Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
enam belas ~
"Wah, sialan! Sialan! Kenapa adegan pelukan menjijikkan ini malah berlanjut jadi ajang temu kangen yang dramatis banget?!" maki Bagas dalam hati, menggertakkan gigi rapat-rapat saat melihat sang komandan dan kepala koki kini malah saling berpelukan melepas rindu di hadapannya tanpa tahu malu.
Di tengah suasana barak yang mendadak berubah menjadi panggung teater reuni itu, sang komandan akhirnya melepaskan pelukannya. Ia menepuk bahu Bagas keras-keras penuh semangat sambil tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.
"Kau dengar itu kawan lama?!" seru sang komandan menatap kepala koki dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. "Prajurit muda ini punya bakat memasak yang sangat sangat luar biasa! Tangannya benar-benar ajaib, seperti penyihir rasa!"
Mendengar pujian setinggi langit yang dilontarkan langsung oleh orang nomor satu di barak tersebut, sang kepala koki kontan membusungkan dadanya tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan yang meluap-luap sampai hampir meledak.
"Tentu saja!" sahut kepala koki dengan nada angkuh yang sengaja dibesar-besarkan. "Siapa dulu yang menunjuknya? Orang yang kupilih sudah pasti selalu yang terbaik, aku ini punya insting tajam, dan tidak akan pernah salah dalam menilai potensi seseorang!"
Bagas yang berdiri kaku di tengah-tengah mereka mendadak menunduk malu-malu kucing. Kedua pipinya terasa panas membara, merasa salah tingkah bukan main di hadapan para petinggi.
Sialan, kenapa aku malah jadi salah tingkah begini?! Eh, tunggu dulu, sadarlah! Kan aku ini laki-laki tulen sejati! Kenapa aku malah pasang ekspresi malu-malu kucing ala pemeran utama wanita di novel romantis murahan?! batin Bagas menjerit histeris di dalam kepalanya, merutuki refleks tubuhnya sendiri yang terasa sangat salah kostum.
Sementara Bagas sibuk menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa, pemandangan kontras justru terlihat sangat jelas di sudut ruangan. Wajah sang asisten koki utama sudah memerah padam hingga nyaris meledak karena menahan amarah, iri, dan dengki yang teramat sangat.
Harusnya pujian itu untukku! Harusya posisi terhormat itu menjadi milikku sepenuhnya! Kenapa... kenapa pujian sehebat itu malah diberikan kepada prajurit bodoh yang bahkan seumur hidupnya tidak pernah menginjakkan kaki di dapur sama sekali?! Sialan kalian semua yang ada di sini! maki asisten koki itu dalam hati, tangannya terkepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap tajam di telapak tangannya sendiri sampai terasa perih.
Beberapa menit kemudian, jam makan siang resmi dimulai dengan tertib. Seluruh tentara dan prajurit barak berbondong-bondong berkumpul di aula terbuka, menyantap hidangan sayur lodeh segar, ayam goreng yang gurih, ikan asin, serta sambal buatan Bagas dengan sangat lahap tanpa sisa.
Suasana ruang makan langsung mendadak riuh rendah oleh pujian-pujian yang bersahutan dari setiap meja.
"Wah, gila! Ini benar-benar masakan terenak yang pernah kucicipi selama aku berdinas bertahun-tahun di barak ini!" teriak salah seorang prajurit senior dengan mulut penuh makanan saking enaknya.
"Sumpah demi apa pun... mencicipi masakan ini seketika mampu mengobati rasa rinduku yang mendalam pada masakan ibuku di kampung halaman. Rasanya aku ingin menangis tersedu-sedu!" timpal prajurit lainnya dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
Melihat kesuksesan besar di ruang makan tersebut, kepala koki tersenyum sangat puas. Namun, di saat bersamaan, beberapa juru masak junior yang tadi sempat membantu Bagas memberanikan diri melangkah mendekati sang kepala koki dan komandan pusat. Dengan suara bergemetar namun tetap tegas, mereka melaporkan semua kebusukan yang terjadi di balik layar dapur tadi.
"Kepala Koki... ada hal sangat penting yang harus kami laporkan demi menegakkan keadilan di dapur ini." ujar juru masak junior mewakili teman-temannya dengan berani. "Selama proses persiapan tadi, asisten koki utama sama sekali tidak membantu pekerjaan sedikit pun! Dia justru sengaja mengancam, memprovokasi, dan memaksa kami semua untuk memboikot Bagas agar bekerja sendirian tanpa bantuan!"
Deg!
Mendengar laporan blak-blakan yang sangat mengejutkan itu, wajah sang kepala koki yang tadinya bangga seketika berubah merah padam karena amarah yang meledak-ledak. Urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan murka.
Sebaliknya, wajah sang asisten koki yang tadinya merah padam karena amarah kini mendadak berubah sepucat kertas HVS tanpa ada sisa darah sedikit pun di wajahnya. Kedua kakinya bergetar hebat tidak mampu menopang tubuh, dan dunianya terasa runtuh berkeping-keping seketika.
"Kurang ajar sekali kau!" bentak kepala koki menggelegar hingga seluruh aula mendadak terdiam sunyi. Ia menatap tajam ke arah sang asisten koki dengan pandangan membunuh yang amat mengerikan. "Mulai detik ini juga, kau resmi dipecat dengan tidak hormat dari barak ini! Dan enyah dari hadapanku sekarang juga! Aku tidak butuh bawahan yang punya perangai songong, licik, dan hobi menusuk rekan kerjanya dari belakang!"
Tanpa diberi kesempatan untuk sekadar membela diri, sang asisten koki langsung diseret keluar ruangan dengan kasar oleh beberapa prajurit pengawal, menyisakan wajah hancur berkeping-keping dan ratapan keputusasaan. Impiannya untuk naik jabatan menjadi kepala koki musnah sudah dalam sekejap mata akibat keserakahannya sendiri.
Setelah drama pemecatan kilat itu selesai, kepala koki kembali menoleh ke arah Bagas dengan senyuman lebar yang kembali mengembang ramah.
"Bagas, melihat kerja keras, dedikasi, dan bakat luar biasa yang kau tunjukkan hari ini, mulai detik ini aku secara khusus menunjukmu untuk berpindah tugas resmi!" umum kepala koki dengan suara lantang yang tegas. "Kau resmi kutarik dari korps tentara tempur biasa dan dipindahkan menjadi asisten koki pribadiku yang baru di dapur utama!"
Mendengar keputusan mendadak yang mengubah jalur hidup itu, sang komandan pusat langsung mengangguk mantap tanda setuju sepenuhnya.
"Keputusan yang sangat brilian!" seru komandan pusat menyambung dengan antusias. "Aku akan segera mengeluarkan surat tugas resmi pemindahan jabatanmu sore ini juga. Dari yang awalnya prajurit tempur lapangan, sekarang kau resmi menjadi bagian dari dapur militer sebagai asisten koki terpercaya!"
Bagas yang mendengar rentetan titah promosi kilat itu langsung tertegun mematung di tempatnya berdiri. Kepalanya mendengung hebat, ia yang tadinya hanya ingIn hidup tenang sebagai prajurit tanpa beban, sekarang malah terjebak secara permanen di dunia kuliner militer yang penuh tekanan.
Belum sempat Bagas memproses kejutannya dan melayangkan protes batin kepada takdir yang mempermainkannya, tiba-tiba sebuah layar transparan berkelebat sangat cepat di depan retinanya.
[Selamat Tuan Rumah! Anda telah berhasil naik pangkat dan mengubah takdir karier menjadi seorang Asisten Koki resmi!]
[Pemberitahuan Hadiah Misi:]
[Hasil masakan makan siang skala besar untuk 250 orang berhasil diselesaikan dengan sempurna tanpa cela: Mendapatkan 1.500 poin!]
[Bonus tambahan: Mendapatkan 190 poin karena berhasil melewati tantangan tersembunyi (bekerja seorang diri di bawah tekanan boikot).]
[Total Saldo Poin Anda saat ini: 2.500 Poin!]
Melihat angka saldo poin yang melonjak drastis hingga menyentuh angka dua setengah ribu, mata Bagas melotot lebar. Segala rasa lelah, kesal, beban mental, dan protes yang tadinya ingin ia muntahkan seketika menguap begitu saja tanpa sisa, digantikan oleh cengiran lebar penuh kemenangan yang merekah di wajahnya.
Wah... kalau poinnya sebanyak ini, mau disuruh masak buat satu batalion tentara seumur hidup pun aku rela Daisy! batin Bagas bersorak gembira penuh kepuasan yang luar biasa.
hari ini doubel yaa mohon di tunggu maaci🫣🫣😘
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