Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Lagi-lagi penyesalan menyelinap ke dalam diri Surya, seolah menempel di pembuluh darahnya dan membelit jantungnya, meremasnya dengan menyakitkan. Kejadian tadi malam begitu melekat di benak Surya sepanjang hari, terlebih tatapan kemarahan Bening yang berikan padanya, sewaktu ia meninggalkan wanita itu.
Surya tidak bisa menyalahkan Bening jika wanita itu sangat membenci dirinya, sebab ia telah memperlakukan Bening seperti seorang pelac*r. Surya sudah mencoba untuk bersikap lembut pada Bening, tapi ia tak mampu jika wanita itu menatapnya ketika ia berada di puncak kenikmatan, ia begitu malu memperlihatkan wajahnya.
Andai Bening tahu, betapa Surya mengingkan menjadi pria yang diidam-idamkan oleh istrinya, menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Pernikahan mendadak ini, membuatnya tidak punya waktu yang cukup untuk belajar untuk semua itu.
Dalam lamunannya yang berkecambuk di benaknya, Surya mendengar suara keributan di luar. Sekilas, ia melihat ke arah jam di dinding. Jam tiga kurang lima belas menit, sudah terlambat untuk makan siang, ia terlalu larut terjerat di meja kerjanya.
Surya keluar dari ruang kerja dan menyusuri koridor. Mendekati sumber keributan yang mengganggu pekerjaannya. Ketika semakin dekat dengan sumber keributan, ia mendengar suara kaca pecah, dan suara terkejut Toto.
Saat memasuki ruangan, Surya menemukan anak anjing Spaniel berlari-lari dengan dua tangkai mawar yang terkoyak di mulutnya. Kelihatannya anjing itu menjatuhkan vas bunga ke lantai, dan terlihat Toto hampir pingsan karena ulah anak anjing itu.
"Jangan!" pekik Bening ketika anjing kecil itu kembali naik ke meja.
Surya berusaha mengendalikan denyut jantungnya yang berpacu kencang, melihat kekacauan ini.
"Tuan Magenta, maafkan aku!"
Pandangan Surya langsung beralih ke Diki yang juga berada di sana. "Diki, apa kau yang memberikan anak anjing itu kepada Nyonya Magenta?"
"Tidak!" sahut Bening riang. "Diki sudah melarangku, tapi aku tetap membawanya." Bening mengangkat anak anjing itu, dan si anak anjing menjilati wajahnya. "Aku tak tega melihatmu sendirian di kandang, sementara anjing yang lainnya berlatih di luar," ucap Bening dengan lembut kepada anak anjing itu.
Anak anjing itu melepaskan diri dari tangan Bening, berguling di lantai. Kemudian berlari ke arah Surya, mengendus-endus kaki Surya sembari menggerak-gerakan ekornya dengan lincah.
"Sendirian di kandang?" ulang Surya ketika anak anjing itu mencoba meraih pinggiran celana Surya dan menariknya.
"Anak anjing ini masih terlalu kecil untuk ikut latihan dan berburu hewan liar yang mengganggu perkebunan. Dia juga takut dengan suara senapan, sehingga aku masih mengurungnya di kandang," terang Diki.
"Itu tidak akan lagi, Pak Diki," sahut Bening tegas. "Mulai hari ini aku akan memeliharanya." Bening melepas syal di lehernya, kemudian ia berderap maju menghampiri anak anjing. Ia menunduk untuk mengikatkan syal miliknya ke leher si anak anjing sebagai tanda kepemilikan. "Kita berdosa jika mengabaikan makhluk ciptaan Tuhan hanya karena dia masih kecil."
"Nyonya Magenta..."
"Kau bilang, aku boleh melakukan apa pun di rumah ini untuk mengisi waktu luangku," ucap Bening. "Nah, sekarang aku sudah menemukan sesuatu untuk mengisi waktu luangku. Sekarang aku ingin pergi mencari rumah baru untuknya." Bening tersenyum manis pada suaminya. Senyum indah yang di penuhi dengan kebahagian dan kecantikan di wajahnya.
