NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan hantu tanpa kepala!

Di tengah rasa kesalnya, pendengaran Rasman tiba-tiba menangkap sesuatu

Sret... sret... sret...

Itu adalah suara seretan sesuatu yang sangat berat di atas tanah, seperti berada di belakangnya.

Rasa kesal yang tadinya mendominasi pikiran Rasman setelah kalah judi seketika surut, menguap entah ke mana. Perasaan itu dengan cepat digantikan oleh hawa dingin dan rasa tidak enak yang mulai merayap perlahan di tengkuknya. Bulu kuduknya berdiri tegak.

"Ah, sialan! Ini pasti gara-gara kalah banyak. Kepalaku jadi ngaco dan membayangkan yang tidak-tidak," rutuknya pelan dengan suara bergetar, berusaha keras meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini hanyalah halusinasi akibat uangnya yang banyak tadi ludes tak terpisah akibat kalah main kartu.

Dia membetulkan posisi kerah bajunya yang agak kusut, menarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan berjalan.

Kali ini, ia mempercepat langkah kakinya. Rasman hanya ingin segera sampai ke rumah dan tidur untuk melupakan kekalahan judi malam ini yang telah menguras habis isi dompetnya.

Namun, saat berjalan melintasi pohon tua, sudut matanya menangkap sesuatu, seperti ada orang berdiri disana menatapnya.

Dengan gerakan refleks yang cepat akibat rasa terkejut, ia langsung menolehkan kepala dan mengarahkan pandangannya lurus-lurus ke balik pohon tersebut.

Ternyata tidak ada siapa-siapa yang berdiri disana, hanya ada batang pohon tua yang permukaannya kasar dan semak-semak liar yang bergoyang pelan ditiup angin malam yang berembus.

Padahal Rasman sangat yakin, sedetik yang lalu sudut matanya menangkap dengan jelas ada seseorang yang berdiri tegak di dalam kegelapan itu dan memperhatikannya.

"Ah, dasar setan alas. Jam segini memori otakku malah bikin yang tidak-tidak. Kebanyakan mikir kalah ini mah." Gumam Rasman sambil terkekeh pelan, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menertawakan ketakutannya sendiri yang mulai tidak masuk akal.

Dia mengira itu semua hanyalah pengaruh dari ciu dan kekalahannya, ditambah rasa kesal yang menumpuk karena dompetnya kini benar-benar kosong.

Rasman yakin betul, tidak ada yang perlu ditakutkan di Desa Selogiri ini. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, Rasman terus berjalan menyusuri sisa jalan setapak tanah menuju rumahnya dengan santai.

Untuk mengusir rasa sunyi yang kian mencekam, ia mulai bersiul kecil, melantunkan nada sumbang yang asal-asalan untuk memecah kesunyian malam.

Namun, segerombolan kabut tipis mulai turun berarak dari arah perbukitan yang mengelilingi desa. Kabut itu bergerak cepat, menyelimuti permukaan tanah dan membuat jarak pandang Rasman sedikit kabur dan terbatas. Dan di tengah kabut yang remang-remang itu, sesuatu yang tidak diundang telah menunggu.

Rasman mendadak menghentikan siulannya. Nada siulan itu terputus di tengah jalan. Langkah kakinya yang tadinya melangkah santai perlahan-lahan mulai melambat, terseret, hingga akhirnya benar-benar terhenti total.

Di depan sana, tepat di tengah-tengah jalan setapak yang kini mulai diselimuti kabut tipis yang semakin menebal, muncul sesosok bayangan manusia.

Rasman memicingkan matanya, berusaha keras memperjelas pandangannya yang mengabur.

Kabut malam yang dingin dan pekat berkali-kali bergerak menghalangi jarak pandangnya, membuat sosok di depannya itu terlihat samar dan bergoyang.

Namun, dari postur tubuhnya yang lebar dan tinggi, Rasman bisa memastikan dengan jelas bahwa sosok itu adalah seorang pria.

Pria itu hanya berdiri diam membisu di tengah jalan, membelakangi cahaya bulan yang redup, menghadap tepat ke arah Rasman seolah-olah memang sedang mengadang perjalanannya.

"Oi! Siapa itu di depan?" teriak Rasman. Suaranya yang lantang.

"Malam-malam begini berdiri di tengah jalan seperti orang tolol! Minggir! Aku mau lewat, jalanku jangan dihalangi!" gertak Rasman lagi, melangkah satu tindak ke depan dengan angkuh.

