NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Aku masih berjalan dengan perasaan bingung yang menyelimuti seluruh pikiranku, mengikuti langkah panjang Sherkan memasuki area pusat perbelanjaan yang luas dan megah itu. Pria itu berjalan tenang di sampingku, satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya, sementara tubuhnya tetap tegap dengan langkah yang mantap dan penuh wibawa seperti biasa—seolah tempat ramai ini adalah ruang kerjanya sendiri yang sepi dan terkendali. Tidak ada sedikit pun keraguan atau ketidaknyamanan terlihat dari sikapnya. Sedangkan aku, berjalan di sampingnya dengan pandangan terus melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba menebak-nebak tujuan sebenarnya yang ingin ia capai sore ini. Sejak tadi pikiranku terus berputar, namun tidak menemukan satu jawaban pun yang masuk akal.

“Kita sebenarnya mau ke mana?” tanyaku lagi, untuk kesekian kalinya sejak kami keluar dari mobil. Rasanya sudah berkali-kali aku mengajukan pertanyaan yang sama, namun jawabannya selalu sama saja.

Sherkan hanya melirikku sekilas dari sudut matanya, lalu menjawab dengan nada datar dan santai, “Nanti kamu akan tahu."

Aku menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Jawaban yang sangat khas dirinya—singkat, penuh teka-teki, sedikit menyebalkan, dan sama sekali tidak memberikan kejelasan apa pun. Seolah sengaja ingin membuatku terus bertanya-tanya sepanjang perjalanan, membiarkan rasa penasaranku tumbuh semakin besar tanpa ada yang bisa memuaskannya.

Namun belum sempat aku melontarkan protes atau pertanyaan lain untuk memaksa dia bicara, langkah kakinya tiba-tiba terhenti begitu saja di tengah lorong yang agak sepi itu. Karena posisiku berjalan agak sedikit di belakangnya, aku nyaris tidak sempat menghentikan langkah dan hampir saja menabrak punggungnya yang tegap dan kokoh itu.

“Hah…?!” seruku kaget, lalu segera melompat mundur selangkah untuk menjaga jarak, jantungku seketika berdegup lebih kencang karena terkejut dengan perubahan arah yang tiba-tiba itu.

Sherkan justru berdiri tenang seolah tidak terjadi apa-apa, menoleh sedikit ke arahku dengan tatapan yang tetap datar namun menyembunyikan sedikit senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya. Dia pasti tahu dia membuatku kaget, tapi sengaja pura-pura tidak tahu.

“Kamu lapar?” tanyanya dengan nada biasa saja, seolah pertanyaan itu adalah hal paling wajar untuk ditanyakan saat berhenti mendadak seperti ini. “Kalau kamu lapar, kita bisa cari tempat makan yang enak di lantai atas dulu sebelum melanjutkan ke tempat tujuan.”

Aku menatapnya dengan pandangan bingung, lalu tanpa sadar menaruh tangan di atas perutku seolah ingin memeriksa sendiri kondisinya. Apakah aku lapar? Mungkin sebenarnya ya, tubuhku butuh asupan setelah seharian bekerja, tapi sejak tadi pikiranku terlalu sibuk memikirkan tentang kakek Satria ditambah ke mana kami akan pergi saat ini, sehingga rasa lapar itu jadi terabaikan dan hilang begitu saja.

“Tidak… tidak juga,” jawabku akhirnya dengan jujur sambil menggeleng pelan. “Aku sedang tidak punya selera makan sekarang. Lebih baik kita lanjut saja ke tempat yang kau maksud.”

Sherkan terdiam sejenak, menatap wajahku lekat-lekat seolah sedang membaca apa yang tersembunyi di balik ekspresiku. Entah apa yang sedang ia pikirkan, aku tidak mampu menebaknya sama sekali. Hanya setelah beberapa detik berlalu, ia mendengus pelan dan mengangguk singkat sebagai tanda setuju.

“Baiklah. Kalau begitu, lanjut saja.”

Ia kembali memutar badannya dan melangkah maju dengan langkah yang sama cepatnya, dan aku pun segera mengikuti langkahnya lagi dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.

Kami berjalan menuju pintu lift besar yang terletak di ujung lorong, lalu masuk ke dalamnya. Suara pintu tertutup perlahan, dan Sherkan segera menekan tombol dengan angka paling tinggi—lantai eksklusif, tempat hanya terdapat butik-butik dan layanan yang harganya bisa membuat orang biasa berpikir berkali-kali bahkan hanya untuk melangkahkan kaki masuk ke dalamnya. Suasana di dalam lift terasa hening, hanya diisi oleh suara mesin yang bergerak naik perlahan.

Begitu pintu lift terbuka dan kami melangkah keluar, suasana terasa berbeda seketika. Lebih sepi, lebih tenang, dan dipenuhi dengan tampilan barang-barang mewah yang terlihat berkilauan dari balik kaca etalase yang dibersihkan hingga mengkilap sempurna. Namun Sherkan tidak berhenti di salah satu toko baju, tas, atau sepatu seperti yang aku duga. Ia terus berjalan lurus menuju satu arah tertentu dengan tujuan yang sangat jelas, seolah sudah menghafal setiap sudut tempat ini.

Hingga akhirnya aku melihat ke mana ia melangkah. Mataku langsung membelalak lebar, dan napasku tertahan sejenak.

Sebuah toko perhiasan.

Bukan sembarang toko perhiasan biasa, melainkan butik perhiasan mewah yang namanya sering tercantum di halaman depan majalah bisnis dan gaya hidup ternama. Tempat yang dikenal sebagai salah satu yang paling bergengsi dan mahal di kota ini, tempat yang jarang dikunjungi orang sembarangan.

“Sherkan…?” panggilku dengan suara yang sedikit tercekik, menatapnya dengan pandangan penuh tanya dan kebingungan. Apa urusannya di sini?

Namun pria itu hanya melirikku sekilas tanpa menjelaskan apa pun, lalu melangkah masuk ke dalam toko itu seolah kedatangannya ke tempat ini adalah hal yang sangat biasa dan sering ia lakukan setiap hari. Begitu kami melangkah masuk, suasana sejuk dan wangi bunga segar langsung menyambut kami. Seorang pria berpakaian rapi yang sepertinya adalah manajer toko segera menghampiri dengan senyum ramah dan penuh hormat, seolah sudah menunggu kedatangan kami.

“Selamat sore, Tuan Sherkan. Silakan masuk, kami siap melayani Anda dan Nyonya,” ucapnya dengan nada sangat sopan.

Sherkan hanya mengangguk singkat sebagai balasan, lalu berkata dengan nada rendah namun tegas, “Keluarkan.”

“Baik, Tuan.” Laki-laki itu mengangguk patuh, lalu segera pergi dari hadapan kami menuju ruang penyimpanan di belakang.

Sementara itu, seorang pelayan perempuan berdiri di dekat meja pajangan, menatap kami dengan senyum ramah dan menunggu instruksi selanjutnya.

Sherkan kini menoleh sepenuhnya ke arahku dan berkata dengan nada lembut namun tetap tegas, “Lihatlah sekelilingmu, Violet.” Ucapnya tenang seperti biasa. “Apakah ada yang kamu sukai?” tawarnya perlahan.

Aku mengernyitkan dahi, merasa semakin bingung mendengar pertanyaannya itu. “Yang aku suka?”

Aku tertegun sejenak, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan melihat deretan perhiasan yang berkilauan terang di balik kaca etalase. Ada kalung, anting, gelang, dan berbagai jenis perhiasan lainnya yang terbuat dari logam mulia dan dihiasi batu permata yang berwarna-warni. Wajahku tampak semakin bingung.

“Maksudmu? Aku… aku tidak tahu harus memilih yang mana. Semuanya terlihat bagus dan indah, tapi untuk apa aku harus memilihnya?” tanyaku jujur, benar-benar tidak mengerti maksudnya.

Sherkan tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul namun terasa sangat hangat, lalu melangkah lebih dekat ke sampingku. Tangannya terulur menyentuh bahuku dengan lembut, suaranya terdengar sangat tenang dan menenangkan di tengah suasana yang hening itu.

“Tidak perlu bingung. Kamu bisa mengambilnya untuk koleksi, atau dipakai saat menghadiri acara-acara penting nanti. Apapun yang kamu suka, boleh diambil. Bahkan jika ternyata lebih dari satu juga bukan masalah. Aku justru semakin senang jika kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan tanpa ragu.”

Mendengar kalimat itu, jantungku berdebar pelan dan senyum tipis mulai muncul di sudut bibirku. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan mendengarnya bicara begitu santai dan murah hati, seolah harga dari benda-benda berkilauan di depanku itu hanyalah angka yang tidak berarti baginya. Namun sebelum aku sempat menjawab atau menanyakan lebih lanjut, manajer toko itu sudah kembali mendekat dengan langkah hati-hati, membawa sebuah kotak persegi panjang yang terbungkus rapi dengan kain beludru hitam yang sangat halus dan terlihat mahal.

“Tuan Sherkan, ini barang yang sudah Anda pesan sebelumnya. Kami baru saja memeriksa kembali keadaannya dengan teliti, semuanya sudah sesuai dengan permintaan dan ukuran yang Anda minta,” ucapnya sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja kaca yang bersih dan mengkilap.

Sherkan mengangguk singkat, lalu memberi isyarat agar kotak itu dibuka. Perlahan, penutup kotak itu terangkat ke atas dengan gerakan lembut.

Dan saat cahaya lampu di dalam ruangan jatuh tepat ke dalamnya, aku langsung tertegun dan mataku terbelalak lebar karena takjub. Napasku tertahan seketika, seluruh perhatianku langsung terpaku pada benda yang tergeletak indah di atas alas beludru berwarna biru tua yang kontras dan membuatnya semakin menonjol.

“Ini… Sherkan?” Aku benar-benar kehilangan kata-kata, hanya mampu menatapnya dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut yang mendalam.

1
Siti Aisah
mak kamu kemna saja tidak muncul" semoga emak sehat selalu🤭
Siti Aisah
emak ku tunggu " blum ada tanda"kah..
Amidah Anhar
maaak evaa ayooo donk jangan kabuuur🥺🥺🥺🥺🤭🤭🤭
Yuyun Yunita
lebih baik dibicarakan dgn sherkan drpd nnti ny jd bumerang untuk dirimu sendiri
Yuyun Yunita
iya ny si violet ini🤣🤣gak kasihan sama sherkan🤣🤣
Yuyun Yunita
fix ini sdh dari awal sherkan cinta sama violet
Yuyun Yunita
aduh sherkan knp bicara bgt...
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣
Yuyun Yunita
oke mak
Siti Aisah
masih penasaran.. 🤔
Miss Typo
gregetan bgt deh knpa gak ngomong sm Sherkan sih Violet, semoga aja Sherkan tau. awas aja Arga kalau ngomong yg gak²
Ayudya
violet kamu harus bilang ma sherkan kalau kamu di undang ma kakek satria
wiliss
Lanjut kan kak🙏
Maria Kibtiyah
kenapa violet gak cerita ke serkhan.. mak embun untuk bara masih ku pavorite loh siapa tau mau di lanjut🤭
Siti Aisah
sherkan sudah pakai hati dgn alasan butuh perlindungan😜
wiliss
Lanjut kk🙏
Miss Typo
aku hanya pembaca, disini Violet yg berhadapan dgn Sherkan, tapi knpa jantungku ikut jedag jedug 🤣
vj'z tri
selanjutnya kita akan sering bertemu papa 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
wo ai ni mas bos 🎉🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
hoba hoba akhirnya di kenalin juga sama pamer ya suami akoh 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ suami akoh pasti seneng liat ekspresi muka violet saat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!