalam bentuk sirkulasi mana fisik. Oleh sebab itu, aku sengaja menciptakan rancangan seragam militer khusus yang memiliki bobot teramat ringan agar dia bisa leluasa bergerak bebas, karena faksi tugasnya nanti adalah sebagai unit pengintai khusus jarak jauh yang sangat mengandalkan kelincahan dan pergerakan fisik secepat kilat!
"Kau... Kamu bener-bener bersikeras ingin menjadi bagian dari pasukan tempur garis depan kerajaan ini, kan...?" Ucapku jika tersenyum lembut menatap wajah manisnya.
"I-... Iya, Ibu... Aku bener-bener ingin berguna untuk keselamatan Ibu," jawab Elizabeth terbata-bata dengan nada suara memelas sembari sepasang tangan kecilnya meraba-raba ujung bajunya karena malu.
"Gak apa-apa, Sayang... Ibu sama sekali gak marah kok. Ibu bener-bener udah menyiapkan semua seragam dan senjata terbaik khusus buat menjaga keselamatan nyawamu di medan laga... Nih, dicoba pakai dulu pakaian barunya," ucapku lembut sembari menyerahkan setelan pakaian zirah Mirthil kasual tersebut ke pelukannya.
Elizabeth menerima seragam militer baru itu dengan sepasang mata merahnya yang berbinar-binar takjub, lalu bergegas masuk ke balik tirai sekat kamar untuk mencobanya secara langsung. Tak butuh waktu lama, Elizabeth kembali melangkah keluar dari balik tirai dengan wajah yang memancarkan rona kegembiraan yang luar biasa gila.
"Ibu...! Seragam zirah ini bener-bener teramat sangat ringan, pas, dan enak banget di badan buat dipakai bermanuver lompat, Ibu!" Ucap Elizabeth berteriak gembira penuh sukacita, mencoba melakukan gerakan menendang udara dengan lincah.
"Sangat cocok dan cantik di tubuhmu, Nak..." Jawabku sembari tersenyum hangat memuji penampilannya.
Rancangan seragam tempur Elizabeth memang bener-bener terlihat sangat modis sekaligus mematikan. Potongan bawahnya bukan mengenakan rok panjang konvensional yang merepotkan, melainkan menggunakan gabungan taktis antara rok pendek estetik bercampur celana pendek ketat elastis yang membuatnya mampu melompat zigzag tanpa hambatan. Bagian bajunya dilapisi ganda (double) menggunakan sebuah Jubah Pengintai khusus yang telah kusuntikkan sihir sirkulasi mana; sebuah jubah yang mampu mengalirkan efek sihir penghilang keberadaan (Presence Eraser) hingga sihir tembus pandang (Invisibility Cloak) tingkat tinggi di tengah kegelapan malam! Tepat di bagian dada kirinya, tersemat sebuah lencana khusus dari logam Orichalcum berkilat bermotif perisai dengan ukiran burung Gagak yang sedang mengepakkan sayap terbang di depannya. Sebuah simbol agung yang melambangkan kepintaran strategi, jiwa yang bebas merdeka bagaikan burung di langit, kecepatan kilat, serta status mutlak bahwa eksistensinya dilindungi penuh oleh hukum tertinggi Kerajaan Shadow Aethelgard!
Di saat Elizabeth sedang gembira melompat-lompat kecil menikmati zirah barunya, aku kembali merogoh inventory bayanganku, mengeluarkan pasokan persenjataan lengkap jarak jauh yang mekanisme operasional pemicunya murni memanfaatkan energi kompresi mana dari telapak tangan penggunanya.
Sebuah senapan runduk sniper jarak jauh raksasa ber-body hitam baja dengan teleskop jeli di atasnya kuserahkan ke pelukan Elizabeth. Desain fisiknya sekilas bener-bener terlihat menyerupai senapan sniper Kark10 pimpinan divisi Zeta kemarin, namun jika diperhatikan secara jeli, senjata khusus ini terlihat jauh berkali-kali lipat lebih kuat, kokoh, berwibawa, dan memiliki laras yang dilapisi ulir magis pekat. Kalau di dalam ingatan draf duniaku di bumi dahulu, bentuk visual senjata runduk penghancur kepala ini tidak lain dan tidak bukan adalah senapan legendaris AWM (Arctic Warfare Magnum)! Senjata ini bener-bener mirip AWM bumi, hanya saja sudah kumodifikasi total sirkulasinya sehingga bobot fisiknya berubah menjadi sangat ringan namun memiliki hentakan daya ledak bertenaga tinggi yang bisa memicu berbagai jurus kehancuran kosmik sesuai dengan rapalan energi penggunanya!
