NovelToon NovelToon
Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia

Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Reinkarnasi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:52.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rs_31

Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa lalu Arabella

Ara dan Rafaell pergi ke lintasan gunung tempat balapan Black Mamba.

"Ra, lo yakin mau balapan di sini?" tanya Rafaell saat mereka berdua sudah sampai di lintasan itu.

Ara menatap jalanan gunung yang gelap di depannya. Lampu jalan yang redup hanya menerangi sebagian kecil lintasan yang berkelok tajam.

"Iya. Ayo kita telusuri jalannya dulu," ajak Ara kepada Rafaell.

Ara mulai menyalakan mesin motor sportnya, lalu menjalankannya dengan pelan.Suara mesin motor itu memecah keheningan malam di pegunungan.Rafaell segera mengikuti dari belakang.

Mereka berdua menjalankan motor dengan beriringan menyusuri lintasan yang terkenal berbahaya itu.

"Ra, gue takut lo celaka di sini," kata Rafaell kepada Ara tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.

Dia tahu Ara sangat mahir dalam balapan. Namun Rafaell juga tidak bisa menghilangkan rasa takut itu. Terlebih saat ini Ara baru saja keluar dari rumah sakit dan yang lebih parah, Ara sedang mengalami amnesia.

Ara hanya tersenyum tipis.

"Tenang saja. Gue bakal baik-baik saja," jawab Ara dengan santai.

Ara terus menjalankan motornya melewati jalan yang terjal, berliku, dan beberapa turunan yang cukup curam.

Angin malam menerpa wajahnya saat motor itu melaju perlahan.Sementara itu, Rafaell yang berada di belakang sudah mulai ketar-ketir melihat cara Ara melewati jalur tersebut.

Tidak banyak orang yang bisa melewati lintasan Black Mamba tanpa rasa takut.Bahkan beberapa pembalap profesional pernah mengalami kecelakaan di tempat ini.

Namun anehnya…

Ara justru terlihat sangat santai.

Seolah-olah lintasan itu bukan sesuatu yang asing baginya.

Ara sedikit memperlambat laju motornya ketika mereka sampai di sebuah tikungan tajam.Matanya menyapu jalanan di depannya.Perasaan aneh tiba-tiba muncul di dalam dadanya.

"Sebentar," gumam Ara pelan.

Rafaell yang berada di belakang langsung mendekatkan motornya.

"Kenapa?"

Ara masih menatap jalanan itu dengan kening sedikit berkerut.

"Kenapa gue merasa familiar sama tempat ini?" tanya Ara pada dirinya sendiri.

Suara itu cukup pelan tetapi masih bisa didengar oleh Rafaell.

Rafaell langsung membeku di tempat.Matanya menatap Ara dengan ekspresi kaget.

" Ra, andai saja lo tahu betapa begitu sangat mengerikan temoat ini," gumam Rafaell dalam hati.

Di sisi lain Derren, saat ini sedang berkumpul dengan anak Black mamba yang lainnya. Mereka adalah pendukung Derren menjadi ketua Black Mamba.

" Kak jadi bagaiman? Apakah kakak akan melawan Queen untuk balapan nanti malam? " tanya salah satu menanya Derren.

Derren bukannya menjawab dia justru terdiam sembari tersenyum miring.Lalu perlahan menoleh ke arah temannya itu sembari membisikan sesuatu.

" Oke, serahkan saja kepadaku kak," kata salah satu anggota Black Mamba sembari menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.

Sedangkan Derren dia hanya diam ingin segera menyaksikan hancurnya kejayaan Queen di depan semua orang.

Anggota Black Mamba itu segera pergi setelah menerima bisikan dari Derren.Langkahnya terlihat tergesa menuruni tangga markas menuju garasi belakang.

Beberapa anggota lain yang melihat itu hanya saling melirik.

Mereka tahu jika Derren sudah mulai bergerak seperti itu, berarti sesuatu pasti akan terjadi malam ini.

Derren berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding markas.Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.Tatapannya menembus gelapnya malam yang terlihat dari jendela besar markas.

"Queen," gumamnya pelan.

Senyum miring kembali muncul di wajahnya.

"Malem ini gue bakal pastiin semua orang tahu kalau lo udah nggak pantas jadi pemimpin di sini."

Salah satu anggota yang berada di dekatnya menelan ludah.Dia tahu betul apa yang dimaksud oleh Derren.Lintasan Black Mamba bukan lintasan biasa.

Sedikit saja kesalahan nyawa bisa melayang.

Sementara itu di lintasan gunung.

Ara masih berdiri di dekat motornya sambil menatap tikungan tajam yang berada beberapa meter di depannya.

Angin malam berhembus cukup kencang di pegunungan itu.

Daun-daun di pinggir jalan bergesekan menimbulkan suara yang samar.

Rafaell masih memperhatikan Ara dengan wajah tegang.

"Ra."

Ara menoleh sedikit.

"Apa?"

Rafaell ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara.

"Lo benar-benar nggak ingat apa-apa?"

Ara terdiam.Matanya kembali menatap jalanan gelap itu.

Beberapa detik kemudian dia menggeleng pelan.

"Nggak."

Ara lalu kembali menaiki motornya.

"Tapi aneh."

Rafaell mengerutkan kening.

"Aneh kenapa?"

Ara menyalakan mesin motornya kembali.Suara mesin motor itu menggema di antara tebing-tebing gunung.

"Gue merasa kayak pernah ngebut di sini sebelumnya."

Jantung Rafaell langsung berdegup keras.Tangannya tanpa sadar mengepal.Karena apa yang dikatakan Ara itu benar.

Ara bukan hanya pernah balapan di tempat ini.Dia bahkan pernah hampir mati di lintasan ini.

"Ra."

Namun Rafaell mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu.Ara sudah menarik gas motornya lagi.

Motor hitam itu melaju perlahan melewati tikungan tajam yang mereka lihat tadi.Gerakannya sangat halus.

Seolah-olah Ara sudah hafal setiap lekukan jalan di lintasan itu.Rafaell hanya bisa mengikuti dari belakang dengan perasaan tidak tenang.

Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah titik yang cukup luas di tengah lintasan.Biasanya tempat itu digunakan sebagai garis start balapan Black Mamba.

Ara menghentikan motornya.

Matanya menatap lurus ke depan.

Lintasan panjang yang menurun tajam terlihat membentang di hadapannya.

Lampu kota di kejauhan terlihat berkelip dari bawah gunung.Ara turun dari motornya.Dia berjalan beberapa langkah ke depan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya.

"Tempat ini."Ara berhenti bicara.

Rafaell yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.

"Apa?"

Ara menyipitkan matanya sedikit.

"Gue ngerasa deg-degan."

Rafaell menelan ludah.

Ara lalu tersenyum tipis.

"Tapi anehnya gue juga ngerasa senang."

Rafaell hanya bisa menghela napas.

"Tentu saja lo senang."

Ara menoleh.

"Maksud lo?"

Rafaell tersenyum kecil.

"Karena di sinilah tempat lo selalu jadi ratu."

Ara menaikkan sebelah alisnya.

"Ratu?"

Rafaell mengangguk.

"Queen Black Mamba."

Ara menatap kembali lintasan di depannya.Angin malam kembali berhembus menerpa rambutnya.

Beberapa detik kemudian senyum tipis muncul di wajah Ara.

"Kalau begitu."

Ara mengambil helmnya.

Dia memakainya dengan santai.

"Kayaknya gue nggak boleh kalah malam ini."

Rafaell menghela napas panjang.

"Masalahnya bukan kalah atau menang, Ra."

Ara menaiki motornya kembali.

"Apa lagi?"

Rafaell menatap Ara dengan serius.

"Lintasan ini pernah hampir ngebunuh lo."

Ara sedikit terdiam.

Namun beberapa detik kemudian dia hanya tertawa kecil.

"Tenang aja."

Ara menyalakan mesin motornya lagi.Raungan mesin kembali memecah keheningan malam.

"Kalau lintasan ini pernah hampir ngebunuh gue."

Ara menoleh sedikit ke arah Rafaell.Tatapannya tajam.

"Berarti malam ini gue bakal ngebunuh lintasannya."

Rafaell langsung menghela napas panjang.

"Gila Queen emang udah balik."

Namun tanpa mereka sadari di balik tikungan gelap beberapa meter dari tempat mereka berdiri,

seseorang sedang memperhatikan mereka.

Pria itu tersenyum tipis.

Tangannya memegang sebuah botol kecil berisi cairan licin.

"Oke rencananya dimulai sekarang."

Dia lalu berjalan menuju tikungan paling berbahaya di lintasan itu.

Dan menuangkan cairan itu perlahan ke atas aspal.

Cairan itu menyebar tipis

nyaris tidak terlihat dalam gelapnya malam.

Pria itu tersenyum puas.

"Selamat datang kembali, Queen."

"Semoga lo masih seberuntung dulu."

1
Murni Dewita
👣
chataleya
kalau ada keluarga Cemara, ini kebalikannya. keluarga durjana. 🤣 ampun...
kenapa ya mereka bisa begitu sama Ara??
lanjut baca 😍😍😍
chataleya
berusaha mempertahankan harga diri apapun yang terjadi,👍
Laila Wahda
sebenarnya ceritanya bagus cuma gak nyambung dari awal berubah2
Laila Wahda
cerita awalnya gak nyambung bukannya sore mati karena balapan kenapa mati di tembak dipazngkuan damian
Ma Em
Semoga perbuatan Narendra akan mendapatkan karma yg membuatnya menyesal seumur hdp nya .
Nenk putry
dih makin lama makin jijik baca nya MC nya bayak menyek² katanya mafia hedeeeh Thor² semangat aja lah maaf males sudah baca nya
jenolee: kau cuma bisa ngetik gitu trus kah? klihatan sekali klu anda org ga berpendidikan, bisanya cuma nyinyir doang, tuh komen mu kebanyakan ngatain karya orang, coba kau yg nulis, bisa ga?🤣🤣🤣🤣
total 8 replies
Dian Utami
cerita ny muter" Thor awal ny seru kesini ny kurang bagus pusing baca ny
SYADZA
suka banget kak sama cerita nya semangat kak autor
Tinta_Hitam: terima kasih
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Tinta_Hitam: cus lanjut baca. jangan kupa saran dan keritikannya ya guys
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!