NovelToon NovelToon
4 Putri Dari Masa Depan

4 Putri Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Romansa Fantasi
Popularitas:524.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Cha_Nisa

"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."

~Lisa~




"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."

"Tidaaaakkk!"

~Lista~
__________________

JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Otopsi

Author POV

5 hari kemudian setelah kematian Chaca dkk di masa depan...

"Jenderal, kami menemukan informasi bahwa jazad mereka di temukan oleh seorang nelayan di pesisir pantai bagian selatan. Sekarang jazad mereka telah kami bawa ke RS setempat," ucap Letnan Surya mengabarkan info yang ia dapatkan pada atasannya lewat handphone.

"Baik, aku akan ke sana segara dengan para tim dokter forensik," balas sang atasan.

"Tut ... tut...."

Selang beberapa jam....

"Hei tukang tidur, ayo bangun. Apa kau tidak rindu pada gulingmu ini, hmm?" tanya jendral itu pada mayat adik angkatnya, Chaca.

"Hei kau! Masakanmu itu sangat tidak enak tahu! Rasanya bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan makanan yang aku masak minggu lalu. Hei ayo bangun duren mentah! Ayo pukul kakakmu ini, aku telah menghina masakanmu lebih mengerikan dibandingkan masakanku. Ayo bangun Lintang! Lihat aku bahkan memanggilmu dengan nama kecilmu. Ayo bangun dan marahi aku sekarang, Bangun aku bilang anak kecil sialan hiks hiks," tangis brigadir itu pecah di depan mayat Chalista yang telah membiru dan membusuk.

"Beruang madu, Singa betina ... ayo bangun, kakakmu ini sudah sangat lama menunggu mu berkunjung ke negara ini. Kenapa kalian tidak datang saat pengangkatan kakak sebagai kapten, Hah!" bentak seseorang dengan berbagai lambang pangkat yang menghiasi seragamnya kepada Ralisa dan Ralia.

"Maaf kami menggangu. Kami mohon Anda semua keluar terlebih dahulu. Agar tak terjadi hal-hal yang dapat menggangu proses otopsi jenazah,mohon kerjasamanya." pinta dokter yang mereka ketahui adalah ahli forensik.

"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuk menemukan bukti kematian adik-adik kami," ucap sang jendral lalu menyeret kedua temannya yang terlihat tak jauh beda dengan keadaan dirinya sekarang.

Mata panda yang membengkak, seragam acak-acakan, rambut berantakan, lemas dan lesuh menggambarkan bagaimana menyedihkannya mereka beberapa hari terakhir saat mendengar kabar menghilangkannya adik-adik mereka dalam sebuah misi berbahaya.

Mereka bertiga sudah memperingatkan Chaca dkk agar berhenti dari pekerjaan membahayakan mereka itu. Tapi bukan BlackBerry Girls namanya kalau tidak keras kepala, dan beginilah hasil dari durhaka kepada kakak angkat sendiri.

Otopsi pun dilakukan para ahli forensik hingga memakan waktu 3 jam. Karena kondisi mayat yang sudah rusak dan membengkak, para dokter kesusahan mencari jejak kematian korban.

SKIP ⏩

"Ketiga korban mengalami luka yang hampir sama, yakni lecet di bibir dan lidah. Kami juga menemukan ada tanda-tanda hipoksia atau kekurangan oksigen. Kami dapat menyimpulkan adanya tanda hipoksia atau mati lemas karena kekurangan oksigen pada jaringan tubuh, hal ini sangat berakibat fatal terhadap sejumlah organ mereka,” ujar dokter forensik yang menangani jasad Chaca dkk pada Letnan Surya.

" Saat jazad mereka kami temukan, kepala mereka ditutup dengan karung goni plastik dengan diikat tali putih di leher mereka. Kedua tangan mereka juga terikat ke belakang dan kaki sebelah kanan juga terikat. Apakah kemungkinan hal itulah yang menyebabkan mereka kekurangan oksigen dok?" tanya Kasat Reskrim Polresta setempat setelah menambahkan bukti lain yang ia dapatkan untuk memecahkan kasus tersebut. 

"Kemungkinan bisa saja seperti itu, tapi hal itu hanya bisa terjadi jika mereka dalam keadaan seperti itu dalam 1 jam, atau bisa saja pelaku sengaja membuat mereka sekarat terlebih dahulu sebelum membuang mereka ke laut?