Tidak hanya senjata api, aku juga menyerahkan sebuah perangkat mekanis Jetpack besi ringan berlapis batu magis angin tingkat tinggi yang dipasang tepat di punggung zirahnya, sebuah alat terbang modern bumi yang bahan bakar daya dorong thrust-nya murni memanfaatkan hisapan siri mana dari tubuh Elizabeth sendiri!
Di saat Elizabeth sedang berada di puncak kegembiraan histeris karena mendapatkan izin resmi dariku untuk mendirikan unit pengintai udara, bahkan diangkat menjadi pengintai khusus tertinggi independen Kerajaan Aethelgard, aku langsung memasang ekspresi wajah serius, menatap matanya demi memberikan sebilah target taktis militer jangka pendek.
"Elizabeth... Ibu ada sebuah perintah..." Ucapku dingin berwibawa.
"I-Iya, Ibu? Ada perintah apa?" Jawab Elizabeth mendadak menghentikan tarian gembiranya, menatap wajah manusiaku dengan ekspresi bingung.
"Huhh... Tapi... maafkan Ibu ya, Nak. Ibu harus memberikan target waktu yang teramat sangat ketat kepadamu. Ibu kasih kamu waktu satu hari full mulai hari ini agar kamu segera bergerak mencari dan merekrut anggota bawahanmu sendiri dari Peleton Pelatihan dasar," ucapku dengan nada suara yang teramat serius, mengunci fokus batinnya. "Karena dalam kurun waktu dekat, faksi militer kita akan segera bergerak maju ke medan tempur luar... Jika kamu berhasil mengumpulkan bawahanmu sendiri minimal sejumlah 20 orang prajurit saja, maka jumlah itu akan sangat krusial untuk diaplikasikan ke dalam strategi perangmu nanti. Jika ada 20 orang personel aktif di dalam Korps Pengintai Udaramu, saat peperangan krisis melanda nanti, kamu bisa membagi dan mengatur bawahanmu menjadi empat divisi bagian peleton kecil agar bisa menjalankan misi sabotase dan eksekusi senyap dengan pergerakan yang teramat sangat cepat...!"
Mendengar target taktis militer yang kubebankan ke pundaknya, jiwa gila tarung di dalam diri Elizabeth seketika langsung menyala berkobar-kobaran hebat. Dia menegakkan punggung kecilnya, mengepalkan tangan lalu memberikan penghormatan militer tertinggi ke arahku.
"Siap, perintah dimengerti dilaksanakan, Ibu...! Akan aku usahakan dan eksekusi dengan kapasitas terbaikku, bahkan hari ini juga...! Hari ini juga saya bersumpah akan segera turun ke lapangan Peleton Pelatihan dasar untuk menyaring dan mencari unit pasukanku sendiri...!" Jawab Elizabeth lantang dengan nada suara tegas tanpa ada sebilah ketakutan sedikit pun.
"Kalau kamu bisa menyelesaikannya hari ini juga, itu bener-bener sangat bagus parah, Nak. Jadi kamu bakal punya sisa waktu seharian full besok buat mengajari mereka semua tentang bagaimana cara mengenakan dan mengoperasikan perlengkapan teknologi baru ini dengan presisi," ucapku sembari menarik sudut bibir rongga mulut asapku, mengulas sebuah senyuman seringai licik yang khas. "Oh ya, nama senjata sniper andalan utamamu itu resmi kukasih label identitas: Rickly Magia 001... Dan nanti untuk 20 orang pasukan bawahan udaramu, mereka semua juga akan aku bekali masing-masing dengan perangkat Jetpack Mana serta sebilah senapan rifle otomatis yang model visualnya hampir mirip seperti milikmu, bernama: Minimagia 000...!"
