Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Romansa Di Balik Layar, Lamaran Cowok Kreatif.
Suara mekanis senyap terpicu. secepat kilat, kawat baja tipis milik sisil melesat dari balik dedaunan mawar putih. melilit kuat pergelangan kaki Haryanto dengan sentakan yang keras.
Sistem pengunci otomatis langsung berputar, menarik kawat tersebut hingga tubuh besar Haryanto terjepit erat secara paksa di antara dua vas bunga besi raksasa yang memiliki bobot puluhan kilogram.
"Argh!"
Haryanto mengerang tertahan, mencoba memberontak dengan dengan sekuat tenaga. namun, semakin ia bergerak melawan.
Kawat baja tipis itu berkekuatan tinggi. justru semakin mengancam dan menyayat permukaan celana serta kulit pergelangan kakinya, mengunci posisinya hingga tidak bisa bergeser barang satu centi pun.
Susana di sekitar panggung altar mendadak senyap seketika. beberapa tamu terdekat terkesiap melihat seorang "investor asing" tiba - tiba terjebak dan mengerang di balik dekorasi bunga mawar putih.
Namun, alih-alih panik atau terkejut, tidak ada satupun dari barisan keluarga utama yang bergeser dari tempatnya.
Nala Putri melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis yang memikat, sementara Adrian Dirgantara melangkah maju ke ujung altar dengan tatapan mata yang dingin menembus ulu hati.
Adrian mengambil mikrofon dari stand di dekatnya. suara baritonnya yang berat, berwibawa, dan sarat akan intimidasi menggema kuat di seluruh sudut aula.
Membungkam sisa alunan musik yang sengaja dihentikan oleh asisten Han.
"Selamat datang di pernikahan kami tuan! ..atau haruskah saya memanggilmu dengan nama aslimu, Haryanto?" ujar Adrian dingin.
Mendengar nama lamanya disebut dengan begitu lugas, mata pria berwajah Turki itu membelalak sempurna penuh keterkejutan.
"A- apa maksudmu?...."
Aku adalah investor dari Turki!
Lepaskan aku, atau aku akan menuntut kalian atas penghinaan internasional.
"Teriak Haryanto dengan aksen asing yang dibuat-buat mencoba melakukan pembelaan terakhirnya."
Nyonya Victoria. melangkah maju ke samping putranya, menatap pria yang dulu menghianati mendiang suaminya itu dengan sorot mata yang penuh kebanggaan seorang ibu.
"Haryanto" kau mungkin bisa memotong dan merekonstruksi 80 persen daging di wajahmu di meja operasi Turki. tapi kau tidak akan pernah bisa mengubah esensi busuk dari jiwa mu yang telah merampok."
"Harta suami saya, saat beliau sedang sekarat!"
Suara Nyonya Victoria terdengar bergetar namun sarat akan ketegasan yang mutlak.
Bersamaan dengan selesainya kalimat Nyonya Victoria. layar proyektor raksasa berukuran puluhan meter di belakang panggung altar yang tadinya menampilkan foto-foto prewedding romantis Adrian dan Nala langsung berganti visual.
Layar tersebut menampilkan data forensik digital yang sangat lengkap.
'Struktur pembekuan aset perusahaan cangkang di swiss dan Turki oleh Papa Angel. manifest perjalanan ilegal, hingga hasil pemindai biometrik retina mata dan struktur tulang wajah asli Haryanto sebelum dioperasi yang dicocokkan secara real -time oleh sistem AL, kamera tersembunyi milik Kevin.'
Bukti kejahatan finansial masa lalu terpampang nyata di hadapan ratusan pasang mata tamu VIP.
Sebagian dari tamu investor menutup mulut mereka. hampir tidak percaya setelah melihat semua kejadian di layar proyektor ternyata selama ini, kebangkrutan pebisnis Prayoga Dirgantara - papa Adrian perusahaannya kolab ternyata oleh orang kepercayaannya dikhianati dan di rampok perusahaannya.
Mereka memandang sinis ke arah Haryanto dengan pandangan penuh jijik.
