Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Anggara pov
"Oke iya betul aku bertemu sama dia di China. Tapi aku nggak sama sekali selingkuh! Anggara please kita udah berapa tahun sih nikah? Kamu masih gak percaya aku? Apa pernah kamu liat aku kontekan atau ketemu sama dia sebelumnya?"
Aku tak bergeming, ini sungguh membingungkan.
"Gak pernah kan? Heran deh!"
Aku mengacak wajahku frustasi dan duduk di sofa untuk berfikir. Mengatur nafas berkali-kali dan menatap Silvi yang menangis didepanku.
"Terus foto-foto yang aku dapet itu apa? Kamu masih mau ngelak?" Tak ada perkataan lain dibenakku selain menanyakan kebenaran foto-foto yang aku dapat kepada orangnya langsung.
Silvi lalu menangis tersedu dan membanting tubuhnya diatas sofa.
"Kamu tega banget sih Ang. Kamu fikir deh, aku lagi di China dampingin mahasiswa dan pengen disana sebentar lagi aja. Terus ada berita kamu nikah lagi dan alasannya karena aku selingkuh?" Ucapnya dengan tangisan.
"Aku gak selingkuh! Nugi cuma masa lalu aku! Oke memang aku ajak dia masuk ke kamar hotel ku, tapi kami gak ngapa-ngapain Ang! Enggak!"
"Terus mau apa dia masuk kekamar kamu hah?" Emosiku naik saat ia mengaku telah membawa lelaki itu kedalam kamar hotel.
"Dia penat! Aku punya obat pusing. Kita juga ketemunya kan di loby karena acara yang dia hadirin ada di ballroom!!" Silvi terus saja kekeuh dan menangis.
Aku mulai menggapai tubuhnya dan merengkuhnya kedalam pelukanku. Ia terus saja tersedu-sedu.
"Lalu gimana kamu mau jelasin pernikahan kamu?" Ucapnya yang membuat kepalaku berputar.
Ia menjauhkan tubuhnya dan menatapku intens dengan mata yang sembab.
"A- itu"
Ia meninggikan tangisannya dan aku terus mencoba memeluknya dan mengelus rambutnya. Benar apa katanya ini. Mengingatkanku bahwa aku telah menikah dan mempunyai istri dua.
"Kita cerai aja" ucapnya lirih.
"Aku cintanya sama kamu Sil" ucapku mencoba tenang.
"Lalu? Kamu gak bisa kaya gini Ang! Kita cerai aja ya? Mending aku sakit sekalian dari pada nanti harus jadi istri pertama yang dilupakan!" Ucapnya yang masih dalam tangisan.
"Enggak."
"Ang!" Ia melepas pelukanku. "Pernikahan itu hal yang sakral dan serius! Tanggung jawab kamu bertambah. Jangan gegabah!"
"Aku gak serius sama dia" ucapku membela diri. Ntahlah aku bingung harus bersikap bagaimana sekarang setelah mendengar penjelasannya.
"Yaampun kenapa sih! Kenapa kamu gak tanyain aku tentang sesuatu yang kamu lihat! Dan bales aku dengan menikah lagi! Apa sih yang ada difikiran kamu itu Ang!"
Akhirnya aku menjelaskan segalanya begitu pula dengan keterlibatan bunda dan papah. Silvi memasang wajah marah dan berkali-kali ia berdecak kesal.
"Jadi mereka salahin aku karena kamu jarang pulang, gitu?" Ucapnya yang sudah tidak dengan tangisan. Aku mengangguk dan menggapai bahunya. Menuntunnya untuk bersandar di bahuku.
"Kamu tenang aja, aku tetap cintanya sama kamu. Kasian juga kan dia butuh biaya buat bapaknya. "
"Yasih, itung-itung kamu keluarin uang buat beli lamborgini" ucapnya sinis. "Tapi kamu harus pulang ya, walaupun kamu gak ngapa-ngapain sama dia. Kamu harus terlihat membagi waktu. Walaupun begini, aku gak mau kamu menumpuk dosa dan aku yang gak ngingetin kamu Ang. " ucapnya yang membuatku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Aku mengangguk dan mengecup keningnya.