"Rickly... ? Mini...?" Elizabeth memiringkan kepalanya ke samping, wajah imutnya tampak kebingungan parah. "Mengapa senjata pasukan bawahanku nanti harus dinamai Mini, Ibu? Apakah ukuran bentuk senjatanya berukuran sangat kecil seperti pistol mainan anak-anak...?"
"Bukan lah, bodoh... Hahaha! Ukuran senjatanya hampir sama besar dan seukuran dengan senapan milikmu kok. Tapi ya gak apa-apa, emang dasar akunya aja lagi pengen namai senjata itu pakai nama Mini, biar ucul aja didengarnya," jawabku tertawa terbahak-bahak sembari melempar candaan ringan.
"Ouuuu... Begitu ya, Ibu... Paham!" Elizabeth ikut tertawa geli menepuk keningnya. "Kalau begitu, Ibu...! Saya mohon izin pamit undur diri sekarang juga! Saya akan segera bergerak ke peleton bawah untuk berburu bawahan terbaikku...!" Ucap Elizabeth membungkukkan tubuhnya memberi hormat dalam-dalam ke arahku.
"He... Iya, silakan pergi," jawabku sembari menganggukkan kepalaku pelan penuh kasih sayang. "Kalau kamu sudah sukses mendapatkan 20 orang personel itu, langsung bawa mereka semua masuk menghadap ke kamarku lagi ya, biar seluruh perlengkapan unit pengintai khusus nya bisa aku serahkan untuk mereka."
"Siap dilaksanakan, Ibuuu...!" Jawab Elizabeth berteriak riang sembari memutar tubuhnya, berlari kencang melesat keluar melompati pintu kamar tidurku.
Melihat kepergian Elizabeth, Gamma pun segera membungkuk hormat pamit untuk ikut melangkah keluar kastil menuju ke arah kompleks Serikat Dagang, berniat untuk mulai mempelajari hal-hal mendasar seputar regulasi perdagangan dunia luar yang belum dia ketahui sama sekali. Di masa depan kelak, bocah semi-elang ini dipastikan bakal bertransformasi menjadi sesosok Saudagar Agung paling mengerikan di seantero benua, sosok jenius yang memegang kendali penuh atas putaran arus keuangan dan logistik militer demi kejayaan kerajaan tercinta kami: Shadow Aethelgard!
Setelah kedua anak angkatku resmi pergi mengosongkan ruangan, keheningan kembali mengunci atmosfer kamar. Aku berjalan melangkah perlahan menuju ke arah sofa beludru hitam di tengah ruangan, lalu menjatuhkan dudukku dan menyandarkan lelah punggung manusiaku ke sandaran sofa yang empuk. Kelopak mataku terpejam sejenak menahan pening.
"Alpha... Kemari. Kita berdua dalam waktu dekat akan segera berangkat untuk menjalankan sebuah Misi Rahasia skala tingkat tinggi..." Ucapku lirih, menatap lurus ke depan.
"Ehh...? Misi rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Miko...?" Tanya Alpha terkejut, ia bangkit dari kasur lalu berjalan cepat menghampiri posisiku duduk dan ikut menjatuhkan tubuh indahnya di sofa tepat di samping kiriku.
"Hehemm... Kali ini, kapasitas sirkulasi otak ku bener-bener bakal dipaksa diperas habis-habisan sampai tetes terakhir, Alpha," ucapku tertawa kecil penuh tekad membara, mengunci tatapan matanya sedekat mungkin.
"Kita berdua akan meluncurkan operasi infiltrasi rahasia yang taruhannya teramat sangat berbahaya parah. Kita akan menyusup masuk ke dalam jantung ibukota Kerajaan Oscar secara senyap, mencari tahu koordinat pergerakan musuh, lalu menangkap hidup-hidup siapa dalang utama yang berada di balik konspirasi Kudeta Berdarah kali ini! Ditambah lagi fakta di lapangan memperlihatkan kalau eksistensi kerajaan dungeon kita ikut terancam terseret di sini... Sebagai penguasa, aku jelas gak mungkin tinggal diam membiarkan faksi sekutu terdekat kita dihancurkan oleh para pengkhianat jahanam!"
