Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 ~ Menantu Mama Cuma Satu
Ponsel di saku jas Garra terus bergetar dan berbunyi. Ia segera mengeluarkannya, lalu mengangkatnya tanpa berlama-lama.
"Halo?"
Suara tegas dan dingin terdengar dari seberang sana Nyonya Esmeralda, ibunya.
"Garra, datanglah ke rumah Mama, sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.."
"Baik, Ma. Aku segera ke sana."
Panggilan ditutup begitu saja. Garra menatap sekali lagi ke arah Hezlin dan Kael yang masih asyik disana, lalu menetap Ervan dengan wajah datar.
"Kita pulang ke rumah Mama sekarang."
"Baik."
Mobil pun segera melaju meninggalkan kawasan pasar malam, sementara perasaan sesak masih terasa menekan di dadanya.
Beberapa saat kemudian, Hezlin baru saja turun dari komidi putar sambil masih tersenyum lebar, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Kepalanya terasa berputar seolah ruangan di sekelilingnya ikut bergerak, dan perutnya terasa mual naik ke kerongkongan. Wajahnya seketika memucat, kakinya terasa lemas hampir tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.
"Hezlin! Kamu tidak apa-apa?" seru Kael panik, segera merangkul bahunya agar wanita itu tidak terjatuh.
Hezlin mengangguk lemah, tangannya langsung menekan dahinya. "Kepalaku tiba-tiba terasa pusing, perutku juga terasa tidak enak. Mungkin karena tadi naik komidi putar terlalu lama..."
"Baiklah kita duduk dulu agar lebih tenang," ujar Kael dengan nada cemas, lalu segera membawanya duduk di bangku panjang yang ada di pinggir jalan. Ia mengusap lembut punggung Hezlin, berusaha menenangkannya.
Kael segera memanggil penjual air minum di dekat situ, membawakan sebotol air putih, lalu menyodorkannya perlahan. "Minumlah pelan-pelan. Kita istirahat dulu di sini sampai rasanya lebih baik, ya?"
Ia tetap duduk di samping Hezlin, tangannya tidak lepas memegang bahu wanita itu, wajahnya terlihat jelas khawatir melihat keadaan Hezlin yang masih terlihat pucat pasi.
"Kael... aku sudah tidak apa-apa. Lebih baik kita pulang sekarang saja."
"Baiklah," jawab Kael setuju, lalu segera membantu Hezlin berdiri perlahan. Ia tetap setia menopang tubuh wanita itu sampai masuk ke dalam mobil, dan sepanjang perjalanan pulang ia terus melirik sekadar memastikan keadaan Hezlin.
Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan apartemen Hezlin.
"Terima kasih banyak, Kael. Kalau begitu aku masuk dulu," ucap Hezlin sambil membuka sabuk pengamannya.
Baru saja ia hendak bergerak turun, tangan Kael dengan cepat menahan lengannya lembut namun pasti.
"Hezlin..."
Seketika Hezlin yang akan membuka pintu mobil langsung menoleh.
"Maafkan aku... Karena aku, kamu jadi merasa tidak enak badan seperti tadi," ucapnya dengan nada tulus dan masih terasa sedikit bersalah.
Hezlin tersenyum lembut, lalu menggeleng pelan.
"Tidak, Kael. Hari ini justru aku sangat bahagia. Terima kasih sudah mengajakku ke sana," jawabnya tulus.
Mendengar itu, Kael pun ikut tersenyum lega, lalu mengangguk perlahan.
"Besok aku jemput?" tanyanya kemudian.
"Tidak perlu repot-repot," tolak Hezlin halus. "Aku tidak mau selalu menyusahkanmu."
"Sama sekali tidak menyusahkan. Aku..."
"Tidak apa-apa, Kael. Kita bisa bertemu saja seperti biasa di kantor nanti," potong Hezlin lembut namun tegas.
Kael terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil dan mengangguk menerima keputusannya.
"Baiklah... Kalau begitu, selamat malam. Istirahat yang cukup."
Hezlin mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil dan turun dengan langkah yang sudah terasa lebih mantap. Ia melambaikan tangan sekilas ke arah Kael yang masih duduk di dalam, lalu berjalan menuju pintu masuk gedung apartemen.
