Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pertemuan Tak Terduga
Bab 20: Pertemuan yang Berakhir Pilu
Setelah meninggalkan Desa Dusun Tua dengan jejak kemenangan dan janji keadilan yang baru, Arya Wiguna kembali melanjutkan perjalanannya menuju Desa Lingkar Naga.
Hutan di sekitar Sungai Batanghari semakin rimbun dan lebat seiring ia melangkah ke arah timur.
Pohon-pohon menjulang tinggi, kanopi dedaunan tebal menutupi sinar matahari, menciptakan suasana yang lebih lembap dan sunyi, hanya dipecah oleh gemerisik dedaunan dan kicauan burung hutan.
Arya berjalan selama setengah hari penuh. Meskipun ia sudah sangat kuat dan memiliki stamina luar biasa berkat ilmu-ilmu dari Panglima Hijau, insting manusiawinya tetap merasakan kebutuhan dasar.
Dua hari sudah Arya berjalan perutnya mulai keroncongan. Arya berharap bisa menemukan warung makan atau setidaknya sebuah pondok persinggahan di pinggir jalan.
Setelah beberapa jam berjalan, hanya ada hutan belantara di sekelilingnya, tanpa tanda-tanda permukiman manusia.
"Sepertinya aku harus mencari makan sendiri," gumam Arya pada dirinya, suaranya pelan, menyatu dengan keheningan hutan.
Arya melirik ke arah sungai yang bergemericik di sampingnya. Airnya terlihat jernih dan tenang, memantulkan bayangan pepohonan di tepian.
"Ikan sungai mungkin bisa jadi pengganjal perut yang lumayan." batin Arya.
Arya memutuskan untuk menepi, mencari tempat yang tenang di tepi sungai untuk menangkap ikan. Arya mencari bebatuan besar yang aman untuk dipijak, dan matanya menjelajahi permukaan air, mencari tanda-tanda keberadaan ikan yang lincah.
Arya Wiguna tidak membawa jaring atau alat pancing, tetapi dengan kecepatan dan ketangkasannya yang luar biasa, ia yakin bisa menangkap ikan dengan tangan kosong.
Saat Arya melangkah lebih jauh menyusuri tepian sungai, melewati semak belukar yang lebat dan rumpun bambu yang rapat, telinganya menangkap suara percikan air yang teratur dan tawa riang samar-samar.
Arya menghentikan langkah. Insting pendekarnya langsung aktif, membuatnya waspada.
Arya memperlambat gerakannya, melangkah dengan sangat hati-hati, tak ingin mengganggu atau dicurigai oleh siapa pun yang mungkin ada di sana.
Awalnya Arya Wiguna mengira itu hanyalah anak-anak desa yang bermain air, karena lokasinya yang terpencil.
Saat Arya mengintip dari balik rimbunnya dedaunan dan semak-semak lebat yang menutupi pandangannya, pemandangan di depannya membuat Arya tertegun. Jantungnya berdesir aneh.
Bukan anak-anak, melainkan tiga orang gadis muda. Mereka sedang mandi di bagian sungai yang dangkal, airnya sebening kristal, memperlihatkan bebatuan halus di dasarnya.
Dua di antaranya mengenakan pakaian berwarna putih yang kini basah dan melekat di tubuh, sementara satu gadis lainnya, yang paling menarik perhatian Arya, mengenakan pakaian serba hijau.
Rambutnya hitam legam tergerai basah, membiaskan kilau di bawah sinar matahari yang berhasil menyelinap melalui celah rerimbunan hutan.
Wajah gadis itu cantik jelita, dengan mata yang tajam namun memancarkan keceriaan saat ia tertawa kecil.
Mereka bukan gadis desa biasa. Postur tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka adalah para pendekar, terlihat dari gerakan tubuh yang luwes, kulit yang terawat, dan aura yang berbeda, bukan seperti gadis-gadis yang biasa bekerja di ladang.
Arya terperanjat, ia tidak menyangka akan menemukan orang mandi di tempat terpencil ini.
Arya segera bersembunyi lebih dalam di balik semak-semak lebat, menunduk serendah mungkin, tak ingin terlihat dan disalahpahami. Ia hanya ingin menangkap ikan, bukan mengintip privasi siapa pun.
Terlambat.
Salah satu gadis berpakaian putih, yang paling dekat dengan posisi Arya dan memiliki pendengaran yang sangat tajam, tiba-tiba menoleh.
