Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Pendar Safir di Atas Beludru
Bros platinum berbentuk elang itu memantulkan pendar biru yang tajam saat Olin mengangkatnya dari bantalan beludru marun. Batu safir yang tertanam di bagian mata ornamen tersebut tampak berkilat dingin, seolah merekam setiap jengkal ruang tengah paviliun barat dengan ketajaman yang serupa dengan mata pemilik aslinya. Olin membalikkan pin logam itu, menguji keruncingan jarumnya dengan ujung ibu jari hingga kulitnya memutih menahan tekanan. Tidak ada rongga mikro untuk penyadap fisik; Zayyan rupanya menepati ucapannya tentang absennya sensor pelacak pada setelan ini.
Xavi menutup layar laptop kunonya dengan bunyi klik yang teredam. Bocah itu melompat turun dari kursi kayu ek, lalu berjalan mendekati sofa tempat gaun terbungkus sutra hitam itu tergelat. Jemari mungilnya meraba permukaan pelindung luar, lalu mendongak menatap bros di tangan Olin.
"Mata safir itu menggunakan jenis potongan brilliant, Mommy," ujar Xavi, nadanya datar seolah sedang membaca katalog spesifikasi perangkat keras. "Indeks biasnya tinggi. Jika terkena sorot lampu sorot di gerbang utama kediaman lama, kilauannya bisa mengacaukan fokus lensa kamera pengawas berbasis pengenal wajah selama nol koma lima detik."
Olin menurunkan tangannya, mengembalikan bros elang itu ke dalam kotaknya dengan ketukan yang disengaja. "Nol koma lima detik sudah lebih dari cukup untuk membuat sistem mereka melakukan pemindaian ulang, bukan?"
"Ya," Xavi menyesuaikan letak kacamata bundarnya. "Cukup untuk menutupi proses penyisipan paket data tiruan yang sudah kusiapkan di dalam saku jas kecilku besok malam."
Olin tidak menyahut. Dia meraih gantungan gaun berbungkus sutra hitam itu, lalu membawanya masuk ke dalam kamar tidur utama. Kain pelindung dibuka perlahan, menampilkan gaun malam berpotongan asimetris dengan bahan beludru sewarna biru malam yang pekat. Potongannya sederhana namun tegas pada bagian bahu, menyisakan ruang yang pas di dada kiri untuk menyematkan bros elang pemberian Zayyan. Ketika Olin menggantung busana tersebut di pintu lemari, dia menyadari bahwa Zayyan tidak sekadar memilihkan pakaian; pria itu sedang mendesain visual sekutunya agar selaras dengan keangkuhan dinastinya.
Malam kian larut di perbukitan Pekanbaru. Rintik gerimis di luar jendela telah berganti menjadi kabut tebal yang menempel statis pada dinding kaca paviliun, menghapus batas antara bumi dan langit malam.
Olin kembali ke ruang tengah setelah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur katun putih yang longgar. Xavi sudah tertidur di kamarnya, meninggalkan laptop stiker robotnya dalam keadaan mati total di atas meja kerja. Keheningan di dalam ruangan itu kini begitu pekat, hanya diinterupsi oleh desis halus pendingin udara dan detak jam dinding digital yang berkedip merah.
Olin berjalan mendekati dinding kaca yang menghadap ke sayap timur. Pendar lampu dari ruang kerja Zayyan di seberang jembatan kaca kini telah padam, digantikan oleh kegelapan absolut bangunan utama. Namun, di bawah sana, di pelataran tengah yang berlumur kabut, siluet dua orang pengawal pribadi berjas hitam tampak berjalan dengan langkah konstan, memeriksa perimeter luar paviliun dengan senter taktis bercahaya putih kebiruan.
Olin menyilangkan kedua lengannya di dada, merasakan hawa dingin yang merembes dari permukaan kaca menembus katun tipis pakaiannya. Jam pasir telah berputar. Setiap detik yang berdetak malam ini membawa mereka lebih dekat ke meja makan keluarga El-Ghazali—sebuah tempat di mana hidangan mewah akan disajikan di atas tumpukan rahasia dagang, dan di mana Olin harus memastikan bahwa langkah kaki pertamanya tidak akan membuat seluruh benteng siber yang dibangun Xavi runtuh menjadi puing-puing tak berharga.
Dia berbalik lambat, meninggalkan jendela kaca yang buram oleh embun malam, lalu mematikan lampu utama ruang tengah, membiarkan paviliun barat tenggelam dalam kegelapan yang sunyi sebelum badai sesungguhnya pecah esok malam.