"siap Tuanku.. aku bersumpah akan terus ikut melangkah mendampingi ke mana pun kaki Anda pergi bertualang menembus mara bahaya... Karena statusku adalah asisten pribadimu sekaligus Penyihir Agung tertinggi yang mengabdikan jiwa ini untuk melindungimu...!" Jawab Alpha dengan nada suara yang teramat tulus nan manis, mengulurkan kedua telapak tangan lembutnya untuk menggenggam erat telapak tangan kanan manusiaku penuh kesetiaan mutlak.
"Hehemm... Iya, terima kasih banyak ya, Alpha... Aku bener-bener merasa teramat sangat senang dan tenang jika kamu terus berada di sisiku seperti ini..." Jawabku dengan nada suara yang melembut dalam, membalas kehangatan genggaman jemarinya.
WUSSS...!
Di titik yang teramat sunyi di dalam kamar pribadi itu, insiden seperti di balkon koridor dekat lapangan latihan mendadak bermanifestasi nyata kembali memutar dimensi ruang sekitar. Aliran waktu di sekeliling kami seolah-olah berjalan melambat lambat menembus batas gravitasi.
Semakin berjalannya detik, jarak antara wajah manusiaku dan wajah cantik Alpha perlahan-halan bergerak saling mengikis mendekat sedekat mungkin di bawah pengaruh tarikan magnet asmara yang teramat pekat. Tatkala sepasang kelopak mata indah sang penyihir Elf mulai terpejam pasrah menahan debar, embusan napas kami yang memburu sudah saling bersentuhan mesra di udara hampa, dan ujung hidung kami sudah bener-bener menempel erat satu sama lain...
"Alpha..." Ucapku pelan berbisik canggung.
"Tuanku..." Jawab Alpha berbisik teramat lirih dengan deru napas yang memburu panas menahan debaran jantungnya yang menggila.
CHUUUUU~~~
Pada akhirnya, di atas sofa hitam tersebut, bibir kami resmi bertemu, menyatu mengunci sebilah ciuman asmara balas dendam yang teramat manis nan hangat, menumpahkan seluruh rasa rindu dan emosi terpendam yang sempat digagalkan secara koplok oleh ksatria penjaga gerbang kastil sebelumnya! Kami bener-bener menikmati setiap detik jalinan waktu berdua di dalam kamar yang terkunci rapat, saling memeluk erat dan bertukar ciuman mesra yang mendalam.
Karena jika kembali berkaca pada hukum takdir ragaku saat ini, aku emang bener-bener bukanlah sesosok manusia utuh yang dibekali organ gender reproduksi biologis konvensional bawaan bumi; wujud manusiaku murni banyangan androgini tanpa kelamin, sehingga kapasitas aktivitas intim tertinggi yang bisa kulakukan bersamanya murni hanyalah sebatas sentuhan asmara berciuman mesra seperti ini saja.
Namun nampaknya, batasan fisik itu sama sekali tidak mengurangi kadar kebahagiaan Alpha. Sang penyihir Elf tercantikku itu bener-bener terlihat teramat sangat menikmati dan mabuk kepayang di dalam dekapan pelukan hangatku. Begitu tautan bibir kami terlepas perlahan, tubuh Alpha sudah lemas tak berdaya menahan aliran adrenalin cinta yang pekat, hingga dia akhirnya jatuh tertidur pulas dengan sangat nyenyak di atas ranjang kasur empukku. Wajah cantiknya tampak merona merah padam sempurna seperti tomat.
Beberapa jam setelah alpha tertidur Elizabeth kembali ke ruangan kamarku dengan membawa pasukan nya sendiri yang berjumlah 20 orang pas.
Aku pun membagikan perlengkapan baru untuk mereka sebuah seragam dengan jubah dan sebuah Jetpack dan senjata minimagia yang aku janjikan itu.
"sekarang terdiri sudah... Korps baru.. Korps rahasia unit pengintai... Elizabeth... Kau namai apa korps mu ini?" ucapku penuh wibawa.
"siap!.. Izin nama korps ku adalah unit bayangan assassin... Unit gerak cepat yang siap di kirim ke Medan tempur kapan saja" jawabnya tegas penuh percaya diri sambil memberi hormat.
"shadow assasin ya..." ucapku lirih dengan senyuman yang puas.