NovelToon NovelToon
Setitik Cinta Di Atas Harapan

Setitik Cinta Di Atas Harapan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:24.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab sembilan belas

Beberapa bulan kemudian....

Cahaya matahari pagi ini terasa begitu menyengat di kulit. Membuat Amara beberapa kali tampak menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya.

Ia baru saja mulai menjemur seprai putih yang baru saja selesai dicucinya subuh tadi.

Iya, beberapa bulan terakhir ini ia memutuskan untuk bekerja di griya lansia. Ia bekerja di bagian pencucian bersama tiga pegawai wanita lainnya.

Mencuci dan menjemur seprai sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Karena griya ini di huni oleh para lansia, beberapa pasien diwajibkan untuk selalu mengganti seprai setiap harinya.

Setelah pekerjaannya selesai, terkadang ia juga membantu untuk memberi makan para orang tua tersebut.

Ia mulai akrab dengan para penghuni griya lansia ini. Termasuk nyonya Laura, orang yang telah membantu menyewakan pengacara untuknya.

Nyonya Laura adalah wanita yang sangat baik. Dia juga lembut dan penyayang. Ia tidak pernah mempermasalahkan perihal status sosial maupun ekonomi seseorang.

Nyonya Laura juga memiliki saham di griya lansia ini dan keempat anaknya merupakan donatur tetap . Bahkan mereka juga memfasilitasi pasien yang tidak punya biaya sekalipun. Biasanya khusus untuk pasien yang ditelantarkan oleh keluarganya.

Amara akhirnya selesai menjemur seprai-seprai itu. Semilir angin mulai berhembus perlahan menciptakan suasana segar di pagi yang cerah itu.

Pemandangan sawah yang baru saja selesai ditanami padi semakin membuat suasana semakin asri. Sungguh terasa damai dan tenang. Menghabiskan masa tua ditempat seperti ini mungkin menjadi impian banyak orang.

Amara lalu kembali ke dalam ruang mencuci untuk berbenah. Di sana temannya yang lain juga sudah selesai mencuci dan bersiap untuk pergi menjemur.

Sementara Amara pergi ke dapur untuk membantu di sana.

"Ibu! Apa sarapannya sudah selesai disiapkan, Bu?" tanyanya pada ibunya.

"Kebetulan sudah selesai. Kau bisa mengantarkan piring-piring ini ke kamar. Tetapi hati-hati dengan makanan untuk nenek Ratih. Kau harus sedikit sabar untuk menghadapinya." ia mewanti-wanti putrinya karena kondisi nenek Ratih yang mulai pikun.

"Ibu tenang saja. Aku sudah terbiasa." Amara tersenyum pada ibunya.

Nenek Ratih, salah satu penghuni di griya lansia. Wanita itu sudah berusia 75 tahun. Dia adalah salah satu penghuni khusus yang di rawat disini. Pendengarannya agak bermasalah, sehingga kita perlu bicara lebih keras padanya. Emosinya juga tidak stabil. Terkadang dia bisa tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas. Dia juga mudah melupakan seseorang padahal dia baru saja bertemu dengannya. Termasuk Amara.

Dia tidak punya anak. Suaminya meninggal dunia karena sakit sekitar 11 tahun yang lalu . Para relawan menemukan nenek Ratna terbaring sakit seorang diri di rumah sederhana yang dia tinggali. Mereka lalu membawanya ke griya lansia untuk di rawat.

Keadaannya menjadi jauh lebih baik sejak tinggal di sini. Namun kondisi psikisnya menjadi terganggu dan membuat dirinya mudah lupa. Menurut dokter yang merawatnya, seperti ia mengalami tekanan mental yang cukup parah setelah ditinggal pergi oleh suaminya.

Kamar nenek Ratih berada di ujung lorong. Sehingga ia menjadi orang terakhir yang makannya di antar. Amara meninggalkan troli di luar kamar lalu mengetuk pintu kamar nenek Ratih secara perlahan.

"Nek, ini Amara. Saya masuk ya, nek!" ucapnya sambil membuka pintu kamar perlahan-lahan.

Nenek Ratih masih tidur. Dia berbaring terlentang dan tubuhnya ditutup dengan selimut hingga ke pinggangnya. Amara mendekatinya dan meletakkan makanan di atas nakas samping ranjangnya.

"Nek! Ayo bangun, Nek! Sudah waktunya sarapan dan minum obat." ia menggoyangkan tangannya dengan hati-hati agar tidak membuatnya terkejut.

"Nek!" serunya lagi.

Ia lalu perlahan membuka matanya. Nenek Ratih tampak mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia bangun.

Ia menoleh ke arah Amara. Dan lagi-lagi ia melupakannya seperti hari-hari sebelumnya.

"Kau siapa?" tanyanya bingung.

"Saya Amara, Nek. Saya akan membantu nenek untuk sarapan dan juga minum obat." jelasnya sambil tersenyum ramah.

"Amara? Aku tidak mengenalmu?" ia lalu melihat ke sekeliling ruangan. "Ini dimana? Ini bukan rumahku? Di mana ibuku?" tanyanya lagi.

"Ibu nenek sudah lama meninggal." jelas Amara sedikit terkejut.

Ia tak mau berbohong padanya dan membuatnya berharap. Lagipula pertanyaan itu selalu ia lontarkan setiap hari ketika bangun tidur.

"Oh! Di mana suamiku? Apa dia masih bekerja?" tanyanya lagi untuk kesekian kalinya.

"Suami anda juga sudah meninggal, Nek. Sekarang Nenek makan dulu ya. Setelah itu kita akan mandi agar nenek merasa lebih segar. " Amara tampak sabar menghadapinya.

