Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Quiet Thing He Did
Malam setelah Gala Amal terasa jauh lebih melelahkan dibanding yang Lilly bayangkan.
Bukan karena kegiatannya.
Melainkan karena sejak pagi hingga malam—
ia terus tersenyum, berbicara, berjalan, dan berdiri di bawah tatapan terlalu banyak orang.
Saat kendaraan kerajaan akhirnya berhenti di depan mansion, Lilly menghela napasnya pelan.
Lampu-lampu taman menyala redup di tengah udara dingin.
Beberapa pelayan segera bergerak mendekat begitu Noah dan Lilly turun dari kendaraan.
Namun Lilly nyaris tidak memperhatikan mereka.
Hal pertama yang ia cari hanyalah tempat duduk.
Dan yang paling dekat dengannya—
adalah pijakan tangga paling bawah di depan pintu utama mansion.
Tanpa banyak berpikir, Lilly langsung duduk di sana.
Gaunnya sedikit terangkat di bagian bawah saat ia menyelonjorkan kaki pelan ke depan.
Sebuah helaan napas panjang akhirnya keluar dari bibirnya.
“Ah…”
Suara kecil itu terdengar benar-benar lelah.
Dan jelas bukan sesuatu yang pantas dilakukan calon Putri Mahkota di depan pintu mansion besar keluarga bangsawan.
Namun saat itu Lilly benar-benar sudah tidak peduli.
Suasana di sekitar mereka cukup sepi.
Sebagian besar pelayan sengaja menjaga jarak setelah melihat ekspresi lelah keduanya.
Bahkan suara malam terasa jauh lebih jelas sekarang.
Angin bergerak pelan melewati pepohonan taman.
Noah yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya memperhatikan Lilly cukup lama.
Perhatiannya tertuju pada gadis itu yang kini benar-benar duduk santai di tangga batu mansion seperti anak kecil yang baru pulang bermain seharian.
Lilly memejamkan mata sesaat.
“Kakiku mati rasa…”
Noah berjalan mendekat perlahan.
Lalu tanpa banyak bicara—
ia berjongkok tepat di depan Lilly.
Gadis itu langsung membuka mata.
“Apa yang Anda lakukan?”
Namun Noah tidak menjawab.
Tangannya justru bergerak tenang menyentuh pengait sepatu heels Lilly.
Lilly langsung refleks menarik sedikit kakinya.
“Yang Mulia.”
Nada suaranya terdengar setengah panik.
“Itu tidak perlu.”
Noah tetap tenang.
Pandangan pria itu bahkan tidak terangkat saat jemarinya membuka pengait sepatu itu perlahan.
“Kakimu terlalu lelah.”
Jawabannya sederhana.
Namun justru membuat Lilly terdiam sesaat. Heels pertama akhirnya terlepas pelan dari kakinya.Hal yang membuat— Lilly mengembuskan napas kecil tanpa sadar.
Noah mengangkat pandangannya singkat.
“Kau memang memaksakan diri.”
Lilly mengerutkan wajah kecil.
“Acara kerajaan memang selalu seperti itu?”
“Yang tadi bahkan masih termasuk ringan.”
Lilly langsung menatap langit malam seolah hidupnya mendadak kehilangan harapan.
Noah mulai melepaskan heels satunya lagi.
Kali ini Lilly tidak lagi menolak. Ia hanya duduk diam sambil memperhatikan pria di depannya beberapa detik.
Angin malam bergerak pelan melewati halaman mansion yang sunyi. Beberapa helai rambut Lilly tersibak pelan.
Momen kecil itu terasa jauh lebih tenang dibanding seluruh gala amal tadi. Hanya Noah yang berjongkok di depannya sambil melepaskan heels Lilly di tangga mansion pada malam yang dingin.
Setelah heels terakhir terlepas, pria itu menaruhnya di samping Lilly.
Noah akhirnya berdiri kembali.
Lilly memperhatikan kakinya sesaat sebelum perlahan menggerakkan jemarinya di atas tangga batu dingin, lalu menghela napasnya kecil.
“Jauh lebih baik…”
Sorot mata Noah turun padanya sesaat. Sudut bibirnya bergerak tipis.
