"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASEHAT MAMA
Tante, Kak Gesta sudah pulang kah? Pesan masuk dari Angel. Sejak pulang sekolah, gadis itu menghubungi Gesta namun tak ada respon sama sekali. Ke rumah juga kata ART, Gesta belum pulang. Chat mama Gesta, beliau juga belum berkabar posisi sang putra di mana. Angel khawatir, hampir tiap jam chat pada Gesta dan mamanya.
Barusan datang, Ngel. Balas mama Gesta.
Aku ke rumah Tante ya, pinta Angel penasaran dari mana Gesta, sampai pukul 10 malam baru sampai rumah.
Gak usah dulu ya, Ngel. Kayaknya Gesta lagi ada masalah. Nanti tante kabari lagi. Tentu mama Gesta tahu mood sang putra sedang tidak baik, jangan sampai manjanya Angel malah bikin mood Gesta berantakan.
"Mandi, habis itu makan!" ucap mama tak bertanya kenapa baru pulang.
"Aku udah makan tadi, habis mandi langsung tidur saja!" ucap Gesta murung. Sang mama mengangguk saja. Namun sebagai mama tentu tak serta merta mengabaikan, beliau membuatkan roti bakar dan susu cokelat hangat, lalu diantar ke kamar sang putra.
Menunggu putra tunggalnya, selesai mandi. Beliau melihat ponsel Gesta berdenting, banyak pesan dari Angel. Mungkin ada masalah dengan sahabat kecil sang putra.
"Mama, ngagetin saja!" ucap Gesta berjingkat sembari menggosok rambutnya.
"Gitu doang aja kaget," ledek sang mama kemudian menunjuk roti dan susu cokelat. Katanya sudah makan, tapi tetap saja Gesta lahap.
"Pulang sampai jam segini dari mana?" tanya mama pelan, tak perlu marah-marah. Meski khawatir Gesta berbuat melenceng di luar.
"Dari rumah sakit," jawab Gesta dengan makan roti bakar tersebut.
"Siapa yang sakit?" tanya mama lagi.
"Pacar." Rasanya mama menahan tawa, ternyata sang putra sudah punya pacar, kok gak pernah cerita?
"Sejak kapan punya pacar? Kok gak pernah dikenalkan sama mama?" sang mama seorang psikolog, pembawaan tenang apalagi menghadapi remaja. Biasanya Gesta cerita berbagai peristiwa, tapi terlewat urusan pacaran.
"Sudah setahun, sejak awal kelas XI. Bukan gak mau cerita, tapi memang Gesta mau keep saja urusan perasaan. Nanti mama dan papa melarang malah Gesta sakit hati di awal," sebuah alasan template khas anak remaja. Mama menanggapi hanya tersenyum saja.
"Siapa namanya? Kenalkan dong, kayak gimana sih cewek taksirannya anak mama?" ledek sang mama sembari memijat pundak Gesta.
"Yang pasti cantik, baik, pengertian, pinter dan famous di sekolah!" jawab Gesta dengan tersenyum mengingat Niar. Hanya saja senyum itu tak berlangsung lama, ekspresi manyun tertangkap mama.
"Dia sakit? Mama boleh jenguk gak?" tanya mama lagi, Gesta menggeleng.
"Dia minta putus!" sahut Gesta dengan raut sedih. Mama menghela nafas pelan, akar masalah sudah ditemukan.
"Kenapa?"
"Cemburu sama Angel," jawab Gesta jujur.
"Oh!" hanya itu saja jawaban mama, dan membuat Gesta heran. Pikir Gesta, sang mama akan protes akan sikap Niar yang dianggap Gesta berlebihan. Berapa kali Gesta bilang Angel hanya sebatas sahabat kecil, porsi sayang pada Angel jelas berbeda dengan kasih sayang Gesta pada Niar. Tapi gadisnya tetap cemburu, bahkan meminta putus. Lalu Gesta harus berbuat apa kalau sudah terlanjur begini. Dia masih kekeh gak mau putus.
"Kok oh saja, Ma?" tanya Gesta.
"Keputusan cewek kamu, mama anggap benar. Sangat wajar malah, itu tandanya dia cinta dan sayang sama kamu. Gak mau berbagi kamu, waktu kamu, dan perhatian kamu ke Angel," tutur mama sebagai perempuan.
