Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soloist in the Stage III
"eh Latifa. Kamu hari ini tampil, kan? Kenapa masih di sini?" Tanya Daniel.
Latifa baru ingat dan segera pamit dengan Pak Mil dan Daniel.
"Aku lupa, maaf aku harus segera pergi!" Latifa langsung pergi menuju gedung karena sebentar lagi adalah persiapan untuk tampil.
"Ini karna terlalu asik dengan pembicaraan mereka, aku sampai lupa harus kembali ke gedung untuk bersiap" Gumamnya sembari berlari.
...
Sesampainya di sana Latifa sudah melihat Sophia yang sedari tadi siap. Hanya Latifa yang belum bersiap-siap. Latifa meminta izin ke Sophia untuk berganti pakaian hitam.
"Maaf, Sophia. Aku terlambat" Ucap Latifa terengap-engap.
"Lihat jam lah, kamu kemana sih?" Sophia memarahi Latifa.
"Yaa, aku pikir tadi masih jam 10 pagi, ternyata sudah mau jam 1 siang" Ucap Latifa.
"Lagian, Tadi kamu yang tiba-tiba menghilang, jadi aku ikut pergi juga. Dasar!" Latifa membela diri karena Sophia sebelumnya yang pergi duluan tanpa memberi kabar yang jelas.
"Ah.. Tadi kan sudah aku letakan surat, kenapa kamu gak membacanya?" Ucap Sophia .
"Tidak, aku membacanya, maksudku kenapa kamu tak hubungi aku saja langsung, kuno banget pakai kertas-kertasan" Latifa masih membela dirinya
"haha, itu cuman ngetest aja." Ucap Sophia singkat
"apasih, aneh banget" Latifa berlalu masuk untuk segera mengganti pakaiannya.
Di dalam ia segera mengganti pakaiannya dengan dress hitam yang sebelumnya ia pakai untuk tampil concerto bersama sophia dan pianis.
Setelah selesai mengganti pakaian, Latifa, Sophia dan Sang Pianis berangkat ke stasiun untuk segera bersiap dan tampil.
Diperjalanan Latifa terlihat gelisah, ia masih saja memikiran apa yang akan terjadi besok, ia takut jika besok akan kacau. Tapi Daniel sudah meyakinkan dirinya bahwa Daniel bisa diharapkan di sini.
"Ku harap Daniel benar-benar memegang janjinya" Gumamnya sembari mengigit jari.
Sophia yang melihat Latifa mulai curiga, Sophia penasaran dengan Latifa yang gerak geriknya mencurigakan.
"Latifa, Kamu kenapa?" Sophia mulai bertanya yang membuat Latifa terkejut.
"Uwahh.." Latifa terkejut.
"Apaansih, Sophia. bikin kaget aja" Latifa melanjutkan.
"Lagian kamu terlihat gelisah gitu, ada apa?" Tanya Sophia.
"tidak, aku tidak apa-apa" Jawab Latifa yang memalingkan wajahnya .
"gak mungkin dong kamu gugup soal tampil, ini kan concerto kita yang kesekian kalinya" Ucap Sophia.
"tentu bukan itu, ini gaada hubungannya denganmu" Jawab Latifa.
Sepanjang perjalanan Latifa hanya diam dan tak memperdulikan ucapan Sophia.
Setelah sampai, Sophia dan Sang Pianis mulai bersiap, Pangung mereka sudah disediakan, mereka akan tampil di sana. Latifa seperti biasa mulai mengatur nafas dan menyiapkan Flute miliknya.
"Aku harus fokus, ini demi acara ini! Lupakan sejenak soal Daniel dan Chiru" Latifa menepuk pipinya dan menyemangati dirinya.
...
Tepat pukul 2 siang, Acara mereka dimulai. Lagu yang mereka bawakan adalah lagu ciptaan Sophia berjudul "Soloist in the Stage with Symphony No. 3" lagu yang Sophia ciptakan sedari ia menjadi sorang Violinist. Lagu ini berdurasi 12 menit.
Dengan simfoni indah, Mereka memainkan ini bertiga. musik mereka saling berbalas, menciptakan bahasa yang tidak pernah manusia ketahui, bahasa indah tentang musik.
Para penonton perlahan berdatangan menyaksikan indahnya musik yang Sophia ciptakan. Dari usia 0-100 mereka mendengarkan musik indah bersama, Ada yang mendengarkan sembari bercanda ria bersama pasangan, ada yang merekam dan ada pulak yang fokus dengan musiknya.
Ketika permainan berakhir, seisi stasiun bertepuk tangan meriah. Mereka semua seperti menikmati sebuah seni musik yang selama ini tidak pernah mereka dengar. Seni musik yang benar-benar indah.
...
Setelah selesai tampil Latifa pergi ke belakang untuk beristirahat. Ia membeli sebuah minuman kaleng dan makanan, ia lupa kalau hari ini belum makan apapun.
"terlau fokus dengan penampilan sampai membuatku lupa makan" Gumamnya.
Setelah membeli makanan, Latifa mencari tempat nyaman untuk memakan makananya. Ia akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk dia menyantap makanannya. Tepat di samping stasiun. Di sana memiliki pemandangan yang begitu indah. Pemandangan yang jarang ia lihat. View sawah yang indah membuatnya teringat kembali dengan suasana Desa. Desa yang menjadi awal cerita kisah persahabatan mereka bertiga. Daniel, Minami, dan dirinya.
Latifa menyantap sendirian makananya. Sembari membuka ponsel, ia melihat notifikasi dari Minami yang menanyakan kondisi Daniel.
...****************...
Minami:
Bagaimana kondisi Daniel?
^^^Latifa:^^^
^^^Kondisinya masih sehat^^^
Minami:
Syukurlah..
Ngomong-ngomong, Chiru itu gimana dia?
^^^Latifa:^^^
^^^Orangnya aneh, tapi kata pak mil dia baik, aku mikir, baik darimana coba orang kayak gitu^^^
Minami:
Aneh gimana memangnya dia?
^^^Latifa:^^^
^^^Kata pak mil sih dia ambisius, cuman ya gitu, aneh menurutku. Gak cocok deh. Katanya dia sekarang kehilangan jati dirinya. Dan besok Daniel katanya mau ngebenerin ini semua. Jadi kita percayakan saja ke Daniel^^^
Minami:
Iya, kayaknya kita percayakan saja ke Daniel.
^^^Latifa:^^^
^^^Udah, ya. Aku mau makan dulu, kamu istirahat aja, nanti aku ke sana kalau ada waktu^^^
...****************...
Setelah sesi chat, Latifa lanjut menikmati makanannya sembari menikmati pemandangan indah.
...
Sophia tiba-tiba saja duduk di samping Latifa yang sendang menikmati makanannya.
"Latifa, kenapa makan sendirian?" Sophia bertanya dan ikut duduk di samping Latifa.
"Engga, aku suka melihat pemandangannya. Di sini indah, aku jadi ingat masa-masa saat aku Tinggal di desa dulu" Jawab Latifa.
"Sophia tau, gak? Kalau gaada dia, sekarang aku mungkin gak ikut tampil bersama kalian" Latifa mulai mengenang masa lalu
"Dia? Siapa memang dia?" Sophia bertanya penasaran.
"Dia, Teman, sahabatku. kalau waktu itu dia gak kecelakaan, mungkin aku gak akan bermain lagi, tapi dia menyadarkanku dan memberiku alasan untuk bermain" Latifa meletakan makannyan.
"Oh ya? Keren dong dia" Sophia mendengarkan dengan baik .
"tentu, dia keren. Dia mau mendengarkanku dan lebih dari segalanya dihidupku, sungguh. Lucu jadinya jika aku berdiri di sini tanpa alasan darinya" Ucap Latifa.
"sebentar, yang kamu bicarakan ini temen laki-lakimu atau perempuan, sih?" Sophia ingin memastikan siapa yang sebenarnya Latifa bahas.
"Dia cewek, lho! kamu pikir siapa sih?" Jawab Latifa.
"Ohhh, ku pikir nama Cowok yang ada di buku kamu kemaren. Hahah" Sophia tertawa kecil sembari menggoda Latifa.
"Ih, apasih, itu bukan lagi. Lagian itu temanku bukan siapa-siapa." Jawab Latifa yang mengelak bahwa Daniel hanyalah temannya dan tak memiliki perasan apapun.
"Ohh, begitu, ya?" Ucap Sophia singkat.
"Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu bisa menemukanku di sini?" Tanya Latifa.
"Engga, aku tadi jalan-jalan aja, terus liat kamu makan sendirian di sini, jadi aku samperin, deh!" Jawab Sophia
"masa ada kebetulan kayak gitu. Kamu dari tadi ngikutin aku, ya?" Ucap Latifa tegas.
"Eh... Haha, ketahuan ternyata...." Sophia tak bisa mengelak lagi.