Pernikahan yang terjadi karena kesepakatan membuat hubungan itu harus di rahasiakan.
Namun seiring berjalannya waktu kabar pernikahan itu akhirnya pun banyak yang mengetahui.
Hidup bersama tanpa cinta hanya akan menyakiti hati satu sama lainnya.
Bagaimanakah kelanjutan rumah tangga mereka?
Akankah cinta bisa tumbuh diantara keduanya?
Atau malah harus berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfin Maghfiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Seperti biasa jam 7 malam Wulan menyiapkan makan malam dan menyajikannya di meja makan. Belum juga ia panggil Abi sudah berjalan turun dari lantai atas menuju ruang makan.
Begitu Abi menarik kursi untuk duduk bel rumah tiba-tiba berbunyi, segera Wulan pergi untuk membuka pintu.
"Iya tunggu sebentar" sahut Wulan sembari membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka dua wanita langsung menerobos masuk tanpa sepatah kata.
"Maaf kalian siapa?" Tanya Wulan
Dua wanita tadi hanya diam menatap Wulan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Mata mereka begitu sinis dan terlihat sangat tidak ramah.
Mereka tidak menghiraukan Wulan dan terus berjalan masuk dan hendak menaiki tangga menuju lantai atas.
Wulan langsung mengejar dan menghadang mereka "Maaf, nona dan nyonya. Kalian berdua siapa, kenapa tiba-tiba main masuk rumah orang begini?"
"Dih apaan sih, minggir!" Ucap wanita muda itu dan terus berjalan sambil menarik kopernya
"Maaf nona, saya tidak akan minggir sebelum kalian beri tahu dulu kalian ini siapa dan ada keperluan apa kemari" jawab Wulan
"Heh lo siapa berani ngalangin jalan kita. Lo ga tau siapa yang lo halangi saat ini, ha!!" Bentak wanita yang lebih tua itu "Mana Abi, Abi.... Abi...."
Wanita itu mendorong Wulan dan mulai berteriak memanggil Abi dengan keras, Abi yang mendengar kebisingan itu seketika menjadi tidak nafsu makan. Dengan kesal Abi menghampiri asal suara yang memanggilnya.
Langkah Abi terhenti tatkala matanya melihat dua orang wanita yang sudah lama tidak ia temui kini berada di depan matanya.
Dua wanita itu langsung mendekat dan memeluk Abi namun Abi langsung mundur dan melepas pelukan mereka.
"Kalian, sedang apa di sini" tanya Abi
Tante Sinta mengelus lengan Abi dan bersikap manis
"Kok ada apa sih, kita kesini karna kita kangen sama kamu, terutama Dara. Waktu kepergian Olivia tante sama Dara lagi ada di LA, jadi kami kesini sekarang untuk menemani dan menghibur mu dari kesepian"
Dara senyum-senyum sok cantik dan bertingkah centil mencoba menarik perhatian Abi. Wulan yang masih berdiri di tangga melihatnya menjadi geli.
"Dih centil amat. Biar apa coba" gerutu Wulan dalam hatinya
"Koper, apa itu koper kalian?" Tanya Abi karena ia melihat sebuah koper besar di samping tangga
"Iya itu milik kita. Karena sudah lama kita tidak bertemu jadi tante berniat untuk menginap di sini bersama Dara"
"Oh jadi itu tantenya tuan Abi toh" mengetahui mereka adalah keluarganya Abi, Wulan memilih pergi ke atas untuk melihat si kecil.
Tante Sinta dan Dara adalah saudara dari papa Abi. Sejujurnya Abi tidak menyukai tante Sinta karena selain dia cerewet dia juga sangat perhitungan terhadap apapun. Dan yang paling membuat Abi kesal karena tante Sinta selalu menjodoh jodohkan dirinya dengan Dara.
"Eh gadis tadi siapa, Abi?" Tanya Dara
Wulan mendengar pertanyaan dari Dara, ia sengaja memelankan langkahnya karena ingin mendengar apa jawaban yang keluar dari mulut Abi.
"Dia pelayan di rumah ini" jawab Abi
Deg, jawaban Abi seketika membuat hati Wulan terasa sakit bak di tikam belati tajam. Entah kenapa Wulan merasa sakit hati padahal ia sudah tau sejak awal Abi menikahinya hanya untuk menjadikannya pelayan.
"Oh hanya pelayan tapi berlagak seperti pemilik rumah, cih..." Cela Dara
"Kenapa aku merasa sakit, bukan kah yang di katakan tuan Abi itu benar? Aku hanyalah pelayan di rumah ini, tidak lebih. Apapun status kami, di rumah ini aku tetap hanyalah seorang pelayan" batin Wulan
"Hei pelayan, kemari" panggil Tante Sinta
Wulan urung masuk ke kamar si kecil dan kembali turun ke lantai bawah. Entah kenapa Wulan di merasa sedih dan kecewa melihat Abi setelah mendengar jawabannya tadi.
"Heh bawakan koper itu ke kamar, sekarang!" Titah tante Sinta
Dengan susah payah Wulan membawa koper besar dan berat itu menuju kamar tamu, namun saat Wulan hendak membuka kamar tante Sinta kembali memanggilnya. "Hei, mau kau bawa kemana koper ku. Kamar tamu? No! Aku di sini bukan tamu"
"Bukan tamu, lalu siapa? Pemilik rumah, bukan kan?" Jawab Wulan
"Eh pelayan ini ya, berani kamu sama mama. Ambil kopernya dan bawa ke lantai atas. Aku ingin tinggal di kamar yang ada di dekat kamar Abi" kaya Dara
Wulan melihat ke atas dan kamar yang di maksud Dara adalah kamar yang saat ini menjadi kamar si kecil. "Tapi maaf, kamar itu sudah ada yang menempati"
"Ih apaan sih. Itu kan kamar Oliv dan aku udah biasa menginap di kamar Oliv. Cepat bawa ke sana!"
Dara ingin tinggal di kamar yang dekat dengan kamar Abi, apa lagi sekarang pemilik kamar itu sudah tidak ada jadi Dara merasa kamar itu sekarang sudah menjadi miliknya.
"Tapi kamar itu____"
Tante Sinta merasa geram karena Wulan tidak melakukan perintah putrinya, ia melangkah mendekati Wulan lalu mencubit lengan Wulan.
"Aduh pelayan ini, bisa ga sih kalo di perintah itu langsung di kerjakan. Ga usah banyak cingcong jadi pelayan"
"Pelayan kok ngatur, sana bawa koper ku!" Bentak Dara
"Kamu ga bisa lagi menginap di kamar itu" ucap Abi
Tante Sinta dan Dara langsung menoleh bersamaan "Kenapa Bi, bukannya Dara memang udah biasa di kamar Oliv?" tanya tante Sinta
"Kamar itu sudah ada yang menempatinya"
Wulan membuka pintu kamar tamu dan meletakkan kopernya di sana. "Kopernya sudah saya taruh di sini" kata Wulan lalu pergi ke kamar si kecil.
"Hm seperti nya aku mencium bau enak" seru tante Sinta setelah hidungnya berhasil mengendus bau dari makanan yang ada di meja makan
"Wah kebetulan, tante sama Dara jiga belum makan malam. Gimana kalo kita makan bareng aja yuk, kamu belum makan juga kan, Bi?"
Siapa yang punya rumah siapa juga yang ngajak makan, ya memang begitulah tante Sinta. Sejak dulu dia selalu merasa kalau dirinya juga punya hak atas Abi dan rumah ini.
BERSAMBUNG
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Kak author selalu di nanti UP karyanya 👍