••
••
Sementara itu, mobil Garra melaju kencang menuju kediaman mewah Nyonya Esmeralda. Begitu tiba di halaman luas yang diterangi lampu taman, ia segera turun dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang terasa berat.
Begitu melewati pintu utama, ia sudah melihat ibunya duduk tegak di sofa ruang tamu, wajahnya terlihat serius dan menunggu dengan sabar.
"Akhirnya kamu datang juga," ujar Nyonya Esmeralda begitu melihat putranya mendekat. Ia menunjuk tempat duduk di hadapannya. "Duduklah."
Garra menuruti perintah itu, menyandarkan tubuhnya, menatap ibunya dengan ekspresi datar meski di dalam hatinya masih terasa sesak mengingat pemandangan yang baru saja ia lihat tadi.
"Ada hal penting apa yang harus dibicarakan sampai harus memanggilku kemarin, Ma?" tanyanya langsung, tidak ingin bertele-tele.
Nyonya Esmeralda menatapnya dalam-dalam, suaranya terdengar tegas dan tidak memberi ruang untuk membantah.
"Garra, Mama sudah mendengar tentang kabar rencana perceraian kalian berdua."
Nyonya Esmeralda menatapnya dalam-dalam, suaranya terdengar tegas dan tidak memberi ruang untuk membantah.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang makin berat namun penuh keyakinan.
"Selama ini Hezlin sudah menjadi istri dan menantu yang sangat baik bagi keluarga kita. Mama tidak mau masalah sekecil apa pun sampai membuat semuanya berantakan dan merusak apa yang sudah terjaga selama ini."
Nyonya Esmeralda mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya makin tajam.
"Mama juga mendengar kalau Felicia sudah kembali ke kota ini, bukan? Apakah kehadirannya itu yang membuatmu berpikir untuk mengambil langkah ini?"
Ia menggeleng perlahan, suaranya makin tegas menekankan setiap kata.
"Ingat baik-baik, Garra... Hezlin adalah wanita yang menyelamatkan kita dari rasa malu yang luar biasa, saat Felicia tiba-tiba kabur dan menghilang tepat di hari pernikahan kalian. Jika bukan karena dia yang bersedia menggantikan posisi itu, nama keluarga kita pasti tercoreng habis dan menjadi bahan pembicaraan orang selama bertahun-tahun."
"Sampai kapan pun, Mama tidak akan pernah setuju jika alasanmu mengakhiri pernikahan ini hanya untuk kembali pada wanita yang dulu menyakiti kita semua. Dan ingat satu hal.. selamanya, menantu yang Mama akui hanya ada satu orang saja, yaitu Hezlin!"
"Mama tidak mau kabar ini sampai ke telinga Papamu. Kamu tahu bagaimana kondisinya saat ini.. Dan itu karena ulah wanita itu. Jangan sampai hal yang seperti ini membuatnya tertekan atau sakit. Jadi, jangan macam-macam!"
Nyonya Esmeralda berpaling tegas. Berbicara dengan nada yang begitu dingin.
"Sebentar lagi hari ulang tahun Papamu tiba. Mama tidak mau mendengar alasan apa pun, kamu harus membawa Hezlin ke rumah ini."
Ia menekan setiap kata dengan nada yang pasti, seolah tidak memberi ruang bagi Garra untuk menolak.
Garra hanya terdiam sesaat, rahangnya mengeras mendengar setiap kata ibunya. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya.
Andai saja Mamanya tahu jika yang ingin mengajukan perceraian itu bukanlah Garra, melainkan Hezlin sendiri.
Dan wanita yang dipuji-puji Mama sebagai istri dan menantu yang begitu baik itu, justru malam ini terlihat begitu bahagia dan bersenang-senang bersama pria lain di tempat yang berbeda.
Pikiran itu melintas sekilas, membuat dadanya terasa makin sesak. Namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun soal itu, hanya menatap lurus ke depan, lalu menjawab dengan suara datar namun terdengar berat.
"Baiklah."
•
•
❤️