"Oh, iya. " ia menuruti perkataan Amara.

Amara menyuapinya dengan sabar. Amara bahkan tidak terdengar bosan mendengarkan cerita nenek Ratih tentang kehidupan masa mudanya dulu yang selalu diulang setiap harinya.

"Oh iya. Dimana wanita cantik berambut panjang yang selalu menyuapiku makan sebelumnya? Apa dia sedang bekerja? Dia sangat baik kepadaku. Dan dia juga membawakan bunga untukku. Tetapi bunga itu sudah layu sekarang." ia tiba-tiba saja merasa sedih.

Amara hanya tersenyum mendengar nenek Ratih menyebutkan tentang ciri-ciri dirinya. Sepertinya wanita itu lagi-lagi melupakan dirinya.

"Nenek suka dengan bunganya? Besok aku akan membawakannya lagi untuk nenek." janji Amara.

"Benarkah? Kau baik sekali. Persis seperti wanita itu. Hmm... Tapi aku lupa dengan namanya." ia tampak mengingat-ingat kembali.

"Tidak apa-apa kalau tidak ingat." ucap Amara.

Setelah selesai makan, ia juga membantunya minum obat.

"Sekarang nenek istirahat dulu, ya. Sebentar lagi perawat akan datang untuk membantu nenek mandi." jelas Amara beranjak dari tempat duduknya.

"Kau mau pergi?" tiba-tiba ia terdengar lirih.

"Iya, nenek. Ada apa?" tanyanya bingung.

"Apa bisa kau saja yang membantu ku mandi?" tanyanya dengan wajah memelas.

Amara terdiam. Ia terlihat bingung karena wanita baya itu tak pernah memintanya untuk membantunya mandi selama ini.

"Iya. ... Baiklah, Nek." ia mengabulkan permintaannya.

Dengan bantuan perawat, Amara ikut memandikan Nenek Ratih. Ini adalah pengalaman pertamanya memandikan seseorang. Ia tiba-tiba teringat pada ibunya. Apakah suatu hari nanti akan tiba saat ia memandikan ibunya seperti ini? Membayangkan hal itu membuatnya sedih.

Setelah selesai memandikan nenek Ratih dan menemaninya hingga wanita itu tidur, Amara lalu keluar dari kamarnya.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ternyata sudah tiga jam lamanya ia menghabiskan waktu bersama nenek Ratih. Ia lalu kembali ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang.

Namun ia dikejutkan dengan suara ribut yang berasal dari lorong yang menuju kamar nyonya Laura. Di sana terlihat sekelompok nenek-nenek yang sedang berkerumun. Entah apa yang mereka ributkan disana.

"Ada ribut-ribut apa, Ven?" tanyanya pada salah satu temannya yang juga ikut berdiri di belakang dengan membawa keranjang cucian.

"Kau pasti tidak tahu, ya. Itu... Putranya nyonya Laura baru saja datang. Sudah beberapa bulan ini dia tidak berkunjung ke sini. Para nenek selalu bersemangat untuk menyambutnya saat ia datang ke sini. Biasalah! Mereka sedang berusaha untuk menjodohkan putra nyonya Laura dengan putri dan cucu perempuan mereka." jelas wanita bernama Veni itu tampak antusias.

"Lalu kenapa kau juga tampak sangat bersemangat berdiri di sini? Apa kau juga berniat untuk menjodohkannya dengan putrimu?" tanya Amara meledeknya.

"Tentu saja tidak. Putriku 'kan baru berusia tiga tahun." jelasnya.

"Lalu apa itu untukmu?" tanya Amara menggodanya.

Kebetulan Veni juga sudah bercerai dengan suaminya setahun yang lalu.

Veni tampak tersipu malu. "Siapa tahu saja dia tertarik dengan janda anak satu. Hihi...."

"Jodoh tidak ada yang tahu." ucap Amara.

Amara juga ikut penasaran ingin melihat seperti apa wajahnya. Sedari tadi para wanita baya itu menghalangi pandangannya. Bahkan yang terlihat hanya punggungnya saja.

Amara menyerah. Ia teringat bahwa niat awalnya ingin membantu ibunya di dapur. Tetapi ia malah sibuk berdiri di sini melihat sesuatu yang tidak jelas.

Namun ketika ia hendak pergi, pria itu membalikkan tubuhnya. Kini Amara bisa melihat jelas wajahnya karena ia memiliki tubuh yang tinggi.

Dan ia tertegun melihatnya. Apalagi ketika kedua mata mereka saling bertemu pandang satu sama lain.

Pria itu menatapnya tajam dengan senyum simpulnya.

"Tidak mungkin..." Amara seketika menutup mulutnya, tak bisa berkata-kata.

...****************...

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Telur ular gw sediain buat Lo. gw campur pake sambel lalu gw masukin ke mulut lo.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih najis banget mertu kayak begini bikin menguras mental 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
aku mampir dulu ke karya mu yang lain sambil nunggu 2 novel kamu yg entah kapan itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
pret ah cek kamu we ngomong mudah, kesonona mah kagak tahu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya akhiri aja, lagian nggak jelas kan.
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Semangat ya dek
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
SANG
Bintang lima untukmu dek. Semangat ya, aku berharap mendapatkan rangking
SANG
Astaga
SANG
Widih
SANG
Like iklan plus komen💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Hadir dek
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Novel baru semangat baru💪👍
Fathir Albiansyah
ceritanya menarik gsk bosan
-Thiea-: terimakasih 🙏🏿
total 1 replies
MULIANA💦
Berarti amara gak marah? syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!