NovelToon NovelToon
Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Single Mom / Menikah Karena Anak / Romantis / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 4.7
Nama Author: Egha sari

Undangan sudah disebar, gaun pengantin sudah terpajang dalam kamar, persiapan hampir rampung. Tapi, pernikahan yang sudah didepan mata, lenyap seketika.
Sebuah fitnah, yang membuat hidup Maya jatuh, kedalam jurang yang dalam. Anak dalam kandungan tidak diakui dan dia campakkan begitu saja. Bahkan, kursi pengantin yang menjadi miliknya, diganti oleh orang lain.
Bagaimana, Maya menjalani hidup? Apalagi, hadirnya malaikat kecil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egha sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Kembali

Sepanjang jalan, Maya hanya membisu. Duduk bersandar dengan mata terpejam. Keputusan tiba-tiba yang ia harus ambil sore tadi, membuatnya berada dalam mobil bersama Ansel.

Pria yang duduk dibalik kemudi, berjanji akan membantunya menjalankan usaha baru dikota. Tempat, yang mana ia sudah berpamitan untuk pergi jauh. Namun, pada akhirnya ia kembali lagi.

Sebelum pergi, beberapa karyawan yang dipekerjakan Ansel sudah tiba. Maya sempat memberikan banyak instruksi. Mengenai bahan makanan, ia sudah meminta nelayan untuk menjadi suplier. Bahan lainnya, akan dibawa dari kota.

Ansel juga turut memberikan informasi, mengenai kerjasama catering untuk para pekerja. Sarapan dan makan siang. Karena, pekerja akan pulang saat sore menjelang.

"Jika seseorang bertanya, katakan kedai ini milikku sebagai sampingan," pesan Ansel kepada pelayan yang bertugas sebagai penanggung jawab. "Jangan katakan apapun tentang Maya, mengerti. Jika ada yang menanyakannya, cukup katakan, istriku sedang hamil dan tidak bisa bekerja."

"Hah?"

"Sudah, jangan banyak banyak tanya. Kerjakan sesuai yang aku katakan."

"Baik, Tuan."

Ansel juga memperingatkan pelayan lainnya, agar tidak membicarakan tentang Maya. Ia juga berpesan, selama bekerja untuk tidak membicarakan mereka berdua. Bagi Ansel, telinga dan mata, bukan hanya satu tapi banyak. Begitu juga mulut dan lidah.

Maya hanya membawa pakaian, buku dan tak lupa susu dan vitaminnya. Ia masih memiliki banyak simpanan, untuk modal memulai usaha. Seperti yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Usaha yang di mulai dari hal kecil. Ia akan membuka warung makan, mungkin untuk kalangan menengah kebawah.

Warung makan, seperti usaha kedai miliknya. Kecil, namun masih memberikan keuntungan, meski tidak banyak. Tapi, paling tidak, ia kembali modal dan uangnya dapat berputar.

Usia kehamilannya sudah memasuki dua bulan. Ia harus memiliki pemasukan dari usahanya, sebelum melahirkan. Akan banyak pengeluaran, dan dia pasti butuh istirahat untuk memulihkan diri.

Buku catatannya, hampir penuh. Semua diisi dengan pengeluaran nantinya. Mulai pakaian bayi, peralatan mandi hingga biaya persalinan. Ia juga mencatat, tentang dana darurat untuk pemeriksaan kesehatan.

"May, ayo. Sebelum, terlalu gelap," ajak Ansel, yang sudah membuka pintu mobil.

Maya mengangguk, tersenyum pada karyawan barunya, sebagai tanda berpamitan. Ia melambaikan tangan, sampai akhirnya keluar dari gerbang.

"Jangan khawatir. Mereka sudah pernah bekerja di restoran besar, sebelumnya. Awal bulan, aku akan mengantar mu untuk datang, sekalian memberikan mereka gaji."

"Terima kasih, El. Aku sudah banyak merepotkan mu."

"Kita teman, May. Aku hanya ingin kau bangkit dan jangan menoleh ke belakang lagi."

Kendaraan, sudah menjauh dari kawasan pantai. Kini mereka, melintasi jalanan yang tampak sepi dan gelap, hanya beberapa kendaraan yang melintas. Ansel memutar musik, agar tidak terlalu hening. Padahal, mereka berdua dalam mobil.

Kenapa kau harus bersembunyi, May? Kau tidak bersalah, kenapa kau yang harus lari?

Aku memang tidak bersalah, tapi aku tidak mampu menghadapinya. Bertemu dengannya, akan membuatku goyah dan kembali menangis seperti dulu.

Seperti kata Ansel, aku sudah terlanjur menghilang, maka biarlah tetap seperti itu. Biar kami saling melupakan dan menganggap mati satu sama lain.

"Kau lapar?" Ansel memecah suasana, saat Maya terbangun.

"Tidak. Aku hanya lelah."

"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu kalau sampai."

"Disana, aku akan tinggal dimana?"

"Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuk sementara. Kau hanya perlu fokus pada ide-ide brilliant dan kehamilanmu."

Maya menarik bibirnya keatas, lalu menatap keluar. Gelap dan sunyi, tampak menyeramkan. Hanya ada pepohonan dan rumput, sepanjang jalan, tanpa adanya penerang.

"Aku sudah berpamitan, akan pergi jauh. Ternyata, aku malah kembali lagi."

"Takdir, kau tidak bisa menebaknya, May. Kita bisa pergi sejauh mungkin, tapi takdir akan membawamu kembali. Tapi, boleh aku tahu, kau berpamitan pada siapa?"

"Aku berpamitan pada keadaan, pada langit dan pada makam orang tuaku."

Nyesek, namun Maya tidak menangis. Ia perlahan sudah menerima nasibnya. Semakin ditangisi, semakin ia tidak menerima, dan semakin sulit ia menjalani hidup.

"Maaf. Aku tidak tahu, kau sendirian."

"Itulah mengapa, aku putus asa. Sendiri dengan beban berat, rasanya ingin mati. Kau tidak punya siapa-siapa untuk bercerita, meminta nasehat atau saran. Atau sekedar, menangis dipundaknya."

"Kau punya aku, sekarang. Kau bisa bercerita, menangis dan meminta nasehat. Aku juga bisa memarahimu."

Suasana sedikit mencair, dengan tawa keduanya. Ansel tipe pria humoris, dewasa dan juga penyayang. Padahal, mereka baru bertemu, namun sosoknya sudah seperti keluarga bagi Maya.

"Terima kasih, sudah mau menjadi temanku." Maya menepuk dengan lembut, bahu Ansel. "Aku sudah bertekad, untuk bertahan dan menjalaninya. Terima kasih, berkatmu aku mampu menatap langit."

"Aku senang mendengarnya. Jangan pernah sungkan lagi, May. Apalagi, membahas tentang utang budi. Kita manusia dan tentang kebaikan, Tuhan yang akan membalasnya."

"Terima kasih. Meski begitu, aku akan tetap membalas kebaikanmu."

Ansel mengacak rambut Maya, sebagai jawaban. Ia tidak butuh balasan, untuk semua kebaikannya. Ia hanya butuh, gadis itu berdiri disampingnya, dengan tegak. Pertemuan mereka yang tidak disengaja, dianggap Ansel sebagai takdir. Entah jodoh atau teman, biar Tuhan yang memutuskan. Toh, keduanya tidak dapat mereka cegah.

Suasana kembali hening, hanya suara musik dengan volume kecil yang terdengar. Maya terlelap, tanpa bisa ia tahan. Sementara, Ansel menyetir dengan fokus.

Hampir dua jam, mereka tiba di apartemen. Ansel mengangkat tubuh Maya, masuk dalam lift. Sementara barang-barang, diambil oleh pelayan yang menunggu kedatangan mereka.

"Tidurlah, May. Esok hari akan lebih baik, dari hari ini." Ansel membelai rambut Maya. Ada dorongan, untuk mencium kening, gadis yang terlelap didepannya. Alis hitam dan rapi, bulu mata yang lentik, serta wajah putih bersinar. Satu paket komplit, untuk mengukur kecantikan Maya.

Satu kesadaran, membuat Ansel mundur dan turun dari tempat tidur. Meski, ada benih yang mulai tumbuh. Tapi, ia tidak boleh terburu-buru. Luka hati Maya, masih belum sembuh.

"Tuan, barang-barang ini, bagaimana?"

"Letakkan saja. Aku akan mengaturnya nanti."

"Baik, Tuan. Saya permisi. Besok pagi, bibi akan datang membersihkan dan memasak. Tempat yang ada minta, sudah selesai didekorasi."

"Baiklah. Terima kasih."

"Sama-sama, Tuan."

Ansel berkeliling ruangan, memperhatikan barang-barang satu persatu. Dari sofa dan TV diruang tengah hingga peralatan masak didapur. Tak lupa, ia mengecek bahan makanan dan isi kulkas. Semuanya siap, sesuai yang ia harapkan.

Karena hari ini, pertama buat Maya tidur di apartemen. Jadi, Ansel berpikir untuk menemaninya. Kamar sebelah, akan menjadi untuknya. Ia tidak mau, meninggalkan gadis itu sendirian dan dalam keadaan tidur.

Karena belum waktunya tidur, Ansel memilih menyiapkan makan malam. Maya, mungkin akan kelaparan saat bangun.

Sepiring pasta dengan daging cincang sebagai topingnya. Tak lupa, irisan buah untuk si ibu hamil.

🍋Bersambung

1
3sna
ayah ansel,krna ansel kn baru pulng
3sna
kamu yg nuduh duluan zamar
3sna
1jm ½ ya kurang jauh ,,kirain butuh waktu sehari or 2 hari gitu
Larasati
apa dr rencana nya Bu Resti menjebak Maya
Larasati
apa ini jg campur tangan nya Resti jg 🤔
Larasati
sebutan nama Oma Sherly typo terus yg di sebut Resty terus
Larasati
Luar biasa
Larasati
jadi siapa dalang kejahatan nya Sandra bukan 🤔🤔
Vera Wilda
Makasi juga Thor
Vera Wilda
Maya terlalu ekstrim dia ikut dengan orang asing, yg belum tau siapa dia dan gimana orangnya , lebih percaya dengan orang yg baru d kenal cuma sehari doang
Vera Wilda
Banyak banget masalah nya, cuma hitungan hari bahagianya setelah 3 th terpisah, trus ada lagi masalah dan tidak selesai2 , begitu selesai cerita langsung tamat 😁😁😁😁
Vera Wilda
Bacanya d percepat 😁😁
Fermah Malik: cerita yang menarik tentang kejujuran, kesetiaan, kepercayaan dengan pasangan , jangan berdusta
total 2 replies
Vera Wilda
Menghilang nanti pulang2 hamil, trus salah faham lagi gak kelar2 masalah nya 🤣🤣🤣🤣
Vera Wilda
Horeeee 👏👏👏 sukurin elu zamar , udah d peringkat an dan d kasih tau sampai neneknya juga kasih tau, badak sich elu, sekarang nikmati ya, klo bisa kirim aja surat cerai langsung biar dia gila sekalian , mampus elu zamar 🤣🤣🤣🤣
Vera Wilda
Gemes banget sama zamar, tinggalin aja zamar maya bodo amat mau gila dia mau mati dia biarin aja , muak dg sikap zamar
Vera Wilda
Biarin aja d zamar , udah d kasih kesempatan malah bikin ulah ….
Mending maya dg ansel aja lagi …
Vera Wilda
Zamar zamar niat mu emang baik, tp setidaknya kamu jujur sm istri mu, klo istri mu tau dan pergi rasain kamu , bikin gedek aja 😡😡😡
Vera Wilda
Wah emaknya zamar yg harus d singkirkan itu , sombong dr wanita biasa2 seolah turunan ningrat 😁😁
Vera Wilda
Deg deg an saya Thor, klo mereka kembali maya dan zamar kasihan ansel dan keluarganya Thor yg begitu baik sama maya dan anak2nya …
Vera Wilda
Jangan2 mama zamar ikut andil nich atas musibahnya maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!