Matanya yang tajam melotot, langsung menangkap bayangan Arya yang setengah tersembunyi. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah Arya.
"Kak Anggun! Lihat! Ada laki-laki mengintip kita!" teriak gadis itu, suaranya melengking tajam, memecah kesunyian alam.
"Apa?!" Suara gadis berpakaian serba hijau itu menggelegar, penuh amarah. Dialah Anggun Sari.
Wajahnya yang cantik jelita mendadak berubah keras, matanya menyala-nyala seperti bara api. Tanpa buang waktu, ia melesat keluar dari air dengan gerakan secepat kilat, tak peduli dengan pakaiannya yang basah kuyup dan menempel di tubuh.
Anggun Sari langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, dan dalam sekejap sudah berada di depan Arya yang masih mencoba bersembunyi dengan panik.
"Heii! Laki-laki tidak tahu malu! Berani-beraninya kau mengintip kami?!" bentak Anggun Sari menghantamkan telapak tangannya ke arah Arya dengan sebuah jurus yang cepat dan kuat.
"Angin Pembelah Batu!" bentak Anggun Sari. Angin tenaga dalam berdesir mengiringi serangannya, menunjukkan kekuatan yang tidak main-main.
Arya terkejut, ia sama sekali tidak berniat mengintip, dan dirinya tidak ingin melukai siapa pun, apalagi seorang gadis.
Arya mengangkat kedua tangannya di depan wajah, mencoba menahan serangan Anggun Sari tanpa membalas, hanya murni bertahan.
"Tunggu! Tunggu dulu! Aku tidak bermaksud mengintip!" serunya, berusaha menjelaskan.
BUAGH!
Pukulan Anggun Sari menghantam lengan Arya dengan keras. Meskipun Arya memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa berkat ilmu
Kekebalan Baja Hijau, Arya memilih untuk tidak menggunakan kekuatan penuhnya, melainkan membiarkan dirinya terlihat terkena pukulan itu.
Arya Wiguna terhuyung ke belakang, sengaja membiarkan dirinya terlihat sedikit terkejut dan kesakitan.
"Aku... aku hanya ingin menangkap ikan! Perutku lapar! Aku tidak tahu ada kalian di sini!" ucap Arya jujur.
"Alasan saja!" seru Anggun Sari, wajahnya merah padam karena marah dan rasa dipermalukan.
"Mana ada orang mencari ikan sambil sembunyi-sembunyi seperti pencuri! Dasar lelaki hidung belang! Kalian semua sama saja! Tidak ada bedanya!" bentak Anggun Sari.
Gadis cantik jelita melancarkan serangkaian serangan pukulan dan tendangan dengan kecepatan luar biasa, jurus-jurus yang lincah dan mematikan, berusaha memojokkan Arya.
Arya mengelak dan menangkis dengan susah payah, sengaja memperlihatkan bahwa ia kesulitan menahan serangan Anggun Sari, padahal baginya, gerakan Anggun Sari masih dalam batas kemampuannya yang sangat jauh.
Arya Wiguna menggunakan kecepatan Ilmu Harimau Seribu untuk menghindari jurus-jurus mematikan yang mengincar titik lemah, namun ia beberapa kali membiarkan dirinya terkena pukulan-pukulan yang tidak terlalu berbahaya di bagian tubuh yang keras, seolah dirinya kewalahan dan kekebalannya tidak sepenuhnya di gunakan.
Arya Wiguna sengaja tidak membiarkan Anggun Sari merasa sia-sia dalam usahanya untuk memberinya pelajaran.
"SRAK! BUUK! WHUSSH!"
Suara pukulan dan desingan angin terus terdengar, memecah ketenangan hutan.
Anggun Sari menyerang dengan marah dan tanpa ampun, setiap gerakannya penuh tenaga dan kemarahan yang membara.
Dua saudaranya seperguruannya juga telah keluar dari sungai, telah mengenakan pakaian mereka, dan berdiri siap membantu jika Anggun Sari membutuhkan. Mereka mengamati dengan cemas namun juga penuh kemarahan.
"Hentikan! Aku benar-benar tidak bermaksud jahat! Aku bersumpah!" Arya berseru lagi, melompat mundur untuk menjaga jarak, wajahnya menunjukkan ekspresi keputusasaan.
