Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-17 Patah hatinya Vincent
Sesampainya di rumahnya Jonathan.
“Sayang, Daddy harap kau bisa secepatnya menikah dengan Agatha,” kata Mr. Darwin.
Jonathan tidak menjawab, dia masih bingung dengan kesalahfahaman yang terjadi. Dia masih ragu dengan perjodohan ini.
Entah apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia teringat pada Vincent yang terang-terangan menyukai Agatha, calon istrinya, bagaimana dengan dirinya? Apakah dia menerima menikah dengan Agatha? Bagaimana dengan Amanda? Gadis pecicilan yang dia kira adalah calon istrinya, ternyata bukan.
Dia sudah mencoba membuka hatinya pada Amanda meskipun sulit, dan sekarang ternyata Amanda bukan calon istrinya. Itu artinya dia harus mencoba membuka hatinya lagi untuk Agatha.
“Kita akan mengundang Agatha makan malam, supaya kau bisa mengenalnya lebih dekat,” kata Mr. Darwin.
Jonathan masih tidak menjawab, dia memikirkan Agatha dan Amanda, kedua gadis itu sangat mirip, tapi kalau bicara hati, mereka memiliki hati yang berbeda, bagaimana dengan dirinya? Apakah dia sudah mulai menyukai Amanda? Kenapa jadi harus sesulit ini? Dia harus memulai dari awal lagi untuk menerima Agatha. Apakah hatinya bisa dengan mudah berpindah pindah?
***********************
Dirumahnya Edward.
Terdengar seseorang mengetuk kamarnya Agatha. Gadis itu segera membukanya, ternyata saudara kembarnya sudah berdiri di pintu.
“Ada apa?” tanya Agatha.
Amanda masuk ke dalam kamarnya Agatha, langsung menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya disana.
“Apa kau menyukai Jonathan?” tanya Amanda.
Agatha tampak berfikir sebentar, lalu tersenyum.
“Aku tidak menyangka kalau Jonathan adalah pria yang aku ceritakan padamu, yang bertemu denganku di mall itu, aku juga melihatnya saat dekat kampusmu, aku juga melihatnya saat masuk gedung perkantoran tempatmu magang itu,” jawab Agatha, berdiri menatap Amanda.
“Jadi dia pria itu?” tanya Amanda.
“Iya, sungguh tidak menyangka kan? Apakah itu artinya kita berjodoh?” tanya Agatha. Amanda terdiam. Ternyata saudara kembarnya menyukai Jonathan. Bagaimana dengan dirinya?
“Bagaimana denganmu? Dengan Vincent?” tanya Agatha, sambil duduk di pinggir tempat tidur, menatap Amanda.
“Entahlah, aku baru pertama kali bertemu dengannya, dia juga menyukaimu,” kata Amanda.
“Tapi aku tidak menyukai Vincent, dia itu playboy, banyak pacarnya, dia juga selalu menggangguku,” keluh Agatha.
Amanda kembali diam, jadi calon suaminya itu seorang playboy yang diceritakan oleh Agatha.
Agatha menatap Amanda.
“Aku minta maaf aku tidak bermaksud menjelekkan Vincent, tapi memang Vincent seperti itu. Dia yang aku ceritakan diserbu banyak pacarnya saat di mall,” kata Agatha.
“Aku juga tidak suka pria yang playboy,” keluh Amanda, lalu bangun dari tidurnya. Dia tidak bisa mengatakan pada Agatha kalau dia menyukai Jonathan, boneka yang selalu dibawanya adalah dari Jonathan, tidak, dia ingin menghancurkan hati Agatha, apalagi Jonathan adalah calon suaminya Agatha, dia yang lebih berhak bersama Jonathan.
“Kau mau kemana?” tanya Agatha.
“Aku mau ke kamarku, teman-temanku sedang menungguku,” jawab Amanda, lalu keluar dari kamarnya Agatha.
Kini Agatha yang tiduran ke tempat tidur. Ada senyum di bibirnya, dia tidak menyangka kalau pria yang beberapakali ditemuinya adalah calon suaminya, benar-benar jodoh.
**************
Beberapa hari kemudian, orangtuanya Jonathan mengundang Agatha makan malam bersama mereka di sebuah restaurant.
“Sayang, bagaimana makannya kau menyukainya?” tanya ibunya Jonathan pada Agatha, tersenyum manis pada calon menantunya itu.
“Iya Mrs, sangat enak,” jawab Agatha mengangguk.
“Apa kau bisa memasak?” tanya ibunya Jonathan lagi.
“Tidak terlalu Mrs,” jawab Agatha.
“Kau boleh memanggilku Mommy,” kata ibunya Jonathan. Agatha hanya tersenyum lalu melirik pada Jonathan. Calon suaminya itu sama sekali tidak banyak bicara, bahkan dia tidak mau melihatnya, benar-benar sangat kaku dan dingin.
Tapi Agatha mencoba memahaminya karena ini awal hubungan mereka pasti sangat merasa asing dengan perjodohan ini.
