Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan di hari itu
Bu Lina masih setia di balik rak, sedikit menyingkirkan deretan buku agar celah pandangnya lebih leluasa. Untuk pertama kalinya sejak tadi, garis tegas di wajahnya melunak. Bibirnya terangkat pelan.
“Temanmu itu… akhirnya berani kenalan sama dia," bisiknya.
“M-maksudnya, Bu?” Alis Rommy terangkat, tapi matanya tetap terpaku pada dua sosok di lorong seberang.
“Aku ingat minggu lalu. Atau entah kapan, aku juga lupa tepatnya,” ujar Bu Lina pelan. “Waktu dia ngantar paket buku ke sini.”
Rommy mengangguk samar.
“Pas sudah sampai motor, dia sempat pergi. Tapi beberapa menit kemudian balik lagi. Katanya mau istirahat sebentar di dalam.” Bu Lina tersenyum kecil. “Padahal kursi di teras kosong.”
Rommy menahan senyum.
“Lalu ketemu lah dia sama Nazwa. Dan entah bagaimana, mas kurir itu bisa bikin Nazwa yang biasanya cuek jadi kepo. Dia bolak-balik ke mejaku. Tanya daftar kunjungan hari itu. Tanya siapa saja yang datang. Bahkan sempat pura-pura cari buku yang raknya jelas bukan di lorong itu.”
Rommy melirik lagi. Di seberang sana, Yuda dan Nazwa masih berdiri berhadapan. Jarak mereka tak lagi sejauh tadi.
“Berarti mereka cocok!” serunya tanpa sadar, tangannya memukul sisi rak.
Beberapa buku miring.
“Ssst!” Bu Lina cepat-cepat menahan tumpukan itu sebelum benar-benar jatuh. “Maksudmu?”
Rommy merendahkan suara, tapi semangatnya tak ikut turun. “Yuda sering curhat soal cewek ke aku, Bu. Katanya cewek perpustakaan. Yang senyumnya bikin dia lupa rute pengiriman.”
Bu Lina menoleh perlahan.
Ia tertawa kecil tanpa suara. “Yuda yang biasanya paling royal kalau nongkrong, sekarang nolak diajak ngopi. Katanya lagi ada prioritas.”
Bu Lina terdiam.
Pandangannya kembali ke lorong seberang. Yuda tampak berbicara lebih pelan sekarang, sesekali menggaruk tengkuknya. Nazwa menunduk, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Dua orang yang sama-sama berjuang dengan caranya sendiri. Yang satu datang berkali-kali tanpa berani menyapa. Yang satu kembali lagi setelah hampir pergi.
Bibir Bu Lina semakin merekah. Garis tegas di wajahnya benar-benar luruh, digantikan ekspresi yang nyaris keibuan. Ia memandangi dua insan di lorong itu dengan tatapan yang tak lagi menghakimi, melainkan memahami.
“Sepertinya waktunya aku muncul deh, Mas,” bisiknya pelan.
Rommy langsung meraih udara, refleks ingin menahan ujung lengan kardigan Bu Lina.
“Bu… nanti dulu—”
Terlambat.
Langkah sepatu Bu Lina terdengar ritmis menyusuri lantai keramik. Tenang. Tegas. Terukur.
Yuda dan Nazwa yang masih berdiri berhadapan sontak menoleh bersamaan.
Bu Lina berhenti beberapa langkah dari mereka. Wajahnya kembali dipasang datar, nyaris galak seperti pertama kali.
“Duhh kalian ini. Dulu sudah pernah kubilang, kan?” Suaranya meninggi di akhir kalimat. “Perpustakaan itu tempat membaca. Bukan tempat ngobrol. Apalagi berkenalan.”
Sepersekian detik, waktu seperti terlipat.
Yuda kaku. Nazwa ikut membeku.
Dan seperti deja vu, keduanya kembali sama-sama salah tingkah. Yuda refleks mengangkat tangan untuk menggaruk tengkuknya—lalu berhenti ketika sadar Nazwa melakukan hal yang sama.
Melihat itu, Yuda cepat-cepat menurunkan tangannya, berusaha terlihat tenang. Namun justru Nazwa yang kini tertangkap basah menirukan gestur itu.
“M-maafkan aku, Bu Lina! Aku gak bermaksud—” protes Nazwa tergesa.
Kalimatnya terhenti ketika tangan Bu Lina menyentuh lembut bahunya. Bukan menegur. Lebih seperti menenangkan.
Bu Lina tersenyum hangat yang penuh arti.
Mata Nazwa membesar, lalu perlahan berbinar. Refleks pengetahuan psikologinya bekerja—mikro-ekspresi itu jelas. Sudut mata yang mengerut alami. Bahu yang rileks. Tatapan yang lembut.
