NovelToon NovelToon
WADAL PESUGIHAN

WADAL PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Horor / Roh Supernatural / Mata Batin / Tamat
Popularitas:168.1k
Nilai: 5
Nama Author: Its Zahra CHAN Gacha

Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Pulang

Meskipun aku merasa jijik namun tak ada pilihan lain selain menghabiskannya. Hanya ini satu-satunya supaya aku bisa terbebas sebagai wadal pesugihan.

Berbeda dengan aku dan bapak, Rere justru langsung meneguk habis darah itu tanpa sedikitpun merasa jijik.

"Pinter kamu cah ayu," puji Pak Urip sambil mengusap lembut punggung Rere

Bau anyir darah menyeruak memenuhi indra penciuman ku. Berkali-kali aku bersendawa karena tak kuat dengan bau yang membuat perut ku begitu mual dan rasanya ingin muntah.

"Cepat habiskan Nang, kecuali kamu mau jadi wadal selanjutnya!" seru Pak Urip

Seketika Rere menoleh kearah ku dengan tatapan dingin dan menyeramkan. Ada yang berbeda dengannya. Aku merasa dia bukan Rere adikku.

"Buruan di habiskan, jangan sampai kita semua digebukin warga karena ketahuan membongkar makam!" seru Pak Urip membuyarkan lamunanku

Ku lihat Rere terlelap di pangkuan Bapak.

Ah ternyata semuanya hanya ilusi ku saja

Buru-buru aku habiskan darah itu dengan menutup hidungku.

Rasa lengket yang menempel di lidah dan bau amis mulai keluar dari nafasku membuatku nyaris mengeluarkannya kembali.

"Jangan di muntahkan Nang!" seru Pak Urip berusaha memperingatkan aku

Ia kemudian menggali makam tersebut dan memintaku untuk membantunya.

Ia kemudian mengambil tali pocong mayat tersebut.

"Cepat ambil, waktu kita tidak banyak!" ucapnya sambil celingukan mengecek kondisi sekitar.

Setelah berhasil mendapatkan tali pocong tersebut, kami langsung menutup kembali makam tersebut.

"Simpan tali pocong ini dan jangan sampai hilang, aku yakin suatu hari benda ini akan berguna untuk kalian!" seru Pak Urip

Setelah ritual selesai kami pun bersiap-siap pulang. Namun entah kenapa tiba-tiba ada yang aneh saat kami hendak meninggalkan area pemakaman.

Tiba-tiba saja aku melihat beberapa makhluk halus muncul di tempat itu dan mengerubungi kami seolah menahan kami untuk tidak pergi.

"Pak!"

Aku benar-benar ketakutan dan langsung menggandeng erat lengan Bapak.

Pak Urip hanya menghela nafas sambil menoleh kearah ku.

"Jangan takut, mereka tidak akan mencelakai kita!" jawabnya dengan enteng.

Ia berlalu pergi tanpa menghiraukan kehadiran makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut.

Akupun segera berlari menyusulnya tanpa menghiraukan para lelembut yang terus menatap ku .

Saat menuju tempat parkiran motor aku kira semua demit itu sudah tak mengejar kami. Aku merasa lega karena akhirnya harus meninggalkan area pemakaman yang dipenuhi lelembut itu.

Namun entah kenapa aku merasa sesak, padahal aku membawa motor sendirian. Karena Bapak memilih berboncengan dengan pak Urip begitupun dengan Rere.

Karena penasaran aku pun menoleh ke belakang.

*Deg!

Jantungku nyaris copot saat melihat ada seorang perempuan duduk dibelakang ku. Tentu saja aku reflek langsung melompat turun dari motor hingga motorku jatuh terguling ke bahu jalan.

*Bruugghh!

*Ciitt!!

Ku lihat Pak Urip langsung menghentikan motornya. Aku buru-buru berlari kearahnya.

"Ada apa Nang?"

"Ada... ada...ada hantu!" ucapku sambil menunjuk kearah motorku yang terguling

Pak Urip menoleh kearah hantu wanita yang mengikutiku.

"Gak usah norak deh, lama-lama kamu juga terbiasa melihat hantu model begituan. Sekali lagi aku tegasin sama kamu, gak usah takut sama mereka, karena mereka cuma menakut-nakuti aja. Semakin kamu takut maka mereka akan semakin menakut-nakuti mu!" jawabnya singkat

"Tapi kenapa dia ngikutin aku mulu Pak Lik?"

"Karena lo penakut!" seru Pak Urip kemudian turun dan membantuku mengangkat motorku yang terguling

"Sekali lagi aku tegaskan kalau hantu itu tidak mungkin menyakiti manusia kecuali ada yang mengendalikan, jadi jangan takut!" imbuhnya

Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya. Mulai sekarang aku juga harus mulai terbiasa dengan makhluk gaib karena suka atau tidak aku bisa melihat mereka karena mata batinku sudah terbuka.

Aku buru-buru naik kembali keatas motor dan mengacuhkan hantu wanita yang terus mengikuti ku.

Malam itu kami tidak langsung pulang, Pak Urip menyuruh kami bermalam di sana.

Pagi harinya kami memutuskan untuk kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, aku lihat Anggi ditemani suaminya sedang membersihkan rumah.

Senyumnya mengembang saat melihat kedatangan ku.

"Syukurlah kalian kembali!" serunya kemudian memelukku, Rere, dan bapak bergantian.

Ia kemudian menggendong Rere dan mengajak kami makan bersama.

Anggi menyiapkan sarapan pagi yang begitu banyak, padahal setahuku dia tidak bisa masak.

"Gak usah kaget gitu Mas, tadi ada yang bantuin masak," ucap Anggi seolah tahu apa yang aku pikirkan

Ku lihat Bapak makan begitu lahap, maklum saja kami memang belum makan dari semalam.

Aku pun segera menyendok nasi dan menambah lauk pauk. Ku lihat Rere tidak mau makan, entah kenapa dia tidak berselera makan pagi itu.

Padahal Anggi sudah membuatkan ayam tepung kesukaannya.

Ia malah memilih pergi dan duduk di ruang tamu untuk menonton televisi.

Anggi menghampirinya, ku lihat ia berusaha membujuknya untuk makan. Ia bahkan mencoba untuk menyuapinya. Tapi tetap saja ia tak mau makan.

"Coba kamu bujuk dia Nang, kan dia biasanya paling nurut sama kamu," tandas Bapak

Akupun menurut saja. Aku segera bangun dan membawa nasiku mendekati Rere.

"Kamu kenapa dek, Rere mau mas suapin?" tanyaku kemudian duduk disampingnya

Rere menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh sedikitpun.

"Kenapa, gak lapar, apa mau lauk lain?"

Kembali Rere menggelengkan kepalanya. Entah kenapa si cerewet Rere tiba-tiba jadi pendiam pagi ini. Ia bahkan sama sekali tak mau melirik makanan favoritnya.

"Mau nasi goreng, atau telor ceplok?" aku berusaha mengalihkan perhatiannya.

"Gak mau mas, aku jijik!" seru Rere kemudian ia terlihat seperti ingin memuntahkan sesuatu

"Jijik???"

Rere tiba-tiba berlari dan ku dengar ia memuntahkan sesuatu di kamar mandi. Aku pikir dia seperti itu karena ritual semalam, dia merasa jijik saat mengingat darah itu??.

Aku segera mengejar Rere menuju kamar mandi. Ku lihat ia begitu ketakutan dan langsung memelukku erat.

"Mas jangan makan makanan itu!" serunya sambil menangis

"Kenapa dek?" Aku berusaha menelisik apa yang terjadi padanya

"Itu bukan makanan tapi bangkai!" jawab Rere membuat ku terkesiap

"Bangkai??"

Rere mengangguk pelan. Ada sedikit keraguan namun aku juga penasaran dengan ucapan Rere. Biasanya anak kecil tidak pernah bohong.

"Ya sudah sekarang Rere gak usah makan ya, kamu nonton tv saja. Nanti kita makan di luar saja," ucapku

Aku mengajak Rere kembali ke ruang tamu. Iapun mulai tenang dan kembali menonton televisi.

Saat aku kembali ke meja makan, seketika netraku membulat sempurna.

Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat hingga aku berkali-kali mengusap mataku untuk meyakinkan semuanya benar.

Ternyata yang diucapkan Rere benar, semua makanan yang ada di meja itu bukan makanan tapi bangkai. Ku lihat bapak, Anggi, dan suaminya sedang memakan bangkai tikus yang dipenuhi dengan belatung.

1
Fitrianti Sutiman
gak jelas ceritanya
kimiatie
narto bodoh tahap dewa...tidak pernah mendengarkan nasihat orang lain seperti dulu anggi membawanya lari dari rumah....warak narto di sini benar² bodoh
kimiatie
makin jauh aku membaca cerita ini makin pusing 7 keliling🤦🤦
N~R
semoga berhasil
N~R
ternyata buapak e g berubah
N~R
kirain adik" dan ibu Narko masih hidup
N~R
iki piye to....jadi semuanya POV gitu?
N~R
tumbal nya koq g ada jedanya.paan sih g jelas
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja
N~R
sepanik panik nya,ga gitu juga kali.kalau punya iman kan bisa baca do'a walau dalam hati kan bisa.g mesti lidah yg mengucap
N~R
kakean pitakon narko.tinggal berangkat aja pergi malah banyakan tanya.sebel aku
N~R
kenapa juga ibu nya harus menangis,itu kan sudah keinginan dia dan suaminya.ya trima aja ga usah nangis.
N~R
waduh,mbokne misuh.piye anak e g curiga
N~R
baru baca udah bikin penasaran
Roewina
sebegitunya Thor kalau semua anaknya dh mati trus yg menikmati hartanya siapa? emang yg dipuja bpknya Narto siapa sih Thor kok ada banyak pocong🤔🤔
Wahyu Kasep: pesugihan Buto ijo
total 1 replies
Roewina
katanya orang tua cari uang buat anak kalau anknya ditumbalin trus mati smua, ntar warisannya buat spa?😂
Wahyu Kasep: gwa kira di jaman modern seperti sekarang ini
pesugihan sudah tidak ada
ternyata masih ada dan bertebaran di mana-mana
dari pedagang kecil sampai pengusaha pembisnis naik jabatan juga masih pake pesugihan
total 2 replies
Roewina
maaf Thor ngulangnya jngn kepanjangan🙏😄
☠ kiky ᶜᵒᵒᵏᶦᵉ
aish! narto kau terlalu baik sih
☠ kiky ᶜᵒᵒᵏᶦᵉ
bapa apaan ini!! bukan sebalik nya pak?! klo gk niat jadi bapa gk ush nikah dulu deh, ih menyebalkan!
☠ kiky ᶜᵒᵒᵏᶦᵉ
cih, kirain bapa nya udh berubah! nyatanya masih sama
Yuli Rali
gmn sih ini pusing bcanya udah mah d ulang²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!