Berteman cukup lama, tidak cukup bagi seorang pemuda bernama Bara Zayyan berani mengakui perasaannya pada seorang gadis cantik bernama Alisa Aileen Nathania yang tak lain adalah teman satu kelasnya sendiri.
Namun sikap dan perlakuan Bara selama ini pada Ica nama panggilan untuk gadisnya, membuat siapapun bisa menerka jika Bara memang punya perasaan lebih pada gadis itu.
Hingga akhirnya Bara memilih pergi jauh setelah lulus dari SMA dengan membawa rasa yang belum sempat terucap.
"Aku pergi bukan bermaksud untuk menghapus rasa ini, hanya saja aku sedang berjuang untuk memantaskan diri ini untukmu. Kelak saat kembali, aku berharap kita bisa bersama meski nanti keadaanmu mungkin tak lagi sama. Namun aku pastikan saat itu cintaku masih tetap sama" Bara Zayyan
"Kenapa tidak dari dulu kamu memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa, mengapa harus menunggu waktu yang begitu lama. Dan maaf, saat ini kita sudah tidak bisa bersama karena mungkin keadaanku yang tak lagi sama" Alisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kelam
Malam ini merupakan malam terakhir mereka berada didesa tempat KKN. Setelah siang tadi mereka mengadakan perpisahan dengan warga dan aparat desa setempat. Malam ini mereka sengaja membuat acara di basecame mereka. Hanya acara makan malam bersama sambil menikmati indahnya malam dengan membuat api unggun dihalaman rumah tempat mereka menginap selama KKN.
Nampak beberapa dari mereka bersenandung sambil memainkan gitar sebagai musik pengiring.
Hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kini sebagian dari mereka mulai banyak yang sudah mengantuk. Saat ini hanya menyisahkan Kahfi, Arman dan Amira
"Lho bawa apaan itu" Tanya Kahfi kala melihat Arman seperti membawa sebuah botol minuman.
"Kita senang-senang yuk, besok kita udah mau pulang. Rasanya gak asik kalau dari tadi cuman ngopi doang" Arman terlihat menuangkan minuman itu pada gelas yang memang sengaja sudah disiapkan oleh Amira yang tak lain adalah kekasih Arman.
"Maaf gue gak minum begituan" Kahfi menolak manakala dia mengetahui jika itu adalah minuman keras.
"Kali ini ajalah brow. Gue janji gak bakalan bilang sama Ica. Ya gak Syil" Arman terlihat meminta persetujuan Syila yang kala itu juga berada disana.
"Have fun sekali-kali gak masalah, toh gak tiap hari juga. Kapan lagi cobak kita bisa ngumpul lagi kayak gini" Arman terlihat memaksa Kahfi. Bahkan dia menyodorkan gelas yang sudah ia isi dengan minuman laknat itu. Hingga membuat Kahfi yang tak enak hati akhirnya mau meminumnya.
Sebenarnya Kahfi hanya minum dua gelas kecil saja. Namun entah kenapa dirinya seolah hilang kesadaran. Bahkan kali ini Kahfi terdengar terus mamanggil nama Ica.
Syila yang masih dalam kondisi sadar, berusaha membantu Kahfi untuk dibawa kekamarnya. Namun saat Syila hendak keluar dari kamar Kahfi, tiba-tiba Kahfi terdengar memanggilnya.
"Jangan pergi Ca, temani aku disini"
Syila merasa mungkin saat ini Kahfi butuh seorang teman. Iapun langsung berbalik arah dan mendekat pada Kahfi yang kala itu berada dalam pengaruh alkohol.
"Ca....kamu disini sayang" Kahfi terlihat menyentuh pipi Syila. Dirinya mengira jika itu adalah Ica. Apalagi saat itu kondisi tempat tidurnya temaram.
Syila yang memang sejak awal sudah menyukai Kahfi, entah mengapa dirinya seolah menikmati sentuhan yang Kahfi berikan.
Syila sama sekali tak memperdulikan meskipun Kahfi terus menyebut nama Ica karena sejak tadi memang Kahfi sudah mengira jika dirinya adalah Ica.
Dan malam itupun keduanya melakukan hal yang pastinya akan menimbulkan masalah besar bagi keduanya dikemudian hari. Tentu saja itu dilakukan dengan kondisi Kahfi yang sama sekali tidak sadar.
Menjelang subuh Kahfi baru tersadar dari tidurnya. Setelah kegiatan fatal yang mereka lakukan semalam, keduanya sama-sama terlelap.
Dan alangkah terkejutnya, karena saat bangun mendapati dirinya dalam keadaan seranjang dengan wanita lain. Dan lebih parahnya lagi, baik dirinya maupun perempuan disebelahnya sama-sama tidak mengenakan sehelai benangpun.
"Syil....apa yang sudah kita lakukan" Kahfi terlihat menatap nanar pada perempuan yang saat ini ada dihadapannya.
"Ma-mafin ak-aku" Syila begitu ketakutan manakala dirinya melihat raut wajah Kahfi yang terlihat begitu murka.
"Pergi kamu dari sini" Kahfi menunjuk wajah Syila dan menyuruhnya untuk pergi dari kamarnya.
Syilapun dengan hati-hati turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya. Diapun keluar setelah dirinya memakai semua pakaiannya.
Beruntung kala itu kondisi disana lumayan sepi. Dan kebetulan juga dikamarnya kedua temannya masih nampak tertidur pulas. Jadi mereka tidak menyadari jika saat itu Syila masuk kedalam kamar.
Sementara Kahfi, sejak awal dirinya memang tinggal dikamar itu sendiri. Jadi tentu saja teman-temannya tidak ada yang melihat jika dirinya semalam tanpa sengaja sudah menghabiskan malam bersama seorang gadis yang tak lain adalah temannya sendiri.
Sepeninggal Syila dari kamarnya, Kahfi terlihat duduk sambil memukul-mukulkan tangannya pada tembok. Dirinya bahkan sampai menangis karena sangat menyesali apa yang sudah dilakukannya semalam bersama Syila.
Entah bagaimana dirinya akan menjelaskan semua ini pada Ica. Dirinya belum siap dan tidak akan pernah siap untuk kehilangan wanita yang begitu dicintainya.
Susah payah dirinya untuk bisa mendapatkan wanitanya. Namun setelah dirinya berhasil menghalalkannya, malah dirinya sendiri secara tidak langsung sudah menghancurkan semuanya.
"Ca.....maafkan aku. Sungguh aku tak bermaksud mengkhianatimu" Kahfi terlihat bersimpuh sambil menangis. Begitu hancur dirinya saat ini. Belum genap dua tahun dirinya dan Ica menjalani pernikahan, namun kenapa ujian besar sudah menerpa rumah tangganya.
Tak ingin dirinya diketahui oleh teman-tamannya, Kahfipun langsung membersihkan kamarnya. Dirinya langsung bergegas mengemasi pakaiannya karena memang pagi ini dirinya berniat langsung pulang.
Saat dirinya hendak membuka pintu tiba-tiba Syila datang. Dengan cepat Kahfi membalikkan badannya karena entah mengapa saat melihat wajah Syila dirinya merasa ji-jik. Bayangan malam laknat yang dia lakukan langsung terngiyang dalam ingatannya.
"Kahfi....aku mohon jangan menghindar. Kita harus bicara" Syila terlihat menahan Kahfi dengan menarik pergelangan tangannya.
"Lepas" Dengan kasar Kahfi menghempaskan tangan Syila.
"Fi....maafin aku, harusnya malam itu aku tidak...."
"Cukup" Kahfi langsung memotong penjelasan Syila. Sungguh dirinya tidak ingin mendengar penjelasan apapun.
"Aku janji, aku gak akan pernah menceritakan kejadian ini pada siapaun. Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua. Sekali lagi maafkan aku"
Setelah mengatakan itu Syila langsung beranjak meninggalkan Kahfi yang terlihat masih mematung ditempatnya.
Dirinya sama sekali tak berniat menjawab sedikitpun atas apa yang diucapkan Syila barusan.
Saat ini Kahfi tengah berada didalam mobilnya. Dia sengaja pamit untuk pulang lebih dulu pada teman-temannya dengan alasan hendak menjemput Ica.
Selama diperjalanan dirinya selalu dibayang-bayangi kejadian semalam. Sungguh kejadian dimalam kelam itu dalam sekejap sudah berhasil memporak-porandakan hidupnya. Hingga tanpa sadar dirinya hampir saja menabrak pengendara sepada yang kebetulan hendak menyebrang.
"Astaga...." Kahfi terlihat panik.
Beruntung dirinya dengan sigap bisa membanting setir. Hingga si pengendara sepeda itu tidak sampai terjatuh.
Setelah meminta maaf, Kahfipun langsung melanjutkankan perjalanannya. Tujuannya saat ini adalah segera sampai dirumahnya. Karena beberapa menit yang lalu Ica sempat mengatakan lewat pesan jika dirinya tidak perlu dijemput.
Sejam lebih menempuh perjalanan, akhirnya Kahfipun sampai dirumahnya.
"Sayang, kamu udah datang. Istrimu baru saja masuk kamar. Kebetulan dia juga baru datang" Ucap mamanya Kahfi yang kala itu memang sudah menunggu kedatangan menantu sekaligus putranya.
Setelah menyalami dan memeluk mamanya, Kahfi langsung menuju kamarnya. Tujuannya satu, dia ingin segera bertemu dengan istrinya.
"Sayang....jangan pernah tinggalin mas ya. Mas mohon apapun yang terjadi jangan pernah pergi"
Sesampainya dikamar, Kahfi langsung berlari dan memeluk erat tubuh istrinya. Dirinyapun tanpa sadar mengucapkan kalimat itu.
Ica yang tiba-tiba melihat suaminya itu baru datang langsung memeluk dirinya, tentu saja membuat dirinya nampak bingung. Belum lagi tak ada angin tak ada hujan, suaminya ini mengatakan agar dirinya tak meninggalkannya.
"Mas...kamu kenapa. Kok tiba-tiba ngomong kayak gini"
Entah apa yang sudah terjadi pada suaminya ini. Kenapa tiba-tiba jadi aneh seperti ini.
"Gak ada apa-apa sayang. Aku semalam cuman habis mimpi buruk. Aku mimpi kamu tiba-tiba pergi ninggalin aku" Kahfi sengaja berbohong dengan mengatakan hal itu.
Sungguh dirinya saat ini belum siap untuk menceritakan semuanya pada istrinya ini. Biarlah nanti Kahfi akan memikirkan cara lain agar dirinya tak sampai berpisah dengan istri yang begitu dicintainya.
jangan lupa mampir di karyaku ya kak🙏
semangat terus nulisnya
lah". ❌