Itu bukan teguran. Itu ucapan selamat.
Seolah berkata tanpa suara, kamu berhasil menemuinya kali ini.
Dada Nazwa menghangat.
Tiba-tiba, langkah tergesa terdengar dari ujung lorong.
“Nazwa! Kamu kok lama banget sih?”
Dua temannya muncul dengan raut cemas. Namun begitu melihat Nazwa berdiri di hadapan Bu Lina dan seorang lelaki asing, keduanya langsung menegang.
“M-maaf, Bu!” salah satu dari mereka buru-buru menunduk. “Aku yakin Nazwa gak sengaja kan ya? Maafin temen kami, Bu!”
Nazwa langsung menoleh cepat. Ia melambaikan tangan kecil-kecil, senyum dipaksakan terpasang di wajahnya. Seolah berkata, aku gak ngapa-ngapain kok!
Yuda berdiri canggung di sampingnya, merasa seperti terdakwa yang belum tahu pasal apa yang ia langgar.
Rommy akhirnya tak tahan lagi.
Merasa eksistensinya terancam punah oleh sorotan dua pasang mata yang saling terpaut itu, ia keluar dari balik rak dengan langkah penuh percaya diri. Di tangannya sudah bertengger buku wirausaha tebal, sengaja diposisikan menghadap depan agar judulnya terbaca jelas.
Sampulnya mengilap. Penandanya masih terselip rapi di awal bab tiga.
“Duhh… Mas Yuda ini,” ujarnya dibuat santai, pura-pura baru menemukan targetnya. “Ku cari ke mana-mana ternyata malah di sini.”
Senyumnya lebar. Terlalu lebar.
Yuda melotot tajam ke arahnya. Tatapan yang jelas berkata, jangan macam-macam lagi atau aku kubur kau di rak ensiklopedia.
Rommy balas menyeringai tanpa rasa bersalah.
Dua teman Nazwa yang berdiri tak jauh dari situ saling berbisik, bahu mereka bergetar menahan tawa. Tatapan mereka mengarah ke Nazwa penuh arti. Godaan yang tak perlu suara.
Nazwa langsung merasakan itu. Pipinya merona lagi. Kali ini lebih jelas.
Tanpa ingin membiarkan suasana makin kacau, ia berdeham kecil.
“Oh iya, guys,” katanya, berusaha terdengar biasa. “Kenalin… ini Yuda. Dia temenku ehe.”
Kata itu terngiang di kepala Yuda.
Temenku.
Bukan “mas kurir”. Bukan “abang paket”. Bukan sekadar orang yang kebetulan lewat.
Teman.
Sederhana. Tapi entah kenapa, terasa seperti sesuatu yang lama ia tunggu tanpa sadar.
Dada Yuda menghangat. Bukan meledak-ledak. Bukan dramatis. Hanya hangat, seperti cahaya senja yang perlahan masuk lewat jendela perpustakaan.
Kata terakhir itu lolos begitu saja. Lembut. Nyaris seperti pengakuan kecil yang tak direncanakan.
Kedua temannya langsung membulatkan mata.
“Temen?” ulang salah satunya dengan nada yang terlalu antusias.
“Heh—” yang satunya lagi nyaris berseru.
Tatapan Bu Lina menyapu ke arah mereka.
Rommy mengangkat alis. Tak mau kalah panggung.
“Oh iya, guys,” katanya meniru gaya Nazwa. Ia maju setengah langkah, menyugar rambutnya dengan gerakan sok santai. “Kenalin gue Rommy. Temennya Mas Yuda.”
Ia mengangkat buku di tangannya sedikit lebih tinggi. “Calon pengusaha sukses.”
Yuda menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Ketiga remaja itu refleks tertawa geli. Suara mereka tertahan, pecah kecil-kecil seperti soda yang baru dibuka. Bahkan Nazwa tak bisa sepenuhnya menyembunyikan tawanya kali ini.
Namun aura Bu Lina yang berdiri dengan tangan bersedekap membuat tawa itu cepat-cepat diredam.
“Kalau sudah selesai sesi perkenalannya,” ujar Bu Lina datar, “silakan duduk. Baca buku. Atau minimal pura-pura baca buku.”
Tatapannya berhenti sepersekian detik pada buku di tangan Rommy.
Rommy langsung menurunkan bukunya sedikit.
“I-ini lagi proses kok, Bu,” gumamnya cepat.
Yuda akhirnya menurunkan tangannya dari wajahnya. Ia melirik Nazwa sekilas.
Nazwa membalas dengan senyum kecil yang kali ini tak dipaksakan.
Bu Lina menatap mereka sejenak, lalu mengangguk kecil seolah tugasnya selesai.