Sosok pria di balik kabut itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun. Ia tetap tegak berdiri di sana, kaku seperti patung, seolah-olah telinganya tuli dan tidak mendengar teriakan Rasman.

Bersamaan dengan keheningan yang kembali mencekam itu, angin malam bertiup lagi dengan embusan yang jauh lebih dingin dan kencang. Tiupan angin itu membuat kabut yang tadinya bergulung-gulung perlahan-lahan mulai bergeser, tersibak, dan menyingkap sedikit demi sedikit rupa asli dari sosok tersebut.

Hembusan angin malam yang kencang seketika menyapu bersih kabut tipis yang sempat menghalangi pandangan Rasman.

Detik itu juga, seluruh keberanian yang tadi ia bangga-banggakan lenyap tak berbekas dalam sekejap mata.

Pikiran Rasman mendadak jernih seketika, digantikan oleh gelombang kengerian yang membuat sekujur tubuhnya kaku membeku seperti es.

Sosok pria itu kini terlihat dengan sangat jelas di bawah temaramnya cahaya bulan purnama yang pucat.

Dia adalah hantu tanpa kepala.

Di bagian lehernya, tidak ada kepala yang bertengger. Yang ada hanyalah sebuah potongan rata yang menghitam dan mengerikan, menyisakan pemandangan yang sanggup membuat waras siapa pun runtuh.

Namun, yang membuat jantung Rasman serasa berhenti berdetak dan darahnya berdesir dingin adalah apa yang ada di dalam genggaman tangan makhluk tersebut.

Sosok itu tengah berdiri tegap sambil tangan kanannya memegang kepalanya sendiri. Ia menjinjing kepala itu erat-erat pada bagian rambutnya yang hitam, dan acak-acakan, membiarkan darah hitam yang kental menetes satu demi satu ke atas tanah.

Lebih mengerikan lagi, kepala yang menggantung lemas di tangan kanan itu perlahan-lahan mulai bergerak. Kepala itu mendongak ke atas, memutar posisinya, lalu mengarahkan tatapan matanya yang berwarna putih pucat, melotot, dan kosong tepat ke arah mata Rasman.

Lutut Rasman langsung terasa lemas bak lolos dari sendi-sendinya. Ia tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri hingga hampir terjatuh.

Melihat sosok mengerikan itu mulai melangkah maju ke depan, selangkah demi selangkah dengan kaku seraya menjinjing kepalanya sendiri yang terus menatapnya, pertahanan mental Rasman runtuh total.

"Aaaaaakh!" Rasman menjerit histeris dengan suara yang melengking tinggi.

Dia langsung membalikkan badannya dengan cepat, memutar arah, dan berlari sekencang yang ia bisa, kembali ke arah jalan dari mana ia datang tadi.

Sandal jepitnya beradu cepat dengan permukaan jalanan tanah yang kering, menimbulkan suara derap langkah yang berantakan.

Napasnya memburu cepat, memompa udara dengan serakah, sementara keringat dingin mengucur deras dari dahi dan pelipisnya, membasahi seluruh pakaian yang dikenakannya hingga lepek.

Dia terus berlari dan berlari tanpa berani menoleh sedikit pun ke belakang. Ia ketakutan setengah mati jika harus melihat wajah pucat dengan kepala dijinjing itu sudah berada tepat di belakang punggungnya.

Glek!

Di tengah pelariannya yang membabi buta dan penuh kepanikan itu, langkah kaki Rasman mendadak terhenti secara paksa di udara.

Kepalanya terasa seperti dijambak dan dicengkeram. Detik berikutnya, tubuh Rasman tertarik ke atas, terangkat dari permukaan jalan tanah melalui tarikan kasar pada kulit kepalanya.

Kedua kakinya kini tergantung beberapa puluh sentimeter di atas tanah, menendang-nendang udara dengan liar.

Rasman menggapai-gapai udara dengan panik, kedua tangannya mencengkeram ke atas, berusaha melepaskan tarikan di kepalanya yang terasa sangat menyiksa, seolah-olah kulit rambutnya akan terkelupas dari tengkorak.

Matanya melotot lebar saat melihat ke bawah, menyadari bahwa kakinya sudah tidak lagi menginjak bumi.

