cerita tentang gadis kembar yang hidup tampa orang tua
langsung baca aja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitriishn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 20
HAPPY READING
halo semuaaaa
sebelum membaca jangan lupa like, komen dan vote yang banyakkk yahhhhh
terimakasih dan selamat membaca
🌺🌺🌺
Nadia dan Melani berbelanja sangat banyak barang mulai dari baju, tas, sepatu dan masih banyak lagi
Saat mereka melewati rak gantungan kunci Nadia terpaku pada dua gantungan kunci bulu yang bergambar seperti kucing yang sangat lucu baginya, ia mengambilnya dan tersenyum sangat manis
"bunda, Nadia boleh kan beli ini?" tanya Nadia menunjukkan dua gantungan kunci itu
"boleh dong nak, bukankah itu sangat bagus dan sangat cocok bagimu" ucap Melani
Nadia mengguk setuju, rencananya ia akan memberikannya pada andrey dan satu lagi untuknya, jika di ingat ingat setelah mereka menikah Nadia tak pernah memberikannya hadia pada Andrey, cuman Andrey lah yang sering memberinya hadiah.
Dan kali ini dia akan memberikannya pada Andrey, walaupun itu sangat sederhana tetapi bagi Nadia itu sudah luar biasa
Tampa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh dan tak lupa dengan tanda tanya besar di benaknya
"itu Nadia gak yah?"
"gak, gak itu bukan nadia lagi pula Nadia mana hamil. Gue cuman salah lihat aja" ucap orang tersebut
🌺🌺🌺
Selesai berbelanja dari mall Nadia dan juga Melani pulang ke masion keluarga Narendra. Dan mereka disambut oleh suara mungil
"unda" ucap balita itu sembari merentangkan tangannya minta di gendong, dia adalah Rara
"hai anak bunda yang cantik" ucap Melani mengedong Rara
"unda lala mau cama kakak cantik" ucap Rara berontah saat melihat Nadia yang tersenyum kepadanya
"sama bunda aja yah nak, kakak cantik gak boleh gendong Rara"
"kenapa unda lala gak belat kok" ucap Rara sedih
"gakpapa bunda sini Rara-nya kasih ke aku aja" ucap Nadia mengedong Rara yang sudah tersenyum kepadanya
"tapi nak Rara itu udah berat nanti kamu ke cape-an" ucap Melani
"ihh lala gak belat yah unda" ucap Rara tak terima dan bergerak gerak di gendongan Nadia
"jangan gerak gerak Rara nanti kakaknya keberatan" nasihat Melani
"hehehe maaf yah kakak cantik" ucap Rara sembari mencium pipi berisi Nadia
"iyah Rara kakak maafin kok" ucap Nadia
"yah udah nak ayo kita duduk" ajak Melani duduk di sofa ruang tamu
"nak disini dulu yah sama Rara bunda mau kekamar mandi sebentar" ucap melani
"iyah bund"
Setelah Melani pergi Nadia asik mendengarkan ocehan Rara yang tak jelas
"kakak cantik kenapa pelut kakak becal? Kakak makannya banyak yah?" tanya Rara membuat Nadia tertawa kecil
"gak dong Rara, di perut kakak ada dede bayi" ucap Nadia
"dede bayi? Adeknya lala dong?"
"iyah adeknya Rara ada disini" ucap Nadia mengelus perut buncitnya
"acik lala punya adek" senang rara
Nadia tersenyum menangpi perkataan Rara
Saat Rara asik dengan rambut panjangnya ia membuka layar ponselnya untuk mengabari Andrey
Andrey 💝
Online
Nadia. Andrey...
Andrey. Kenapa sayang?
Nadia. Aku lagi di rumah bunda, kamu bisa jemput aku nanti gak?
Andrey. Bisa, nanti aku jemput kamu sepulang kerja dari kantor ayah
Nadia. Okee makasih aku tunggu kamu yah
Andrey. Oke sayang (read)
Nadia kembali memasukan hanphonenya ke dalam tas miliknya dan kembali fokus ke Rara yang mengoceh tidak jelas
jam setelah enam sore Andrey dan David pulang ke rumah
''udah pulang mas, nak?'' tanya Melani saat keduanya berjalan kedapur dan melihat Melani dan Nadia yang sedang asik memasak
''udah bunda'' ucap Andrey
''yah udah kalian beberes dulu sana, biar kita makan''
''oke bund'' ucap ayah dan anak itu
selesai mandi keduanya kembali ke meja makan yang sudah banyak disediakan makanan
Rara duduk di tengah tengah Nadia dan Andrey
''ngapain kamu duduk disini?'' tanya Andrey pada Rara yang menatapnya dengan tatapan polos
''emangnya gak boleh? lagian ini kan kakaknya lala''
''itu istri Abang, kamu duduk dekat bunda sana'' husir Andrey
''gak mau Lala pengen di cuapain cama kakak cantik''
''abang juga pengen di suapi sama Kakak cantik''
''ihh gak boleh Abang udah becal''
''rara juga udah besar''
''kakak liat Abang andley'' adu Rara dengan mata berkaca kaca
pusing dengan kedua kakak beradik itu Nadia menjadi penengah diantara mereka ''udah yah gak udah berantem, kakak bakal suapi Rara kok''
''jadi aku gimana yangg? masa dianggurin'' ujar Andrey tak terima
''kamu kan udah besar, mandiri dong''
''hahaha kacian'' tawa Rara
Andrey menatap sebal pada Rara dan memakan makanannya
sedangkan kedua orang tua didepan mereka hanya geleng geleng melihat kelakuan anak anak mereka
🌺🌺🌺