“Jangan lupa jam tutup,” ujarnya singkat sebelum beranjak pergi, meninggalkan para remaja itu di lorong yang kini tak lagi canggung.
Mereka pun akhirnya bergerak. Masing-masing mengambil satu buku secara acak—atau pura-pura acak—lalu duduk di bangku dekat tempat tas dan barang-barang Nazwa diletakkan.
Yuda duduk di ujung. Nazwa di sebelahnya.
Obrolan mereka ringan. Tentang tugas kampus. Tentang paket yang salah kirim. Tentang buku wirausaha yang Rommy banggakan tapi masih berhenti di awal bab tiga. Tawa kecil sesekali pecah, lalu cepat diredam karena sadar sedang di perpustakaan.
Hening tetap ada. Tapi bukan hening yang kikuk.
Hening yang nyaman.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Cahaya matahari berubah jingga, menembus kisi jendela dan memantul di permukaan meja kayu.
Yuda melirik jam di ponselnya.
Ia menarik napas pelan. “Kayaknya aku harus jalan. Ada kerjaan lagi habis ini.”
Nada suaranya ringan, tapi ada sedikit enggan yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
“Oh…” salah satu teman Nazwa berkomentar pelan.
Yuda berdiri. Rommy ikut menyusul.
Saat ia hendak mengulurkan tangan untuk bersalaman—formal, sopan, seperti biasa—
“Eh, ayo kita foto dulu!”
Suara Nazwa cepat. Spontan. Hampir seperti takut momen itu keburu hilang.
Yuda tertegun.
“Hah? Sekarang?”
Tapi tiga gadis itu sudah berdiri, bergerak refleks mendekat. Salah satu dari mereka mengangkat ponsel. Formasi cepat terbentuk tanpa diskusi panjang.
Rommy langsung pasang gaya diikuti dua temannya tersenyum manis.
Yuda masih setengah bingung ketika Nazwa menarik sedikit lengan bajunya agar mendekat.
“Cepet, Mas. Keburu blur.”
Klik.
...****************...
Pintu kaca perpustakaan tertutup pelan di belakang mereka.
Udara senja menyambut, lebih sejuk dari biasanya. Langit mulai berubah warna, jingga tipis menggantung di atas atap bangunan.
Yuda berjalan beberapa langkah lebih dulu, berusaha terlihat biasa saja.
Rommy menyusul di sampingnya.
Lalu—senggol.
Bahu Rommy menghantam bahu Yuda dengan sengaja.
Senyumnya tengil.
“Temen, ya?” godanya ringan.
Yuda melotot, tapi tak benar-benar galak. “Udah diem, lu.”
Rommy terkekeh. “Bukan mas kurir lagi. Naik level nih.”
Wajah Yuda memerah lagi. Tanpa menjawab, ia mempercepat langkah menuju motor.
Rommy makin puas melihat reaksinya.
Mereka berdua menaiki motor. Yuda di depan, Rommy di belakang sambil masih bersiul kecil menggoda suasana.
Yuda memasukkan kunci ke lubangnya.
Belum sempat memutarnya—
ting.
Notifikasi masuk.
Refleks, Yuda melirik layar ponselnya yang masih tersimpan di tas selempangnya.
Bukan dari aplikasi belanja. Bukan dari dashboard pengiriman. Bukan pula dari notifikasi rating pelanggan.
Itu dari nomor pribadi.
Nomor yang memang tercatat di profil sistem—bagian dari SOP kerja untuk menangani komplain atau kendala pengiriman.
Tapi ini bukan komplain. Yang muncul pertama adalah foto.
Foto yang barusan mereka ambil.
Hasilnya sederhana. Lima orang berdiri berdempetan: Rommy paling ekspresif, dua teman Nazwa tersenyum manis, dan paling depan—tanpa sengaja—wajah Yuda dan Nazwa sedikit lebih dekat dari yang lain.
Di ikuti di bawahnya pesan singkat.
Save nomerku ya, Mas.
Jantung Yuda seperti terlewat satu ketukan.
Rommy yang penasaran ikut melongok dari belakang. “Siapa tuh?”
Yuda cepat-cepat mematikan layar.
“Komplain pelanggan.”
Rommy menyipitkan mata. “Ohh… komplain pelanggan.”
Yuda menelan ludah, lalu menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam setang motor sedikit lebih erat.
Di dalam helm, senyumnya akhirnya lepas juga.
Ia memutar kunci.
Mesin menyala.
Motor perlahan melaju meninggalkan halaman perpustakaan, membawa dua sahabat itu ke arah jalan yang mulai ramai oleh lampu-lampu malam.
Dan di tas selempangnya, ponsel itu terasa lebih hangat dari biasanya.