Bening tertawa riang ketika anak anjingnya mengikutinya kebelakang rumah, ia sama sekali tak berniat membuat Surya semakin terlihat tak bersahabat, tapi ia sudah terlanjur jatuh hati pada anak anjing kecil itu.
Surya mengalihkan pandangnya ke arah Diki. "Biarkan dia memeliharanya," ujarnya. "Siapkan saja tali untuk anak anjing itu."
"Baik Tuan." Dengan segera Diki pergi meninggalkan kediaman Surya.
Perkataan Surya membuat Toto tercengang di tengah ruang tamu, tatapan matanya membelalak.
"Aku hanya mengizinkannya untuk sementara," ucap Surya menenangkan. "Sampai Nyonya Magenta nyaman tinggal di sini."
"Baik Tuan," ucap Toto, ia kembali tersentak ketika mendengar gonggongan anak anjing itu.
Surya berbalik menuju ruang kejanya, ia menghalau pikirannya akan anak anjing kecil yang berlarian di rumahnya tanpa tali. Dan tak lama kemudian ia mendengar suara permainan piano Bening yang kacau di padukan oleh gonggongan anak anjing sungguh membuat Surya benar-benar terganggu dan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
Surya menduga anak anjing itu akan berlari ke sana kemari ketika ia turun untuk makan malam, namun untungnya tidak. Ia tidak melihat anak anjing itu di mana pun, hanya ada istrinya berdiri di dekat jendela sembari tersenyum bahagia, hal itu membuat batin Surya di penuhi rasa kemenangan, akhirnya ia bisa membuat istrinya tersenyum.
Di ruang makan memang tidak ada tanda-tanda kehadiran anak anjing, tapi ada yang berubah di dalam ruang makan ini. Indra penglihatan Surya di siksa oleh warna-warni bunga yang berada di vas kecil di atas meja makan. 'Tidak cukupkah ruang tamu saja yang terlihat seperti sirkus warna-warni?' batin Surya kesal.
"Ku harap kau tidak keberatan," ucap Bening. "Ditaman banyak bunga bermekaran, sayang jika di lewatkan begitu saja. Kau tidak keberatan kan?"
Surya menarik napas berat. "Tidak," jawabnya kaku. "Dimana anjingmu?"
"Oh! Diki sudah memberinya sebuah kandang kecil. Aku meletakannya di dapur, di sana ada semangkuk susu dan sepotong daging yang bisa membuatnya kenyang."
Tak lama kemudian Toto masuk untuk menyajikan makan malam, ketika ia menaruh sup di hadapan Bening, wanita itu berkata. "Tadi Toto bilang, kalau besok kau mau keliling perkebunan dan bertemu dengan para pegawaimu. Apa aku boleh ikut?" Bening kembali melemparkan senyum manisnya yang membuat jantung Surya berdegup kencang.
"Ini bukan jalan-jalan wisata, aku ingin menyelesaikan masalah perkebunan dan aku akan naik kuda agar...."
"Bagus," Bening menyela. "Aku penunggang kuda yang cukup handal, aku janji tidak akan merepotkanmu. Aku bisa mengobrol dengan pekerjamu yang lainnya saat kau menyelesaikan masalahmu."
Surya menyangga wajahnya tanpa ekspresi, namun ia mencengkram lengan kursi dengan kencang. "Lalu bagaimana dengan anak anjingmu?"
"Dia juga akan ikut, pasti akan sangat menyenangkan jika kita pergi bertiga."
"Tidak!"
"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk menjaganya. Jadi jam berapa kita akan pergi?" Bening tersenyum penuh kemenangan karena Surya membolehkannya ikut bersamanya.
Surya benar-benar tak bisa menolak permintaan Bening. "Jam sembilan pagi," sahutnya. "Jangan terlambat, karena aku tidak bisa menunggu."
Bening bersorak riang, ia mencondongkan tubuhnya, kemudian ia memberikan Surya pelukan hangat dan kecupan ringan di pipinya. "Terima kasih banyak suamiku."
Surya hanya terdiam tanpa ekspresi, meski batinnya tersengat oleh kecupan manis istrinya.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka