NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:56.4k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Enam

Hari ini, untuk pertama kalinya, Hana tidak hanya merasa sakit… tapi juga mulai sadar bahwa ia mungkin sudah terlalu lama bertahan di tempat yang salah.

Pagi itu datang lagi dengan wajah yang sama. Tenang, terang, seolah tidak pernah ada luka yang tertinggal dari hari sebelumnya.

Namun bagi Hana, pagi tidak lagi sekadar awal hari. Pagi adalah pengingat. Tentang sesuatu yang perlahan bergeser dan mungkin tak akan kembali.

Ia sudah duduk di meja makan ketika Farhan keluar dari kamar. Sarapan sederhana sudah tersaji, nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat. Semuanya sama seperti kemarin. Seperti hari-hari sebelumnya. Seperti kebiasaan yang ia pertahankan mati-matian.

Farhan menarik kursi dan duduk tanpa banyak bicara.

“Pagi, Mas,” ucap Hana pelan.

“Pagi,” jawab Farhan singkat.

Hening kembali mengambil alih. Sendok beradu pelan dengan piring. Hana mencoba makan, meski sebenarnya tidak benar-benar lapar. Ia hanya ingin suasana ini terasa normal walau sedikit saja.

Tiba-tiba, ponsel Farhan yang diletakkan di meja bergetar. Nama “Mama” muncul di layar.

Farhan melirik sekilas, lalu langsung mengangkatnya. “Iya, Ma.”

Hana tidak berniat mendengarkan, tapi jarak mereka terlalu dekat untuk benar-benar mengabaikan percakapan itu.

“Farhan, nanti malam kamu sama Hana ke rumah, ya. Mama sudah siapkan makan malam,” suara Mama Meri terdengar samar, tapi cukup jelas.

Farhan diam sejenak. “Malam ini, Ma?”

“Iya. Jangan telat.”

Farhan menghela napas pelan. “Iya, Ma. Kami datang.” Telepon terputus.

Hana pura-pura fokus pada makanannya, meski jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ia sudah bisa menebak arah pertemuan itu.

Farhan meletakkan ponselnya, lalu menatap Hana. “Nanti sore kita ke rumah Mama,” ucapnya.

Hana mengangguk pelan, berusaha terlihat biasa. “Jam berapa?”

“Kamu berangkat lebih dulu saja. Biar nggak telat pas makan malam. Aku langsung dari kantor.”

Hana kembali mengangguk. “Iya.”

Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keberatan. Padahal di dalam hatinya, ada rasa enggan yang begitu besar.

Ia tahu, pergi ke rumah itu berarti siap mendengar kalimat-kalimat yang menusuk lagi. Sindiran yang tak pernah benar-benar halus. Dan pembahasan yang selalu sama… tentang dirinya.

Tentang ketidakmampuannya. Tentang posisi yang perlahan goyah.

Tapi tetap saja, ia tidak menolak. Karena sejauh ini, ia hanya tahu satu cara bertahan, diam dan tetap berjalan.

Sore terasa datang lebih cepat dari yang Hana harapkan. Ia bersiap tanpa banyak bicara. Mengenakan pakaian sederhana, merapikan rambut, lalu mengambil tasnya. Sebelum pergi, ia sempat berdiri sejenak di depan pintu.

Menarik napas. Seolah sedang menguatkan diri.

Perjalanan menuju rumah mertuanya memakan waktu hampir satu jam. Ia mengendarai motor sendiri, menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan pulang kerja.

Angin sore menyapu wajahnya, tapi tidak benar-benar menenangkan.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Tentang apa yang akan terjadi nanti. Tentang apa lagi yang harus ia dengar.

Dan tentang seberapa kuat ia masih bisa bertahan.

Langit mulai berubah jingga saat Hana akhirnya sampai. Jam menunjukkan tepat pukul enam sore.

Ia memarkir motornya di halaman, lalu melangkah masuk dengan hati yang sudah siap atau setidaknya mencoba siap.

Seperti biasa, rumah itu terlihat megah. Hangat di luar, tapi dingin di dalam.

“Hana,” suara Mama Meri terdengar dari ruang tengah.

Hana menoleh dan langsung tersenyum sopan. “Selamat sore, Ma.”

“Sore,” jawab Mama Meri datar.

Hana mendekat dan mencium tangan mertuanya. Namun, sambutan yang ia terima tidak pernah benar-benar terasa hangat.

“Kamu datang sendiri?” tanya Mama Meri.

“Iya, Ma. Mas Farhan langsung dari kantor.”

Mama Meri mengangguk pelan, lalu duduk dengan anggun di sofa. Tatapannya mengarah ke Hana, seperti biasa, tajam, menilai.

“Kamu kuat juga ya,” ucapnya tiba-tiba.

Hana sedikit bingung. “Maksud Mama?”

“Ke sini naik motor sendiri. Lumayan jauh, kan?”

Hana tersenyum tipis. “Sudah biasa, Ma.”

Mama Meri tersenyum samar. Tapi bukan senyum yang menenangkan.

“Kalau dipikir-pikir, kamu memang harus terbiasa kuat sendiri,” lanjutnya.

Ucapan itu mungkin biasa saja. Tapi cukup untuk membuat dada Hana terasa sesak. Ia tahu ini belum apa-apa.

“Ngomong-ngomong,” Mama Meri melanjutkan dengan nada santai yang justru terasa lebih menusuk, “Kamu sudah pikirkan belum soal yang kemarin?”

Hana terdiam. Ia menatap lantai sejenak, lalu kembali menatap mertuanya.

“Soal Mas Farhan menikah lagi.” Kalimat itu akhirnya terucap. Berat. Tapi nyata.

Mama Meri menyandarkan tubuhnya, menatap Hana tanpa berkedip. “Kamu tahu kan, ini bukan soal mau atau tidak. Tapi soal perlu.”

Hana menarik napas panjang. Tangannya saling menggenggam, menahan gemetar.

“Ma .…,” Suaranya pelan, tapi bergetar, “Coba Mama berada di posisi Hana sekarang.”

Mama Meri mengangkat alis, sedikit terkejut dengan keberanian itu.

“Apakah Mama rela … kalau suami Mama menikah lagi?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Beberapa detik terasa sangat lama.

Lalu, Mama Meri tersenyum tipis. Senyum yang dingin. “Jangan samakan aku denganmu.”

Hana terdiam. Tak tahu harus berkata apa.

“Aku tidak mandul,” lanjutnya tegas. “Aku sempurna.”

Kalimat itu seperti pisau. Langsung menusuk tanpa ampun.

“Dan karena itu,” sambungnya, “tidak mungkin aku mengizinkan suamiku menikah lagi.”

Hana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia ingin membalas. Ingin mengatakan sesuatu.

Tapi kata-kata seolah berhenti di ujung lidahnya. Semua terasa terlalu berat.

Dan sebelum suasana itu benar-benar meledak, suara mesin mobil terdengar dari luar. Keduanya menoleh hampir bersamaan. Hana langsung tahu, itu mobil Farhan.

Ia berdiri lebih dulu. Refleks. Kebiasaan. Atau mungkin harapan kecil yang masih tersisa.

Mama Meri juga berdiri, tapi dengan ekspresi yang berbeda. Ada antusias yang tidak biasa. Mereka berjalan menuju teras.

Mobil itu berhenti tepat di depan rumah. Pintu terbuka. Dan saat itulah dunia Hana seperti berhenti sejenak. Bukan Farhan yang pertama keluar. Melainkan Chika.

Perempuan itu turun dengan anggun dari kursi penumpang. Senyum manis menghiasi wajahnya, seolah kehadirannya di tempat itu adalah hal yang sangat wajar.

Berbeda dengan Hana yang membeku di tempat, Mama Meri justru terlihat sumringah.

“Chika!” panggilnya dengan nada penuh kehangatan.

Ia langsung berjalan cepat dan memeluk gadis itu. “Aduh, kamu datang juga akhirnya.”

Chika tersenyum manis. “Iya, Tante.”

Farhan keluar dari sisi pengemudi. Tatapannya langsung tertuju pada Hana. Dan seketika, ia bisa melihat perubahan itu.

Wajah yang tadi berusaha tegar kini terlihat jelas menyimpan luka. Ada sesuatu yang jatuh di mata Hana. Farhan merasa tidak enak.

Hana melangkah mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti. Ia berhenti tepat di depan Farhan. Menatapnya tajam.

“Mas …,” panggilnya lirih, tapi cukup jelas, “kenapa Mas bisa datang sama Chika?”

Farhan membuka mulut, hendak menjawab. Tapi tak ada kata yang keluar dari bibirnya.

“Bukankah rumah Chika jauh dari kantor?” tanya Hana selanjutnya. Pertanyaan itu sederhana. Tapi mengandung begitu banyak hal di dalamnya.

Sebelum Farhan sempat menjawab, mama langsung berucap, “Mama yang minta Farhan menjemputnya.”

Suara Mama Meri memotong dengan cepat. Semua mata langsung beralih padanya.

“Rumah Chika jauh,” lanjutnya santai. “Nanti capek kalau dia harus naik motor sendiri.”

Kalimat itu terdengar ringan. Tapi bagi Hana rasanya seperti tamparan.

Ia terdiam. Matanya perlahan melebar.

Rumahnya juga jauh. Bahkan lebih jauh. Dan ia datang sendirian dengan motor.

Tanpa ada yang bertanya apakah ia lelah. Tanpa ada yang peduli apakah ia capek.

Hana tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. Dadanya terasa sesak. Tapi kali ini bukan hanya karena sedih. Ada sesuatu yang lain. Kesadaran.

Kalau ia memang tidak pernah benar-benar dianggap.

1
ken darsihk
Kasihan sekali kalian di teepuuu oleh menantu kesayangan Cika 😂😂😂
Naufal Affiq
sampai kapan pun chika anak yang kamu kandung bukan anak nya farhan,jadi berbahagialah untuk sementara waktu
Naufal Affiq
benar hana,anak yang kamu kandung itu anak arsaka
Oma Gavin
terbongkar nya apakah setelah anak chika lahir atau hana dan farhan ketemu di RS saat periksa kandungan chika dan hana biar farhan juga tau kalau hana tidak mandul
Patrick Khan
selamat jd nenek palsu ya 😂😂😂
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Teh Yen
selamat Chika dan smoga kamu masih bisa menyimpan kebohongan mu engg tau kalau nanti Farhan ketemu Hanna saat mengandung apa yg dia pikirkan nanti yah ? 🤔
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Nurhartiningsih
tunggulah... karma pasti akan datang
Lela Angraini
selamat buat chika atas kehamilnnya,,di tunggu bom atom meledak ya
Sugiharti Rusli
kira" mereka akan bertemu di rumah sakit atau di mana yah nanti, apalagi saat amprokan baik Hana dan Chika sama" hamil tapi bukan dari benih si Farhan,,,
Sugiharti Rusli
si mama Meri terlalu pede kalo Hana lha yang mandul dan tanpa dia tahu sekarangpun sedang mengandung,,,
Sugiharti Rusli
baik si Chika maupun mama Meri menyambut bahagia kehamilan si Chika, tanpa mereka berpikir kalo tuh bayi lahir dan wajahnya malah mirip si Alex gimana tuh,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Arsaka sangat memperhatikan tumbuh kembang calon anaknya dan juga Hana, meski tidak ada deklarasi apa hubungan mereka sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
tapi percaya deh Hana kalo keputusan kamu tinggal di kediaman Arsaka meski belum jelas ke depannya, tapi itu akan berdampak ke janin dalam perut kamu,,,
Sugiharti Rusli
wah belum jelas statusnya saja Arsaka sudah mengklaim kalo masakan buatan Hana milik dirinya yah😄😄😄
Rahma Inayah
seapt rapat km nutupi bangkai pasti akan ke bau an juga bgtu pun dgn aib mu Chika suatu saat pada saat ank mu lahir mungkin GK mirip Farhan or km tp lbh ke ayah biologis nya Alex dan mkn kethaunnya PD saat ank mu sakit butuh donor darah tp TDK SM gol drahnya
Sugiharti Rusli
paling nanti tinggal dipikirkan dengan status pernikahan kamu sama si Farhan yang masih menggantung yah
Sugiharti Rusli
karena dengan kehamilan kamu sekarang yang pasti menimbulkan banyak pertanya an dan sak wasangka, tinggal jauh dari jangkauan orang" yang kamu kenal lebih baik,,,
Sugiharti Rusli
meski kamu masih bimhang dengan keputusan yang kamu buat Han, tapi itu lebih baik deh buat kamu,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!