Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.
Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.
Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.
Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.
Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiwi Sakit
Keheningan di meja makan yang sedang berlangsung mendadak gempor saat Indra berlari sembari menggendong Tiwi masuk ke dalam lift.
Keluarga Aldo dan Rifaldi yang baru saja menyantap sarapan paginya terpaksa berhenti. Kedua keluarga itu bangun kesiangan, berbeda dengan sang Daddy dan Mommy yang sudah menyelesaikan sarapan mereka satu jam yang lalu.
"Mommy, itu kenapa?" Tanya Clarissa khawatir ketika melihat Vina mengekor di belakang.
"Tiwi jatuh di taman," jawabnya tenang.
"Parah, Mom?" Yuna yang bertanya, ia menghentikan suapannya pada sang anak, Jihan.
"Mommy nggak tau, tapi tetap aja itu pasti udah sakit banget. Kalian lanjutin aja sarapannya, Mommy mau telpon Dokter Merisa," Vina berlalu menaiki tangga menuju lantai dua.
"Bunda, Jihan udah kenyang," adu Jihan saat Yuna kembali ingin memasukkan sesendok nasi goreng pada mulut Jihan.
"It's okay," balasnya tersenyum.
"Sayang, abis ini temanin aku ke supermarket ya?" Yuna mengalihkan sendok penuh nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Buat apa, Yun? Biasanya juga yang belanja kebutuhan kan Mbok." Rifaldi lanjut mencomot roti.
"Beli susu hamilnya, habis soalnya."
"Iya, aku temenin." Rifaldi manggut-manggut. Untuk urusan pribadi sebisa mungkin ia jabani sendiri, apalagi menyangkut kehamilan sang istri, benar-benar tidak bisa ia abaikan.
"Beldua doang? Jihan nggak diajakin?" Jihan dengan suara cadelnya bertanya.
"Mau ikut emangnya? Biasanya nolak terus," goda Aldo pada keponakan perempuannya itu, ia tahu sekali bagaimana sifat Jihan.
"Jihan ikut ya Bunda Ayah, mau beli yupi?" rengeknya.
"Iya, ikut aja sayang."
Setelah dapat persetujuan, Jihan berlalu mengikuti kakak sepupunya yang telah meninggalkan meja makan.
"Indra itu punya pacar?" Sontak Aldo, Rifaldi dan Yuna mengalihkan atensinya pada Clarissa yang bertanya dengan santainya.
"Setauku nggak ada, tapi kenapa memangnya, Kak Ica pernah liat?" Tanya Yuna hati-hati dengan suara sedikit pelan.
Clarissa mengendus, lalu mengangguk patah-patah. Semua yang melihat itu diam dengan pemikiran masing-masing, sampai akhirnya Clarissa berbicara lagi.
"Dua hari setelah Indra pulang dari Jerman, aku liat dia bareng cewek di cafe, cantik lagi. Mereka ngobrol-ngobrol santai, kayak udah akrab banget ..." Clarissa menggantungkan ucapannya, lalu melihat bergantian ketiga orang dewasa yang bersamanya di meja makan.
"... Aku bisa bedain mana partner kerja mana bukan." Lanjutnya seolah mengerti makna dari tatapan lawan bicaranya.
"Mbak nggak samperin?" Rifaldi yang bertanya.
Clarissa menggeleng, "aku takut ganggu, nanti Indra kayak kepergok selingkuh lagi," kekehnya.
Aldo menghela napasnya kasar, sebagai shipper dari Indra dan Tiwi, ia tahu sekali akar masalah kedua pasangan itu.
"Mungkin Indra nggak selingkuh, tapi cewek itu memang kekasihnya Indra dari dulu, kalian semua ingatkan Indra terima paksa perjodohan karna ambisinya untuk jadi pemimpin perusahaan, mungkin nanti bila waktunya tepat, Indra dan Tiwi akan bercerai, apalagi sekarang mereka tidak tidur seranjang." Jelas Aldo hati-hati, berbahaya bila sampai kedengaran Mommy dan Daddy.
"HAH?!" Pekik ketiga orang itu secara bersamaan.
"Jadi selama ini adegan-adegan romantis di depan kita itu rekayasa? Mereka berakting?" Tanya Clarisa.
Aldo mengangguk, "80 persen betul."
"Wah, kok begitu sih, seharusnya jangan merusak pernikahan dong, kalau nggak mau ya bilang dari dulu. Indra apalagi, itu anak udah punya istri masih aja sama ceweknya, seharusnya ia belajar mencintai, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu," geram Yuna dengan tingkah adiknya.
"Tapi bisa jadi Tiwi juga punya pacar," ujar Rifaldi yang langsung mendapat pelototan dari dua wanita di depannya.
"Nggak ada," sarkas Yuna dan Clarissa bersamaan.
Entah bagaimana Yuna dan Clarissa mengetahui tentang masalah pribadi Tiwi, mungkin mereka pernah meluangkan waktu berbincang di sore hari.
***
Begitu lift sampai di lantai tiga, Indra segera melangkah ke kamarnya, ia masuk ke dalam kamar, dan terus membopong Tiwi menuju kamar mandi.
"Loh, kok di sini?" Tiwi heran akan tindakan suaminya, seharusnya ia diletakkan di kasur untuk beristirahat.
Indra meletakkan tubuh Tiwi di dalam bak mandi dengan pelan, "kamu mandi dulu, pasti kamu juga nggak nyaman kan dengan baunya?"
Tiwi mengangguk, memang benar ia sangat tersiksa dengan bau pada tubuhnya.
"Aku ambilin pakaian ganti dulu." Indra beranjak tanpa menunggu persetujuan Tiwi.
Ia keluar dari kamar mandi menuju ruangan tempat pakaian berada, membuka lemari milik Tiwi lantas mengambil baju dan celana rumahan bergambar doraemon.
"Eh?" Ia mendadak berhenti setelah keluar dari ruangan itu.
Ia menepuk jidatnya, "duh, kelupaan **********."
Indra kembali lagi ke dalam ruangan itu mengambil dalaman Tiwi sembarang dengan perasaan yang tentu sudah tidak karuan, pasalnya ini pertama kali ia memegang dua jenis pakaian itu.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, Indra masuk mendapati Tiwi yang masih lengkap dengan pakaian yang ia gunakan, tapi ia sudah keluar dari bak mandi, berdiri tidak tegap di depan cermin.
"Ini." Indra menyimpan pakaian itu di tempat biasanya. "Nanti kalau udah selesai panggil aja, aku bakal gendong ke ranjang." Katanya lalu berlalu keluar kamar mandi.
"Ini kayaknya aku kena hukuman karena berdosa sama suami," ujarnya lirih seraya memandang pantulan dirinya dalam cermin.
"Aku akan berusaha menjadi istri yang seutuhnya, tapi tolong jangan terburu-buru ya, Ndra." Usai mengatakan hal itu, ia segera membuka pakaiannya dan melakukan ritual bersih-bersihnya.
Setengah jam ia menyelesaikan bersih-bersihnya, sudah lengkap dengan pakaian doraeman yang telah dipilihkan oleh suaminya. Ia sempat tersipu mengingat dalaman yang ia kenakan juga diambilkan oleh Indra.
"Indra," panggilnya sedikit berteriak.
Indra yang memang sudah menawari Tiwi langsung sigap masuk ke dalam kamar mandi.
"Kok lama sih, setengah jam loh," Indra tanpa permisi langsung menggendong Tiwi.
"Kaki aku sakit, aku susah jalannya, bergerak sedikit aja udah sakit tau." Kata Tiwi.
"Kenapa nggak bilang aja, aku bisa kok mandiin kamu." Goda Indra.
"Ih, nanti ambigu lagi. Kamu udah mandi kayaknya, iya?" Tebak Tiwi menelusuri wajah Indra yang sudah terlihat segar dan pakaian yang telah berganti.
"Iya udah, di kamar sebelah." Indra meletakkan Tiwi di atas kasur dengan pelan, lalu membantunya berbaring.
"Kamu istirahat aja dulu, nanti dokter datang periksain kamu, aku keluar dulu," ia menaikkan selimut sampai batas pinggang Tiwi, lalu beranjak ke luar kamar.
Padahal aku maunya kamu nemanin aku di sini. Keluhnya dalam hati tanpa bisa mencegat Indra yang sudah berlalu, lagipun ia juga sangat lelah.
***
"Keadaan menantu saya gimana, Dok?" Tanya Vina saat dokter kepercayaan keluarganya selesai memeriksa keadaan Tiwi yang sedang tertidur.
Dokter Merisa tersenyum sembari mengangguk, “tidak parah kok Bu, tapi memang lecetnya ada banyak. Soal kakinya, ada memar, untuk tiga hari ke depan jangan biarkan dia banyak bergerak.”
Indra yang berada di ruangan hanya diam menatap wajah tenang istrinya.
“Kalau ada apa-apa, langsung saja hubungi saya, saya pamit Bu Vina,” ujar Dokter Merisa.
“Mari, saya antarkan ke depan.”
Vina dan Dokter Merisa berlalu meninggalkan sepasang suami-istri itu.
Indra mendudukkan bokongnya di tepi ranjang samping Tiwi, tangannya yang terbebas bergerak sendiri merapikan anak rambut yang menutupi wajah Tiwi.
“Engg,” erang Tiwi merasakan tidurnya yang diusik. Tak urung membuat Indra beranjak.
“Kok bangun?” Tanya Indra lembut ketika Tiwi benar-benar membuka matanya.
Tiwi tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Indra yang menampilkan kekhawatiran.
Cukup lama adu pandang itu berlangsung, juga debaran dalam diri mereka yang entah mereka sadari atau tidak.
Tiwi reflek mengarahkan tangan kanannya ke dadanya, hal itupun tidak luput dari pandangan Indra.
“Kenapa? Dadanya sakit?” Tanya Indra khawatir. Tiwi menggeleng.
“Terus, apanya yang sakit?”
*Jantung gue deg-deg nggak jelas, Ndra*. Ujar Tiwi dalam hati.
“E-enggak ada kok,” jawabnya gugup mengalihkan pandangan.
“Kamu makan dulu ya?” Indra meraih nampan di nakas.
Tiwi tidak menolak, ia memang sudah merasa lapar, lantas mendudukkan dirinya.
“Makan sendiri atau mau disuapin?” Tanya Indra lagi.
Tiwi tertegun sebelum menjawab. Perlakuan Indra benar-benar hangat.
“Sendiri aja, tanganku masih berfungsi,” ujar Tiwi meraih piring lalu makan tanpa merasakan kecanggungan.
Indra melihat Tiwi begitu lahap memakan hanya tersenyum, belum beranjak sama sekali.
Niat hati ingin kasmaran seperti sepasang kekasih di taman tadi, Tiwi malah sakit. Batin Indra.
____
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe