Adeline Zinnia Graham, memilih kuliah di Munich demi mengikuti kekasihnya. Namun, suatu peristiwa membuat Adeline memutuskan berpisah.
Hari hari Adeline kembali diisi dengan kehadiran seorang Reyn Elden Frederick yang merupakan dosen sekaligus anak sahabat ayahnya.
Perlahan tapi pasti, benih cinta itu muncul dan pernikahan keduanya pun terjadi. Kehidupan keduanya sangat bahagia hingga dikaruniai seorang anak. Namun, kehancuran dalam kehidupan Adeline dimulai dari sana, ketika ia harus kehilangan orang yang ia sayangi dan juga kehilangan kepercayaan dirinya.
Mampukah Reyn dan Adeline mempertahankan rumah tangga mereka? atau perpisahan adalah jalan yang terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU MENGINGINKANMU
Keesokan paginya, Reyn kembali ke kamar tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam dan ia lihat Adeline masih terlelap dengan wajah yang sembab. Reyn yakin istrinya itu pasti menangis semalaman.
Setelah selesai membersihkan diri, Reyn keluar dari kamar mandi dan mendapati Adeline sedang duduk di tempat tidur dan melihat ke arahnya. Tak ada kata kata yang diucapkan olehnya, namun pancaran mata Adeline menyiratkan bahwa apa yang ia katakan semalam bukanlah main main.
"Mandilah, aku tunggu di bawah. Kita sarapan bersama," ucap Reyn. Ia tak ingin lagi membahas masalah semalam dengan Adeline. Ia bahkan harus mengalihkan pikirannya dari hal tersebut dengan membaca buku.
"Reyn, sayang, apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Adeline.
Reyn menghentikan langkahnya yang menuju ke wardrobe, "Bisakah kita tak membicarakan hal ini?"
Sungguh, topik ini sangat menyakitkan bagi Reyn. Tanpa diketahui oleh Reyn, Adeline juga merasakan kesakitan yang luar biasa saat mengatakannya. Namun, ia mencoba berdamai dengan rasa sakit itu karena menginginkan kebahagiaan Reyn. Ia tahu dan yakin bahwa Reyn sangat menginginkan seorang anak.
"Aku tak akan berhenti sebelum kamu menyetujuinya," ucap Adeline. Biarlah Reyn menganggap dirinya egois, yang terpenting Reyn akan bahagia nantinya. Ia rela sakit hati untuk itu.
Reyn tak menjawab pertanyaan Adeline. Ia langsung melanjutkan langkahnya menuju wardrobe, kemudian keluar dari kamar. Ia tak suka berbicara dengan Adeline sejak semalam.
"Kamu sudah siap, sayang? Di mana Adeline?" tanya Mom Queen.
"Ia sedang mandi, Mom," jawab Reyn.
Reyn menyantap sarapannya terlebih dahulu, bahkan ia sudah selesai sebelum Adeline turun dari kamar tidur mereka.
"Kamu tak menunggu Adeline, Reyn?" tanya Mom Queen lagi.
"Aku harus mempersiapkan sesuatu untuk materi kuliah yang aku ajarkan hari ini. Aku akan membacanya di ruang tamu sambil menunggu Adeline," jawab Reyn.
Meskipun ia sedang tak ingin terlalu dekat dengan Adeline karena tak ingin istrinya itu kembali membahas masalah menikah dan anak, Reyn akan tetap mengantar jemput Adeline ke toko. Ia tak akan membiarkan Adeline pergi dan pulang seorang diri.
Pintu kamar tidur terbuka dan tampak Adeline yang sudah rapi. Ia langsung menuju ke ruang makan, tapi tak melihat keberadaan suaminya.
"Mom, di mana Reyn? Apa ia sudah berangkat?" tanya Adeline. Ia mengira Reyn berangkat terlebih dulu karena tak ingin bersamanya.
"Ia ada di ruang tamu. Katanya ia harus menyiapkan beberapa materi kuliah untuk pengajaran hari ini," jawab Mom Queen.
Adeline melangkahkan kalinya sedikit menuju ke arah ruang tamu. Ia melihat Reyn tengah sibuk membaca beberapa lembar kertas. Tatapannya begitu tajam dan serius, namun hati suaminya itu begitu lembut. Betapa setiap hari Adeline semakin mencintainya.
Di dalam mobil, tak ada perbincangan sama sekali. Adeline tak ingin membicarakan hal itu dulu karena ia tak ingin terjadi sesuatu pada mereka. Kecelakaan yang menimpanya, membuatnya sedikit trauma berada di dalam mobil. Ia mencari aman agar Reyn tak mengendarai mobil dalam keadaan emosi.
Mobil tersebut berhenti tepat di depan toko di mana Adeline bekerja. Reyn mencium kening Adeline dengan dalam.
"I love you. Aku akan menjemputmu nanti," ucap Reyn.
"I love you too. Hati hatilah mengemudi," ucap Adeline dan Reyn pun tersenyum.
Dari dalam toko, Adeline melihat kepergian Reyn. Ia segera naik ke lantai atas di mana ruangannya berada. Salah satu pegawai yang kemarin membicarakan Adeline, menatap Adeline dengan tatapan tak suka. Ia merasa Adeline terlalu beruntung dalam hidupnya.
*****
Hari demi hari berlalu, tak ada pembahasan lagi mengenai apa yang terakhir Reyn dan Adeline bicarakan. Adeline yang sedang fokus pada pengerjaan laporan bulanannya, lebih banyak menumpahkan pikirannya pada pekerjaannya.
"Beristirahatlah dulu," ucap Reyn yang melihat Adeline begitu kelelahan.
"Masih banyak yang harus kukerjakan," ucap Adeline.
"Bagaimana kalau kubantu?"
"Tak perlu, sayang. Kamu istirahatlah, lagipula besok aku tidak ke toko," jawab Adeline.
"Kamu yakin?"
"Yakin sekali."
Besok Reyn akan ada acara seminar di universitas dan ia akan mengisi salah satu materi di dalamnya. Ia harus tiba di universitas pukul setengah delapan karena akan ada pengarahan terlebih dahulu.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan istirahat lebih dulu. Kamu juga jangan tidur terlalu malam, okay," ucap Reyn.
"Ya, aku tahu."
Reyn akhirnya pergi tidur terlebih dulu dan Adeline melanjutkan pekerjaannya. Namun, tidur seorang diri membuat Reyn tidur tak tenang. Ia terbangun setiap beberapa menit, membuat kepalanya justru menjadi pusing.
"Ada apa, sayang? Kamu sakit?" tanya Adeline saat melihat Reyn kembali bergerak.
"Aku tak bisa tidur nyenyak, mungkin karena tak ada dirimu di sampingku," ucap Reyn.
Adeline tersenyum kemudian menutup semua pekerjaannya. Ia akhirnya berbaring di samping Reyn dan memeluk suaminya itu.
"Kamu sudah selesai?" tanya Reyn.
"Belum, tapi tak apa. Besok aku akan melanjutkannya lagi. Kamu harus mengisi materi seminar besok dan tak baik jika kamu sakit kepala," jawab Adeline.
"Terima kasih, sayang. I love you," Reyn memeluk Adeline erat kemudian mencium dahi istrinya itu.
Tak sampai lima menit, terdengar dengkuran halus dari Reyn. Ia langsung terlelap saat ada Adeline di sampingnya.
"Kamu menggemaskan sekali, sayang. Kamu seperti anak anak yang ingin selalu dipeluk. Aku menyayangimu. I love you, love you very much," ucap Adeline sebelum mengecup bibir Reyn dan memejamkan matanya.
Keesokan paginya, Reyn pergi ke universitas seorang diri. Ia sudah pamit pada Adeline dan juga pada keluarganya.
Seharian penuh, tak ada komunikasi di antara Reyn dan Adeline. Hal itu karena Reyn berada dalam sebuah ruangan yang minim dengan sinyal. Ia begitu konsentrasi memberikan materi dan juga ikut belajar dari materi pembicara yang lain.
Reyn sampai di rumah sekitar pukul tujuh. Ia sudah makan malam bersama dengan para pembicara karena memang pihak universitas memberikan akomodasi pada semua pembicara.
"Malam, sayang," sapa Reyn pada Adeline yang berada di meja kerjanya dan masih menyelesaikan laporan bulanannya.
"Malam, kamu sudah makan?" tanya Adeline yang bangkit dari duduknya dan membantu Reyn melepas jas miliknya.
"Sudah, aku mandi dulu ya, rasanya tidak nyaman sekali terlalu lama menggunakan pakaian resmi," ujar Reyn tersenyum.
"Baiklah."
Adeline kembali ke meja kerjanya dan menyelesaikan beberapa baris lagi laporannya. Sebelum Reyn keluar dari kamar mandi, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia merapikan semuanya dan mengeluarkan piyama yang biasa dipergunakan oleh Reyn.
Pintu kamar mandi terbuka, Reyn yang hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya, tak berjalan ke arah wardrobe. Ia malah melangkah mendekati Adeline yang ada di atas tempat tidur.
"Aku menginginkanmu malam ini."
🧡 🧡 🧡