NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Aula Kecil Kekaisaran.

Musim semi telah tiba sepenuhnya di ibukota Shenghua. Bunga-bunga sakura mekar di sepanjang jalan utama, menghujani kelopak merah muda yang lembut seperti salju musim panas. Udara terasa segar, bebas dari bau darah dan konspirasi yang sebelumnya menyelimuti istana.

Putri Li Yuexin berdiri di balkon Istana Bulan Giok, memandang taman peoni yang kini mekar dengan megah. Wajahnya tampak lebih tenang, garis-garis ketegangan di sudut matanya telah memudar, digantikan oleh kedewasaan yang anggun.

Dia tidak lagi mengenakan warna-warna gelap atau ungu yang misterius. Hari ini, dia mengenakan hanfu berwarna biru langit pucat, warna yang melambangkan kejernihan dan kedamaian.

Di belakangnya, Qingyu sedang menyusun bunga-bunga segar dalam vas porselen. "Nona, Kaisar meminta kehadiran Nona di paviliun danau sore ini. Beliau ingin berjalan-jalan."

Putri Li Yuexin mengangguk. "Baik. Siapkan kereta."

Kaisar Li Zhengyuan berubah drastis setelah kematian dari Pangeran Jianyu. Rambutnya memutih hampir seluruhnya dalam semalam, dan punggungnya semakin membungkuk.

Dia menarik diri dari urusan negara sehari-hari, menyerahkan sebagian besar wewenang eksekutif kepada Kakek Shen Guotai sebagai Perdana Menteri, dan hanya menangani keputusan-keputusan yang besar dan sensitif.

Kesedihan kehilangan putra bungsunya telah menggerogoti semangat hidupnya, meski dia tetap berusaha tampil kuat demi stabilitas kerajaan. Namun, ada satu hal yang membuat Kaisar tetap terhubung dengan dunia: putrinya, Putri Li Yuexin.

Sore itu,

Di tepi danau buatan istana, Kaisar duduk di bangku batu, memberi makan ikan-ikan koi dengan remahan roti. Putri Li Yuexin duduk di sampingnya, diam-diam menemani.

"Yuexin," panggil Kaisar pelan, tanpa menoleh. "Apakah kau menyesal?"

Putri Li Yuexin terkejut. "Menyesal akan apa, Ayahanda?"

"Akan semua yang sudah terjadi, akan Jianyu, dan akan kekerasan yang harus kau lakukan."

Putri Li Yuexin menatap permukaan air yang berkilau diterpa sinar matahari sore. Dia memikirkan Gu Wenhao yang hancur di penjara, Selir Rong yang mati karena sakit hati di pengasingan, dan Pangeran Jianyu yang menusuk dirinya sendiri.

"Tidak, Ayahanda," jawab Putri Li Yuexin jujur. "Saya tidak menyesal menyelamatkan Ayahanda, saya juga tidak menyesal melindungi Keluarga Shen. Saya hanya... hanya sedih bahwa hal-hal itu harus terjadi dengan cara seperti itu."

Kaisar tersenyum tipis, senyuman yang penuh rasa sakit namun juga lega. "Kau lebih kuat dari yang Ayah kira, Yuexin. Lebih kuat dari kakak-kakakmu. Mungkin... mungkin itulah sebabnya takdir memilihmu untuk bertahan."

Dia melemparkan sisa remahan roti ke air. "Ayah ingin memberimu sesuatu."

Dari saku jubahnya, Kaisar mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan motif phoenix yang indah. Dia membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah lencana emas berbentuk naga dan phoenix yang saling membelit.

"Lencana Otoritas Khusus," kata Kaisar. "Dengan ini, kau memiliki hak untuk menghadiri sidang kabinet rahasia, memberikan nasihat langsung pada Kaisar, dan mengawasi audit keuangan kekaisaran. Kau bukan lagi sekadar Putri yang menunggu dinikahkan. Kau adalah penasihat Kekaisaran."

Putri Li Yuexin terpaku, ini adalah kekuasaan yang sangat besar. Di kehidupan sebelumnya, wanita tidak pernah memegang posisi seperti ini. Ini adalah pengakuan resmi atas kecerdasan dan jasanya.

"Ayahanda... apakah ini tidak melanggar tradisi?"

"Tradisi dibuat oleh manusia," kata Kaisar tegas. "Dan jika tradisi itu lemah hingga kerajaan bisa runtuh karena intrik harem, maka tradisi itu harus diubah. Ayah percaya padamu, Yuexin. Jangan biarkan kepercayaan ini sia-sia."

Putri Li Yuexin menerima lencana itu dengan tangan gemetar. Beratnya bukan hanya emas, tapi tanggung jawab.

...----------------...

Enam bulan kemudian,

Sidang kabinet berlangsung tegang. Para menteri berdebat tentang alokasi dana untuk pemulihan daerah banjir di selatan. Beberapa menteri tua dari faksi konservatif menolak proposal dari Putri Li Yuexin untuk mengirim inspektur independen, mengklaim bahwa "wanita tidak memahami kompleksitas logistik."

Putri Li Yuexin berdiri di depan meja rapat, wajahnya tenang. Dia tidak marah, dia membuka gulungan laporannya.

"Menteri Keuangan," kata Putri Li Yuexin dingin. "Angka yang Anda berikan tidak sesuai dengan laporan pajak daerah tersebut. Ada selisih dua puluh ribu tael emas. Apakah uang itu hilang, atau sudah masuk ke kantong pribadi seseorang?"

Ruangan menjadi hening,

Menteri Keuangan berkeringat dingin. Kakek Shen Guotai, yang duduk di ujung meja, tersenyum puas melihat cara kerja cucunya.

Dalam waktu singkat, Putri Li Yuexin berhasil mengungkap jaringan korupsi kecil yang tersisa dari sisa-sisa Faksi Barat. Efisiensinya menakutkan. Perlahan tapi pasti, dia mulai membersihkan birokrasi kekaisaran dari dalam, bukan dengan pedang, tapi dengan tinta dan angka.

Setelah sidang selesai, Putri Li Yuexin berjalan keluar aula, merasa lelah tapi puas. Di Lorong, dia bertemu dengan seorang pria muda yang sedang membawa tumpukan dokumen.

Pria itu berhenti, membungkuk hormat. "Tuan Putri."

Putri Li Yuexin mengenalinya. Itu adalah Lin Chen, adik laki-laki Lin Meirong. Setelah ayahnya (Lin Mei) dihukum, Lin Chen memilih untuk mengabdikan diri pada negara melalui ujian sipil, mencoba menebus dosa keluarganya. Dia cerdas, rajin, dan jujur. Sangat berbeda dari kakaknya atau Gu Wenhao.

"Bangkitlah, Tuan Lin," kata Putri Li Yuexin sopan.

Lin Chen mengangkat kepalanya. Matanya cerah dan penuh hormat. "Hamba ingin mengucapkan terima kasih, Putri. Karena rekomendasi dari Tuan Putri, hamba ditempatkan di Kementerian Pekerjaan Umum. Hamba berjanji akan bekerja keras untuk melayani rakyat."

Putri Li Yuexin tersenyum. Senyuman tulus pertama yang dia rasakan dalam waktu lama. "Lakukan saja tugasmu dengan baik, Tuan Lin. Itu adalah bentuk terima kasih terbaik."

Dia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Lin Chen yang masih membungkuk hormat.

Di taman istana,

Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga osmanthus. Putri Li Yuexin duduk di bawah pohon willow, membuka buku catatan hariannya. Dia tidak menulis tentang balas dendam lagi. Dia menulis tentang rencana irigasi baru, tentang sekolah untuk anak-anak miskin, dan tentang reformasi hukum perdata.

Qingyu datang membawakan teh. "Nona, apakah Nona bahagia?"

Putri Li Yuexin menatap cawan tehnya. Uapnya naik perlahan, membentuk pola-pola abstrak di udara.

"Bahagia?" ulang Putri Li Yuexin pelan. "Bahagia adalah konsep yang rumit, Qingyu. Tapi aku merasa... utuh. Aku merasa hidupku menjadi milikku sendiri. Bukan milik masa lalu, bukan juga milik orang lain."

Dia meneguk tehnya. Rasanya pahit di awal, tapi manis di akhir. Seperti hidupnya.

Di kejauhan, lonceng istana berbunyi, menandakan pergantian jam. Suara itu jelas, bersih, dan menjanjikan.

Putri Li Yuexin menutup bukunya. Dia berdiri, merapikan jubah birunya, dan menatap ke arah cakrawala. Matahari terbenam, mewarnai langit dengan gradasi ungu, oranye, dan emas.

Perjalanan balas dendam telah berakhir. Perjalanan membangun kehidupan baru telah dimulai.

Dan kali ini, dia tidak sendirian. Dia memiliki keluarga yang mendukung, otoritas yang sah, dan tujuan yang jelas.

Phoenix telah bangkit dari abu. Dan sekarang, ia siap terbang tinggi, bukan untuk membakar dunia, tapi untuk meneranginya.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!