NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : Kisah Lantai Lima Dungeon

Tiga hari berlalu semenjak Ardius tinggal di dalam dungeon. Selama tiga hari ini, Ardius sudah mulai terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan dungeon. Rutinitas kesehariannya tidak berubah dimana dimulai pikul enam sampai delapan dia akan belajar manajemen mana eksternal yang dibimbing oleh gurunya. Dia memiliki banyak waktu saat Profesor Gilbert pergi ke akademi untuk mengajar hingga pukul empat sore, waktu yang cukup panjang itu biasa dia habiskan dengan belajar atau mengeksplorasi lantai lima dungeon. Ardius akan kembali belajar manajemen mana eksternal saat Profesor Gilbert kembali pulang hingga pukul sembilan malam. Hal terakhir yang Ardius lakukan sebagai penutup aktivitasnya adalah melanjutkan kembali pembuatan Izanagi baru yang sempurna sampai pukul sebelas.

Selama aktivitasnya itu, Ardius kerap kali dihadapkan dengan kegagalan, entah itu dalam belajar atau menempa Izanagi baru. Semua kegagalan itu tak membuatnya menyerah dengan gampang, sebaliknya Ardius terus memutar otak dengan keras untuk mencari letak kesalahannya.

Perkembangannya dalam mengasah mana eksternal sedikit mengalami perkembangan dimana saat dia merasakan sedikit rasa sakit yang muncul dari batu hitam, dia akan langsung menurunkan fokusnya supaya tidak mengakibatkan sengatan listrik dari batu hitam. Meski begitu, dia kerap kali juga gagal karena sengatan tersebut lebih cepat.

Hari itu, seperti biasanya dia tengah berlatih mengasah mana eksternal bersama Profesor Gilbert. Dirinya tengah fokus menyerap mana alam ke dalam tubuhnya lewat batu biru sebagai perantara.

Profesor Gilbert memperhatikan muridnya dalam diam. Dia tidak membuat suara sekecil pun yang dapat mengganggu konsentrasi Ardius.

Saat batu hitam di tangan kiri Ardius memberi sinyal peringatan, Ardius langsung membuka mata dan menurunkan fokusnya, membuat mana alam tak lagi terserap ke dalam batu biru dan tak membuat dirinya tak tersengat kali ini.

Ardius menoleh ke arah gurunya. "Bagaimana? Apa ada sesuatu yang harus saya perhatikan lagi?" tanya dia.

"Hmm...." Profesor Gilbert berpikir sejenak sembari mengelus-elus janggut putihnya. "Masalahmu dari hari pertama adalah fokus."

"Tapi bukankah saya sudah berhasil menurunkan fokus sehingga batu hitam tidak lagi menyerang saya?" timpalnya dengan datar.

"Ardius, kau memang menunjukkan perkembangan tapi itu juga menjadi masalah keduamu. Kau tidak menurunkan fokus, tapi menghilangkan fokus. Saat kau membuka matamu barusan, secara tiba-tiba batu biru berhenti menyerap mana alam. Jika kau menurunkan fokus maka seharusnya batu biru tetap menyerap mana alam meskipun dalam jumlah yang sangat kecil." Profesor Gilbert menjelaskan dengan tenang.

Tubuh Ardius ambruk terbaring ke tanah. Bukan karena lelah, tapi kepalanya tengah memikirkan jawaban dari gurunya tersebut. Selama tiga hari berada dalam ambang kebingungan, solusi yang dapat Ardius temukan adalah dengan memutuskan fokusnya. Tapi berdasarkan penjelasan gurunya, hal tersebut malah menjadi masalah baru untuknya.

Sekarang Ardius dihadapkan dengan dua masalah yang harus dia pecahkan. Pertama adalah masalah fokus dan kedua adalah menemukan cara baru untuk melatih fokusnya dalam belajar mana eksternal.

Melihat muridnya yang kebingungan itu, Profesor Gilbert membuat senyum kecil yang mengejek. "Waktunya sudah habis. Aku harus pergi ke akademi. Gunakanlah waktumu yang panjang untuk memikirkan solusi keluar dari masalahmu, Ardius!"

Pemuda itu tak merespon bahkan tak menoleh karena tahu jika gurunya telah pergi beberapa detik yang lalu. Dia segera bangkit kembali sambil melakukan sedikit peregangan.

"Kurasa aku harus mencari makan dulu supaya kepalaku dapat berpikir dengan lebih baik," gumamnya sendiri. "Hari ini entah kenapa aku ingin makan ikan."

Tak lama setelah itu, Ardius kembali teringat jika lantai enam dungeon adalah sebuah danau. Sudah beberapa hari lamanya tinggal di dalam dungeon, Ardius hanya baru mengeksplorasi lantai lima saja. Rasa penasaran yang kuat mendorongnya untuk mengeksplorasi dungeon ini lebih jauh, mungkin diawali dengan lantai enam.

Kakinya mulai melangkah dengan percaya diri. Selama beberapa hari ini, dia telah mengeksplorasi hutan lantai lima dungeon. Dia teringat kembali jika dua hari sebelumnya Ardius menemukan sebuah tebing aneh yang misterius di dalam hutan. Dalam tubuh tebing itu, dia mengingat adanya sebuah lubang yang mengarah ke bawah. Ardius meyakini jika lubang itu adalah jalan menuju lantai selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, Ardius tiba di dalam hutan yang hening. Primata-primata asli dungeon memperhatikan setiap langkahnya dari atas dahan-dahan pepohonan yang besar.

Tak berselang lama, Ardius tiba di depan sebuah tebing yang dipenuhi akar-akar pohon-pohon raksasa seakan alam sekitar mencoba menutupi tempat itu. Seperti yang Ardius lihat sebelumnya, nampak sebuah lubang yang tak terlalu besar yang mengarah ke bawah.

Matanya kembali memperhatikan dengan penuh analisa. Lubang atau jalur tersebut memanglah lorong menuju lantai bawah. Tangga-tangga lorong tersebut terbuat dari bebatuan curam seakan tercipta sendiri oleh alam. Pencahayaan sekitar lumayan gelap karena hanya diterangi oleh tumbuhan yang hidup di dinding yang mengeluarkan cahaya kuning samar.

Tanpa memakan banyak waktu, langkah Ardius masuk dan menuruni tangga-tangga tersebut dengan hati-hati.

Setengah jam menuruni tangga, Ardius akhirnya tiba di ujung lorong. Matanya langsung disambut oleh pemandangan di hadapannya. Begitu dia menginjakkan kaki di lantai enam, kesan pertama yang dia tangkap adalah tidak sesunyi padang rumput lantai lima. Lantai ini didominasi oleh sebuah danau luas berwarna kebiruan yang memantulkan cahaya dari bebatuan bercahaya di langit-langit. Kabut putih tipis menggantung di udara, membuat jarak pandang sedikit terbatas.

Matanya melihat berdiri beberapa struktur berbentuk kuil tua yang hanya sebagian muncul dari dalam air dan menjulang melewati permukaan air. Beberapa memiliki atap kerucut dan sebagian lainnya berupa tiang-tiang melingkar dengan ukiran simbol tak dikenal.

Ardius melangkah ke tepi danau. Airnya jernih, memperlihatkan ikan-ikan aneh berenang di dalamnya. Beberapa tampak bisa dimakan, dengan bentuk menyerupai pada umumnya, namun ada pula yang tampak berbahaya—seperti ikan bermata tiga dengan sirip tajam menyerupai pisau.

Dia memperhatikan ikan besar berwarna hijau dengan tubuh mirip seperti tuna muncul ke permukaan, menatapnya dengan tatapan bingung. Sebelum ikan tersebut pergi, semua sudah terlambat. Ardius menggunakan sihir es miliknya untuk membekukan air sekitar yang membuat ikan tersebut juga ikut membeku.

