Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 Salting
Tepat pukul 20.00 malam, live pun dimulai. Penonton sangat banyak bahkan sampai memecah rekor penonton terbanyak malam itu. Seketika live Belva menjadi trending topik karena viral banyak yang share.
“Berapa produk yang terjual malam ini?” tanya Belva kepada adminnya.
“Live baru berjalan tiga puluh menit, tapi yang beli sudah ribuan Mbak,” sahut Admin.
“Alhamdulillah, gak sia-sia aku merogoh uang sangat banyak untuk menjadikan dia brand ambasador karena dalam waktu sekejap uang itu sudah bisa kembali,” gumam Belva.
“Beruntung sekali Mbak, kita laku keras malam ini,” sahut Admin.
Seperti biasa yang menjadi host live adalah Yuri. Belva hanya melihat dari belakang layar, aktris Korea itu pun sudah diberi tahu jika Owner B-Glow adalah Belva bukan Yuri. Namun, Belva dan aktris itu sudah melakukan perjanjian jika Owner B-Glow jangan sampai ada yang tahu.
Tissa yang belum bisa tidur masih mengotak-atik ponselnya. Terdapat notif pesan yang memberitahukan jika akun B-Glow sedang live. Pada saat Tissa melihatnya ternyata aktris Korea yang dia idolakan sudah ada di kantor B-Glow.
“Loh, kok livenya malah di kantor B-Glow sih? Pantas saja tadi aku tungguin di toko gak ada, ternyata pihak B-Glow memindahkan acaranya,” kesal Tissa.
Meskipun Tissa kesal, tapi dia tetap memborong produk B-Glow. Hingga dua jam pun berlalu dengan cepat dan live pun selesai. “Terima kasih sudah mau datang ke Indonesia,” seru Belva.
“Sama-sama, terima kasih juga sudah menjadikan saya Brand Ambasador produk kamu yang sangat bagus ini. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar dan produk kamu semakin laku di pasaran,” sahut Aktris A.
“Aamiin.”
Setelah berpamitan, mereka pun segera pergi menuju Bandara karena mereka harus kembali lagi ke Korea. “Malam ini kita sukses, Belva!” teriak Yuri.
Belva dan Yuri berpelukan bahkan semua karyawan ikut bahagia karena malam ini produk yang keluar sampai ribuan. “Sebentar, aku mau kasih tahu Bapak-bapak Tentara itu dulu,” seru Belva.
Belva pun keluar dan celingukan mencari keberadaan Abi. Setelah dicari, ternyata Abi sedang ngopi di ujung jalan dengan teman-temannya. Belva dengan senyuman sumringah langsung menghampiri Abi.
“Pak Tentara, terima kasih ya sudah jaga rumah aku,” ucap Belva bahagia.
“Tumben senyum-senyum, biasanya juga cemberut,” ledek Abi.
“Iya dong, karena malam ini produk aku laku ribuan dan keuntungannya sangat fantastis. Aku ke sini mau mengajak Pak Tentara semua untuk masuk dan makan di rumah aku,” sahut Belva.
“Wah, asyik dong,” seru Tentara yang satu.
“Ayo, semuanya masuk ke rumah jangan malu-malu!” teriak Belva.
Belva pun kembali masuk ke dalam rumah, diam-diam Abi tersenyum. Akhirnya Abi juga ikut masuk ke dalam rumah Belva dan makan-makan bersama. “Silakan Bapak-bapak Tentara jangan sungkan-sungkan, mau dihabiskan juga tidak apa-apa,” seru Yuri.
“Siap, tenang saja kalau urusan menghabiskan pasti kami siap,” sahut salah satu Tentara.
Belva duduk di kursi kerjanya, dia melihat laptop dengan senyuman yang bahagia. Diam-diam Abi memperhatikan Belva, entah kenapa dia salting sendiri kala melihat senyum Belva. Ternyata senyum Belva mampu menggetarkan hati Abi yang sudah sejak lama membeku.
Belva memberikan amplop buat Bapak-bapak Tentara dan satu tas skincare. “Bapak-bapak Tentara harus pakai skincare juga biar kulitnya glowing,” seru Belva.
“Wah, terima kasih Mbak.”
