Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.
Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.
Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________
📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏
enjoyyyyyy💃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Vania membuka buku tugasnya yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Ia membolak balik bagian kertas, untuk melanjutkan mengerjakan tugas. Memanfaatkan sedikit waktu sebelum Oris dan Adelia datang menjemput.
Vania mengernyitkan dahi, terperangah melihat semua tugasnya sudah dikerjakan. Padahal itu soal yang sangat sulit baginya, karena ada hitungan matematikanya.
Siapa lagi yang melakukannya? Vania menengok ke tempat tidur, terlihat Alfin yang masih terlelap malas untuk bangun.
Vania melirik jam dinding, pukul 7.35. Hari ini adalah hari minggu, ia akan tetap membiarkan Alfin untuk menikmati waktu liburnya hari ini.
“Makasih ya, Fin. Aku yakin jawaban kamu ini pasti benar semua, kayaknya kecerdasan kamu gak diragukan lagi deh,” gumam Vania bersemangat, mungkin Alfin tidak mendengarnya.
Vania membukakan gorden kamarnya sehingga sedikit cahaya matahari bisa masuk. Membuka jendela, mematikan lampu, merapikan selimut Alfin.
“Sarapan kamu udah aku siapin ya. Nanti makan siang, kamu masak sendiri atau makan di luar aja,” kata Vania. "Atau pesan online, terserah deh. Kamu kan udah gede juga, pasti pintar lah ngurus diri sendiri."
Alfin hanya mengiyakan sambil mendengkus malas. Vania mengambil ranselnya yang akan dibawa, untuk sebuah perjalanan hari ini.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi klakson mobil Oris sudah terdengar di depan kediamannya.
...❁❁❁...
Sepanjang perjalanan menuju daerah puncak bertiga terlihat sangat bersemangat. Sudah lama rasanya semenjak masuk kuliah, mereka tidak jalan bertiga seperti ini.
Hari ini mereka melakukan perjalanan untuk pengamatan sebuah desain bangunan yang menarik untuk bahan presentasi mata kuliah nanti, biasanya memang mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur pasti akan selalu berhadapan dengan tugas ini.
“Kapan ya kita bisa jalan-jalan ke luar negeri bikin tugas kayak gini? Gue pengen deh,” kata Adelia yang duduk di depan bersama Oris, sambil berkhayal.
“Iya nih, gue udah lama nggak jalan-jalan keluar negeri, seru lohh. Lo berdua belum pernah kan?" ledek Oris.
"Iye, mentang-mentang lu ya, udah sering travelling. Padahal daerah disini aja pasti belum semua lo datengin." Adelia menyahut.
Oris cengar-cengir, membenarkan ucapan Adelia.
“Iya sih, mungkin suatu saat kali yah.Pengen juga gue jalan-jalan keluar negeri, ” timpal Vania.
"Ya lo tinggal ajak suami lo, lah," sahut Oris.
"Ah, sudahlah." Vania terlihat malas membahasnya.
***
Perjalanan yang tidak terlalu memakan waktu lama itu, akhirnya sampai juga. Sepanjang memasuki daerah tersebut, mereka disuguhkan pemandangan alam puncak yang sangat memanjakan mata, juga udara yang sejuk membuat suasana hati semakin bagus.
Ketiganya mampir di sebuah pondokan yang terletak di atas bukit hijau tersebut, tampak taman yang menghiasinya sangat indah.
Mereka segera menyiapkan semua perlengkapan yang diperlukan seperti kamera dan hangernya, kertas, pen dan juga laptop.
Mereka mulai mencoba berdiskusi tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil sebelum berkeliling daerah tersebut.
“Udah siap? Kita langsung keliling yuk,” ajak Oris.
Sesekali Vania dan Adelia berpose dengan gaya yang gokil ketika Oris sibuk mengambil foto yag bagus untuk bangunan-bangunan unik yang ada disana.
“Oris! Gue suka yang ini nih.”
Vania menunjuk satu bangunan Villa yang berarsitektur tradisional dan ada campuran modern sedikit di bagian bawah bangunannya.
Mereka sangat menikmati berada di tempat yang sejuk tersebut. rasanya tidak ingin cepat balik ke rumah.
***
Sementara itu, hampir seharian Alfin menghabiskan waktu hanya di rumah. Ia merasa tidak ingin kemana-mana hari ini. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan video oleh Ningsih.
“Halo?”
Terlihat di seberang panggilan Video Randi yang sedang memegang ponsel mamanya, terlihat sangat bersemangat dengan senyum yang berseri-seri. Ia dan orang tuanya sedang jalan-jalan di sebuah taman bermain terbesar di pusat kota itu.
“Wah? Nggak ngajak-ngajak."
“Si Randi merengek, Fin. Minta dibawa ke sini,”
kata Ningsih.
“Curang nih!”
“Mas Alfin, kalo Randi nanti dapat rangking bagus, kita liburan keluar negeri ya?” kata Randi dengan wajah memelas.
“Iyaa, nanti Mas ajak jalan-jalan, asal belajarnya rajin.”
“Mas Alfin janji ya?”
“Iya.”
“Kamu di rumah aja, Fin? Vania mana?" tanya Ningsih.
“Iya, Ma. Vania lagi keluar bareng temennya buat tugas kuliah.”
“Oh gitu, ya udah salam ya, nanti ajak main ke rumah.”
“Udah dulu ya Mas, kita mau jalan-jalan lagi,” kata Randi. Ia segera menutup telponnya.
Alfin merasa rindu sekarang dengan keluarganya, sudah lama rasanya ia tidak jalan bersama mereka.
...❁❁❁...
Vania menghampiri Alfin yang sedang duduk bersantai di ruang tv, tidak ada tontonan yang menarik bagi Alfin selain menyaksikan acara berita nasional.
“Hei." Sapaan Vania mengalihkan perhatian Alfin dari layar ukuran 60 inchi tersebut.
“Baru pulang?”
“Heem.” Vania segera menghampiri dan duduk di sampingnya.
Sesuatu yang terletak di atas meja menarik perhatian Vania. Sebuah buku bergambar peta dunia, beberapa diantaranya bertempelkan stiker gambar bendera negara-negara tersebut.
“Itu apa, Fin?”
“Itu?" Alfin mengambil buku tersebut."Ini negara-negara yang pernah aku kunjungi.”
“Wah … banyak banget yang sudah kamu kunjungi?”
“Iya. Btw, kayaknya seneng banget ni habis jalan-jalan.”
Vania menghela napas.
“Bukan jalan-jalan biasa, karena ada tugas kuliah aja.”
“Seorang calon arsitek memang harus banyak jalan-jalan, biar banyak dapat inspirasi. Kalo bisa sampai keluar negeri,” jelas Alfin.
“Iya, tau. Eh, kamu seharian di rumah aja? Makan apa tadi?”
“Belum makan, aku tidur sampai kelewat siang.” Alfin nyengir.
“Astaga! Nggak biasanya,” gumam Vania. “Kenapa nggak mesan aja?”
“Males, lagi diet.” Alfin beralasan, menepuk perutnya sendiri. Vania bahkan tahu suaminya itu memiliki bentuk perut yang bagus.
“Terus sekarang nggak laper?”
“Dikit.”
“Ya udah aku masakin ya.”
“Iya, masakin apa aja deh. Lagi pengen makan masakan kamu,” goda Alfin.
“Kamu gimana sih, baru ditinggal sehari aja udah nggak bisa ngurus diri sendiri,” kata Vania sambil mulai berjalan ke dapur.
“Kan biasanya kamu yang ngurusin?”
Vania menatapnya heran.
“Aku mau keluar nanti malam, makan malam, terus ngantar tamu ke bandara. Kamu siapin bajuku ya.”
“Tamu kamu manja banget si? Pake diantar segala.”
“Ini dunia bisnis Vania, dia klien aku, klien adalah raja. Kamu mau ikut?”
“Kalo harus makan satu meja sama tamu kamu itu, membosankan lah Fin. Enggak deh.”
“Gimana kalo aku memaksa?”
“Loh kok gitu, nggak bisa lah!” ketus
Vania.
"Bisa deh."
***
Jam menunjukkan pukul 7. Malam ini Vania akhirnya ikut menemani Alfin untuk menemani tamu bisnisnya.
“Prima ikut nggak?” tanya Vania.
“Dia nggak bisa ikut, aku kasih beberapa tugas malam ini.”
“Oh gitu.”
Terlihat seseorang sudah menunggu kedatangan mereka di sebuah restoran malam ini. Pria itu menyambut hangat begitu mereka datang.
“Malam Pak Alfin,” sapanya.
“Malam, Pak Rudi. Oya kenalkan ini Vania, istri saya.”
Vania bersalaman dengan pria itu.
“Gimana liburannya selama di Jakarta?” tanya Alfin.
“Ya menyenangkan bisa meluangkan sedikit waktu bersantai, tapi saya harus kembali lagi ke Kalimantan. Sayang sekali istri saya tidak ikut, dia pasti senang jika bisa berkenalan dengan kalian.”
Vania tersenyum ke arahnya, karena selain itu, yang hanya bisa ia lakukan adalah dengan ikut duduk manis.
***
Mobil Alfin sudah melaju dari bandara setelah mengantarkan pak Rudi.
“Mau langsung pulang?” tanya Alfin.
“Udah, gitu aja?”
“Kok nanya balik?”
“Fin, gimana kalo kita jalan, nonton film gitu misalnya? Ayo, udah lama nggak ke bioskop,” ajak Vania.
Alfin terlihat memikirkan sesuatu. Vania menatapnya dengan penuh harap. Selama ini Alfin tidak pernah mau mengajaknya jalan layaknya kencan pasangan suami istri.
“Malah mikir, gimana?” desak Vania.
"Kamu mau kita kencan?" tanya Alfin.
"Ya anggap aja begitu." Vania terlihat malu-malu, ia sedikit membuang muka karena Alfin menatapnya heran.
“Nggak ah. Kita pulang aja ya?”
“Kok pulang? Tuh kan, kamu tu nggak asik banget deh.” Vania menyilangkan tangannya merasa malas.
Alfin benar-benar cowok yang tidak bisa buat di ajak bersenang-senang, pikirnya.
“Hmm. Ngambek lagi. Aku nggak suka tempat kayak gitu, berisik.”
Vania tidak mau membuka suaranya.
“Ya udah, temenin aku ke kantor sebentar ya? Ada file yang harus aku cek malam ini.”
“Ngapain ke kantor malam-malam? Kayak nggak ada kerjaan aja. Besok kan kamu masuk kantor juga.”
"Iya, tapi aku perlu mengeceknya malam ini juga. Kan sekalian lewat juga."
***
Sepanjang perjalanan menuju gedung kantor Alfin sampai naik lift hingga ke lantai atas, Vania masih bertanya-tanya. Alfin tidak memberikan penjelasan apa-apa terhadapnya.
Ia melangkah dengan malas, jalan dengan Alfin begitu membosankan baginya.
“Kita di lantai paling atas Fin?” Vania melihat dari kaca jendela ruangan gedung tersebut.
Seluruh gedung gelap dan hanya menggunakan penerangan sekedarnya karena tidak ada aktivitas di dalamnya saat malam hari.
"Katanya mau ke ruangan kamu?"
"Iya, habis ini."
"Habis ini? Maksudnya?" Vania mengernyit heran.
“Kamu mau ke bagian tertinggi dari gedung ini nggak?” ajaknya.
“Hah?!”
“Ayo sini, katanya mau kencan, kita senam jantung aja gimana?"
Vania semakin terheran dibuatnya, karena Alfin melayangkan pandangan genit. Ia segera tersentak saat Alfin menggandeng tangannya.
Meski pikirannya penuh pertanyaan, Vania akhirnya mengikut saja. Mereka memasuki sebuah ruangan dan menaiki beberapa anak tangga di sana.
Tidak memakan waktu lama untuk mereka sekarang sampai di puncak tertinggi dari bagian gedung pencakar langit tersebut.
Vania merasa cukup lelah menaiki tangga. Akan tetapi, semua rasa lelah dan bosannya seakan terbayar begitu ia sudah di atas sana.
“Hati-hati,” kata Alfin sembari terus memegang tangannya tanpa terlepas sedikitpun, ia mengajaknya ke bagian tepi bangunan tersebut yang memang sengaja diberi pagar pembatas untuk keamanan.
“Whaww ...”
Vania berdecak kagum melihat pemandangan di depannya saat ini yang menggambarkan ibukota ketika malam hari. Sementara terpaan angin di atas sini cukup terasa kencang, meniup rambut panjangnya.
Walaupun awalnya jantungnya memeng dibuat tak karuan karena pacuan adrenalin, namun perlahan ia mulai bisa menikmati suasana. Alfin juga menjaganya dengan hati-hati.
“Ini bagian tertinggi dari gedung ini,” kata Alfin. Ia menatap wajah Vania yang berseri.
“Ini keren banget, sumpah.”
Pemandangan tersebut seakan membuatnya tidak ingin mengedipkan matanya.
“Udah senang sekarang? Daripada ke bioskop kan, berisik--"
Vania mengangguk setuju.
"Gak romantis. Kalau disini kan, beda, kita hanya berdua." Alfin melanjutkan perkataannya, namun dengan nada berbisik.
Vania bergidik dibuatnya, berkali-kali Alfin menggodanya membuatnya harus kuat hati dan mental.
“Tangan kamu gemetar,” kata Alfin.
“Aku sebenarnya agak takut ketinggian.”
“Hmm. Ini sebenarnya tempat terlarang, aku melarang semua karyawan untuk ke sini, kecuali petugas yang berkepentingan.”
“Dan sekarang kamu yang melanggar sendiri aturan tersebut.”
Alfin tertawa kecil, membuatnya terlihat sangat manis.
“Aku melakukan itu untuk memastikan keamanan mereka."
"Oh gitu, kamu sering ke atas sini?" tanya Vania.
"Pernah beberapa kali. Kadang kita perlu tempat seperti ini untuk melihat betapa luasnya dunia.”
Vania tersenyum ke arahnya. Ia pikir Alfin punya cara sendiri untuk membuatnya bahagia, walaupun tidak selalu ia lakukan. Tapi hal yang dilakukannya selalu membuat Vania terkesan, meski terkadang menyebalkan.
Alfin merasa lelah berdiri, ia pun duduk. Vania mengikutinya.
“Aku sebenarnya penakut, terutama dengan masa lalu, aku suka ke tempat seperti ini karena aku bisa melihat dunia yang sesungguhnya. Luas, tidak terbatas, hanya saja kadang pikiran kita yang kadang sempit.”
"Masa lalu?"
Alfin hanya mengangguk.
“Fin.”
“Iya?”
“Setelah apa yang sudah kita lakukan, menurut kamu gimana?”
"Gimana apanya?"
"Ya, pernikahan kita yang karena perjodohan."
“Lagian sekarang kan kamu udah jadi istri aku. Kita akan tetap seperti ini, Vania. Terima kasih ya sudah menjadi teman hidupku."
“Teman?” Vania mengernyit.
“Iya … aku pikir tadinya aku akan sulit hidup berdampingan dengan kamu, tapi ternyata kamu sangat pengertian. Terima kasih ya.”
Sulit baginya mengerti laki-laki di sampingnya ini, Vania sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya terhadap Alfin, tapi yang ia tahu ia mulai ingin berharap memiliki Alfin seutuhnya.
Bukan hanya sekedar teman hidup, tapi juga bagian dari diri Alfin. Tapi sepertinya itu akan sangat sulit.
Sebuah kecupan mesra di keningnya tiba-tiba membuat Vania tersadar dari lamunannya.
Ia mendapati Alfin sedang menatapnya lekat. Namun sedetik kemudian, Alfin berlagak seperti sedang kelilipan debu.
“Kayaknya kamu capek banget, kita pulang sekarang aja ya?”
Vania mengangguk mengiyakan saja.
***
arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.
ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
mengingat masa remaja wwkwk