"Kalau hati sudah memilih, otakku ini bisa apa?!"
Devian Almero, sosok pria tampan yang sama sekali tak mengerti perihal cinta sebelum bertemu dengan Diandra.
Ya, Diandra. Gadis manis itu mampu menggetarkan hati Devian saat awal perjumpaan.
Hingga akhirnya Devian nekad mengejar Diandra dan langsung mengklaim gadis itu sebagai milik. Berjalannya waktu, hujan rasa kasih sayang yang diberikan Devian, akhirnya mampu menaklukan hatinya.
Namun, sebuah fakta mencengangkan muncul di saat keduanya memadu kasih. Diandra baru mengetahui bahwa pasangannya itu ialah 1 diantara 7 anggota psikopat dari Keluarga Breadsley.
Sanggupkah Diandra menjalani hidup bersama Devian, sang psikopat tampan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru matematika baru?
Holla aku update lagi. Terimakasih untuk semua pembaca. Terimakasih yang sudah ninggalin like, komen, juga vote. Yang belum please like, komen, vote, agar aku lebih semangat ngetik part lanjutanya. 🙋
Pukul 6 pagi Diandra masih bergelung dalam selimut. Pacar tampannya itu sukses membuatnya terjaga semalaman. Beginikah rasanya diabaikan oleh orang yang kita sayang tanpa alasan? Memikirkannya berulang kali sampai gadis itu tak bisa tidur dengan tenang.
Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu terdengar menuntut di iringi suara khas dari Hanung--ayahnya. Spontan Diandra terbangun, melihat jam weker di atas nakas dan segera membukakan pintu.
"Lekas bangun Nak. Nanti kamu bisa terlambat sekolah," ucap Hanung seraya melayangkan cubitan di pipi Diandra.
"Aduh sakit Ayah! Lagian ini masih pukul 5. Diandra bikinin ayah sarapan dulu ya."
Lagi pria parubaya itu mencubit pipi putrinya. Kali ini lebih sedikit keras. "jam 5 apanya Nak? Saat ini sudah pukul 06.10. Kamu cepat siap-siap nanti telat. Masalah sarapan Ayah bisa sendiri Nak."
"Loh jam weker Diandra kok jam 5?" ucapnya seraya menutup mulutnya saat menguap.
"Mungkin jam weker kamu baterainya habis. Cepat Nak mandi terus siap-siap ke sekolah. Ini kan hari pertama kamu masuk sekolah bukan?"
"Iya Yah. Diandra mandi dulu. Makasih sudah bangunin Diandra," ujarnya langsung menuju kamar mandi.
Hanung masih berdiri di ambang pintu. Kedua sudut bibirnya nampak tertarik membentuk senyum. Tak terasa waktu cepat berlalu. Diandra kecilnya kini telah menjelma menjadi gadis remaja yang sangat cantik.
*
Diandra berjalan perlahan dengan bantuan tongkat penyangga, bersiap memasuki gerbang sekolah. Kedatanganya disambut oleh sorot mata dari semua murid disekitarnya.
Berjarak beberapa meter di depan, Gio nampak berlari menghampirinya. Bad boy satu ini tak menyangka Diandra akan nekad masuk sekolah menilai keadaan kakinya belum pulih sepenuhnya.
Nafas Gio terengah-engah. Berhenti di depan Diandra, ia mengatur nafas, menumpukan tanganya pada kedua lutut.
"Lo ngapain masuk sekolah Ndra?" tanya Gio. "Nggak sayang ya sama tuh kaki!" sindirnya kesal menatap kaki Diandra.
Gio geram, Diandra terlalu memaksakan diri padahal kakinya masih butuh perawatan.
"Gue ke sekolah ya mau belajar lah!" ketus Diandra menjawab.
"Kaki lo kan masih sakit Ndra!" ungkap Gio merasa heran. Cewek di hadapanya ini kalau sudah punya keinginan siapapun nggak bisa melarangnya. Contohnya seperti Gio saat ini.
"Cerewet banget lo nyet! Gue kan bosen lama-lama di rumah. Lagian gue kesini mau belajar bukan mau main bola."
Gio mendengus kesal. "terserah lo aja dah."
Cowok itu melepas perlahan tas punggung milik Diandra. Membawakannya seraya mendampingi sahabatnya itu masuk ke dalam kelas.
Selly--teman baik Diandra menyambut kemunculannya dengan senang. Hanya dia saja dari banyaknya murid di kelas yang mau berteman baik dengan Diandra. Ah, masa bodoh dengan mereka semua. Diandra tak terlalu pusing memikirkan tentang hal itu semua.
"Makasih ya Yo," ucap Diandra melempar senyum pada Gio.
"Hmm." Hanya berdehem, Gio merespon ucapan dari Diandra dan kembali lagi ke tempat duduk.
Bell tanda masuk kelas berbunyi. Penuh semangat Diandra mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas, memulai lagi rutinitas belajar di sekolah.
Beberapa menit berlalu kelas yang tadinya hening berubah heboh. Nampak dari dalam jendela kelas seorang pria tampan berjalan diekori oleh seorang gadis.
"Wihh gilak cakep banget oyy."
"Eh dia guru baru ya?"
"Kayaknya sih. Tuh dia ngetengin buku."
What? Guru baru ganteng pula. Siapakah dia?
Benar saja, pria itu masuk ke dalam kelas mereka bersama gadis yang tadi mengekor di belakangnya.
Setelahnya pria itu meletakkan buku di atas meja, dia berdehem sekali seraya melempar tatapan tajam. Seketika aura mengerikan itu mengubah atmosfir dalam kelas menjadi sunyi. Semua murid bahkan sedikitpun tak berani membuka mulut, terkatup rapat. Namun tidak dengan ekspresi terkejut yang ditunjukan Diandra saat ini. Matanya membulat kaget dan kedua tanganya menutup mulutnya yang sedikit menganga.
"Perkenalkan saya guru baru yang akan mengajar pelajaran matematika di sekolah ini. Nama saya Devian." Sedikit pun Diandra tak mengerjapkan matanya. Pandanganya tertuju pada sosok yang sedang berdiri di depan sebagai guru baru di sekolahnya.
"Dan lagi di sebelah saya adalah murid baru yang akan bergabung dalam kelas ini. Silahkan kamu perkenalkan diri kepada teman-teman barumu." Devian mempersilahkan gadis itu untuk memperkenalkan diri.
"Hallo semua. Salam kenal. Namaku Altazea shaquena. Panggil aja Zea," ucap gadis itu ramah. Melemparkan senyum manis pada semua murid dihadapanya.
Apakah Diandra saat ini harus mengumpat? Sudah pasti. Bahkan darahnya saat ini berdesir muak melihat wajah gadis itu hadir sebagai murid baru di kelasnya.
Bagaimana bisa pria yang masih berstatus pacarnya itu tiba-tiba saja menjadi guru di sekolahnya? Entahlah, sejak pulang dari rumah sakit Devian jauh berubah. Bahkan ia sudah jarang membalas pesan maupun panggilan dari Diandra.
"Ndra lo jangan berubah jadi hulk di sini ya. Bisa gawat ntar," bisik Gio yang duduk tepat di belakang kursi Diandra.
"Apa sih lo nyet! Ngatain gue hulk. Noh yang duduk di depan persis boneka anabelle. Udah jelek jahat pula. Pingin gue buang aja tuh boneka ke kubangan gunung merapi."
Gio terkekeh mendengar ucapan Diandra. Tanpa disadari keduanya, sedari tadi sang guru--yang tak lain ialah pacarnya sedang mengamati mereka dari depan.
"Kalian berdua ...." ucap guru itu seraya menyorot tajam. Sebuah suara itu pun kontan membuat keduanya bersamaan menoleh ke depan.
Guru tampan itu menunjuk ke arah Gio. "kamu saya hukum berdiri di depan tiang bendera sampai selesai pelajaran. Siapa suruh kalian berbicara saat saya sedang menerangkan materi." Gio mendengus kesal.
Bergantian kali ini jari telunjuk itu bergerak ke arah Diandra. "dan kamu gadis manis, bersihkan ruang perpustakaan sekarang!"
Brakk ....
Gio menggebrak meja di depannya.
"Biar saya yang kerjakan hukuman Diandra. Kasihan kakinya sedang sakit," ucapnya mantab.
Guru tampan itu menggeleng kepala pertanda ia tak setuju. "saya guru di sini, jadi saya berhak menolak permintaan kamu untuk menggantikan hukuman. Sekarang cepat kamu kerjakan hukuman yang saya suruh tadi!"
Mau tak mau Gio akhirnya beranjak dari tempatnya, menggebrak lagi meja di depannya sebelum pergi keluar meninggalkan kelas.
Hal itu pun juga segera di lakukan oleh Diandra. Perlahan ia meraih tongkatnya dan berdiri di bantu oleh teman sebangkunya.
Perlahan Diandra menggerakan tongkat sebagai penopang tubuhnya. Ya mau bagaiamana lagi karena mobil sialan itu tulang kakinya jadi patah seperti ini. Jujur, hatinya kini terasa pilu. Ia butuh perhatian, sandaran, dari bahu pria yang selama ini mengisi ruang hatinya. Tapi nyatanya pria itu perlahan tapi pasti semakin membentangkan jarak di antara mereka berdua.
*
Diandra menghela nafas berat saat melihat jejeran buku terselimuti debu dalam rak.
"Cowok sialan! Nggak liat apa kaki gue patah begini," pekiknya sambil terpaksa menggoyangkan kemoceng menyapu badan buku tebal dihadapanya.
"Gue bisa minta tolong nggak?" Suara pria berucap lembut terdengar dari arah belakang.
"Minta tolong apa?! Minta tolong jangan yang aneh-aneh. Lo lihat kan kaki gue lagi sakit?" jawabnya ketus tanpa menoleh ke arah sumber suara di belakangnya.
Pria itu berdehem lalu berucap, "tolong sayang sama gue setulus hati lo."
Diandra kontan menghentikan pekerjaanya. Segera memutar tubuhnya ke arah sumber suara. Astaga ia tak sadar. Karena emosi jadi tak mengenali suara dari pria tersebut.
"Devian," sebutnya.
"Lo ngapain kesini?" imbuhnya ketus.
Jujur sekarang ia malas menatap wajah pria itu. Apa-apaan dia seenak hati berani datang ke hadapannya?
"Gue kangen sama pacar gue yang manisnya ngalahin gula ini," goda Devian mengacak gemas rambut Diandra.
"Oh," jawab Diandra ber oh ria.
"Sayangnya gue lagi males buat bales rasa kangen dari lo PAK GURU DEVIAN ALMERO!" serunya seraya membuang wajah. Memberi penekanan pada beberapa kalimat akhir.
"Lo kenapa sih swetiee? Lo marah?" Devian bertanya sembari meraih tangan Diandra.
Tapi sayangnya Diandra justru cepat menepis tangan Devian. Ia bukan tipe cewek yang mudah diperlakukan seenaknya. Bagi Diandra waktu itu ia seperti melayang tinggi mendapat hujan kasih sayang dari Devian. Tapi kini seketika juga Devian berubah. Diandra seperti terhempas dan jatuh di dasar.
"Lo masih tanya gue marah atau nggak? Lucu banget sih lo! Ketemu gue di cafe malam itu lo cuek dan lo enak-enaknya pergi sama Zea. Gue punya salah apa sampe lo ngacangin chat maupun pangilan dari gue beberapa hari? Dan sekarang lo dateng minta sama gue buat sayang sama lo setulus hati? Hei ... lo masih waras 'kan?" Diandra tersenyum sinis. Biarlah, dia memang bodoh. Bodoh tak lagi bisa meredam gejolak emosi yang sudah menguasi tubuhnya. Tentu ia tahu konsekuensi yang harus diterima. Antara hidup dan mati? Kalian tahu kan Devian ini psikopat. Sifatnya impulsif dan susah mengendalikan diri. Terlebih semburan emosi dari Diandra tak mungkin bisa diterima Devian begitu saja.
"Jgn mudah percaya ucapan org lain, walaupun dg bukti yg nyata, krn org licik bisa melakukan apapun itu. Jgn sprti Devian yg mudah percaya kalo Zea adl Melody masa lalunya tnp menyelidikinya terlebih dahulu, sampai mengabaikan & menyakiti Diandra. Tegaslah dlm berprinsip, jgn ingin keduanya tp mengabaikan org yg tulus dg nya. & ternyata Diandra adl Melody masa lalunya."
"Jk kita mencintai seseorg, kita hrs bisa mnjaga kepercayaannya, mnjaga hati, pikiran & tubuh kita hny utk nya. Jgn sprti Devian yg menyentuh Kimberly hny krn obat perangsang, walaupun Diandra tdk tau saat itu, taunya saat ucapan Kimberly sblm kematian."
...dilanjutin yaaaa..semangat