"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 20
"Selamat datang kembali ke kehidupan realita," batinku setelah masuk ke dalam taksi online. Hotel mewah itu setidaknya cukup menenangkan pikiranku dua hari ini, meski lelahnya badan dan pikiran masih terasa.
Namun, kedekatanku dengan Sagara yang cukup intens akhir-akhir ini membuatku sedikit lebih baik.
"Ke kos daerah Cendana ya, Pak!"
"Baik, Mbak."
Setelah satu jam menembus kemacetan, akhirnya aku sampai di kos-an Siska, sahabatku yang juga bekerja di Wijaya grup.
"Temannya Mbak Siska, ya?" sapa seorang wanita paruh baya begitu aku menyeret koper celingukan di depan bagunan ber-cat abu dan biru itu.
"Iya, Bu. Saya temannya Siska."
"Saya Arin, pemilik kos disini. Tadi Mbak Siska sudah pesankan kamar untuk mbak, siapa namanya?"
"Hanin, Bu Arin."
"Oh, iya Hanin. Ayo masuk!" ajaknya kemudian menuju lorong yang tertutup gerbang minimalis.
Melewati depan kamar demi kamar, sampailah aku di depan pintu yang paling pojok. "Yang ini, udah dipesan Mbak Siska buat, Mbak. Katanya biar bisa bersebelahan!" tukas Bu kos sambil mengeluarkan kunci dari sakunya.
"Ada bed ukuran tunggal, loker lumayan besar, ada mini dapur dan kamar mandi dalam," jelas Ibu kos membuatku mengangguk spontan.
"Berapa per-bulannya, Bu?"
"Ahhh, nanti aja, Mbak Hanin. Ini sudah dibayar kok, dua bulan kedepan sama Siska. Masalahnya anak itu hari ini masuk kerja, dia pesan suruh jemput Mbak di depan."
"Makasih banyak ya, Bu!"
Rasanya mataku seperti tiba-tiba terasa panas, banyak sekali orang baik yang kutemui disaat kondisiku seperti ini.
Pengkhianatan Mas Harsa dan Mbak Nau hampir membuatku gila, terlebih sikap ibu yang terkesan tak adil sejak Mbak Nau pindah ke rumah.
Ah bukan, mungkin lebih tepatnya sejak tau aku bekerja dengan Mas Firman.
Masuk ke ruangan minimalis yang akan menjadi tempat singgahku beberapa waktu ke depan. Aku memilih duduk membongkar koper dan menata sebagian baju dan barang-barangku. Meraih dua pouch yang berisi perlengkapan make-up, juga perlengkapan mandi.
***
Tok tok tok...
"Ninnnnn, are you oke?" ketukan pintu yang bar-bar mengagetkanku. Diri ini rupanya ketiduran sampai tak sadar, sudah jam lima lebih itu artinya Siska sudah pulang kerja.
Klek...
"Ah, Hanin. Ya Allah, Haninku," heboh Siska langsung memelukku excited.
"I'm not oke, Siskae..." lirihku.
"No, big no. Siska doang gak pake E." Lalu Siska mengangkat tinggi bungkusan plastik transparan.
"Aku udah bawa makan malam buat kita!"
"Astaga, Sis. Udah ya, jangan apa-apa terus kamu. Sumpah, aku belum kerja loh buat balas budi kebaikan kamu."
"Apaan sih, Nin. Kayak yang sama siapa aja!"
"Bestie aku nih!" seruku mencubit pipinya yang hampir mirip bakpau.
"Ini biar disini aja, ya? Aku mau mandi. Betewe habis makan malam, wajib cerita banyak-banyak ke aku!"
"Cerita apa?" aku pura-pura lupa, padahal dulu janji mau menceritakan sosok Mas Harsa yang kucinta. Tapi sekarang, giliran udah bubar malah ditagih.
"Mas Harsa yang katamu ganteng itu!" seru Siska antusias. Aku mendelik, ganteng? Mendadak aku lupa pernah memujikannya seperti itu. Dan sekarang definisi gantengnya Mas Harsa bagiku adalah gangguan telinga.
"Mandi dulu sana, ih!" usirku. Siska tertawa, "sesama yang belum mandi gak boleh gitu, Nin."
Usai makan malam, Siska benar-benar menagih cerita dariku. Sampai-sampai aku bingung harus mulai darimana, semua rumit.
"Aku sudah nggak lagi sama Mas Harsa itu," pengakuanku pertama kali berhasil membuat Siska membelalakkan mata.
"Kenapa? Padahal ganteng, punya mobil dan vibesnya kaya CEO."
"Ganteng doang, tapi kelakuan mirip buaya."
"Kasian buaya dibawa-bawa," keluh Siska.
"Jadi, alasan kenapa aku sampai hubungi kamu dan balik lagi kesini karena Mas Harsa menikah sama Mbak Nau. Inget kan, Kakak perempuanku beda ibu yang pernah aku ceritain. Yang aku harus terpaksa pulang karena dia kadang depresi?"
"Inget, yang pas dia nikah kamu nggak dateng karena baru beberapa bulan kerja di Wijaya itu kan?"
"Ah Siska," seruku heboh mencubit gemas pipinya.
"Terus? Jangan bilang kamu patah hati, mabuk, terlibat one night stand lalu kabur?"
"Gak jadi bestie-an!" sungutku kesal.
"Aku kabur tepat di hari pernikahan mereka. Selain karena Ibu yang memintaku menyingkir, aku capek!"
Tiba-tiba Siska memelukku, dan mengusap punggungku, "pasti berat jadi kamu."