Hati Kanaya hancur saat mengetahui bahwa suaminya berselingkuh bahkan sudah menikah siri selama lima tahun dan lebih menyakitkan lagi keluarga suaminya mengetahui dan mendukung pernihakan Riko dan Sinta. Selama ini Kanaya selalu bertahan dan menerima semua perlakuan keluarga suaminya itu. keluarga Riko tidak pernah mengaggap Kanaya sebagai bagian dari keluarga mereka hanya menganggap Kanaya sebagai pembantu di rumah itu.
Kanaya lebih sakit hati lagi pada saat mendengar pengakuan anaknya bahwa keluarga suaminya itu menyakiti anaknya bahkan Riko sendiri tidak perduli sama sekali terhadap anaknya.
Apakah Kanaya akan tetap mempertahankan pernikahannya atau memilih berpisah setelah mengetahui pengkhianatan suaminya itu serta perlakuan keluarganya terhadap putrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
“Ya aku kenal mas” ucap Sinta santai. Sinta tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya dia bisa memiliki Riko seutuhnya tidak lagi berbagi suami kepada Kanaya.
“Ini semua gara-gara kamu Sinta” ucap Jesika kesal.
Bayang-bayang dia mendapatkan uang banyak tidak jadi karena ulah dari Sinta.
“Kenapa mbak jadi menyalahkan aku sih” kesal Sinta yang seketika senyumannya sirna.
“Ya iyalah coba kalau kamu tidak mengajak kita makan bersama pasti kejadiannya tidak seperti ini” ucap Jesika tidak mau kalah.
“Cepat atau lambat Kanaya juga akan tau, jadi ya lebih baik aku saja yang kasih tau” ucap Sinta santai sekana tidak ada beban mengakan itu.
“Ya tapi tidak harus sekarang, sekarang kamu lihat kita tidak bisa mendapatkan uang warisan itu, dasar pembawa sial” ucap Jesika semakin menjadi-jadi mengalahkan Sinta.
“Apa maksud mbak berbicara seperti itu” ucap Sinta yang emosi bahkan anaknya yang berada pada Ria pun menangis mendengar perdebatan mamanya itu.
Ria membawa anak Sinta keluar rumah dan menenangkan anak Sinta itu.
“Gara-gara jemput kamu mobil Riko hilang dan sekarang kamu lihat kondisi Riko terluka seperti ini gara-gara kamu di tambah lagi kita tidak bisa memiliki uang warisan itu sekarang” ucap Jesika. Seketika Jesika tidak lagi menginginkan Sinta menjadi adik iparnya.
Bagi Jesika, Sinta adalah pembawa sial.
“Sudah cukup” ucap Jihan yang pusing mendengar perdebatan antara anak sulungnya dan menantunya mereka semuanya terdiam setelah mendengar teriakkan Jihan bahkan Ria kembali masuk ke dalam rumah ketika mendengar teriakannya mamanya itu.
“Ria berikan Dito kepada Sinta, sekarang kalian semua istirahat saja besok kita pikirkan cara untuk mendapatkan uang warisan itu” ucap Jihan mengambil keputusan.
Mereka semua menurut dan pergi ke kamar masing-masing Sinta juga akan menginap di rumah ini.
Jihan benar-benar pusing karena masalah ini. Di tambah Jesika dan Sinta yang tidak ada hentinya berdebat.
“semoga mbak bahagia, semoga kamu dapat kasih sayang Ana dan tidak sakit hati lagi melihat papa kamu yang selalu sayang dan perhatian kepada sisi” ucap Ria penuh harap.
Ria baru tau kalau abangnya itu tidak pernah sayang dengan anaknya. Dia pikir abangnya itu sangat menyayangi anaknya.
“Ria masuk pergi ke kamar kamu, ngapain kamu berdiri disitu” ucap Jihan yang membuat Ria kaget.
Ria menurut dan langsung menuju kamarnya.
. . .
Di dalam mobil perjalanan pulang Kanaya hanya terdiam sembari melihat ke arah anaknya yang terlelap dan mengalihkan pandanganya menatap ke arah jalanan.
Masih terasa sakit saat mengingat semua yang telah dilakukan keluarga Riko terhadapnya dan juga anaknya Ana.
"kakak tidak akan berubah pikiran kan tentang keinginan kakak ini?" tanya Rehan yang menyetir mobil.
Kanaya melihat ke arah depan lalu tersenyum seadanya ke arah adiknya itu entah Rehan melihatnya atau tidak
Kanaya kembali lagi mengalihkan pandanganya ke arah jalanan sembari menyenderkan kepalanya.
"Kakak tidak akan berubah pikiran tentang ke keinginan kakak ini, Rehan kamu tolong kakak ya untuk mendapatkan hak asuh Ana" ucap Kanaya kepada adiknya itu.