Satu persatu Tentara mulai meninggalkan rumah Belva. Tinggal Abi saja yang masih di sana karena inisiatif membantu beres-beres. “Pak, teman-teman Bapak sudah pulang loh, kok Bapak masih bantuin di sini? “ seru Yuri.
“Rumah aku di depan sana kok, aku bantuin kalian dulu soalnya ini masih banyak yang harus kalian bereskan,” sahut Abi.
“Wah, terima kasih ya Pak sudah mau membantu,” celetuk Winda.
Belva naik ke atas kursi, dia berniat mengambil barang-barang yang ada di atas lemari. Belva sudah menjinjit tapi tetap saja tidak sampai tangannya. Hingga kursi yang dia pakai mulai bergoyang membuat Belva panik.
“Aaaa....”
Belva terjatuh tapi pada saat itu Abi dengan sigap menangkap tubuh Belva. Keduanya untuk sesaat saling tatap satu sama lain, bahkan reflek Belva mengalungkan tangannya ke leher Abi. Yuri dan para karyawan senyum-senyum melihat adegan bak di drakor itu.
“Cie....ciee....sudah kali tatap-tatapannya!” ledek Yuri.
Abi dan Belva tersentak dan sadar, hingga Abi pun menurunkan Belva. Wajah keduanya merah padam menahan malu, bahkan terlihat salting satu sama lain. Belva yang sudah sangat malu, memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau begitu aku pulang dulu,” seru Abi.
Tanpa banyak basa-basi, Abi segera pergi dan masuk ke dalam rumahnya. “Mbak Yuri, kayanya Pak Tentara dan Mbak Belva cocok ya. Pak Tentaranya tampan dan Mbak Belvanya cantik,” seru Winda.
“Kita comblangin mereka biar jadian,” sahut Yuri.
“Setuju!” semua Karyawan mendukung ide Yuri.
Sementara itu, Belva duduk di ujung ranjang dan dia memegang dadanya yang terasa bergetar hebat. “Jangan jatuh cinta dulu Belva, takutnya cinta kamu bertepuk sebelah tangan kaya dulu,” gumam Belva bicara kepada dirinya sendiri.
Belva memang belum bisa membuka hatinya karena takut disakiti lagi. Begitu juga di kamar Abi, dia beberapa kali menghela napas berat sungguh napasnya sesak kala dia mengingat kejadian barusan. “Sumpah dia cantik banget, mana wangi lagi,” batin Abi tidak karuan.
***
Keesokan harinya....
“Bang, Pa, hari ini aku mau kembali ke Jakarta,” seru Mario.
“Iya, hati-hati kamu dan kalau bisa kamu jangan terlalu sibuk, sekali-kali sering datang ke sini,” seru Papa Suharto.
“Iya Pa, Mario akan datang ke sini seminggu sekali,” sahut Mario.
“Jangan terlalu sering bepergian dengan wanita itu, sepertinya wanita itu tidak baik,” celetuk Abi.
“Apaan sih Bang, Abang itu tidak tahu apa-apa dan tidak mengenal Tissa jadi mana bisa Abang menyimpulkan kalau Tissa bukan wanita baik-baik?” kesal Mario.
“Hanya lihat dari penampilannya saja dan cara dia bicara,” sahut Abi.
Setelah sarapan, Mario pun pamit dan segera menjemput Tissa di hotel. Tissa sudah menunggu kedatangan Mario dengan wajah yang cemberut. “Sudah cemberut lagi, ada apa?” gerutu Mario di dalam mobil.
Mario pun menghentikan mobilnya di depan Tissa lalu membukakan pintu mobil untuk Tissa. “Kita langsung pulang atau kamu mau mampir dulu ke mana?” tanya Mario.
“Langsung pulang saja,” ketus Tissa.
“Ok.”
Melihat raut wajahnya Tissa yang seperti itu, Mario memilih bermain aman dengan tidak bertanya apa pun kepadanya. Jika mood Tissa sedang jelek lalu Mario banyak tanya, biasanya Tissa akan semakin marah dan ujung-ujungnya bertengkar. Marii tidak mau pagi-pagi bertengkar, jadi lebih baik diam saja.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva