Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 ANGKAT KAKI
Dinar membereskan barangnya, Pak Sukri dan Bik Ani berusaha menahan kepergian Dinar.
"Non sabar jangan terpancing emosi, Non mau kemana malam-malam begini"
"Aku harus pergi Bik, Papa lebih memilih perempuan itu daripada anaknya sendiri, jadi aku tak bisa menerima mereka biarkan aku yang mengalah, tolong jaga Dut Bik"
"Kakak.... Kakak... mau kemana, jangan pergi" Dinar memeluk adiknya itu karena dia tidak bisa membawa Dut sekarang karena dia sendiri tidak tahu akan kemana."
"Dut ikuttt Kak" Dut menangis memeluk Dinar, Dinar memeluk adiknya.
"Kamu dengan Papa disini Iqbal, jangan ikuti Kakakmu yang pembangkang itu" Pak Rudiansyah berusaha menarik Dut, Dut menangis meraih Dinar yang terpaku melihat adiknya yang harus dia tinggalkan sementara.
"Sabar kakak akan menjemput kamu sayang" Dinar berlari kearah mobilnya tak kuat menahan tangis yang sedari tadi dia tahan. dihidupkan mobilnya, Dinar pun meninggalkan rumah itu tanpa menoleh kebelakang lagi. Dut, Bik Ani dan Pak Sukri menangis melihat kepergian Dinar, mereka tidak menyangka setelah Bunga tiada kehidupan Anak-anak nya jadi kacau seperti ini.
Dinar melajukan mobilnya tanpa tahu tujuan kemana, satu-satunya orang yang biasa menolongnya kali ini adalah Bobby. Di sudut jalan persimpangan dia menghentikan mobilnya dan berusaha menelpon Bobby beberapa kali tapi tidak diangkat. Dinar bingung mau kemana karena Bobby tidak juga kunjung mengangkat telponnya.
Dalam perjalanan dia menemukan penginapan OYo, dia berfikir untuk menginap disana dulu,dan besok dia akan mencari tempat kost yang sederhana sesuai tabungan yang dimilikinya dan mencari pekerjaan sampingan untuk diri dan kuliahnya, karena tabungan Mamanya terbilang banyak dikartu ATM saat ditinggalkan untuknya tidak ingin dia habiskan karena itu milik Dut juga.
Dinar menyewa penginapan yang sangat sederhana sekali, disana dia mulai merebahkan tubuhnya yang terasa letih, Tiba-tiba telponnya berdering, terlihat di Wallpaper tertulis nama Bobby. Wahh Dinar sangat bahagia akhirnya Bobby membaca pesannya.
"Assalamu'alaikum Dinar, maaf aku baru pegang Handphone tadi ada pasien kritis."
"Waalaikum Salam Bob, oh kamu. lagi Dinas'
" Iya sayang, ada apa kamu baik-baik saja kan"
'Tidak Bob, aku keluar dari rumah aku sudah tidak di rumah lagi"
"Apa.... !! kamu dimana sekarang apa yang terjadi, Bobby nampak kaget" Dinar pun menceritakan kejadian yang menimpanya saat Papanya pulang membawa Meta untuk tinggal dirumahnya.
"Sudah kamu aku jemput sekarang kamu tinggal dirumah kost aku saja yang kebetulan kosong gratis tidak pakai bayar"
"Jangan Bob nanti Papa kamu. marah"
"Tidak ada yang marah itu milik aku, sekarang kamu tunggu disana"
"Besok saja Bob saat kamu pulang dinas, kan kamu lagi kerja, nanti kamu kena tegur aku sudah di OYO sekarang kamu jangan kwatir"
"Tapi aku cemas kamu sendiri disana"
"InshaAllah aku baik-baik saja, kamu harus kerja dulu aku sabar kok menunggu."
"Baiklah besok pagi jam Tujuh aku sudah disana, kamu kirim alamat penginapan nya, kamu istirahat jangan banyak pikiran"
"Iya Bobby"
"Baik kesayangan aku, aku kerja dulu ya, Assalamu'alaikum"
"Iya Bob, Waalaikum Salam" kini Dinar sedikit lega. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi Ring panggilan lagi, ternyata Dut yang menelpon nya.
"Assalamu'alaikum Kakak, kakak dimana"
"Waalaikum Salam sayang"
"Kakak... Dut kangen Kakak dimana" Dut menangis di handphone nya.
"Sabar ya sayang besok kakak ke sekolah Dut, nanti kalau kakak sudah ada duit dan tempat tinggal kakak akan jemput Dut ya"
"Iya kak, Papa melarang Dut telpon Kakak ini Dut lagi sembunyi"
"Dut tidur ya sayang pakai selimut, susun buku, dan kecilkan AC kamar, Dut harus belajar mandiri dari sekarang ya sayang"
"Baik kak, besok kakak kesekolah Dut kan"
"iya sayang, udah tutup telponnya ya sayang, nanti ketahuan Papa, Dut bisa kena marah" Dut menutup telponnya, Hatinya sangat merindukan adiknya itu. Tak terasa airmatanya mengucur jatuh teringat Mamanya yang kini tak. bisa di peluknya. Matanya berlahan redup dan Dinar pun tertidur dengan kelelahan di hatinya.
***
Suara azan terdengar dari mesjid, Dinar terbangun dari rasa kantuk nya semalam yang membuat dia tertidur tanpa sadar. Berlahan dia bangkit menuju kamar mandi untuk mandi dan mengerjakan sholat. Karena pagi ini, dia harus siap-siap sebab Bobby akan singgah ke penginapan menjemputnya. Dinar teringat Dut apakah dia sudah bangun sekarang. Ditelpon nya Dut untuk bangun namun tak ada jawaban.
"Mudahan Dut sudah bangun dan tidak terlambat ke sekolah, biasanya aku yang selalu membangunkan Dut yang susah bangun dan dipapah kekamar mandi, ya Allah jagalah adikku" Dinar teringat adiknya yang sangat disayanginya.
**
Ternyata filling Dinar benar, Dut yang terlambat bangun, belum berangkat sekolah akhirnya terburu-buru, Bik Ani yang membangunkannya. karena sudah terlambat Dut tidak sarapan karena Pak Rudiansyah sudah akan berangkat.
"Besok kalau tidak bisa bangun pagi sendiri, Mama tidak akan mengisi kotak makan siang kamu, dengar itu Iqbal, kamu harus biasa bangun pagi, jangan mengandalkan orang lain untuk membangunkan kamu, dengar itu Bik, kalau Iqbal tidak bangun sendiri tidak usah buatkan sarapan dan biarkan dia telat ke sekolah"
"Tapi Non... "
"Panggil saya Nyonya bukan Non bik Ani, saya sekarang yang mengatur rumah ini"
"Baik Non, Nyonya"
"Sudah Iqbal, kamu berangkat, Papa kamu sudah di luar" Iqbal hanya tertunduk diam pagi ini dia tidak sarapan karena terlambat bangun, hatinya sedih, namun dia tetap menyalami ibu Tirinya. sementara Pak Rudiansyah hanya diam, tanpa bertanya apa-apa kepada putranya itu.
Sementara Dinar yang sudah menunggu, akhirnya dikunjungi oleh Bobby. diruang lobi penginapan Dinar menceritakan semuanya kepada Bobby sambil menangis.
"Aku tak tahu nasib adikku sekarang ini Bob, apakah dia bahagia atau tidak"
"Sudah sekarang ini yang penting kamu pikirkan diri kamu dulu, dimana kamu tinggal nanti, aku yang akan memberi kamu uang bulanan kamu jangan pikir apa-apa yang pasti sekarang kamu selesaikan skripsi kamu segera dan bekerja,dua bulan lagi kamu akan wisuda jangan pikir yang macam-macam"
"Kamu tinggal di kost-kost an aku dulu, atau di apartemen aku, mana kamu suka, setelah kamu. mantap baru kamu bawa Dut tinggal bersama kamu."
"Iya Bob aku memiliki rencana seperti"
"Ayo kamu sekarang ikut aku, kita lihat pertama apartemen aku dan selanjutnya kita ke kost aku jika kamu nyaman kamu boleh pilih tinggal dimana kamu suka"
"Aku jadi merepotkan kamu Bob"
"Aku ini teman dan pacar kamu, jadi jangan banyak pikir"
"Apa pacar? "
"Iya.. kenapa nolak?, aku sayang kamu jadi jangan menolak aku, aku tahu kamu juga suka sama aku"
"Hahahah" keduanya tertawa karena memang tak ada yang serious diantara mereka berdua jika bertemu"
Akhirnya setelah bersiap cek out, Dinar dan Bobby pun pergi ke apartemen yang akan dilihatkan oleh Bobby kepada Dinar. setelah melihat keduanya akhirnya Dinar memilih Kost Bobby karena didepan kost dia lebih dekat parkiran.
"Aku disini saja Bob disini lebih adem dan nyaman dan dekat dari kampus."
"Aku harus bayar perbulan berapa Bob ngak. mungkin aku numpang sama kamu"
"Asalkan kamu jadi pacar aku dan selalu setia kepada aku semuanya gratis buat kamu, malah ntar aku kasih belanja bulanan kan kamu tuna wisma sekarang"
"iiiiiihhh Bobby" Dinar mencubit perut Bobby yang selalu membuat dia tertawa. Bobby memeluk Dinar kembali, Dinar merasa terlindungi oleh Bobby, memang sedari SMA Bobby selalu menjaganya.
"Jadi kamu mau kan jadi pacar dokter Bobby"
"Mau dong, kanapa tidak"
"Benaran Dinar, kamu udah terima aku"
"Maulah dari dulu kan aku suka sama kamu"
"Ah... tapi karena Meta juga suka sama kamu aku ngalah"
"Tapi aku kan ngak suka sama Dia, duh Dinar kenapa ngak bilang dari dulu kamu suka sama aku, kamu lebih memilih berkorban untuk sahabat kamu yang sekarang ini apa yang terjadi"
"Iya Bob aku sadar sekarang, aku suka menolong orang dan malah aku rela mengabaikan perasaan aku sendiri demi persahabatan tapi yang aku Terima hanya pengkhianatan"
"Dia yang aku masukan rumah ternyata musang berbulu domba" Dia curi Papaku saat Mamaku sakit tanpa perasaan"
"Sudah sabar jangan pikirkan sekarang kamu sudah tahu semua Allah sudah memperlihatkan semua tentang Meta"
"Iya Bobby aku harus kuat dan buktikan kepada Papa bahwa aku bisa Mandiri"
Dinar memeluk Bobby erat, tangis di pipinya disembunyikan dibalik dada Bobby. hati yang hancur karena sebagai anak yang diusir oleh orang tua sendiri demi wanita lain.