Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Startegi Diatas Benteng
Matahari siang menyengat perbukitan kapur Uluwatu, memantulkan kilau putih yang menyilaukan dari tebing-tebing karang raksasa. Namun, di dalam pusat komando pos keamanan depan Vila Dewangga, atmosfer terasa sedingin es. Adrian berdiri di hadapan barisan monitor yang menampilkan citra satelit dan rekaman kamera pengawas termal secara real-time. Di sampingnya, Baskara bersama komandan tim keamanan privat seorang mantan instruktur militer taktis luar negeri bernama Marcus sedang mengunci koordinat pada peta digital.
"Tiga kendaraan SUV hitam milik tim intelijen Tuan Besar Baskoro baru saja melewati persimpangan Pecatu, Tuan Adrian," lapor Marcus, suaranya berat dan datar tanpa emosi. "Mereka bergerak konvoi dengan kecepatan konstan empat puluh kilometer per jam.
Berdasarkan analisis kecepatan, mereka akan memasuki radius pengamatan termal lima ratus meter dari gerbang utama kita dalam waktu tujuh menit."
Adrian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kemeja hitamnya yang pas di tubuh mempertegas postur tubuhnya yang tegap dan dominan. "Apakah kedua dokter patologi dari Jakarta itu berada di dalam kendaraan yang sama?"
"Negatif, Tuan," sahut Baskara seraya memperbesar citra kamera pengawas dari jalan utama bawah. "Kedua dokter tersebut ditempatkan di kendaraan kedua, diapit oleh empat agen lapangan di mobil depan dan tiga agen di mobil paling belakang. Tuan Besar Baskoro tampaknya sangat memperhitungkan keselamatan tim medisnya karena mereka adalah instrumen utama untuk melakukan pengambilan sampel paksa pada Nyonya Alena."
Adrian mengeluarkan dengusan sinis. Pandangan matanya mengunci layar monitor yang menampilkan pergerakan konvoi tersebut. "Ayahku selalu berpikir taktis, tapi dia terlalu meremehkan medan Uluwatu. Dia mengira jalanan di sini sama seperti jalanan protokol Jakarta di mana kekuasaan Dewangga Group bisa membuka semua barikade. Marcus, pastikan unit pengacau sinyal kita sudah dalam posisi siaga."
"Sudah siap di titik alfa dan bravo, Sir," jawab Marcus tegas. "Perangkat electro-magnetic signal jammer jarak pendek kami mampu melumpuhkan seluruh sistem kelistrikan injeksi, pemancar GPS, hingga jaringan komunikasi seluler dalam radius lima puluh meter secara instan begitu konvoi memasuki cekungan bukit karang sebelum gerbang."
"Bagus. Lakukan operasi ini tanpa menimbulkan kegaduhan atau suara tembakan," perintah Adrian dengan nada dingin yang mematikan. "Aku tidak ingin Alena mendengar suara keributan dari arah gerbang. Dia sedang beristirahat di paviliun setelah pemeriksaan USG pagi tadi, dan aku sudah berjanji untuk menjaga ketenangannya hari ini."
"Dimengerti, Tuan Adrian.
Tim lapangan kami akan bergerak dalam waktu tiga puluh detik," sahut Marcus seraya memberikan tanda sandi melalui interkom privat berfrekuensi enkripsi khusus kepada personelnya yang sudah menyamar di balik semak-semak bukit kapur.
Sementara itu, di dalam mobil SUV hitam pertama yang memimpin konvoi tim intelijen Baskoro, situasi mendadak berubah menjadi kacau. Sang kepala tim intelijen, pria paruh baya berambut cepak bernama dika, tiba-tiba mendapati layar navigasi GPS di dasbor mobilnya berkedip hebat sebelum akhirnya mati total.
"Sial, ada apa dengan navigasinya?" umpat Dika seraya meraih ponsel pintarnya. Namun, di sudut kanan atas layar ponselnya, indikator sinyal menunjukkan tanda silang merah No Service.
"Ketua, mesin mobil mati!" seru sang sopir panik. Ia mencoba menginjak pedal gas dan memutar kunci kontak berulang kali, namun sistem kemudi hidrolik mendadak mengeras dan seluruh lampu indikator di panel dasbor padam seketika.
Bukan hanya mobil mereka. Di kaca spion, Dika melihat dua mobil SUV hitam di belakang mereka juga berhenti mendadak di tengah cekungan jalan bukit kapur yang sepi. Belum sempat Dika membuka pintu mobil untuk memeriksa situasi, delapan orang pria bertubuh kekar dengan seragam taktis hitam tanpa atribut kepolisian muncul secara senyap dari balik rimbunnya pepohonan tebing.
Sebelum para agen lapangan suruhan Baskoro sempat menarik senjata api atau melakukan perlawanan, pintu-pintu mobil mereka ditarik paksa dari luar. Dalam hitungan detik,moncong laras pendek penumpas senyap sudah menempel di pelipis mereka masing-masing.
"Jangan bergerak atau membuat suara jika Anda masih ingin melihat matahari besok pagi," bisik salah satu personel keamanan privat Marcus dengan nada suara yang sangat dingin.
Dika dan seluruh anak buahnya, termasuk dua orang dokter spesialis patologi yang wajahnya sudah pucat pasi ketakutan di kursi tengah mobil kedua, langsung diangkat keluar dari kendaraan dengan tangan terikat ke belakang menggunakan borgol kabel plastik (zip-ties). Operasi pelumpuhan itu berlangsung dengan sangat taktis, senyap, dan hanya memakan waktu kurang dari sembilan puluh detik tanpa ada satu pun peluru yang dilepaskan ke udara.
Di ruang komando, Adrian menyaksikan seluruh proses penangkapan tersebut melalui layar monitor.
Wajahnya tetap datar, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah adegan drama yang sudah ia prediksi akhirnya dengan sangat mudah.
"Bawa mereka semua ke area bunker penyimpanan bawah tanah di bawah pos jaga depan," perintah Adrian kepada Marcus melalui interkom. "Pisahkan kedua dokter itu dari para agen lapangan.
Aku sendiri yang akan menginterogasi mereka setelah ini."
"Baik, Sir. Area sudah steril dan bersih kembali," jawab Marcus sebelum memutuskan sambungan.
Adrian berbalik menatap Baskara yang sedang merapikan beberapa berkas hukum di meja kerja. "Baskara, siapkan surat pernyataan pelanggaran hak privasi medis, pembuntutan ilegal, dan percobaan tindakan kekerasan fisik atas nama Dika dan timnya. Aku ingin mereka menandatanganinya sebelum malam ini."
"Sudah disiapkan sejak sejam yang lalu, Tuan Adrian," balas Baskara seraya menyerahkan sebuah map kulit hitam. "Dokumen ini akan menjadi jaminan hukum kita jika Tuan Besar Baskoro mencoba menuntut balik menggunakan otoritas kepolisian daerah Bali. Dengan adanya bukti keterlibatan tim medis internal Dewangga Group yang bergerak tanpa izin dinas resmi, posisi hukum keluarga besar di Jakarta akan sangat terpojok jika skandal ini bocor ke publik."
"Ayahku tidak akan membiarkan skandal ini bocor, Baskara. Baginya, nama baik Dewangga Group adalah tuhan kedua," sahut Adrian dengan senyuman kecut. "Namun, tindakan menahan anjing-anjing pelacaknya di sini akan membuatnya menyadari bahwa aku tidak lagi bisa dikendalikan oleh ancaman finansialnya."
Adrian melangkah keluar dari pos keamanan depan, berjalan menyusuri jalan setapak taman yang dipenuhi oleh pohon-pohon kamboja Bali menuju paviliun utama.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam area halaman dalam, atmosfer ketegangan militer taktis itu langsung menguap, berganti dengan ketenangan mewah yang meneduhkan jiwa.
Alena tampak sedang duduk di kursi malas di tepi kolam renang tanpa batas. Di pangkuannya, terdapat sebuah buku jurnal kehamilan berwarna merah muda yang baru saja ia beli secara daring melalui bantuan perawat privat. Sinar matahari sore yang mulai melandai menyiram separuh wajah cantiknya, menciptakan siluet keemasan yang begitu indah di mata Adrian.
"Bagaimana udaranya? Apakah terlalu panas untukmu?" tanya Adrian, suaranya melembut sepenuhnya saat ia mengambil posisi duduk di tepi kursi malas Alena.
Alena mendongak, menutup bukunya perlahan. Sebuah senyuman tulus merekah di bibirnya yang kini mulai kembali segar. "Tidak, Adrian. Angin laut di sini sangat sejuk.
Aku baru saja membaca bab pertama tentang perkembangan janin di minggu-minggu awal. Dokter Saras bilang, meskipun bentuknya masih sangat kecil, dia sudah bisa merasakan ketenangan batin dari ibunya."
Alena memperhatikan wajah Adrian dengan saksama. Sebagai wanita yang kini mulai memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan suaminya, ia bisa menangkap sebersit bau debu dan atmosfer ketegangan yang masih melekat pada pakaian Adrian.
"Sesuatu baru saja terjadi di depan gerbang, bukan?" tanya Alena, nadanya berubah menjadi serius namun tetap tenang. Ia meraih tangan kanan Adrian, mengunci jemari pria itu dengan jemarinya sendiri.
Adrian terdiam sejenak, menatap lekat-lekat mata bening Alena. "Orang-orang suruhan ayahku sudah sampai di depan gerbang sepuluh menit yang lalu."
Alena menahan napasnya, cengkeraman tangannya pada jemari Adrian mendadak mengencang. "Mereka... mereka mencoba mendobrak masuk?"
"Tidak. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan itu," jawab Adrian dengan nada suara yang penuh kepastian. "Tim keamanan kita sudah melumpuhkan mereka semua di cekungan bukit bawah tanpa ada satu pun keributan. Mereka saat ini sudah diamankan di area bawah tanah pos jaga depan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir sedikit pun, Alena. Benteng ini tidak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun."
Alena menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang sempat meningkat. Mendengar bahwa tim suruhan Baskoro berhasil dilumpuhkan dengan begitu cepat mendatangkan rasa lega yang luar biasa besar di dalam dadanya. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak pernah ingkar janji; ia berdiri bagai sebuah dinding baja yang kokoh, menghalau setiap ancaman luar bahkan sebelum ancaman itu sempat menyentuh ujung rambut Alena.
"Lalu... apa yang akan kamu lakukan pada mereka, Adrian?" tanya Alena lagi. "Mereka adalah orang-orang ayahmu. Jika kamu menahan mereka terlalu lama, bukankah itu akan membuat hubunganmu dengan keluarga di Jakarta semakin hancur?"
Adrian membawa tangan Alena yang berada di dalam genggamannya ke depan bibirnya, memberikan sebuah kecupan lembut di punggung tangan istrinya.
"Hubungan itu sudah hancur sejak ayahku memutuskan untuk mengunci rekening operasional agensiku dan mengirim tim medis untuk melakukan pengambilan darah paksa padamu, Alena. Aku menahan mereka bukan untuk menantang ayahku, melainkan untuk menegaskan sebuah batasan baru. Aku ingin dia tahu bahwa di dalam keluarga kecil yang kita bangun ini, akulah penguasa tunggalnya."
Adrian berdiri dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Alena berdiri. "Malam ini, aku harus turun ke ruang interogasi untuk menyelesaikan urusan dengan kepala tim mereka dan membuat pernyataan resmi untuk dikirimkan ke meja kerja ayahku di Jakarta.
Setelah itu, aku akan kembali untuk menemanimu makan malam. Mintalah Bi Asih untuk menyiapkan sup ayam hangat untukmu."
Alena menerima uluran tangan Adrian, berdiri tegak di hadapan suaminya.
Ia menatap wajah tegas Adrian dengan pendar kagum dan rasa percaya yang kini telah tumbuh menjadi sebuah getaran emosi yang nyata dan mendalam di dalam hatinya. "Berhati-hatilah, Adrian. Jangan biarkan kemarahan menguasai pikiranmu. Ingat, anak kita mendengarmu dari dalam sini." Alena membawa tangan Adrian ke atas permukaan perutnya yang dilapisi kain gaun katun putih.
Sentuhan lembut di perut Alena seketika mengalirkan gelombang ketenangan baru ke dalam seluruh pembuluh darah Adrian. Kilat amarah yang sempat menyalang di matanya kini sepenuhnya padam, berganti dengan sebuah kedalaman tekad yang suci. "Aku tahu, Alena. Demi kalian, aku akan menyelesaikan ini dengan cara yang paling bersih."
Dua jam kemudian, malam telah sepenuhnya jatuh di atas tebing Uluwatu. Di dalam ruang bawah tanah pos jaga depan yang berdinding beton tebal, Dika sang kepala tim intelijen Baskoro duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan terikat.
Wajahnya yang biasa memancarkan ekspresi sangar kini dipenuhi oleh peluh keringat dingin setelah dua jam diisolasi di dalam ruangan yang sunyi tanpa pencahayaan yang cukup.
Pintu besi ruangan terbuka dengan bunyi dentang yang berat.
Adrian melangkah masuk, diikuti oleh Baskara yang membawa sebuah tas kerja kulit hitam. Adrian tidak mengambil posisi duduk di hadapan Dika; ia tetap berdiri tegak di bawah pendar lampu neon yang temaram, menatap pria paruh baya itu dengan pandangan yang sedingin es kutub.
"T-Tuan Adrian..." suara Dika terdengar serak dan gemetar. "Kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Besar Baskoro. Kami tidak bermaksud untuk..."
"Aku tahu perintah apa yang kalian bawa," potong Adrian, suaranya terdengar sangat rendah namun bergaung dengan kekuatan intimidasi yang luar biasa besar di dalam ruangan beton tersebut.
"Kalian membawa dua dokter patologi untuk melakukan tindakan medis paksa pada istriku tanpa persetujuanku sebagai suaminya yang sah di mata hukum."
Adrian melangkah maju satu langkah, menumpukan kedua tangannya di atas sandaran kursi tempat Dika terikat, membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Di industri ini, Dika... kamu pasti tahu seberapa kejamnya aku jika ada aktor lawan main atau kru yang merusak skenario filmku. Dan sekarang, kamu dan timmu datang ke sini untuk merusak skenario kehidupan nyata yang sedang aku bangun dengan nyawaku sendiri."
Dika menelan ludahnya dengan susah payah, tubuhnya bergetar hebat menghadapi aura kegelapan yang memancar dari diri putra mahkota Dewangga itu.
Ia menyadari bahwa Adrian yang berdiri di hadapannya malam ini bukan lagi sekadar aktor papan atas yang biasa ia lihat di layar kaca; melainkan seorang pria berbahaya yang siap menghancurkan siapa saja demi melindungi teritorinya.
"Baskara, berikan dokumennya," perintah Adrian tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Dika.
Baskara meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja kecil di samping Dika, lengkap dengan sebuah pulpen hitam. "Tanda tangani surat pernyataan ini, Dika. Di dalam surat ini tercantum pengakuan tertulis bahwa Anda dan tim Anda melakukan pembuntutan ilegal, pelanggaran hak privasi medis, dan percobaan tindakan kekerasan fisik di bawah perintah pribadi Baskoro Dewangga."
"J-jika aku menandatangani ini... Tuan Besar akan menghancurkan karierku di Jakarta," isak Dika dilematis.
"Jika kamu tidak menandatanganinya malam ini," desis Adrian dengan nada suara yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah di dalam nadi Dika, "maka Marcus dan timnya akan memastikan bahwa kamu dan seluruh anak buahmu tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk kembali ke Jakarta lagi. Pilihlah dengan bijak, Dika. Nyawamu atau kesetiaan butamu pada seorang lelaki tua yang bahkan tidak akan berkedip saat melihatmu membusuk di dalam penjara Bali."
Mendengar ancaman pembunuhan terselubung yang begitu nyata dari mulut Adrian, seluruh sisa-sisa keberanian Dika runtuh total. Dengan tangan yang gemetar setelah ikatannya dilepas oleh petugas keamanan, ia meraih pulpen tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di atas segel dokumen hukum itu dalam sekejap.
Adrian mengambil kembali lembaran kertas tersebut, memeriksanya sebentar sebelum menyerahkannya kepada Baskara. "Baskara, kirimkan salinan dokumen ini langsung ke nomor faks pribadi ayahku di kantor pusat Dewangga Group malam ini juga. Lampirkan juga sebuah pesan singkat dariku: 'Anjing-anjing pelacakmu sudah berada di dalam kandangku. Jika Ayah ingin melihat mereka kembali dalam keadaan bernapas, silakan datang sendiri berlutut di atas tebing Uluwatu ini."
Adrian berbalik, melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah tanpa memedulikan tatapan penuh ketakutan dari Dika yang masih terduduk lemas di kursinya. Strategi di atas tebing telah resmi dijalankan dengan kemenangan mutlak di tangan sang penguasa muda. Badai pertama dari Jakarta berhasil ditumpas habis di bawah kaki barikade pertahanan mereka, dan kini Adrian bersiap untuk kembali ke paviliun utama, menepati janjinya untuk menemani Alena menikmati sup hangat di bawah kerlip bintang laut Uluwatu yang damai. Perang besar telah resmi diumumkan, dan kali ini sang aktor utama telah memegang kendali penuh atas jalannya papan catur takdir mereka.