Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Malam Pertama Dipenginapan
Malam tiba, membawa ketenangan semu di penginapan kecil itu. Angin malam berhembus pelan, menembus celah-celah jendela, membelai tirai tipis yang bergerak lambat. Lampu di kamar berpendar lembut, menciptakan suasana hangat tapi tetap hening. Leo duduk di kursi dekat jendela, berjaga sambil menatap jalanan sepi, sementara Saga menata catatan dan alat pengukur mereka untuk observasi malam berikutnya.
Dayuh dan Sitara sudah berbaring, lelah setelah hari panjang penuh strategi dan pengamatan. Mata mereka perlahan terpejam, dan tubuh mereka mulai tenggelam dalam tidur yang berat. Namun, malam itu membawa sesuatu yang berbeda mimpi.
Dalam tidur Dayuh, ia tiba-tiba merasa dirinya berada di masa lalu, lima tahun silam. Suasana berubah drastis—gelap, lembab, dan penuh ketegangan. Ia berdiri di sebuah kebun yang asing tapi terasa akrab. Pohon apel muda berdiri di sekitarnya, tanah sedikit gundukan, dan aroma tanah basah menyelimuti udara.
Dan di situ, ia melihat sosok Lintang—seorang anak yang ceria, namun wajahnya kini pucat dan penuh luka. Dayuh menatapnya, jantungnya berdetak kencang.
"Kak Dayuh…” suara Lintang terdengar pelan tapi jelas, seolah datang dari jauh sekaligus dekat. “Aku… aku butuh kamu… temukan aku… di dekat pohon apel…”
Dayuh menelan ludah, matanya penuh air. “Lintang… aku… aku nggak tahu harus mulai dari mana…”
Lintang melambai, wajahnya terlihat sendu tapi tegas. “Di gundukan tanah itu… dekat pohon apel… aku dikubur… jangan salah langkah… Noah… dia… sangat berhati-hati…”
Dayuh merasa tubuhnya gemetar. Semua detail yang sempat samar di alam gaib kini terasa hidup: pohon apel, gundukan tanah, bahkan lokasi persis di kebun Noah. Ia ingin berteriak, ingin membangunkan Sitara, tapi suaranya tercekik.
Di sisi lain, Sitara juga bermimpi. Mimpi yang sama, tetapi dari sudut pandang lain. Ia berada di sana, menyaksikan kejadian lima tahun lalu. Lintang terlihat berusaha melawan, tapi tidak berhasil. Noah berdiri di kejauhan, wajahnya tenang dan dingin, seakan melakukan sesuatu yang biasa saja. Sitara merasakan dingin menembus tulang, melihat bagaimana Noah memperlakukan korban dengan kejam tapi sistematis.
Lintang menatap Sitara, wajahnya bergetar. “Aku korban terakhir… aku… aku ingin kalian temukan aku… sebelum dia… sebelum ada korban lagi…”
Sitara menelan ludah, tangannya menggenggam tanah yang terasa basah dan lembap. “Aku janji… aku akan menemukannya… jangan takut…”
Mimpi itu terasa begitu nyata. Setiap detail tersimpan jelas di benak mereka, posisi pohon apel, gundukan tanah, semak-semak yang menutupi jalur masuk, dan lokasi di mana jasad Lintang dikubur. Saat itu, Sitara menyadari satu hal mengerikan, Noah bukan hanya seorang pembunuh licik, tapi sudah merencanakan semuanya jauh sebelumnya.
Ketika pagi datang di mimpi itu, Lintang tersenyum tipis. “Kalian harus cepat… sebelum dia…” Namun, sebelum kata-kata itu selesai, mimpi itu pecah menjadi gelap, dan Dayuh serta Sitara tersentak bangun di penginapan, napas tersengal, keringat dingin menempel di dahi mereka.
Dayuh menatap Sitara, matanya masih terkejut. “Sitara… aku… aku mimpi… Lintang… dia… dia memberi petunjuk…”
Sitara mengangguk, wajahnya pucat. “Aku juga… aku melihatnya… sama… gundukan tanah, pohon apel… itu… Noah…”
Leo menoleh dari jendela, raut wajahnya tegang. “Apa yang terjadi? Kalian baik-baik?”
Saga menaruh pena, menatap kedua gadis itu dengan serius. “Mimpi itu… mungkin bukan sekadar mimpi. Alam gaib kadang memberi petunjuk. Kalau Lintang memberi tanda, kita harus catat semua, mulai dari posisi pohon apel hingga gundukan tanah.”
Dayuh menelan ludah, membuka catatan. “Aku akan menandai semua di peta kota. Kita harus cek malam ini, tapi hati-hati. Kalau Noah sadar kita terlalu dekat… bahaya.”