"Namun pada jasad yang terakhir, kami tidak menemukan tanda-tanda yang sama dengan ketiga korban yang lain. Kemungkinan, korban yang satu itu berusaha untuk melawan si pelaku pembunuhan sebelum akhirnya jatuh kedalam laut. Semua dugaan kami itu didasari oleh luka di tubuh mayat yang menunjukkan adanya pelebaran dan pendarahan di bagian mata, kebiruan pada bibir, dan jari-jari kaki serta tangan.

"Tim dokter tidak menemukan ada tanda kekerasan yang menyebabkan kematian dari pasien terakhir. Tanda itu menunjukkan adanya pukulan keras dibagian tengkuknya. Hal itu hanya bisa membuat seseorang pingsan beberapa saat. Dugaan kami ada zat beracun yang berikan sang pelaku saat ia pingsan dan hal itu dapat mengakibatkan kematian dalam waktu kurang dari setengah jam. Namun untuk sebabnya belum bisa dipastikan, kami masih menunggu hasil laboratorium,” papar dokter forensik tersebut.

"Jika hasil laboratoriumnya sudah keluar, tolong secepatnya kabarkan kepada kami." Polisi tersebut ingin berlalu pergi dari ruangan otopsi.

Namun, salah seorang dokter lain tiba-tiba masuk dan memberikan bukti baru.

"Dokter, kami menemukan sidik jari para pelaku," ucap dokter itu.

"Benarkah? Tapi apa katamu tadi? Para pelaku? Apakah pelakunya lebih dari satu orang?" tanya polisi tersebut.

"Benar pak, saya menemukan delapan sidik jari pelaku yang berbeda-beda di beberapa bagian tubuh para korban. Sepertinya, empat pelaku lainnya sempat menggenggam jemari mereka sebelum melakukan aksinya. Lalu satu sidik jari kami temukan di bagian pipi namun agak samar, mungkin karena air laut. Satu lagi kamu temukan di bagian tali yang di ikatkan ke pada tiga korban lain. Dan dua lainnya kami temukan di bagian tengkuk korban terakhir. Sepertinya si korban di pukul oleh dua orang sekaligus, hal itu membuat otak korban berhenti bekerja beberapa saat," jelas dokter itu panjang lebar.

"Lalu siapa pemilik sidik jari itu dokter?" ucap seseorang bersaman dengan aura yang tiba-tiba menyeruak di dalam ruangan, sangat sulit di mengerti oleh semua orang, jenis aura apakah yang mereka rasakan saat itu?.

"Sesuai dengan dugaan Professor Helix sebelumnya pak, merekalah yang membunuh agen kita." Semua yang ada di ruangan itu pun terkejut dengan hal itu, tak terkecuali orang yang baru saja datang.

"APAAAAAAAAA!" teriak ketiga orang itu bersamaan.

Semua dokter dan kepolisian seketika diam membeku, karena ketiga orang itu adalah orang yang sangat mereka takuti. Ketiga orang tersebut bisa dibilang adalah Brigadir Alexander, Kapten Maher dan Jenderal Damian dari kepolisian pusat, yang juga merupakan mantan pembunuh bayaran kelas kakap di masa lalunya. Sudah jelas bahwa dengan sekali jentikan jari, jabatan mereka bisa kandas kalau membuat kedua orang itu murka.

"Gubrak!" Jendral Damian langsung menghantam dokter yang tadi membawa bukti ke arah dinding dengan keras.

"Katakan bahwa yang aku dengar tadi tidak salah! Apa benar mereka yang membunuh adik-adik kami?" tanya orang itu sambil mencengkram dan mengangkat dokter tersebut ke udara.

Emosi ketiga orang itu sudah naik hingga ke ubun-ubun.

"Be—benar pak, bukti tidak akan pernah berbohong siapa yang membuatnya. Saya sudah mencocokkan sidik jari mereka beberapa kali, dan hasilnya 99,8 persen cocok dengan mereka," ucap orang itu ketakutan hingga hampir saja ia ngompol di celana kalau saja orang itu tak melepaskan cengkeramannya dengan cepat.

"Letnan!" seru Jenderal Damian kepada sang letnan.

"Siap Pak!" hormat sang letnan layaknya pasukan tentara saking gugupnya.

"Segera lacak keberadaan mereka, aku ingin mereka semua dalam keadaan hidup atau mati malam ini juga," tandas Jendral tersebut dengan aura intimidasi yang mendominasi ruangan tersebut.

"Siap laksanakan, Jendral!" Letnan Sutya segera menelepon semua bawahannya untuk melacak keberadaan si pelaku pembunuhan Chaca dkk.

SKIP ⏩

Malam harinya di alun-alun kota...

"Dor!!"

Satu tembakan aparat kepolisian melesat ke udara sebagai tanda peringatan pertama.

Mobil di depan mereka tetap saja tidak mau berhenti, mereka bahkan beberapa kali menabrak pengendara lain di depan mereka.

Sementara itu di dalam mobil...

"Cepetan dong nyetirnya! Gue ga mau di penjara, gue masih mau nikah sama Sinta!!" teriak Jeck frustasi yang membuat ke 3 temannya yaitu Leonardo dan Ronald semakin tegang ketakutan. Sedangkan Devon yang lagi menyetir merasa pusing dan kurang fokus menyetir.

"Lo apa-apaan sih! Gue lagi fokus nyetir ****!" bentak Devon lantang.

"Hentikan mobilnya sekarang juga!" teriak letnan polisi tersebut lalu melayangkan tembakan kedua kalinya ke udara.

"Cittttt ... citttt!" suara pengereman yang dilakukan secara mendadak membuat teman-teman Devon tak habis pikir dengan tindakan bodoh yang dilakukan temannya itu.

Seketika semua aparat kepolisian yang berjumlah 3 mobil menutup akses melarikan diri Devon dkk.

"Turun dan angkat tangan kalian!" berang Letnan Surya pada Devon dkk.

Semua aparat kepolisian berhasil meringkus Devon dkk dan mengunci pergerakan mereka agar tidak dapat melarikan diri.

"Gob*ok! Anj*ng! Bang*at! Dasar penghianat!" Leonardo memberontak namun tak dapat melakukan apapun saat 2 polisi meringkusnya di sisi kanan dan kiri.

"Ini semua salah dia pak, dia yang telah menghasut kami untuk membunuh Chaca dan yang lain," ujar Jack menyalakan Devon.

"Dia biang keladinya pak, dia yang merencanakan semua pembunuhan itu untuk menjebak kami semua. Seharusnya hanya dia yang ditangkap bukan kami!" sambung Ronald tak mau kalah.

Sementara itu, Devon kelihatan tenang-tenang saja saat di layangkan senjata api ke kepalanya. Entah rencana apa yang ada di dalam otak liciknya sekarang.

"Sini lo bang*at! Kalau lo emang gentleman, jangan main nusuk dari belakang dong lo, kayak banci tau gak!" bentak Leonardo yang memang adalah tipe-tipe orang yang tak bisa menahan emosi.

"Lepasin gue!" geramnya kesal minta di lepaskan.

"Bugh! Aaakhhhh..."

Terpaksa aparat kepolisian membuat Leonard mengalami patah tulang di kakinya agar tak dapat berkutik lagi.

"Bawa mereka ke markas jendral sekarang juga!" perintah sang letnan.

"Lepaskan kami!"

"DIAM ATAU AKU PATAHKAN KAKI KALIAN SEPERTI DIA!" bentak Letnan Surya yang membuat nyali mereka semua menciut.

1
Nunung Sunarti
asik juga ceritanya penuh denga halu 🤭🤭🙏
un3's
Luar biasa
IndraAsya
lanjut
IndraAsya
jejak 🐾
IndraAsya
🌷🌷🌷
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘😘😘
azka aldric Pratama
jiwanya yg di tuker ,😏😏😏😏 bener gk Thor 🤭🤭🤭🤭
azka aldric Pratama
punya penyakit hati biasanya perpendek umur 😏😏😏😏
azka aldric Pratama
masih blm hafal am nm2"nya susah di ingat 😌😌😌😌🥺🥺🥺
Dara131
thor kyak nya itu kebalik deh desain chacha n ralia..
semngat thor..
Crystal
sedih banget sumpah
Crystal
sedih banget sumpah
Alyafirinda27
Next kak, semangat
Alfimunji
lanjutin dong kak
kucing kecil💅
kak kok gk lanjut sih :(
Sifazara
kok gk dilanjut lanjut sih thor...
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
Smonnelly
up up up up up up up up up up up Thor
Nuri Ahfiani nasution
lanjutaanya?
ᴍ֟፝ᴀ Odette🏁
Omo Omo 🙈🙈🙈🙈🙈

kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺

Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ᴍ֟፝ᴀ Odette🏁
Omo Omo 🙈🙈🙈🙈🙈

ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!