Dan, saat ia terpaksa mendongak ke atas untuk melihat makhluk apa yang sedang menarik dan menjambak kepalanya dari ketinggian, rasa takutnya berlipat ganda hingga batas maksimal. Jantungnya seakan-akan benar-benar berhenti berdetak karena syok.

Tepat di atasnya, sosok yang memegang kepalanya dan menarik tubuhnya ke atas adalah sesosok kuntilanak.

Kuntilanak itu menundukkan kepalanya Sehingga rambut panjangnya menutupi wajahnya. Matanya menatap tajam ke arah Rasman yang meronta-ronta di bawah kendalinya seperti seekor ayam yang hendak disembelih.

"Hihihihi... Hihihihi.."

Suara tawa melengking yang keluar dari mulut makhluk itu terdengar begitu nyaring dan menggema di dalam kepala Rasman.

Hantu itu tampaknya sangat menikmati kepanikan, ketakutan, dan penderitaan yang sedang dialami oleh Rasman saat ini.

"To... tolooong...!!" teriak Rasman dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mencoba mengeluarkan suara sekuat tenaga meskipun kepalanya terasa sangat pening dan nyeri luar biasa akibat menahan beban seluruh tubuhnya.

"Toloong... tolong aku!" Rasman kembali menjerit histeris dalam posisi tergantung itu.

Dia sangat berharap ada salah satu warga Desa Selogiri yang belum tidur dan mendengar teriakan daruratnya di tengah malam buta ini.

Namun, harapan tinggal harapan, dan harapan itu langsung pupus seketika. Suasana di sekitar jalanan setapak desa itu tetap sepi senyap, mati, dan tidak ada satu orang pun yang lewat atau meronda malam itu.

Teriakan histeris Rasman yang memilukan seperti tertelan begitu saja oleh pekatnya kegelapan malam dan desau angin yang bertiup dingin di antara pepohonan.

Di atasnya, kuntilanak itu justru tertawa semakin keras, suara cekikikannya melengking tinggi menembus keheningan.

"Hihihihihi!! Hihihihi!" Tawanya seolah-olah mengejek usaha sia-sia Rasman yang terus berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya yang tidak berharga.

Seperti sudah merasa bosan bermain-main dan menyiksa mangsanya yang kini sudah mulai lemas kehabisan tenaga, cengkeraman tangan dingin yang sedari tadi menarik kepala Rasman tiba-tiba terlepas begitu saja.

Tanpa persiapan, tubuh Rasman seketika meluncur bebas dari ketinggian dan terhempas dengan sangat keras ke atas permukaan tanah kering yang berbatu.

"Uhuk! Uhuk... Hah... Hah..."

Rasman langsung tersungkur dengan posisi tengkurap, memegangi kepala, leher, dan dadanya yang terasa nyeri luar.

Dia terbatuk-batuk hebat, mencoba menghirup udara malam sebanyak-banyaknya yang ia bisa, membiarkan oksigen kembali mengisi paru-parunya yang sempat terasa sesak akibat syok berat tadi.

Dadanya naik-turun dengan tempo yang sangat cepat dan tidak beraturan. Sementara itu, seluruh tubuhnya bergetar hebat, menggigil menahan rasa sakit yang menjalar dari kulit kepala, leher, hingga ke tulang ekornya akibat benturan keras dengan tanah keras di bawahnya.

Sambil terus terbatuk-batuk dan merintih kesakitan, Rasman tidak berani berdiam diri. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada di tubuhnya, ia mencoba merangkak mundur ke belakang menggunakan kedua tangan dan kakinya yang sudah terasa lemas tak bertulang.

Pandangan matanya yang tadinya sempat berkunang-kunang dan menggelap perlahan-lahan mulai fokus kembali. Namun, apa yang ia lihat di depannya saat pandangannya membaik justru membuat sisa keberaniannya benar-benar lenyap hingga ke dasar terdalam.

Di tengah kabut yang merayap, kedua makhluk itu kini berdiri berdampingan, menatapnya dengan tatapan lapar yang mematikan.

1
Yulia Lia
siapakah yg selamat di malam pembantaian malam itu ya ,,aduh next thoor
Yulia Lia
berarti selama ini keluarga Sri di fitnah menganut ilmu hitam padahal mereka di rampok dan di bantai
Nurr Tika
siapa tetua desa itu apakah ikut adil dlm pembunuhan
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!