Haryanto seketika membeku. seluruh tubuhnya mendadak lemas, menyadari bahwa penyamaran yang ia banggakan selama bertahun-tahun telah runtuh dalam hitungan detik.
Ia telah masuk dengan sukarela ke dalam kandang singa yang sudah dipersiapkan dengan matang oleh menantu garis desa dan putra dari pria yang dikhianatinya.
Sebelum Hariyanto sempat berteriak lebih jauh untuk memprovokasi keadaan, beberapa tamu VIP yang mengenakan setelan jas formal hitam yang rapi di barisan tengah tiba-tiba bergerak dengan gerakan taktis yang sangat terlatih.
Mereka bukan tamu undangan biasa, melainkan tim gabungan intelijen kepolisian dari jakarta yang sengaja disusupkan dan membaur di dalam pesta atas koordinasi tingkat tinggi bersama Adrian dan papa Angel.
Dengan gerakan cepat dan senyap tanpa menimbulkan keributan besar bagi tamu lainnya.
Tiga orang anggota intelijen langsung memotong kawat baja pengunci sisil, mengunci kedua tangan haryanto ke belakang dengan borgol besi. dan menekan tubuh pria itu agar tidak bisa melakukan perlawanan fisik.
"Haryanto, anda ditangkap atas kasus pencucian uang internasional, penipuan korporasi, dan pemalsuan identitas lintas negara." ujar kepala tim intelijen dengan suara rendah namun tegas bagi sang penghianat.
Sebelum Haryanto diseret keluar, ia berkata dengan sorot mata api yang membara dan penuh dendam.
Kalian boleh sekarang merasa menang! ...
"Dan ingat nanti aku akan membalas semua perbuatan kalian atas penghinaan ini!...
"Teriak Haryanto dengan suara keras menggema di seluruh aula - pesta."
Adrian memandang dengan sinis dan melipat kedua tangannya di dada.
Haryanto diseret keluar dengan cepat melalui pintu jalur logistik pelabuhan sepi di bagian belakang gedung.
Jalur yang sama yang sempat coba di sabotase oleh anak buahnya beberapa hari lalu namun, digagalkan oleh Han dan sisil.
Langkah kakinya yang terseret menandakan berakhirnya seluruh kekuasaan dan keserakahan yang ia bangun di atas penderitaan orang lain.
Di atas panggung altar, Adrian berkata ; mohon maaf, untuk para tamu undangan yang terhormat dan para investor atas kegaduhan yang terjadi barusan.
Sekarang kita tahu semuanya, beberapa tahun yang lalu almarhum papa saya bangkrut itu karena orang kepercayaannya yang telah mengkhianatinya.
Sehingga membuat ayah saya yang sedang sakit meninggal dunia. marena sekarang permasalahannya sudah selesai mari kita lanjutkan lagi pesta pernikahan saya ini.
Semoga kalian bisa menikmati pesta dan hidangan makanan yang sudah kami sediakan. ucap Adrian dengan penuh berwibawa dan tegas.
Lalu Adrian menurunkan mikrofonnya. ia menoleh ke arah Nala, menggenggam kembali jemari tangan istrinya dengan sangat erat. rasa rasa hangat menjalar di keduanya, sebuah tanda bahwa beban masa lalu yang selama ini menghantui keluarga Dirgantara akhirnya telah runtuh dan terbayar tuntas dengan skakmat yang sempurna.
Pesta pernikahan kembali berlanjut dengan riuh - rendah ucapan selamat dari para tamu kolega dan investor. merayakan tidak hanya persatuan dua hati, melainkan juga kemenangan sebuah keadilan yang manis.
Setelah ketegangan penangkapan Haryanto berakhir dengan senyap dengan tim intelijen Kepolisian, atmosfer di aula mewah itu berangsur-angsur kembali mencair.
Suara sirine mobil polisi perlahan menjauh, membelah keheningan jalur logistik pelabuhan sepi di belakang gedung. di bawah kawalan ketat aparat bersenjata, Haryanto diseret keluar dari gedung dengan tangan borgol besi diikuti oleh deretan anak buahnya juga berjalan tertunduk lesu. Wajah hasil operasi plastiknya kini pucat pasi, menandakan runtuhnya seluruh keserakahan yang ia bangun atas penderitaan keluarga Dirgantara.