“Kau terlihat seperti baru selamat dari perang.”
“Aku memang baru selamat.”
Jawaban cepat itu membuat Noah mengembuskan napas kecil seperti tawa yang tertahan.
Lilly tertawa kecil tanpa beban.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu mansion yang dibuka bersama langkah kaki yang mendekat. Seorang pelayan keluar membawa nampan kecil berisi makanan.
Aroma roti hangat langsung samar tercium di udara dingin malam.
Lilly sedikit mengangkat kepala.
Dan beberapa detik kemudian—
matanya langsung membesar pelan.
“Itu…”
Di atas nampan tersebut terdapat beberapa sandwich dari toko franchise kecil yang biasa ia kunjungi ketika hidupnya terasa 'bebas'.
Noah mengambil nampan itu lebih dulu sebelum akhirnya duduk di tangga tidak jauh darinya.
“Makanlah,” ucapnya sembari menyodorkan nampan.
"Aku tidak tahu mana yang kau suka."
Matanya sedikit membulat mendengar ucapan Noah.
Untuk sesaat Lilly tampak ragu.Matanya jatuh pada sandwich itu cukup lama. Lalu perlahan kembali naik pada Noah.
“Boleh?”
Pertanyaan itu terdengar sangat pelan.
Seolah ia benar-benar mempertimbangkan apakah calon Putri Mahkota diperbolehkan duduk di tangga mansion sambil makan sandwich franchise di tengah malam.
“Boleh.”
Dan jawaban sederhana itu entah kenapa langsung membuat seluruh ketegangan kecil di wajah Lilly menghilang.
Ia segera mengambil salah satu sandwich itu. Rasa saus bolognese pedas selalu dibungkus dengan kertas bercorak kemerahan.
Itu adalah favoritnya.
“Aku sangat merindukan sandwich ini.”
Nada suaranya terdengar benar-benar tulus.
“Aku tahu.”
Lilly langsung mengernyit.
“Bagaimana?”
“Kau terus melihat ke arah tokonya beberapa kali sepulang dari jamuan teh di istana kemarin.”
Lilly membeku sesaat. Sebelum akhinrnya ia terkekeh kecil sambil menunduk malu.
“Itu memalukan.”
“Sedikit.”
“Yang Mulia…”
Noah mengambil sesuatu yang lain dari nampan.
Sebotol coke dingin.
Ia menyerahkannya tanpa banyak bicara. Lilly menerimanya pelan.
Netranya turun beberapa detik pada botol di tangannya, sudut bibirnya mengembang.
“Terima kasih.”
Angin malam masih berhembus pelan. Noah melepas mantelnya dan memasangkan pada bahu Lilly.
Rasa hangat langsung melingkupi tubuh kecil gadis itu. Lilly menatap botol coke dingin di tangannya beberapa saat lebih lama dari yang seharusnya. Embun tipis di permukaan botol terasa dingin di jemarinya.
Aneh sekali.
Padahal yang membuat dadanya perlahan menghangat justru bukan minumannya.
Melainkan pria di sebelahnya.
Noah duduk satu tingkat tangga di atasnya dengan posisi santai—meski entah bagaimana, pria itu tetap terlihat rapi.
Sementara tangan Lilly sibuk membuka bungkus sandwich pelan-pelan.
Suara kertas pembungkus yang berdesir kecil terdengar jelas di tengah suasana malam yang tenang.
Lilly menggigit sandwich itu.
Mengunyahnya perlahan.
Ekspresinya langsung berbeda.
Sorot matanya berbinar.
Pundaknya yang tegang sejak siang perlahan mengendur.
Noah meliriknya singkat.
“Sebagus itu?”
Lilly menutup mulutnya cepat sebelum bicara sambil masih mengunyah.
“Anda tidak mengerti.” Nada suaranya terdengar sangat serius.
Noah menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Sandwich ini menyelamatkan hidupmu?”
"Tentu," gumam Lilly pelan. "Dulu, kalau sepulang kerja terasa melelahkan."
Gadis itu menundukkan kepalanya. Netra hazelnya tertuju pada sandwich di tangannya.
"Aku selalu menikmatinya."
...----------------...