"Ma, aku udah jelasin ke Niar. Aku dan Angel cuma sahabatan, dan aku masih sayang sama Niar juga. Cuma memang porsi berduan kita sangat berkurang, aku akui itu salah!" keluh Gesta, sepertinya dia menuntut pengertian Niar tapi dia gak bisa menyeimbangkan waktu antara kekasih dan sahabatnya.
"Kamu menuntut dia buat mengerti keadaanmu dan Angel, tapi apakah kamu juga mengerti perasaan Niar melihat kedekatan kalian?" tanya mama. Berusaha bijak, dan membuka pikiran sang putra bahwasannya komunikasi dua arah itu ada berbagai bentuk, dan itu sangat penting dalam menjalin hubungan.
"Ya menurutku sih aku mengerti perasaan Niar kalau dia gak suka aku terlalu dekat dengan Angel. Cuma ma, aku bilang kedekatan kita sudah dari kecil. Angel aku udah anggap adikku sendiri, tapi Niar gak bisa diajak kompromi," Gesta frustasi, bagaimana lagi ia harus meyakinkan pada Niar bahwa Angel hanya sahabat bagi Gesta.
Mama tersenyum, "Mama kalau tahu kamu punya pacar, mama juga akan tegur kamu biar gak dekat sama Angel."
"Kok mama gitu?" Gesta heran, kok mamanya malah bela sikap Niar.
"Kalian masih SMA, masih mencari jati diri, belum banyak pengalaman bagaimana menghargai perasaan pasangan. Mama kasih tahu ya, perempuan itu makhluk yang mengedepankan perasaan. Fitrahnya memang ingin menjadi satu-satunya bagi pasangan mereka, dan Niar sedang berada pada posisi itu. Dia ingin menjadi satu-satunya perempuan yang ada dalam hidup kamu. Dia cemburu pada Angel, karena kamu berbagai perhatian dan waktu buat perempuan lain. Sekarang kalau misal di balik, kalau Niar punya sahabat cowok dan ke mana-mana bersama Niar, bahkan lebih banyak waktunya bersama Niar, sikap kamu bagaimana?" sebuah pertanyaan yang membuat Gesta terdiam seketika.
Selama ini ia tidak pernah punya pikiran seperti pertanyaan mama, dan menganggap Niar tak mungkin bisa dekat dengan cowok lain, Gesta tahu Niar sangat menjaga perasaan Gesta agar tak cemburu. "Gimana?" tuntut mama, tapi Gesta tak bisa menjawab.
"Cemburu gak?" tanya mama lagi, dan Gesta langsung mengangguk. Mama tersenyum sembari menepuk pundak Gesta. "Selagi kamu tidak bisa menghargai perasaan Niar, dan tidak bisa menjaga batasan dengan Angel, alangkah baiknya kamu menyetujui permintaan Niar. Dia berhak bahagia. Jangan pernah egois dengan mempertahankan rasa sayangmu, selagi kamu gak bisa perhatian utuh pada Niar. Mama kalau jadi Niar juga bakal melakukan hal yang sama kok, karena mama gak mau diduakan oleh pasangan. Belajar bijak, agar tidak menyakiti hati perempuan ya anakku sayang," ucap mama sebelum keluar dari kamar Gesta.
Kini pemuda 18 tahun itu hanya bisa merenung, berbantal lengan sembari menatap langit-langit kamar. Mengulas bahagianya bersama Niar sebelum Angel datang. Gadis itu tak pernah sekalipun mengekang Gesta saat berurusan dengan basket, bahkan Niar sering sekali mengingatkan untuk minum air, kadang menemani. Dia selalu mendukung Gesta fokus pada tujuannya menjadi atlet sekolah, sebelum kuliah dan punya mimpi lainnya. Tak jarang, Niar juga bertanya pada teman kelas Gesta ada PR atau catatan gak saat Gesta latihan untuk pertandingan. Begitu perhatian, sampai akhirnya Angel datang dan mengubah situasi keduanya.
"Sori, Cay. Mulai saat ini aku akan memprioritaskan kamu," janji Gesta sebelum memejamkan mata.
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...