Di dalam aula utama, ketegangan itu langsung menguap, berganti dengan riuh rendah obrolan para tamu yang kembali menikmati atmosfer pesta. alunan musik waltz yang romantis menandai berakhirnya dansa pertama Adrian Dirgantara dan Nala Putri sebagai sepasang suami istri.
Di atas panggung altar, keduanya saling melempar senyum penuh kelegaan, menggenggam jemari satu sama lain dengan sangat erat.
Namun, tepat saat riuh tepuk tangan mereda. Nala dan Adrian setelah menyelesaikan dansanya lalu melangkah turun dari altar, sebuah kejutan besar lain justru meledak di tengah aula.
Kevin, pria tampan dari tim divisi kreatif yang selama ini kerja keras mengatur konsep estetika acara . tiba-tiba memantapkan langkahnya memotong jalur berjalan Angel.
Sebagai bawahan di divisi kreatif yang terbiasa menciptakan momen indah, Kevin merasa malam ini adalah waktu yang paling tepat. di hadapan para tamu, orang tua, dan teman-teman yang memulai memperhatikan.
Kevin merogoh saku jas dalamnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang berwarna biru dongker.
" Kevin? kamu mau apa? " tanya Angel spontan, keningnya berkerut bingung.
Sebagai seorang model profesional yang biasa berlenggak-lenggok di atas panggung, Angel mendadak merasa gugup saat dirinya menjadi pusat perhatian yang sesungguhnya.
Tanpa membuang waktu, kevin membuka kotak tersebut. memamerkan sebuah cincin berlian berdesain kreatif yang sangat indah berkilauan di bawah sisa lampu aula. kevin menatap lurus ke dalam manik mata Angel dengan kesungguhan mutlak.
"Angel, maukah kamu menerima lamaranku bidadari New york?" tanya kevin dengan suara yang bergetar penuh seriusan.
Mendengar kalimat romantis tersebut, suasana aula langsung riuh rendah. harapan dari mama , papa, serta teman-teman mereka yang menyaksikan momen itu langsung membuncah.
"Wah, apa ini?! romantis sekali!"
Seru para tamu undangan yang ikut terbawa perasaan melihat keberanian sang divisi kreatif melamar seorang model papan atas di tengah pesta.
Angel yang terkejut setengah mati hanya bisa menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca, haru atas lamaran spontan yang begitu indah.
Angel melirik arah sahabatnya Nala, sisil, mama angel, papa angel dan Nyonya victoria untuk meminta jawaban.
Mereka semua mengangguk dan tersenyum untuk menerima lamaran Kevin.
Di sudut aula yang lain, sisil gadis sang penjual bunga dengan garis barbarnya yang membara ikut tersenyum puas melihat sahabatnya dilamar.
Namun, ketika sisil melirik ke arah pria di sampingnya, asisten Han yang berdiri tegak dan wajah datar tanpa ekspresi.
Asisten Han memang orang yang teramat kaku, membuat hubungan mereka berdua masih menggantung dan belum jadian hingga saat ini. meskipun Han mencintai sisil dan dia juga diam-diam sangat protektif pada keselamatan sisil.
Setelah seluruh rangkaian acara yang megah - mewah dan penuh kejutan itu benar-benar reda, para tamu VIP membubarkan diri.
Di area ruang transit keluarga yang lebih privat, Nala sedang merapikan bagian bawah gaun pengantinnya ketika Nyonya Victoria - ibunda Adrian melangkah mendekat.
"Nyonya victoria menatap menantunya dengan pandangan yang teramat teduh, lalu menggenggam kedua tangan Nala dengan penuh kasih sayang."
"Nala, terima kasih sudah menjadi penguat untuk Adrian menjaga keluarga ini," ucap Nyonya victoria dengan senyuman penuh arti.
Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Nala, berbisik dengan nada menggoda, "nanti kalau sudah di London dan Spanyol, jangan lupa ya! Secepatnya berikan mama cucu yang lucu."