Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah sedikit keributan akhirnya mereka semua kini duduk di meja makan untuk makan siang.
Andi, Armand, dan Aruan sesekali saling lirik melihat tingkah Aluna yang sepertinya sengaja selalu menempel pada Marvin. Bahkan dua anak muda yang minggu depan akan melangsungkan pesta pertunangan itu sesekali saling suap dan melempar senyum.
Marvin seolah mendukung apa pun yang dilakukan oleh Aluna. Pemuda yang katanya selalu bersikap dingin pada bawahan itu, kini malah terlihat seperti anak kecil. Dia selalu menuruti segala hal yang Aluna katakan. Pak Edwin sendiri sampai geleng-geleng kepala. Sebagai orang yang sudah bekerja puluhan tahun di Keluarga Kaisar itu dia sangat hapal dengan pribadi Marvin.
Biasanya Marvin tidak akan membiarkan siapa pun memerintah dirinya. Tapi, lihatlah! Putra mahkota Grup Kaisar itu sedang menyuapi Aluna dengan tangannya sendiri–hal yang sangat langka.
Sementara Chika, gadis itu tampak menahan kesal melihat pemandangan di hadapannya. Pernah satu sekolah dengan Marvin membuat Chika setidaknya tahu tentang sifat Marvin.
"Apa sih kelebihan Aluna?" gerutu Chika di dalam hati.
Chika ingat bagaimana sikap Marvin saat ada orang yang menyentuhnya dulu. Pria itu selalu membuang apa pun yang sudah disentuh oleh orang lain seakan sentuhan orang lain itu adalah najis.
"Ah, bagaimana kalau aku coba dekati dia. Mungkin saja sekarang dia memang sudah berubah tak sedingin waktu sekolah dulu," batin Chika lagi.
Chika mengamati orang-orang di sekitarnya, tampak semua sedang khusyuk menikmati hidangannya. Chika berpikir ini waktu yang tepat untuk mencoba mendekati Marvin. Apalagi kebetulan laki-laki itu duduk diantara dirinya dan Aluna.
Chika melihat Aluna sedang makan sambil sesekali ngobrol dengan Aruan.
"Kalau aku mengajak bicara Marvin sekarang, pasti semua orang akan curiga. Lebih baik aku menunggu ada kesempatan," batin Chika sambil melirik Marvin.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Marvin berpamitan untuk pergi ke kamar kecil. Lelaki itu bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan meja makan.
Chika tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, gadis itu ikut berdiri.
"Aku sudah selesai makan. Aku ke kamar dulu," pamit Chika.
Tanpa menunggu balasan dari orang-orang yang berada di meja makan Chika melangkah pergi.
Aluna menatap Chika sebentar kemudian mengedikkan bahu tak peduli. Ia melanjutkan makan sambil sesekali menimpali obrolan ibu dan kedua kakak laki-lakinya.
***
Chika sengaja menunggu Marvin dengan berdiri di depan pintu toilet. Sesekali ia mengamati sekitar, takut kalau tiba-tiba ada Andi atau yang lainnya datang.
Saat mendengar suara pintu hendak dibuka, buru-buru gadis itu bersandiwara akan terjatuh dan berharap Marvin akan menangkapnya–sama seperti drama-drama china yang sering ia tonton. Sayangnya, ia lupa bahwa di drama itu juga sering ada adegan dimana pemeran antagonisnya malah benar-benar terjatuh. Dan hal itulah yang menimpanya kini.
Chika jatuh terjerembab ke lantai karena Marvin menghindar.
"Aw!" pekik Chika.
Wanita itu meringis kesakitan. Selain kepalanya yang terbentur, lututnya pun ikut menjadi korban.
"Kenapa kamu?" tanya Marvin dengan nada ketus dan tatapan dingin.
"Bantuin aku bangun dulu kek," rengek Chika sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Kamu nggak lumpuh, kan? Ngapain aku harus bantuin kamu berdiri," jawab Marvin yang justru memasukkan tangan ke dalam saku seolah enggan bersentuhan dengan kulit gadis itu.
Chika hampir saja mengumpat. Ternyata Marvin belum berubah, lelaki itu masih bersikap kasar dengan wanita. Lalu kenapa dia bisa tersenyum dan ramah terhadap Aluna?
Tidak! Chika tidak boleh kalah dari Aluna yang dibesarkan di panti asuhan. Meski ia anak kandung Keluarga Anggara, tetap saja menurut Chika, Aluna tidak selevel dengannya.
Chika langsung berdiri.
"Vin–"
Tangan Chika hendak meraih tangan Marvin, namun pria itu sudah mundur terlebih dulu.
"Kamu nggak usah pegang-pegang kalau mau ngomong," potong Marvin.
"Kenapa sih kamu bersikap kasar kayak gini sama aku?"
Chika memasang wajah sedih. Biasanya hal itu selalu mempan untuk membuat lelaki manapun jadi kasihan kemudian merasa bersalah.
"Ck."
Marvin berdecak. Pria itu hanya memutar bola matanya.
