Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.
"Menikahlah denganku." -Liam Malik
"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
“Bersihkan tanganmu lalu ikut saya ke kamar.”
Lyra menatap punggung Liam yang menjauh setelah laki-laki itu mengatakan kalimat itu.
Saat ini Lyra sedang membersihkan rak-rak kaca tempat beberapa penghargaan milik Liam dipajang. Sedangkan Bi Mirah sudah pergi sekitar Lima belas menit yang lalu setelah selesai mencuci piring bekas makan siang Liam.
“Apa perlu saya ulangi?” Liam menoleh setelah menyadari Lyra belum juga bergerak.
Laki-laki itu memutar badannya menatap tajam Lyra yang masih berdiri di atas kursi kecil yang digunakan untuk mencapai bagian atas rak yang cukup tinggi.
“Baik Tuan,” jawab Lyra pasrah.
Di bawah tatapan tajam Liam, Lyra turun dari kursi kecil itu, membereskan alat-alat yang digunakan untuk bersih-bersih lalu mengembalikannya ke tempat semula. Dia kemudian membersihkan tangannya.
Lyra tidak tau apakah sekarang ini dia cukup bersih untuk bisa memasuki kamar Liam, tapi yang pasti sekarang dia hanya menuruti perintah majikannya itu.
Setelah selesai merapikan sedikit pakaiannya, Lyra kemudian berjalan menuju ruang tengah di mana tangga yang mengarah ke lantai dua tempat kamar Liam berada. Di ruang tengah ternyata Liam masih menunggu di sana, bersandar pada dinding dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Melihat kedatangan Lyra, Liam pun berjalan menaiki tangga dengan langkah pelan seolah menunggu Lyra di belakangnya.
Mereka berdua memasuki kamar laki-laki itu yang diterangi cahaya dari jendela besar di kamar Liam.
“Apa saya perlu menutup tirainya?” tanya Lyra setelah mereka memasuki kamar.
Liam terlihat berfikir sejenak. “Tidak perlu,” jawabnya membuat Lyra mengerutkan keningnya, bukankah laki-laki tersebut tidak bisa tidur jika cahaya di kamarnya terlalu terang?
“Apa Tuan tidak merasa terganggu dengan cahaya dari jendela besar itu?” Lyra bertanya dengan maksud agar nantinya Liam tidur dengan nyaman karna seperti yang dia tau selama berada satu malam di luar kota majikannya itu belum tidur sama sekali.
“Saya tidak terlalu terganggu dengan hal itu sekarang, justru yang mengganggu saya adalah kain lusuh yang sedang kamu pakai itu, menurutmu apakah saya bisa tidur di sampingmu saat kamu mengenakan kain itu?”
Mendengar itu, Lyra segera meneliti penampilannya. Tidak terlalu lusuh seperti yang diucapkan oleh Liam. Namun tentu saja terlihat sedikit kotor karna pakaian itu digunakan untuk bekerja, debu dan kotoran menempel di sana.
“Kalau begitu saya akan bertukar pakaian dulu,” ucap Lyra hendak balik badan, membuka pintu kamar kembali.
“Jadi kamu ingin membuat saya menunggu lagi, menunggu sampai Bi Mirah pulang?” Tanya Liam dengan nada tidak bersahabat.
Langkah Lyra terhenti, dia kembali memutar badannya menghadap ke arah Liam, laki- laki itu menatapnya jengah.
Tanpa mengatakan apa-apa Liam berjalan menuju walk in closet miliknya. Tidak lama dia keluar membawa sebuah piyama lengan panjang berwarna biru miliknya.
“Sepertinya ini cukup besar untuk menutupimu sampai lutut,” ucapnya lalu menyerahkannya kepada Lyra.
Lyra menatap piyama yang diberikan oleh Liam dengan tatapan bingung. Apa Liam bermaksud menyuruhnya memakai piyama laki-laki itu?
“Tunggu apa lagi? Apa perlu saya pakaikan?”
“T-tapi ini piyama milik Tuan,” seru Lyra terbata.
“Pakai saja, cepatlah! Saya terlalu lelah untuk meladeni kebingunganmu.”
Liam menaiki ranjang seolah mengisyaratkan bahwa dia tidak menerima bantahan lagi dari Lyra.
“Baiklah.” Setelahnya Lyra memasuki kamar mandi Liam tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Tidak lama setelahnya Lyra keluar dari kamar mandi dengan sedikit tidak nyaman. Meski Piyama ini memang terlihat besar untuk tubuhnya yang cukup mungil namun tetap saja terasa tidak nyaman, piyama itu tidak dapat menutupi kakinya yang terlihat jenjang.
Lyra mendekat ke arah ranjang di mana Liam sudah berbaring lebih dulu. Liam yang awalnya berbaring telentang menatap langit-langit kemudian memiringkan tubuhnya menatap lyra yang berdiri di dekat ranjang.
“Naiklah.”
Mendengar itu Lyra segera menyibak selimut lalu naik ke atas ranjang, kakinya sengaja dia masukkan ke dalam selimut untuk menutupi pahanya yang sedikit terekspos, piyama yang awalnya cukup panjang ternyata tertarik ke atas kala dia duduk.
Liam tidak berkomentar sama sekali tentang penampilan Lyra saat memakai piyama tersebut dan itu membuat Lyra sedikit lega.
Melihat Lyra sudah berada di tempatnya, Liam mendekatkan tubuhnya yang sudah tertutupi selimut. Lebih dekat dari yang Lyra perkirakan, lengan Liam bersentuhan dengan paha Lyra di bawah selimut, Liam tidak bereaksi apa-apa seolah hal itu tidak menganggunya sama sekali.
Liam meraih tangan kiri Lyra kemudian meletakkannya di atas wajahnya untuk menutupi area matanya. “Biarkan begini sampai saya tidur.”
Lyra tidak mengatakan apa-apa. Tangan kanannya kemudian mulai menepuk-nepuk bahu Liam seperti biasanya, berharap agar laki-laki itu segera tertidur, agar Lyra dapat segera terbebas dari ketidak nyamanan ini.