NovelToon NovelToon
Miss Truth

Miss Truth

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: HANA NH. asuna

UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.

Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.

Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.

Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. PULANG ( PART3 )

Sore pun berubah menjadi pagi bagi Bram. Ia masih berada di sekolah tercintanya. Tetapi ia tidak melihat keberadaan Ziva dari sudut mana pun di sekolah ini. Bram membuka handphonenya dari balik saku jaketnya. Terdengar bunyi panggilan telephone yang dinamainya pak Aryo.

“Halo, Pak. Bagaimana? Apakah bapak sudah mengetahui siapa pelaku penculikannya?” Bram tak berbasa-basi. Ia langsung mengungkapkan pertanyaan yang terus mengetuk hatinya.

“Ya, Den. Bapak sudah tahu siapa orangnya. Apakah aden yakin ingin tahu?” suara pak Aryo tampak tak yakin. Seperti ada sesuatu yang perlu dicemaskannya.

“Katakan saja, Pak.” Bram tampak tak ingin membuang waktunya dengan kecemasan pak Aryo yang dianggapnya tak jelas.

“Den, maaf bapak akan lancang. Yang menculik non Ziva, ialah non Intan, Den. Kakak den Bram.” Pak Aryo tak sampai hati untuk mengatakannya, tetapi keinginan tuan mudanya terlalu tak bisa disanggahnya.

Bram terkejut, bahkan sangat terkejut. Kakak yang sangat disayanginyalah yang berusaha mencelakai Ziva. Bagaimana itu mungkin? Gumamnya. Namun ia tak bisa meragukan kekuatan intelegen dari pak Aryo yang merupakan pengasuh sekaligus segalanya baginya. Pak Aryo merupakan seorang multitalenta yang berbakat. Tak mungkin pak Aryo bisa salah mengenai informasi yang dipetiknya.

“Mohon beri saya waktu sendiri, Pak. Saya tutup teleponnya.” Bram menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban menolak dari pak Aryo yang ingin menabahkannya.

Bram menutup wajahnya dan mengusapnya berulang kali. Wajahnya yang ingin menangis itu sangat jelas dari mimik wajahnya. Kakaknya yang menjadi pengganti orangtuanya di keluarganya yang buruk itu, bagaimana mungkin bisa mencelakai temannya? Bram masih tidak percaya. Dia munafk dengan dirinya dan kebenaran.

...***...

Tatapan mata Sulthan fokus pada 2 bola mata merah di depannya. Ziva, yang sedang terduduk sendirian tanpa siapapun disisinya di dalam ruangan tangga gelap, yang hanya tercipta sepercik pelita matahari yang terpantul secara fisika.

Bahagia? Tidak, Sulthan malah iba melihat Ziva yang masih berdiam diri. Tubuh Ziva terlihat sesak seperti seseorang yang habis berlari. Sedetik kemudian, pandangan Ziva mengkabur, yang ada di pandangannya kini hanyalah Sulthan yang berdiri tegak di hadapannya dan berbayang-bayang.

Bangai burung elang terbang, Sulthan sigap menangkap Ziva sebelum Ziva menggelinding ke bawah dan jadi nangka jatuh. Ziva tak sadarkan diri.

Seperti menggendong bayi gajah, Sulthan sangat kesusahan menggendong tubuh Ziva yang gendut di lorong tangga yang hanya berjarak 2 meter. Ia merasa berat badan Ziva sungguh bertambah dari hari pernikahan, dimana Sulthan menggendong Ziva karena obat tidur yang di suapkannya.

Tanpa jeda lama, Sulthan mengantarkan Ziva untuk diperiksa. Setelah dokter memeriksa, ternyata Ziva mengalami sesak nafas akibat trauma. Karena, Ziva tidak memiliki masalah medis mengenai pernafasan. Dan satu-satunya pendorong penyakit adalah kesehatan psikisnya.

Sementara menunggu Ziva sadar, Sulthan terus berada disisi Ziva hingga ia tertidur di samping lengan kanan Ziva. Entah beberapa lama, Ziva pun siuman. Ia menatap Sulthan yang sangat kelelahan karena mencarinya. Ditatapinya Sulthan yang tertidur dan mendengkur. Meskipun lucu melihat Sulthan mendengkur, namun, hal itu juga tidak membuatnya tertawa.

Ziva bangkit dari ranjang rumah sakit yang bau antiseptik itu. Ia mengamati seseorang yang tertidur di sampingnya. Dan selesai, itu Sulthan. Ia ingat kejadian semalam. Ia berlari menghindari kakak-kakaknya. Awalnya, Ziva pergi ke atap, namun ada seseorang yang menangis kencang sekali, membuatnya terganggu. Ingin di tempat sunyi, Ziva pun pergi ke kamar mandi.

Namun, mata sucinya ternodai oleh seorang perawat perempuan dan mantri atau perawat laki-laki sedang berbagi kasih dan cinta mereka melalui sentuhan fisik. Ziva terlalu panik melihat hal itu, membuatnya kesal.

Saat berjalan-jalan, Ziva melihat lorong tangga itu gelap sekali. Ziva takut gelap, namun ia sangat kesal dan sedih dengan semua yang terjadi hari ini. Ia ingin melihat ibunya untuk keterakhir kalinya, tetapi tidak diperbolehkan. Ketika ia ingin menyendiri, ada seseorang yang tampaknya lebih sedih darinya. Dan ketika ia ingin menangis kemudian membasuh wajah di toilet, ada adegan mesra yang tak sepantasnya dilihat anak dibawah umur sepertinya.

Ziva menangis di dalam lorong tangga gelap itu. Hatinya sakit dan kacau balau.

“Huhuhuhu... kenapa... huhuhu... semua orang sangat jahat. Huhuhu...” tangis Ziva. Ia hanya ingin menyendiri seperti ini. Namun, ia sungguh tidak suka gelap. Ia merasa sangat sesak. Namun ia bertahan, ia tidak ingin kondisi terburuknya diketahui orang lain.

Lama-kelamaan, kegelapan itu mulai mengingatkannya pada malam itu. Malam dimana seorang om-om mencoba untuk menjahatinya. Ia yang baru pulang bermain dari rumah temannya, tiba-tiba disergap oleh lelaki yang ditolak kak Alya Humairoh minggu kemarin waktu itu.

“Akh...” hatinya sangat sesak.

Tenggorokannya tidak bisa terbuka. Panik, Ziva sangat panik. Ia berusaha untuk berteriak agar orang mendengarnya. Namun, tak ada yang datang. Ziva hanya pasrah sembari merintih berdoa kepada Allah, agar mengirimkannya penolong.

Tiba-tiba, ketika ia menutup matanya, terdengar langkah kaki seseorang yang berlari dengan cepat. Kala itu, Ziva sudah tidak bisa bernafas lagi. Nafasnya seakan ditutup oleh masa lalu kelamnya. Dan, tampaklah sesosok laki-laki gagah. Ia tanda tubuh tinggi semampai dihadapannya itu.

“Bang Sulthan...” gumamnya. Saat itulah, tenggorokannya kembali terbuka. Ia benafas tersenggal-senggal. Namun, oksigen yang dihirupnya sangat kurang untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Karena itu, Ziva pingsan. Dan kini, ketika ia terbangun, ia lagi-lagi mendapati sosok Sulthan yang selalu ada untuknya. Dimanapun dan kapanpun.

Ziva menatap wajah putih Sulthan yang membelang karena terbakar sinar matahari. Rambut Sulthan yang lebat layaknya sapu ijuk. Ziva berdiri dari ranjangnya, ia tidak ingin berada di dalam rumah sakit lagi. Ia ingin setidaknya melihat wajah ibunya unutk keterakhir kalinya, kemudian pulang ke rumah. Aroma rumah sakit itu begitu menusuk hidungnya untuk terus menangis dan menjadi perempuan lemah.

Kakinya kini melangkah di koridor rumah sakit yang sangat sunyi, Ziva berjalan layaknya mumi tanpa ekspresi. Berjalan dan mengandalkan rasa sakitnya saja. Tanpa pikiran untuk ikhlas dan secercah senyum manisnya yang lebih indah dari lautan biru yang selalu terbentang.

Tiba-tiba, kedamaiannya dibuyarkan oleh genggaman asing di pergelangan tangannya. Ziva berbalik arah untuk memastikan siapa orang yang berani-beraninya memegangnya tanpa izin. Ziva menyiapkan kuda-kudanya, dan siap membuat jurus pemecah kacang jika itu adalah laki-laki brengsek.

Dan, hampir saja. Itu adalah Sulthan yang sudah terbangun dari tidur singkatnya. Sulthan menatapnya murung.

“Kamu kok perginya gak izin sih, abangkan khawatir,”

“Kenapa abang cemas?” tanya Ziva penuh dengan tatapannya yang curiga.

“Yah, abang takut Ziva berbuat nekatlah,”

“Hahah... ternyata, memang gak ada yang percaya sama Ziva. Umi aja gak percaya sama Ziva, apalagi abang. Yakan? Ziva memang gegabah, tapi Ziva gak sebodoh itu untuk melayangkan nyawa Ziva sendiri,” gelak Ziva dengan sinis. Ia jadi berubah semenjak mendengar kepastian kakaknya.

“Bukan gitu Ziva. Abang cuma-“ belum selesai seluruh kata Sulthan, Ziva mengangkat tanganya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan agar Sulthan berhenti mengoceh.

“Ziva gak perlu perlindungan abang. Jika abang masih peduli dengan perasaan Ziva, maka jangan bicara apapun. Abang boleh ikut Ziva berkeliling, tapi... jangan katakan apapun,”

Ziva kembali membalikkan tubuhnya di posisi semulanya, menghadap depan dan berjalan bak mumi. Ia menelusuri seluruh koridor sembari memegang pegangan rumah sakit bagi tuna netra. Ia juga bersenandung lagu mandarin yang berjudul ni jiu bu yao xian qi wo. Itu adalah salah satu lagu yang di suruh hafalkan oleh laoshi di sekolahnya ketika mata pelajaran mandarin.

Sulthan terus saja membuntutinya dari belakang. Mengikuti sembari berfikir, kemanakah tujuan Ziva sebenarnya. Lalu, Sulthan berhenti melangkah karena melihat Ziva yang berbelok arah dan pergi ke lorong lain yang entah kemana ujungnya.

Ziva hanya berjalan dan berjalan tanpa tahu apa yang sedang dicarinya kini. Ia hanya ingin menenangkan perasaannya yang aneh dan hampa. Ziva melewati sebuah ruangan pasien, di dalam ruangan itu seperti ada yang sedang berbicara. Ziva tidak tahu mengapa, tetapi dirinya ingin sekali menguping pembicaraan di ruangan itu.

“Ma-maaf, Dokter. Sa-saya sudah melakukannya, Dok. Sa-saya sudah memotong arteri dari perempuan penderita kanker payudara itu, Dok... apakah, apakah dengan begini... dokter akan menjamin kesembuhan... putri saya?” salah seorang perempuan berambut sebahu yang kisaran umurnya lebih dari 40 tahun dengan jas dokternya.

“Tenang saja, Kristi. Saya sendiri yang mengoperasi jantung putrimu. Putrimu pasti akan sembuh. Aku benar-benar puas dengan kerjamu menanganinya.” Ucap salah seorang perempuan yang juga berjas dokter. Namun, rambut dokter ini di gerai sedada dengan sedikir keritingan di bagian bawahnya saja.

“Te-terima kasih, Dok. Tapi, a-apakah... saya... akan dipenjara? Saya telah... membunuh. Saya membunuh seseorang pasien, yang masih memiliki kemungkinan hidup. Pasien itu, masih di stadium awal. Saya, saya merasa sangat bersalah.” Dokter yang dinamai Kristi itu terus saja berbicara gugup.

Sementara Ziva yang berada di luar pintu terus saja menebak siapa yang dibunuh oleh dokter bernama Kristi itu.

“Tenang. Aku yang akan mengurusnya. Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku suruh. Setelah itu, kamu akan aman.”

Jantung Ziva terus berdetak kencang, kata-kata dokter berambut panjang itu terlalu mengerikan baginya. Nada bicaranya itu sangat menyeramkan dan tidak mirip dengan manusia. Kata-katanya mengandung banyak perihal mistis yang tak dimengertinya. Tetapi terlalu mistis untuk diuraikan.

Ziva merasa merinding. Ia memegang kedua bahunya karena terlalu gemetar mendengar ucapan seram dokter itu. Sulthan menyadari perubahan aneh dari Ziva yang berada di depannya. Tak bisa dibantahkan, Sulthan juga mendengarkan perkataan kedua dokter itu. Ia juga merasa aneh dengan kata-kata dokter berambut sedada itu.

...***...

1
HANA.NH
up lagi setelah sekian lamanya
Yoanita_Situmorang
ditunggu kelanjutannya thor🔥
HANA.NH: iya, kak. makasih, sudah terus menunggu.
total 1 replies
Bang Regar
👍
R.F
2 like hadir. cemungut. like balik yw
MayaTika Channel
Terima Kasih Thor sudah menghibur . Adem bacanya kalo suami istri sama" saling ngerti gtu 🥺
HANA.NH: Ulu-ulu, maacih banyak komennya, kak. Seger bener kek abis minum extra jos👍👍
total 1 replies
Komah Xyamat
semoga ziva sama sultan bisa dipersatukan kembali dan bahagia. 😁😀 lanjut kaka aku tungguin nih jangan lama2 kaka semangaka (semangat kaka)
HANA.NH: aamin kk
total 1 replies
Ipah Cakep
penyelidikan di mulai
HANA.NH: eheee....😁
total 1 replies
Ipah Cakep
wajan siapa sih Thor? pa pernah suka ama ziva?
Ipah Cakep: kok bisa baek bgt?
total 3 replies
R.F
semangat kaka.like. like balik ya
HANA.NH: makasih kkk, Hana comeback ya
total 1 replies
Heni Lestari
hai salam kenal aku Heni lestari mapir juga ya kak ke novel ku kisah cintaku dengan adik kelas ku aku juga dah like kak sampai 6 back y author 😂
Ipah Cakep
auto mewek 🤧😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
wajan?
Ipah Cakep
astaghfirulloh.. kaget
Ipah Cakep
Kaya itu hati yg tulus
Navizaa
lanjutt kak
HANA.NH: iya kk, makasih❤❤❤
total 1 replies
Susi Ana
like, mampir ya
HANA.NH: iya kk, Hana mampir ya
total 1 replies
R.F
semangat up.like like balik ya
HANA.NH: iya kkk, Hana mampir Ya... makasih karena udah mampir
total 1 replies
Ipah Cakep
Alhamdulillah
Ipah Cakep
Sahabat selamanya 🥰🥰🥰
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim 🥵🥶🤧🤒🤕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!