Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.
Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.
Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?
Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWB Chapter 20
Sekitar satu minggu Intan tidak bicara dan bertemu dengan Ilham. Terakhir kali suaminya itu mengatakan jika akan pergi ke rumah Talia. Kekasihnya itu sedang sakit. Ia tak peduli dengan itu, bahkan Intan berharap Ilham tak pernah kembali ke rumah itu, rumah yang terasa lebih kosong daripada tempat tinggal.
Malam merayap pelan. Jam dinding restoran menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanya dua lampu di sudut ruangan yang masih menyala. Aroma kopi yang tersisa daru aktivitas di siang hari masih tercium samar. Hampir semua pekerja telah pulang, suara tawa dan langkah kali mereka yang biasanya mengisi ruangan telah hilang.
Intan masih duduk di meja kerjanya, ditemani setumpuk berkas dan layar laptop yang terus menampilkan rencana pembukaan cafe barunya. Bahunya terasa kaku, tapi pikirannya terus bekerja.
"Aku butuh asisten pribadi," gumamnya lelah, ia lantas menyandarkan tubuhnya sebentar ke kursi.
TOK TOK
Intan mengangkat wajahnya. Suara ketukan itu terdengar cukup pelan, seolah orang di luar ragu untuk mengganggunya. "Masuk!" serunya.
Pintu terbuka dari luar, Giovanni menyembulkan kepalanya, senyum tipis muncul di bibirnya. "Boleh aku masuk?" tanyanya.
Intan mengangguk. Pandangan yang awalnya melihat ke arah laptop kini berpaling ke arah Giovanni. Intan terus menatapnya sampai pemuda itu berdiri di hadapannya.
"Ada apa? Kamu belum pulang?" tanya Intan lembut, suaranya masih terdengar lelah.
Pemuda itu menggeleng. Rambutnya yang sedikit berantakan mengikuti gerakannya itu. "Tidak ada apa-apa," jawabnya. "Saya —" Giovanni belum menyelesaikan ucapannya tetapi Intan memotongnya.
"Jangan bersikap formal padaku!" tukas Intan. Ada sedikit senyum lelah di bibirnya. "Aku lebih nyaman dengan itu."
Giovanni mengangguk, senyumnya berubah lebih tulus. "Baiklah."
"Silahkan duduk," ucap Intan disambut anggukan oleh Giovanni.
Pemuda itu lantas duduk, bersebarangan langsung dengan Intan. Ada kehangatan dalam pandangannya. "Aku melihatmu masih di sini," katanya pelan. "Makanya aku datang. Mungkin … ada yang bisa aku bantu."
Ucapan itu membuat Intan tersenyum. Ia lantas mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya berada di atas meja, menandakan ia sedikit lebih rileks. "Terima kasih untuk perhatiannya, Gio. Aku memang sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu aku akan membuka cafe, kan."
"Hmmm," gumam Gio, matanya memerhatikan ekspresi Intan.
"Aku pasti butuh bantuan kamu mempromosikan tempat itu nanti jika kamu tidak keberatan," ucap Intan selanjutnya.
"Tentu saja," jawab Giovanni tanpa ragu. "Itu hal mudah bagiku."
Intan tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti orang yang sudah lama tidak mendapatkan perhatian sederhana. "Tapi kamu juga harus ingat … utamakan sekolahmu. Sebentar lagi ujian, bukan."
Giovanni merespon ucapan Intan dengan senyuman yang lebih lebar dari biasanya, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan. Ada sesuatu yang hangat di balik tatapan itu. Sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh Intan, tetapi bisa dirasakan oleh Giovanni.
"Pulanglah! Ini sudah malam. Kamu butuh istirahat," kata Intan.
"Lalu kamu?" Giovanni balik bertanya.
"Ada yang masih harus aku kerjakan," jawab Intan sambil melihat tumpukan berkasnya.
Giovanni mengangguk pelan, tetapi suaranya kembali terdengar tegas. "Kalau begitu aku akan menemanimu."
Ucapan itu keluar begitu cepat, begitu mantab, membuat Intan membeku sesaat. Hatinya seperti tersentak kecil, tidak siap dengan perhatian yang datang tanpa diminta itu. Ruangan yang sebelumnya terasa sepi dan dingin tiba-tiba terasa lebih hangat.
Namun sebelum Intan merespon ucapan Giovanni, ponsel pemuda yang ada di hadapannya berdering. Giovanni merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Gerakannya begitu tenang. Layar benda pipih itu menunjukkan nama sahabatnya, Bagas. Tanpa berpikir apa pun Giovanni langsung menggeser layar untuk menjawab panggilan dari Bagas.
"Ada apa?" tanya Giovanni singkat.
"..."
Raut wajahnya Giovanni berubah, keningnya perlahan mengernyit, rahangnya mengeras, namun semua itu tertutupi oleh ketenangan dan juga sikap dinginnya. Ia tidak menyela ucapan Bagas, tetap mendengarkan dengan wajah datar nyaris tanpa ekpresi.
"Aku akan datang," ucapnya Giovanni pada akhirnya. Ia lantas memutuskan sambungan telepon secara sepihak, tanpa membiarkan Bagas untuk sekedar mengucapkan salam. Setelahnya ia memasukan kembali ke dalam daku celananya.
"Kamu akan pergi?" tanya Intan, suaranya lembut namun tegas.
Giovanni menoleh, bibirnya melengkung dengan sikap santai yang khas. Alih-alih menjawab, Giovanni memberikan pertanyaan yang membuatnya tercengang. "Mau ikut?"
Intan terbelalak kecil. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana, antara kaget dan tak percaya dengan ajakan yang mendadak itu.
"Bagas mengatakan ada yang menantang aku balapan," ucap Giovanni membuat kening Intan mengerut dan hatinya mencelos.
"Balapan?" ulang Intan, memastikan jika pendengarannya tidak salah. Giovanni mengangguk mantab. "Itu sangat berbahaya."
Giovanni tertawa setelah mendengar ucapan Intan, seolah ucapan wanita itu adalah sebuah lelucon. "Ayo ikut!"
Intan langsung menggeleng. "Tidak mau. Aku tidak suka," tolaknya spontan. Ia menurunkan pandangan, berusaha menyembunyikan kecemasan yang menusuk dadanya.
"Ayolah. Di sana kamu akan merasa senang dan melupakan masalah yang apa pun yang sedang kamu alami," bujuk Giovanni. Suaranya terdengar tulus. Mata hitamnya memandang Intan seolah sedang menariknya keluar dari awan gelap.
"Aku bukan anak muda lagi, Gio," ucap Intan setengah berkelakar, meskipun dalam hatinya ada gelombang penasaran yang sulit untuk diabaikan.
"Why not," balas Giovanni. "Di sana masih ada orang yang usianya di atasmu."
Intan mendengkus kecil. "Memaksa sekali, ucapnya menciptakan tawa kecil di bibirnya dan juga Giovanni.
Giovanni tiba-tiba menurunkan suaranya, hampir seperti bisikan. "Mungkin saja jika kamu ikut, aku akan lebih semangat."
"Apa? Kamu bicara apa tadi?" tanya Intan dengan dahi yang dipenuhi kerutan.
Giovanni terbelalak kecil, lantas berdehem untuk mengurangi kegugupannya. "Bukan apa-apa."
"Ck, kamu ini," gumam Intan sambil menggeleng kecil.
"Jadi ... mau ikut?" Giovanni kembali bertanya seperti mencoba peruntungan.
Intan terdiam sambil mempertimbangkan tawaran Giovanni. Tatapannya menerawang kosong ke arah jendela. Sesekali ia menggoyangkan pulpen yang sedari tadi ada di tangannya. Sementara di depannya, Giovanni duduk sambil memerhatikan wanita yang ada di hadapannya. Keheningan beberapa detik terasa begitu panjang. Ia menunggu jawaban Intan dengan harap-harap cemas.
Beberapa saat tenggelam dalam pikirannya, Intan akhirnya menghela napas pelan lalu menatap Giovanni. "Baiklah, aku akan ikut. Kebetulan aku juga sedang suntuk," katanya dengan senyum tipis yang berusaha ia munculkan.
"Yes!" seru Giovanni spontan sambil mengangkat kedua lengannya, seperti seorang yang baru saja memenangkan pertandingan.
Intan sampai terbelalak melihat perubahan ekpresi Giovanni yang begitu drastis. Dari yang tadinya gugup menjadi seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. Tingkah Giovanni itu justru membuat tawa kecil lolos dari bibirnya. Kepenatan di kepalanya tiba-tiba mencair.
Namun senyum di wajah Giovanni perlahan menghilang ketika ia menyadari tatapan Intan yang penuh rasa geli. Wajahnya memerah, ia segera berdehem untuk meredam rasa gugup yang langsung menyerang dadanya. "Jadi ... kamu ikut?"
Intan mengangguk.
"Tapi ..." gumam Giovanni, ragu-ragu.
Intan mengangkat alisnya. "Tapi apa, Gio?"
Giovanni menatap Intan dalam. "Suamimu tidak akan marah, bukan?" tanya Giovanni ragu.
Sejenak Intan terdiam, tatapannya mengeras. Bayangan perselisihan dengan Ilham melintas begitu cepat dan menyesakkan dada. Ia menggertakkan rahang, mencoba membuang emosi yang membuat dadanya terasa begitu sesak.
"Lupakan dia," jawab Intan singkat namun terdengar penuh luka, nada kesalnya tak bisa ia sembunyikan.
Sesaat suasana menjadi hening, namun kini berbeda. Ada sesuatu yang tak terucap melayang-layang di antara mereka, ketakutan, keraguan, sekaligus secercah keberanian yang akan menjadi awal dari cerita baru.
Giovanni hanya bisa menatap Intan, mencoba menafsirkan senyumnya yang samar, namun menyimpan banyak rasa.
Setelah beberapa saat bersama dalam keheningan, Giovanni membuang napas lantas berdiri. Ia mengulurkan tangannya ke arah Intan membuat wanita itu tercengang. "Ayo kita pergi sekarang."
Intan masih diam sambil melihat wajah pemuda itu. Beberapa saat kemudian, senyum tipis terukir di bibirnya dan mengangkat tangannya untuk menerima uluran tangan Giovanni. "Ayo."
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️