***
Pagi ini aku sudah berada di bandara bersama Cika. Ia mengabari saat dini hari bahwa kebun kelapa sawitku kecolongan hingga aku rugi besar. Tanpa berfikir, aku menyuruhnya untuk memesan tiket pesawat ke Palembang. Walaupun ia mengingatkanku bahwa papah tak mengizinkanku bekerja, aku tetap bisa melakukan itu.
Silvi mengantarku ke bandara. Tadi malam kami benar-benar tidur bersama karena sama-sama lelah dan ntah perasaanku atau apa, Silvi seperti menghindar untuk melakukan hubungan suami istri denganku. Ntahlah, yang pasti semua yang sudah aku tuduh itu hanya salah paham.
Sekilas Silvi
Aku sudah mengantar suamiku ke bandara. Tadi malam aku sempat tak bisa menahan diri untuk membiarkannya memasukiku. Tetapi didadaku masih ada jejak mantan yang masih aku cintai.
Ya, aku berselingkuh darinya. Tetapi untuk cinta dan hati, aku berikan semua pada suamiku.
Ntah kebetulan atau takdir, aku bertemu dengan mantanku di hotel. Dan apa yang aku ucapkan mengenai acara yang ia hadiri berada di ballroom memang benar. Tetapi saat kami masuk kekamar, kami terbawa suasana dan meneruskannya hingga kemarin saat aku mengertahui suamiku menikah lagi.
Aku benar-benar marah. Apalagi saat mendatangi maduku, ia adalah mahasiswiku dikampus yang memang baru saja aku luluskan mata pelajaran yang aku pegang. Ini benar-benar gila.
Nugi menghubungiku berkali-kali setelah kepergianku yang tiba-tiba. Tapi aku memblokir nomor ponselnya agar tak dicurigai oleh suamiku.
Sengaja aku menyuruh Anggara untuk berlaku adil karena aku ingin Luna menyimpan hati pada suamiku. Bukan berarti aku rela, tetapi aku akan membuat Luna terangkat tinggi dan terhempas jatuh sejatuh-jatuhnya. Karena aku yakin, Anggara sangat mencintaiku.
Bagaimanapun, aku akan tetap memilikinya! Aku tak sudi berbagi apalagi dengan mahasiswiku sendiri.
***
Anggara pov
Dua hari sudah aku mengurus masalah kebun kelapa sawitku. Asalnya aku ingin langsung pulang ke apartemen bertemu Silvi, tetapi ia menyuruhku untuk pulang ke rumah bunda dengan alasan keadilan seorang suami. Ntah lah, bahkan Luna saja tidak peduli tentang hal itu. Toh ini akan menggampangkannya bukan? Tak ada aku yang harus ia layani.
Mobil yang Pak Deni kemudikan beserta aku dikursi penumpang, sudah hampir sampai kerumah bunda. Saat pak Deni hendak membelokkan mobilnya masuk kepelataran rumah, aku melihat mobil minicooper kuning keluar dari sana. Kebetulan kaca mobilnya terbuka dan aku melihat Luna ada didalam sedang menangis sembari mencoba menutupi kaca yang terbuka.
Aku menatapnya tajam. Akan kemana bocah itu tengah malam begini? Kusuruh pak Deni untuk melanjutkan mobil parkir masuk ke halaman rumah. Aku turun dan masuk kedalam rumah yang dismabut langsung oleh bunda dan ayah yang sedang duduk disofa. Mereka sedikit terkejut melihat kehadiranku.
"Udah terima sms dari Luna?" Ucap papah.
Dengan otomatis aku mengecek ponselku di saku celana. Dan benar, ada pesan darinya bahwa ia meminta izin untuk keluar.