Pemuda tersebut segera membakar dan memakannya dengan lahap. Mulutnya dipenuhi oleh ikan yang dia makan, namun isi kepalanya tengah membandingkan rasa dari ikan tersebut yang lebih lezat daripada kambing dungeon yang selalu dia makan setiap hari.

Waktu sarapan telah usai. Pemuda itu kembali bermeditasi untuk melatih kembali penggunaan mana eksternal. Kali ini dia duduk di atas sebuah batu besar yang dikelilingi oleh air danau.

Suasana di lantai enam terasa lebih hidup dan bersuara daripada padang rumput lantai lima. Tempat itu memang memiliki rusa dungeon yang berkeliaran, namun makhluk-makhluk itu berjalan tanpa suara bahkan suara napas mereka juga sulit untuk Ardius dengar. Berbeda dengan lantai enam, Ardius dapat mendengar bunyi tetesan air, suara cipratan air danau akibat aktivitas makhluk hidup di dalamnya, bahkan hingga suara-suara tak jelas lainnya.

Ardius fokus untuk menyerap mana alam. Meskipun dia mengalihkan pikirannya dengan hal lain seperti suara alam sekitar, namun efek dari batu biru membuatnya menjadi terus menambah fokus. Hal tersebutlah yang sulit dia hadapi selama beberapa hari ini.

Dalam sepuluh menit pertama, dia berhasil menstabilkan arus mana eksternal ke dalam inti mananya. Tidak ada ledakan, tidak ada rasa tersengat yang mendadak. Cukup stabil namun masih belum cukup.

Tiba-tiba dari kejauhan, air danau bergolak. Sosok makhluk muncul perlahan dari dalam air yang memiliki tubuh humanoid tinggi, dengan bagian bawah menyerupai tubuh ikan, kulit bersisik biru keabu-abuan, wajah tanpa mata yang jelas, namun mulutnya menganga penuh taring. Kedua tangannya memiliki sirip tajam seperti pisau melengkung. Makhluk itu menatap dalam diam, tak membuat gerakan spontan seolah tengah menganalisa. Sementara itu Ardius sendiri tetap dalam posisi meski matanya terbuka.

Tangannya tetap menggenggam batu latihan. Dia tak ingin adanya pertarungan yang sia-sia untuk saat ini. Dia memusatkan pikirannya kembali, mencoba untuk tetap mengalirkan mana eksternal sambil menjaga ketenangannya. Makhluk itu menatapnya beberapa detik, lalu kembali menyelam ke kedalaman tanpa suara.

"Apa itu spesies cerdas atau hanya makhluk yang penasaran saja?" gumamnya sebelum kembali melanjutkan latihan.

Beberapa jam berlalu. Waktu yang dia miliki tinggal sebentar lagi sebelum Profesor Gilbert kembali dari akademi. Latihan yang dia lakukan memang tidak membuahkan hasil yang signifikan, namun Ardius merasakan dirinya sedikit mengalami kemajuan.

Saat ini, dia tengah berjalan-jalan di tepian danau yang luar biasa besar. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah reruntuhan yang mengambang di atas air. Mata Ardius menatap ke bawah, dia menemukan jawaban bahwa semua struktur reruntuhan di lantai enam dungeon adalah struktur yang sangat besar. Bukan tanpa alasan, Ardius melihat secara jelas jika struktur-struktur itu hanyalah puncaknya saja karena keseluruhan struktur-struktur itu berdiri di dalam dasar danau

Ardius kembali melangkah, mencoba untuk masuk ke dalam bangunan tua itu. Dalam bangunan yang entah sejak kapan berdiri itu, Ardius menemukan banyak mural di dinding-dinding bangunan. Dalam benaknya, Ardius bertanya bagaimana para bangsa Agnomi membuat gambar tersebut.

Dia maju ke arah sebuah dinding. Dalam sekali lihat, dia langsung mengetahui mural-mural itu membentuk sebuah kisah. Tanpa berpikir lama, Ardius mulai mengamati setiap gambar di dinding kuno itu.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara seseorang yang familiar di belakangnya.

"Semua mural di dalam bangunan ini menceritakan tentang asal-usul lantai enam dungeon."

Ardius berbalik dan mendapati Profesor Gilbert sudah ada di belakangnya. Tatapannya penasaran dengan perkataan dari gurunya tersebut.

Profesor Gilbert menghampiri, tatapannya tertuju pada mural di depan. "Dalam kisah yang tergambar dalam mural, dulunya lantai enam adalah tempat seperti pegunungan. Para Agnomi berbondong-bondong membangun banyak bangunan di lantai ini dengan tujuan memperluas wilayah. Tapi mereka tidak mengetahui lantai ini dihuni oleh seekor makhluk raksasa. Akhirnya perang hebat terjadi antara para Agnomi melawan makhluk raksasa itu dan dimenangkan oleh para Agnomi. Kemenangan tidak selalu berbuah manis, setelah kemenangan itu, tiba-tiba tubuh raksasa yang mereka kalahkan meledak dan berubah menjadi air dalam jumlah yang gila."

"Lalu... apa yang terjadi setelah itu?" tanya Ardius dengan penasaran.

"Seperti yang kau lihat, lantai enam dungeon terlahir dengan keadaan seperti sekarang. Banyak para Agnomi yang mati. Banyak kehidupan kecil yang masuk ke tubuh mereka dan mengendalikannya hingga dalam ribuan tahun berlalu, tubuh kehidupan kecil itu sepenuhnya menyatu dengan mayat para Agnomi lalu berevolusi seperti monster humanoid berkaki ikan."

Mendengar jawaban dari gurunya, Ardius teringat dengan makhluk aneh yang memperhatikannya dari kejauhan saat latihan siang tadi.

"Jadi... makhluk tadi itu adalah sisa-sisa dari kehidupan cerdas sebelum manusia?" gumamnya dengan nada sedikit terkejut.

.

.

.

Pukul sembilan malam, Ardius dan Profesor Gilbert kembali ke rumah mereka di lantai empat dungeon. Setelah seharian berlatih mana eksternal, tubuh Ardius merasa seperti ditusuk-tusuk oleh sesuatu tak kasat mata.

Meskipun tubuhnya kelelahan, tapi pikirannya tetap aktif. Seperti biasa, dia menyantap makanan seadanya dari hasil buruan lalu berjalan ke bengkel pandai besi di belakang rumah.

Di sana, tumpukan material monster dan logam sudah menunggu. Tungku mulai dinyalakan, hawa panas memenuhi ruangan, dan tangannya mulai bekerja. Palu menempa logam di atas landasan besi, tiap dentingannya menyatu dengan denyut malam. Cahaya dari tungku menempa menciptakan bayangan panjang di dinding batu bata tua.

Selama beberapa hari di dungeon ini, setiap malamnya dia terus mencoba menciptakan bilah katana Izanagi, namun terus gagal. Terkadang hasil yang dia buat sering kali mengalami tragedi entah itu bilah yang meledak, bilah pedang yang dilapisi material monster malah meleleh ke tangannya, dan lain-lain.

Keringat membasahi tubuhnya. Suhu panas yang luar biasa tak menjadi halangan bagi dirinya. "Sepertinya agenda kehidupanku di tempat ini lebih banyak dari yang aku duga. Aku harap jadwal konsisten yang aku atur selama dua minggu ini bisa menyelesaikan urusan-urusanku."

Suara tempaan logam kembali terdengar. Bunyinya sangat nyaring, memecah kesunyian di tengah kota yang benar-benar mati.

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!