Arya bisa saja mengakhiri pertarungan ini dalam sekejap mata dengan satu sentuhan, tetapi ia tidak ingin melukai Anggun Sari atau menciptakan kesalahpahaman yang lebih besar yang bisa berujung pada dendam.
"Tidak ada pengampunan bagi pengintip!" teriak Anggun Sari, suaranya melengking.
Anggun Sari melesat lagi, kali ini dengan jurus yang lebih mematikan, mengarahkan tendangan berputar tinggi ke kepala Arya. Tendangan itu diiringi suara angin kencang, menunjukkan tenaga dalam yang berbahaya.
Arya tahu ia harus mengakhiri sandiwara ini dengan pura-pura kalah telak. Saat tendangan itu melesat cepat ke arahnya, Arya sengaja tidak sepenuhnya menghindar.
Arya membiarkan tendangan itu mengenai sisi kepalanya, tepat di pelipis.
"DUAGH!"
Suara benturan keras dan berat terdengar, seolah Arya menerima pukulan telak yang mematikan, ia sengaja terjatuh ke belakang, tubuhnya berguling beberapa kali di tanah yang lembap, dan tergeletak diam.
"ARGGHH!"
Arya bahkan mengeluarkan sedikit erangan kesakitan yang dibuat-buat, meskipun ia sama sekali tidak terluka berkat kekebalannya. Arya hanya merasakan sedikit desiran energi yang menabrak kulitnya.
Anggun Sari menghentikan serangannya, berdiri terengah-engah dengan wajah puas bercampur sedikit rasa bersalah. Napasnya memburu, dadanya naik turun.
"Rasakan itu, pengintip! Jangan pernah berani lagi mengganggu kami! Itu pelajaran untukmu!" ujar Anggun Sari puas.
Dua gadis lainnya segera mendekati Anggun Sari, wajah mereka masih khawatir.
"Kak Anggun, dia sudah tidak bergerak!" ucap salah satu gadis, yang bernama Bunga, dengan nada cemas.
Anggun Sari mendekat ke arah Arya yang tergeletak, ia menendang pelan tubuh Arya dengan ujung kakinya, memastikan tidak ada reaksi.
"Heh, dasar lemah! Makanya jangan macam-macam!" kata Anggun Sari melihat Arya tidak bergerak, dan napasnya terdengar berat, seolah benar-benar tak berdaya.
Anggun Sari menghela napas, rasa marahnya mulai mereda, digantikan oleh sedikit kelegaan, ia tersenyum tipis. "Sudahlah, ayo kita kembali. Kita sudah memberi pelajaran padanya," ajak Anggun Sari pada dua saudara seperguruannya.
"Tapi Kak Anggun, bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Bukankah itu terlalu keras?" tanya gadis satunya lagi, yang bernama Melati, masih ragu.
"Sudah kubilang, dia hanya perlu pelajaran! Dia tidak akan mati. Tenang saja. Paling hanya pingsan sebentar. Ayo, kita sudah selesai mandi. Kita harus cepat kembali ke perguruan. Guru pasti menunggu," kata Anggun Sari memimpin kedua adik seperguruannya meninggalkan tepi sungai, kembali masuk ke dalam hutan, menuju arah yang berlawanan dengan Arya datang.
Mereka sama sekali tidak mencurigai apa pun, puas dengan kemenangan mereka atas lelaki hidung belang itu.
Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, menghilang ditelan rimbunnya hutan.
Arya Wiguna tetap tergeletak diam selama beberapa saat, memastikan Anggun Sari dan dua adiknya benar-benar pergi jauh dan suara mereka tak lagi terdengar.
Ketika hening kembali melingkupi hutan, Arya Wiguna perlahan membuka matanya. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya, bukan senyuman sakit hati, melainkan senyuman penuh muslihat.
"Perguruan Mawar Putih, ya?" gumam Arya, suaranya pelan dan penuh arti, "Pendekar cantik bernama Anggun Sari. Ini akan menarik."
Arya Wiguna bangkit, menepuk-nepuk debu dan dedaunan yang menempel di jubahnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, tidak ada luka sedikit pun.
Menggunakan kecepatan dan keahlian Ilmu Harimau Seribu, Arya mulai melangkah pelan mengikuti jejak kaki Anggun Sari dan kawan-kawannya.
Arya menjaga jarak yang aman agar tidak terdeteksi, ia ingin mengamati situasi di perguruan itu secara langsung sebelum mengungkapkan dirinya.
Bersambung...
makin seru kisahnya