"Biarin pah. Masalah Luna biar aku yang urus, bunda sama papah istirahat ya"
Ku lihat wajah mereka yang mencemaskan sesuatu. Aku yakin mereka mencemaskan menantu barunya. Namun bagaimana lagi, aku merasa tidak ada hak untuk mencegahnya. Untuk mengejar atau menegurnya pun malas. Biarlah, toh Luna sendiri sudah besar.
***
Luna pov
Aku telah sampai di rumah sakit bersama Zahwa. Dan ternyata Nadine sudah sadar. Selama perjalanan kami sempat telfonan, dan Nadine ingin kami mencuci rambutnya.
Aku bergidik ngeri setelah Nadine menceritakan kejadiannya. Sungguh tak bisa ku bayangkan rasa sakitnya pisau yang menancap di perut juga membesit paha itu. Masalah bisnis keluarga Nadine memang rumit, bahkan berani saja dengan membunuh lawannya sendiri. Mungkin ini yang dinamakan bila pohon semakin tinggi, semakin kencang juga anginnya.
Aku memijat-mijat kepala Nadine, katanya pijatanku lebih enak dibanding Zahwa. Dengan alasan katanya aku keturunan jawa.
Tak lama, masuklah teman-teman bandnya Nadine. Aku terperanjat saat Cheko masuk keruangan yang sama. Kamu saling tatap lalu ia tersenyum nanar padaku dan duduk di sofa setelah menyapa Nadine. Karena semua lelaki itu penasaran, akhirnya Nadine bercerita ulang sampai-sampai acara pijat memijat sudah beres lama.
Jujur disini aku merasa tak nyaman. Mereka semua tahu bahwa aku dan Cheko sempat dekat sampai aku tiba-tiba menikah lima hari yang lalu. Sehingga yang asalnya aku ceplas ceplos seperti Zahwa sekarang, berubah menjadi pendiam. Cheko pun sama.
Hari mulai sore dan Zahwa memintaku untuk pulang. Aku mengangguk dan membereskan barang-barangku diluar tas.
"Bay the way Jul. Gue sama Zahwa nebeng balik dong. Tadi kami kesini pake mobilnya Nadine soalnya."
"Aduh gue mau ke Bogor dulu, ada urusan." Ucap Julian menolak dengan nada yang merasa tak enak. Zahwa berdecak kesal dan Julian berfikir.
"Eh sama lo aja Chek! Lo mau langsung balik Bandung kan? Kasian noh si Ijah sama Luna" ucap Julian yang membuat Luna membulatkan matanya. Dan Luna semakin tidak percaya lagi saat Cheko mengangguk.
-
-
-
***
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Dan kami baru sampai dirumah Zahwa. Ia menawarkanku untuk menginap, tetapi aku tidak mau karena aku baru teringat bahwa besok pagi Lala memintaku untuk mengajarinya membuat saos salad buah. Untungnya Cheko bersedia mengantarkanku.
"Gimana suami kamu? Baik kan?" Ucap Cheko tiba-tiba setelah kami saling diam.
"Ba baik kok." Ucapku seadanya.
"Semoga bahagia ya Lun. Kamu kalau dia macam-macam, bilang aja sama aku. Aku pasti bakalan bantu!" Ucapnya seolah memasrahkan diri.
Aku menarik nafasku dan membuangnya sebelum berkata "iya" padanya. Kutatap langit yang gelap sampai tak terasa sudah didepan rumah.
"Aku anter kedalem?"
"Gak usah. Makasih ya udah mau di repotin kak. Hehe"
"Gak kok. Orang kita rumahnya deketan kan. Kalo ga dianter, aku liat dari sini. Gih" ucapnya dan menerima anggukanku.
Setibanya dirumah, semua ruangan gelap minim cahaya. Aku memasuki kamarku dan aku terperanjat kaget saat tuan Anggara bersidekap dada dan menatapku tajam. Padahal sudah hampir jam dua, tetapi ia belum juga tidur.
***
***
Hallo author balik nih....
Gimana gimana? Kira-kira Anggara kenapa tuh nungguin Luna sampe malem banget?
Tbc-
kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.