Sitara mengangguk, tangannya menepuk pundak Dayuh. “Kita harus fokus. Lintang memberi kita kesempatan terakhir. Jangan sia-siakan.”
***
Sementara itu, di sisi lain kota, kehidupan Noah berjalan seperti biasa. Di siang hari, ia tampak normal—berpakaian rapi, tersenyum manis kepada tetangga, menyapa pegawai toko kopi miliknya, dan menyiapkan rencana pernikahan dengan tunangannya yang populer di kalangan sosialita kota B.
Di balik senyum dan rutinitasnya, Noah menyembunyikan rahasia kelam yang tidak seorang pun bisa menebak. Kekayaannya bukan dari usaha kopi shop semata, atau dari toko tunangan yang terkenal. Semua kekayaannya berasal dari hasil menjual organ anak-anak yang menjadi korban kejahatannya. Sistem itu dijalankan rapi dan cermat, tidak ada jejak, tidak ada bukti, setiap transaksi diatur sehingga tidak ada pihak luar yang bisa menelusuri asal-usul kekayaannya.
Noah telah menghitung segalanya: kekayaannya tidak akan habis sampai ia tua, bahkan jika ia memiliki anak kelak, anak-anaknya akan hidup berkecukupan, nyaman, dan tanpa kekurangan uang sedikit pun. Namun, semua itu dibayar dengan kehancuran orang lain, dan hasilnya tentu saja tidak baik—jiwa-jiwa yang hilang, keluarga yang hancur, dan trauma yang tersisa.
“Kalau suatu saat aku tertangkap,” Noah pernah berpikir dalam hatinya, duduk di ruang kerja pribadinya yang mewah, “toko tunanganku pasti ikut terseret. Aku sudah perhitungkan semua kemungkinan, dari awal. Orang akan terlalu fokus pada bukti nyata, bukan pada jalur gelap yang kubuat. Semua sudah matang.”
Di toko kopi miliknya, ia menyapa pegawai dengan ramah. “Pastikan pesanan pelanggan cepat, ya. Jangan sampai ada keluhan.” Senyum manisnya seakan menutupi kegelapan yang ada di baliknya.
Di rumah tunangannya, Noah ikut mengawasi toko besar yang menjadi modal usaha tunangannya. Toko itu terkenal di kota, ramai dikunjungi, dan menjadi simbol stabilitas serta kemewahan keluarga. Noah tahu, jika suatu saat kejahatannya terungkap, reputasi tunangannya juga akan ikut terimbas. Namun, itu sudah ia pertimbangkan: risiko yang tidak bisa ia hindari, tapi sudah ia siapkan solusi cadangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Noah tampak seperti pria normal yang akan segera menikah. Ia tertawa, bercanda ringan dengan tunangannya, dan menghadiri pertemuan bisnis. Namun, di balik semua itu, ia tetap seorang predator terlatih, setiap gerakannya diperhitungkan, setiap kata yang diucapkan memiliki tujuan untuk melindungi rahasianya.
Sementara di penginapan, Dayuh dan Sitara beristirahat, Lintang tetap membimbing mereka melalui mimpi. Bayangan kelam itu terus menempel, pohon apel, gundukan tanah, dan ruang bawah tanah yang menjadi saksi bisu kejahatan Noah. Setiap mimpi memberi petunjuk, setiap detail membimbing mereka ke satu tujuan: menemukan bukti fisik, mengungkap kebenaran, dan menghentikan rantai kejahatan yang Noah jalankan dengan rapi selama bertahun-tahun.
Hari itu, malam itu, menjadi penanda, dunia luar terlihat normal bagi Noah, tapi di penginapan kecil itu, Dayuh, Sitara, Saga, dan Leo mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan gelap. Petunjuk Lintang menjadi kunci pertama, sedangkan kehidupan normal Noah hanyalah kedok yang sempurna.
Malam pun berlanjut, mereka tidur dengan waspada. Bayangan pohon apel, gundukan tanah, dan rahasia ruang bawah tanah terus menghantui mimpi mereka. Dan di balik kota yang terlihat damai, Noah menata rencana untuk hari-hari berikutnya, selalu selangkah lebih maju, selalu menjaga rahasianya agar tetap tersembunyi.
Namun Dayuh dan Sitara sudah memegang kunci pertama dari teka-teki itu, petunjuk Lintang. Dan itu berarti Noah tak bisa lagi bergerak sepenuhnya tanpa pengawasan. Setiap langkah yang mereka ambil keesokan malam akan menentukan apakah mereka bisa menemukan ruang bawah tanah itu dan mengungkap seluruh kejahatan yang tersimpan selama bertahun-tahun.