pukul delapan malam Andrey dan Nadia berpamitan untuk pulang
''kalian hati hati yah di jalan, ingat yah nak jangan ngebut bawa mobilnya'' ujar Melani pada Andrey
''aman bund'' ucap Andrey menyalim tangan orang tuanya
keduanya pergi menjauhi pekarangan rumah orang tuanya
saat di tengah perjalanan tiba tiba ada beberapa motor menghadang jalan mereka
''kamu kenal sama mereka?'' tanya Nadia menatap takut orang orang yang berdiri di depan mobil
''turun'' ucap salah satu dari mereka yang badannya sangat kekar dan gemuk
kira kira jumlah mereka ada sembilan orang dan tak lupa juga mereka membawa senjata tajam ditangan masing masing
''lo tetap di dalam jangan biarkan mereka masuk'' ujar Andrey
'k-amu mau kemana? jangan keluar nanti kamu terluka'' ucap Nadia menahan tangan Andrey
''gakpapa gue janji gak bakal terluka'' ucap Andrey melepaskan tangan Nadia dari tangannya
Andrey turun dengan santai dan menghampiri mereka ''kenapa? ada urusan sama gue?'' tanyanya
''tentu, karna Lo udah berani lewatin kawasan kita, jadi Lo harus serahin semua barang berharga yang Lo punya'' ucap preman tersebut
''kenapa harus? emang jalan ini bapak Lo yang buat?'' tanya Andrey
''bacot bangat sih bocah, tinggal serahin apa susahnya sih? atau Lo mau mati?'' tanya preman yang rambutnya gondrong
''langsung serang aja lah bos, kebanyakan gayanya nih anak kecil'' ujar preman rambut ikal
''ide bagus, serangggg'' ucap preman yang gemuk yang mungkin ketua mereka
mereka sekali semua menyerang Andrey dengan pisau masing masing dan untung Andrey dengan gesit menghindar
mungkin keberuntungan sedang tak berpihak kepadanya pergelangan tangannya disayat dalam oleh salah satu preman itu
Nadia menangis melihatnya dari mobil ia seketika takut dan cemas
dengan inisiatifnya ia mengambil kunci mobil dan keluar dari sana ''BERHETIII'' teriaknya
mereka semua berhenti dan menatap kearah Nadia demikian juga dengan Andrey terkejut dan takut melihat Nadia yang keluar
''jangan hiks lukai suami saya lagi, kalian mau mobilnya kan?'' tanya Nadia dan dianggukki preman itu
Nadia berjalan dengan gemetar dan memberikan kuncinya kepadanya
''kalau dari tadi Lo ngasih gak bakal kayak gini kan'' ucapnya kesenangan mendapatkan kunci mobil itu
mereka semua pergi meninggalkan Andrey dan Nadia
Nadia berjalan menghampiri Andrey dan menangis tersendu sendu
''gak usah nangis aku gakpapa'' ucap Andrey
Nadia tak menjawab perkataan Andrey, ia membuka jaket tipis miliknya dan mengikatkannya pada pergelangan tangan Andrey yang sudah berlumuran darah
''ayo kita pulang'' ucap Nadia masih menangis
mereka berjalan dengan Nadia memapah Andrey ''aku gakpapa Nadia''
''hiks gakpapa gimana kamu udah luka kayak gitu masih bilang gakpapa''
Andrey tersenyum senang, Nadia begitu perhatian kepadanya.
lagi dan lagi musibah menimpa mereka cuaca yang tiba tiba mendung dan hujan mulai turun dengan sedikit deras
Nadia menutupi tangan Andrey yang terluka tadi menggunakan syal yang diberikan Melani tadi
''gak usah di..tutup meding kamu tutupi kepala kamu''
''gak---papa y--ang p-e-nting luka kamu gak kena air hujannya'' ucap Nadia kedinginan
disebabkan jalan yang mereka lewati adalah jalan sepi hingga membuat keduanya harus berjalan terus tak ada tempat berteduh, tak mungkin juga mereka pulang ke rumah orang tuanya sedangkan jaraknya lebih jauh di banding pulang ke apartemen mereka
hujan semakin deras disertai dengan petir yang sangat kuat hingga membuat Nadia bertambah takut
''kita berteduh disana sebentar'' ucap Andrey menunjuk sebuah pondok kecil
mereka mencepatkan jalannya untuk sampai di pondok itu
sampai disana keduanya masuk dan duduk meringkuk di dalam sana
Nadia menutup mata dan kupingnya untuk tidak mendengar suara petir, Andrey memeluk tubuh dingin Nadia ''jangan takut aku disini okey'' ucap Andrey menenangkan Nadia
''aku t--akut petir'' ujar Nadia gemetar
Andrey hanya mengangguk mengerti ketakutan istrinya ia membiarkan Nadia yang bersandar di pelukannya.
🌺🌺🌺
segitu dulu yah maaf dikit hehehe
makasih udah mau baca
ceritanya bagus... semangat ya!!!
✌️
ternyata Nadia dan Nadira nama aslinya Alana dan Alena..
ternyata juga anak keluarga Adihtama yang di culik sama intan terus di letak di panti.. adek Marvel sama Angkasa
salut juga sama teman teman Nadira, Marvel... geng geng motor..
"walau sudah memaafkan ternyata tidak dapat menghilangkan trauma yang ada," ya kata kata itu sesuai untuk Nadia..
walau karakter Angkasa singkat, udah dapet pastikan kalau Angkasa itu sosok yang hangat sama adek adeknya..
"jangan memulakan konflik yang berakhir dendam kesumat"
udah itu aja.. thanks ya👏🏻