“Setelah kalian menikah, kau bisa mencoba memasak makanan kesukaan Jonathan. Kau tau makanan kesukaannya?” tanya ibunya Jonathan.
“Tidak Mrs, Mommy,” jawab Agatha, dia melirik pada Jonathan tapi pria itu masih sibuk dengan makanannya, sama sekali tidak meliriknya.
“Nanti aku ajari, aku yakin kau akan menjadi istri yang baik buat Jonathan,” kata ibunya.
Agatha mengangguk, dia ingin tahu apa makanan kesukaannya Jonathan, dia akan berusaha membuatnya seenak mungkin sampai Jonathan menyukai masakannya.
“Jonathan antar Agatha pulang ke rumahnya,” kata Mr. Darwin.
“Baiklah Daddy,” jawab Jonathan, saat acara makan malam mereka selesai.
Sepanjang jalan pulang, Jonathan tidak banyak bicara, membuat Agatha merasa bingung harus mencairkan suasana seperti apa lagi. Kalaupun ada hal yang dia tanyakan pada Jonathan, pria itu hanya bicara seperlunya saja. Agatha harus benar-benar bersabar dengan sikap diamnya Jonathan.
“Aku tahu kau sulit menerimaku, tapi bisakah kita berkomitmen untuk saling mengenal? Karena perjodohan ini sudah terjadi, dan mau tidak mau kita harus menjalaninya,” ucap Agatha.
Jonathan tidak bicara apa-apa, dia hanya mendengarkan apa yang dikatakan Agatha.
“Besok aku jemput untuk fiting baju pengantin, Mommyku sudah membuat janji dengan butik Inez,” kata Jonathan akhirnya bicara, itupun bukan menanggapi perkataannya Agatha tadi.
Saat mobil mereka akan memasuki halaman rumahnya kediaman Mr. Smith, ada sebuah mobil lain yang lebih dulu memasuki halaman rumah itu. Tampak Amanda dan Vincent duduk di dalamnya.
“Dengar, aku tidak menerima perjodohan ini, aku tidak mau menikah denganmu,” kata Vincent dengan tegas.
“Kau fikir aku mau menikah denganmu? Pria playboy yang banyak pacarnya? Seperti tidak ada pria lain saja,” keluh Amanda.
“Masalahnya, aku sudah jatuh cinta pada Agatha, aku sudah menganggapnya calon istriku, aku hanya ingin menikah dengannya,” kata Vincent terus terang.
“Tapi Agatha tidak menyukaimu. Tidak ada wanita yang menyukai pria playboy, kau harus tahu itu,” ucap Amanda.
“Tapi kali ini aku benar-benar hanya menyukai Agatha tidak ada wanita lain,” kata Vincent.
“Kau terus saja bersikeras ingin menikah dengan Agatha, Agathanya juga tidak mau menikah denganmu, kau ini bagaimana?” keluh Amanda dengan kesal.
“Terus, memangnya kau mau menikah denganku? Bukankah kau juga tidak menyukai pria playboy seperti aku?” kata Vincent membuat Amanda terdiam.
Amanda juga bingung harus bagaimana? Bukan Vincent yang dia suka. Kalau dia bisa memilih, dia lebih memilih menikah dengan Jonathan, selain karena sudah lebih dulu mengenalnya, juga ada kisah tersendiri antara dirinya dengan Jonathan, meskipun Jonathan tidak pernah mengatakan mencintainya, setidaknya dia tahu Jonathan pernah perhatian padanya. Lain dengan Vincent, selain dia playboy, dia juga menyukai Agatha, sungguh buruk nasibnya kalau menikah dengan Vincent.
Vincent menghentikan mobilnya depan teras.
“Kau mau turun dulu?” tanya Amanda pada Vincent.
“Tidak,” jawab Vincent masih dengan nada ketus, membuat Amanda kesal saja.
Amanda turun dari mobinya Vincent.
“Besok aku jemput untuk fiting baju pengantin,” kata Vincent tanpa menoleh. Amanda tidak menjawab, dia menutup kembali pintu mobilnya Vincent, lalu berjalan menuju teras. Setelah dia sampai di pintu, ada yang aneh, kenapa Vincent tidak segera pergi? Dari arah gerbang masuk sebuah mobil lagi, Amanda menoleh pada mobil yang datang itu, ternyata Jonathan dan Agatha. Diapun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Vincent melihat kedatangn mobil itu dari kaca spion. Saat dilihatnya itu mobil Jonathan dan Agatha, dia kembali mematikan mobilnya.
“Besok aku jemput untuk fiting baju pengantin,” kata Jonathan.
“Iya. Kau hati-hati di jalan,” kata Agatha, kemudian turun dari mobilnya Jonathan. Jonathan tidak menjawab, dia pun melajukan mobilnya melewati mobilnya Vincent.
Agatha hanya melihat kepergian mobilnya Jonathan. Saat melihat sebuah mobil terparkir disana, dia mengerutkan keningnya, apa mungkin ada tamu didalam. Tapi Agatha tidak banyak berfikir, diapun melangkah menuju teras rumah. Langkah kakinya terhenti saat seseorang memanggilnya.
“Agatha tunggu!” panggil sebuah suara.
Agathapun menoleh ke arah suara, dia terkejut saat dilihatnya pria yang memanggilnya itu adalah Vincent.
“Vincent?” tanya Agatha, matanya menoleh pada mobilnya Vincent, dia mengira ada Amanda di mobilnya Vincent.
“Mana Amanda? Bukankah kalian ada janji makan malam dengan orangtuamu?” tanya Agatha.
“Amanda sudah masuk ke dalam,” jawab Vincent.
“Kau mau ikut ke dalam?” tanya Agatha pada Vincent.
“Tidak, aku ingin bicara denganmu,” jawab Vincent.
“Bicara apa?” tanya Agatha.
“Aku ingin kau batalkan rencana pernikahanmu dengan Jonathan dan kau menikah denganku,” kata Vincent.
“Apa?” tanya Agatha kaget.
“Kenapa kau selalu membahas itu? Calon istrimu adalah Amanda, bukan aku,” kata Agatha.
“Tapi aku tidak mau menikah dengannya, aku hanya ingin menikah denganmu,” kata Vincent.
“Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak mau menikah denganmu, lagipula aku sudah dijodohkan dengan Jonathan,” ucap Agatha, dia mulai kesal dengan tingkahnya Vincent yang memaksakan kehendaknya.
Vincent meraih tangannya Agatha.
“Cantik, aku harus mengatakan berapa kali, aku mencintaimu, aku hanya ingin menikah denganmu, bukan Amanda,” kata Vincent.
“Aku minta maaf Vincent, aku tidak bisa,” ucap Agatha, mata mereka saling bertemu.
“Selain kau bukan calon suamiku, aku juga tidak menyukaimu,” lanjut Agatha.
“Kau bicara begitu karena kau menganggapku playboy kan?” tebak Vincent. Agatha tidak menjawab.
“Tapi aku serius ingin menikah denganmu, aku sudah tidak playboy lagi, aku sudah tidak memiliki pacar manapun,” kata Vincent mencoba meyakinkan Agatha lagi.
“Maaf Vincent, aku tidak bisa, aku akan menikah dengan Jonathan,” ucap Agatha sambil melepaskan tangannya dari pegangan Vincent.
Vincent terdiam, dia hanya menatap tangan Agatha yang lepas dari pegangannya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Agatha kalau dia benar-benar hanya mencintainya saja, dia tidak ingin main-main dengan pernikahannya.
“Agatha,” panggilnya. Agatha menatapnya.
“Katakan padaku apa yang harus aku lakukan supaya kau yakin aku berubah, aku berjanji tidak akan menyakitimu, aku berjanji tidak akan selingkuh dan punya pacar yang lain, aku hanya ingin kau mempercayaiku kalau aku juga bisa setia,” kata Vincent.
Agatha tertawa kecil mendengarnya.
“Seharusnya kau mengatakan itu pada Amanda, karena Amanda adalah calon istrimu, bukan aku,” kata Agatha.
Mendengarnya membuat Vincent benar-benar putus asa. Apa dia benar-benar akan kehilangan Agatha? Dia benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu dan seketika dia harus patah hati karena Agatha tidak menyukainya? Kenapa saat pacaran dengan pacar-pacarnya begitu mudah sekali sedangkan untuk mendapatkan hati Agatha begitu sulit? Disaat dia dengan mudah mendapatkan wanita yang dia sukai, tidak dengan wanita yang akan menjadi istrinya. Dia harus menikah dengan gadis yang tidak dicintainya, ini seperti semacam karma yang menjeratnya karena suka mempermainkan wanita.
“Berikan aku waktu supaya kau bisa mencintaiku,” kata Vincent.
“Maaf Vincent, aku akan menikah dengan Jonathan, aku minta maaf,” ucap Agatha, lalu membalikkan badannnya masuk kedalam rumah meninggalkan Vincent. Melihat Agatha yang meninggalkannya membuat Vincent merasa kecewa dia benar-benar patah hati. Diapun melangkah lesu menuju mobilnya.
Cukup lama dia hanya duduk di dalam mobilnya, yang akhirnya diapun menyalakan mobilnya meninggalkan rumahnya keluarga Mr.Smith itu.
Ada sepasang mata yang memperhatikan kejadian itu. Pemilik mata itu sedang berdiri dibalkon lantai atas. Elsa dengan tidak sengaja, saat mendengar suara mobil berdatangan, diapun keluar kamarnya dan melihat keluar dari lantai atas.
Ada yang menarik perhatiannya, saat melihat Vincent mengejar Agatha dan mengajak putrinya itu bicara, bahkan Vincent berani memegang tangannya Agatha. Elsa semakin bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan hubungan muda mudi itu? Apa penilaiannya salah, jika dia melihat kalau Vincent menyukai Agatha, bukan Amanda?
Diapun menarik nafas panjang, dia harus memastikan semua putri-putrinya bahagia dengan pernikahannya. Dia harus mencari tahu ada apa sebenarnya dengan mereka.
**************
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