"Kenapa tadi kamu tidak meminta di talak saja sama suami kamu?" tanya Anisa yang duduk di depan bersama Rehan.
"Anisa" tegur Arumi.
"percuma kak, pasti mas Riko tidak mau" ucap Kanaya tau pasti.
Ana mengangguk paham dan memilih diam
"Kakak tenang saja, aku pasti akan bantu kakak, jika perlu aku akan bantu kakak untuk mendapatkan harta Gono gini" ucap Rehan kepada kakaknya itu.
Kanaya baru teringat, mobil yang selama ini di pakai oleh suaminya itu, sebagian uangnya adalah uang Kanaya.
Tapi apa mungkin keluarga Riko akan memberikan mobil itu secara cuma-cuma.
"Nak apa menurut kamu ada yang di anggap harta Gono gini mu dengan Riko?" tanya Arumi kepada anaknya.
Kanaya menoleh ke arah mamanya itu.
"Aku tidak tau itu masih di anggap harta gono gini atau bukan. Tapi ada satu mobil yang dulu di beli pakai uang kakak tapi yang hanya setengah saja sih tidak total" ucap Kanaya sembari mengalihkan tatapannya ke arah Rehan.
Rehan yang mendengar kan ucapan kakaknya dan mengatakan "jika itu ada uang kakak walaupun hasil dari pernikahan kalian, itu masih hak kakak" jawab Rehan dengan santai.
"oh ya kak mobil itu di beli atas nama siapa?" tanya Rehan kepada kakaknya itu.
"Atas nama kakak" ucap Kanaya.
"Tapi kakak baru ingat tadi waktu kita ke rumah mertua kakak mobil itu tidak ada" ucap Kanaya yang baru teringat bahwa mobil itu tidak ada di rumah mertuanya itu.
"Apa mungkin wajah Riko bonyok itu karena di begal ya dan itu artinya mobil itu hilang dong" ucap Anisa yang sedari tadi diam.
"bisa jadi sih kak, tapi aku tidak ambil pusing soal itu yang terpenting hak asuh Ana harus jatuh ke tangan kak" ucap Kanaya pasrah jika mobil itu tidak bisa dia dapatkan.
"Kalau gitu kita pastikan dulu mobil itu masih ada atau tidak" ucap Anisa.
"Kalau masih kamu usahakan untuk kakak kamu mendapatkan haknya itu, enak saja mereka yang memakai" ucap Arumi tidak rela walaupun bagai manapun ada yang anaknya.
"Iya ma, pasti" ucap Rehan kepada mamanya.
Beberapa saat kemudian setelah percakapan itu mereka terdiam tidak ada yang berbicara sedikit pun. Ana yang merasa situasinya aman. Akhirnya berpura-pura menggeliat dan membuka matanya.
"Kita dimana sekarang?" tanya ana kepada keluarganya itu.
"kamu sudah bangun sayang" ucap eyang Ana.
"Kita dalam perjalanan menuju rumah eyang sayang" ucap Anisa kepada keponakannya itu.
"wajah mama kenapa merah, om Rehan juga" ucap Ana yang berpura-pura menanyakan penyebab muka mamanya merah dan juga melihat adanya memar di jidatnya omnya itu.
Mereka bingung harus menjawab apa.
"Aku yakin ini pasti ulah papa kan" ucap Ana lagi yang melihat kebingungan di wajah keluarga mamanya itu.
"Kita tidak usah bahas ini ya sayang" ucap Kanaya kepada anaknya itu.
"maafin Ana ya" ucap Ana yang tiba-tiba saja meminta maaf.
Ana tidak bisa berbohong kepada mamanya itu. akhirnya Ana memberitahukan semuanya kepada keluarganya itu bahwa dia sudah mendengar dan melihat semua yang terjadi.
Air mata Kanaya dan Ana tumpah merek tidak bisa membendung air mata mereka. Arumi yang duduk di sebelah cucunya itu juga ikut menangis.
"Kalian sabar ya" ucap Anisa berusaha tegar, air mata Anisa juga hampir jatuh namun dengan cepat dia mengusapnya.
"Kenapa papa sejahat itu sama kita ma" ucap Ana setelah Kanaya melerai pelukannya dari Ana.
"Eyang tau ini berat buat kalian, namun kalian harus kuat ada kami yang selalu bersama kalian" ucap Arumi sedih.
"Makasih ya ma, kakak Anisa, Rehan kalian sudah mau mendukung kita" ucap Kanaya bersyukur ada keluarga yang selalu ada di sampingnya dan selalu mensupport dirinya. Dan tentunya anaknya yang selalu membuat dia bersemangat menjalani hidup.
Mereka hanya diam larut dalam pikiran merek masing-masing tidak ada lagi yang bicara sampai di rumah Arumi.
Arumi menyuruh semuanya untuk istirahat.