"Vin, kita dulu teman sekelas waktu SMP. Kamu nggak ingat?" ujar Chika lagi.
"Teman sekelasku waktu SMP banyak, jadi mana aku ingat. Apalagi kalau orang itu nggak penting," jawab Marvin masih dengan sikap kasarnya.
Chika mengepalkan kedua tangannya.
"Iya, kamu benar. Tapi, Vin. Kamu selalu menjadi idolaku bahkan sampai sekarang," balas Chika sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Sudah selesai ngomongnya?" tanya Marvin.
Pria itu melangkah meninggalkan Chika. Namun, baru dua langkah ia kembali berhenti ketika mendengar perkataan Chika.
"Kak Luna nggak cocok buat kamu, Vin. Dia wanita kasar dan licik Sejak kembali ke keluarga Anggara, ia selalu bikin gara-gara. Bahkan ia juga memusuhiku. Wajar sih dia begitu, mungkin dia merasa kalau aku sudah merebut keluarganya. Padahal aku selalu ingin menjadi saudara untuknya," ujar Chika.
Seperti biasa dengan wajah sedih.
"Benarkah?" tanya Marvin.
Chika mengangguk.
"Sejak datang, Kak Luna juga sering memfitnahku," tambah Chika.
"Apalagi yang Luna lakukan padamu?" tanya Marvin.
Mendapat tanggapan dari Marvin membuat Chika semakin ingin menjelekkan Aluan di hadapan laki-laki itu. Ia yakin, kalau Marvin tahu tentang kejelekan Aluna, pria itu akan membatalkan lamarannya pada Aluna. Syukur-syukur kalau malah ganti melamar dirinya.
"Kak Luna sebenarnya membenci mama dan papa karena menganggap mereka yang sudah membuatnya menderita selama ini. Kalau saja mereka tidak membuatnya hilang, pasti ia tidak akan mengalami kesulitan dan tinggal di panti asuhan. Kak Luna juga membenci Kak Andi dan Kak Armand karena menganggap kasih sayang mereka berdua palsu."
Chika mulai menceritakan cerita karangannya tanpa ia sadari seluruh Keluarga Anggara saat ini berdiri tepat di belakangnya.
"Menurutmu apa mereka benar-benar menyayangi Luna?" tanya Marvin lagi.
Chika menghela napas panjang.
"Mama dan papa awalnya menyayangi Kakak dan merasa bersalah. Tapi, karena beberapa kali Kak Luna mempermalukan mereka, mereka jadi tidak suka padanya. Apalagi, sikap Kak Luna seperti tidak mencerminkan wanita berpendidikan. Dia kasar, arogan, dan tidak tahu tata krama. Sepertinya itu memang sifat asli Kak Luna yang sulit dirubah," ucap Chika lagi. "Jadi, Vin. Kamu masih yakin mau menjadikan dia tunanganmu? Aku yakin, dia menerima lamaranmu karena mengetahui identitasmu yang sebenarnya," tambah Chika.
"Identitasku? Memang aku ini siapa? Kenapa Aluna harus berpura-pura menerimaku?" tanya Marvin lagi.
"Vin, Kak Luna itu berencana menghancurkan Keluarga Anggara. Dia ingin merebut semua harta Keluarga Anggara. Dan semua itu baru bisa berhasil kalau ia mendapatkan dukungan dari Keluarga Kaisar," jelas Chika berapi-api.
"Benarkah?" tanya Marvin lagi.
Chika kembali mengangguk.
"Makanya, Vin, dengarkan aku."
Wanita itu memberanikan diri meraih tangan Marvin lagi dan berharap tidak mendapatkan penolakan seperti sebelumnya.
Dan benar saja, kali ini Marvin tidak menolaknya. Pria itu membiarkan dirinya menggenggam tangannya.
"Vin, Kak Luna nggak pantas buat kamu. Dia ... terlihat kampungan dan norak."
Chika semakin bersemangat untuk menjelek-jelekkan Aluna di hadapan Marvin.
"Jadi, siapa menurutmu yang paling cocok menjadi tunanganku?" tanya Marvin.
Chika menunjukkan wajah malu-malu.
"Kalau dibandingkan dengan Kak Luna, aku rasa aku lebih cocok menjadi tunanganmu. Aku memang hanya anak angkat Keluarga Anggara, tapi, aku jauh lebih baik dibanding Kak Luna. Jadi, Vin, kamu batalkan saja ya pertunanganmu dengan Kak Luna," ujar Chika.
Marvin seolah sedang berpikir. Namun, beberapa detik kemudian pria itu menghempaskan tangan Chika.
"Kalian sudah mendengar semuanya, kan?"
Pertanyaan itu Marvin ajukan untuk anggota Keluarga Anggara yang sejak tadi menyimak obrolan mereka.
Chika melotot. Gadis itu menoleh ke belakang dan benar saja, Andi, Armand, dan Aruan sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Sementara wajah Aluna justru terlihat santai. Gadis itu hanya menyilangkan tangan di depan da-da.
ini si nenek" rada" oleng